
aku tak lagi menaruh harap pada mentari
yang bertengger pada ufuk hati
ia melangit dan membisu kelu
sungguh aku merindu
-Wita-
Jakarta, Wita
Wita Pov
Malam ini tubuhku terasa melayang, lampu yang menggantung di kamar terlihat berputar-putar di mataku. Sementara selang infus terhubung pada punggung tangan sebelah kiriku.
"Bu Wita.. kalau perlu apa-apa bilang ke saya ya bu!", ucap wanita di sampingku. Ha? Putri? Kenapa Putri ada di kamarku?, seingatku aku tadi berhadapan dengan mas Wisnu, berangkat ke Jakarta juga bersama Salim, setidaknya mereka yang seharusnya menemaniku. Apa mas Wisnu baik-baik saja? atau ia sengaja meninggalkanku untuk membalas!! segala ulahku?
Pikiranku kacau, membayangkan jika pertaruhan nasib hatiku berakhir di ujung nestapa. Aku sungguh merana dalam sangkar keegoisanku. Hingga.. mataku terkantup akibat obat tidur yang aku teguk malam ini. Aku menyelami tidur malam penuh getir cinta yang tak kuketahui ujung nasibnya.
****
"Makan dulu Wit!", titah ibu siang ini. Aku menjadi merasa bersalah, entah untuk ke berapa kalinya aku harus mempertontonkan adegan yang sama. Yakni, meringkuk pada ranjang pasien, menerima perhatian dan belaian ibu. Semestinya, aku yang merawat ibu, bukan sebaliknya!
"Udah bu.. nanti Wita muntah lagi", jawabku menolak permintaan ibu. Aku masih merasakan perih di perut dan pening di kepala, sebab sudah hampir 5 kali aku memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perutku.
"Kamu teh kenapa Wit?, Wisnu udah selamat, Kamu mestinya bahagia. Sehat kituuu...!!! ih kalah tambah muyung (malah tambah murung) begini".
Ibu tak tahu saja, hatiku kini terasa carut marut. Semalam aku mendadak tak sadarkan diri setelah buncahan sesak di dada aku tumpahkan seketika. Saat melihat tubuh lelaki yang namanya tersimpan di relung hati ini, menumpahkan noda darah di kemeja abunya.
Sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta aku benar-benar tak mampu berpikir dengan tegak. Aku hanya menatap jalanan yang ditelusuri kemudi Salim dengan mata membeku. Bayangan tentang kecelakaan yang menimpaku 7 tahun lalu benar-benar menghantui; kehilangan ingatan dan kematian ayah teramat menyeramkan bagiku.
__ADS_1
Sungguh aku tak akan sanggup jika kata kematian menerpa hidupku kembali. Aku tak bisa membayangkan lagi jika nama mas Wisnu tak lagi bisa aku sebut dalam pelepasan rindu. Dadaku sesak memikirkannya. Hingga saat aku melihat sosoknya, aku berlari seperti kehilangan kendali dan menangis sejadinya menumpahkan segala yang ada dalam dadaku.
Tapi apa yang dilakukan mas Wisnu hari ini? Ia menghilang seperti tertelan bumi. Tanpa ada kabar, tanpa ada berita. Hatiku tiba-tiba dirundung rasa sendu tatkala seorang perawat menjawab pertanyaannku;
"Owh.. masnya yang bawa mba ke sini ya? Dia kena luka cukup parah. Dijahit dia lengannya, pelipis matanya juga. Harusnya dirawat tapi tadi malam minta langsung pulang".
'Langsung pulang', jawaban yang membuatku kecewa tanpa alasan. Harusnya aku menyadari, jika aku telah berkali-kali menolak kehadirannya. Jika saja ia ingin menghindariku, semestinya aku bisa menerimanya. Menerima hukumanku yang tak setimpal dengan luka dan kecewa yang ia alami. Aku tentu harus merelakannya, mendapatkan seseorang yang lebih dari cukup dibandingkan diriku.
Sejenak aku menjadi serakah. Meminta semua yang kuinginkan menjadi milikku seutuhya pada Tuhan. Aaah.. aku sesak dibuatnya, hingga mual kembali menyerangku. HOOEEEK..
****
Sore ini ibu nampak sibuk dengan ponselnya. Ibu yang biasanya sibuk dengan bubur yang mengepul kini terlihat tak biasa dengan ponsel yang pernah kuberikan tahun lalu.
"Iya nak.. kata dokter kayaknya belum bisa pulang hari ini. Tekanan darahnya masih rendah, masih harus diinfus. Tadi aja masih muntah-muntah".... "Haah?? disini?? gak apa-apa emang nak?.... ya baik.. ya.. wa'alaikumsalam".
Entah siapa yang menghubungi ibu, aku tak peduli. Sebab rasa kesalku pada mas Wisnu sudah terlalu memenuhi dadaku. Aku memilih memejamkan mataku dalam terlentangnya tubuh ini di ranjang rumah sakit. Aku sudah terlalu lemas dan pusing!
Tetapi ibu kini membangunkanku setelah adzan maghrib berkumandang. Aku terlalu lelap sepertinya, sehingga aku tak menyadari suara adzan telah menyapa waktu berat yang aku lalui. Aku pula tak menyadari kini banyak orang asing yang hilir mudik menata makanan di ruang rawatku. Terpajang dalam meja dengan berbagai hiasan sederhana.
"Ibu... siapa mereka?", tanyaku heran.
"Pegawai catering", jawab ibu sambil membantu diriku menegakkan tubuhku untuk duduk shalat maghrib.
"Untuk apa bu, mereka ke sini?"
"Ya.. menyediakan makanan lah Wit, masa yang kayak gitu gak tahu.." lagi-lagi jawaban ibu membuatku tambah pusing. Aku abaikan saja ibu lalu memantapkan diri untuk shalat maghrib yang sudah melewati sepuluh menit lalu.
Setelah selesai shalat, aku melihat beberapa orang yang aku kenal masuk ke dalam ruang kamar inapku. Mba Lastri yang menggandeng tangan Adhis tersenyum ke arahku. Adhis sontak memeluk tubuhku. Aku memindai seluruh tubuhnya, memastikan bahwa dia baik-baik saja.
"Bunda.. aku punya oleh-oleh", ucapnya sambil memberikan sebuah lonceng sapi dengan gambar bendera Swiss pada gantungannya.
__ADS_1
Aku lalu menatap mba Lastri yang telah berada di hadapanku dengan ragu. Ia nampak cantik dengan gaun yang menurutku tak cocok dipakainya saat menjenguk pasien sepertiku, tetapi aku tak lupa jika ia memang sang artis yang selalu tampil sempurna.
Seketika pikiranku kacau saat mengingat, apakah mas Wisnu sengaja ingin memamerkan kemesraannya dengan sang artis hari ini padaku? Aku akan menerimanya mas Wisnu! Anggap saja ini adalah hukuman untukku.
Tetapi dugaanku sepertinya salah saat mamah Adhis dan suaminya dengan riang memasuki kamarku, membawa kantong pakaian yang bisa kupastikan sebagai pakaian mahal dan menyodorkannya pada ibu.
"Ayo!", ajak ibu padaku. Aku mengerutkan dahi tanda bertanya pada ibu. "Ayoo ibu bantu, kamu ganti baju dulu".
"Sini sama teteh bu.. biar sekalian teteh dandanin" sela mamah Adhis.
"Eh??", tanyaku heran.
"Atau sini di dandan dulu ajah, papah.. keluar dulu sebentar!", perintah mamah Adhis pada suaminya.
Mamah Adhis lalu membuka jilbabku, melap wajahku dengan handuk hangat, menyapukan pelembab dan bedak yang ia bawa, lalu memoleskan eyeshadow, blush on dan lipstik di wajahku.
"Cantik", ucapnya jemawa dengan hasil yang telah ia buat. "mba...!?", pintanya pada perawat. "minta bantu gantiin baju sama ini ya!", seraya meyodorkan tas berlogo sebuah butik ternama kota Jakarta, Mamah Adhis mantap meminta bantuan pada sang perawat.
Aku terkejut dan meminta penjelasan pada ibu dengan sorot mataku. Ibu hanya menjawab tanyaku dengan mengatakan; "Kali ini gak ada penolakan, ibu yang memutuskan. Kamu pakai aja bajunya!" Dalam bisik, suara tegas ibu membuatku bergidik sendiri.
"Selamat ya mba...", ucap sang perawat di kamar mandi yang cukup luas itu padaku. "Masnya ganteng lagi.." lanjutnya.
"Memang kenapa mba?", tanyaku masih dengan teka-teki di kepalaku.
"Mbanya mau menikah kan hari ini? iih.. kayak di felem-felem ya.. emang kayaknya masnya bener-bener gak tahan nih", ucapnya lagi dengan senyum yang ia kulum.
"Ni..kah.. sama si.. apa?", tanyaku dalam debar dan mulut yang kelu. Aku hanya khawatir, ibu kini memintaku menikah dengan orang yang lagi-lagi membuat hatiku remuk.
"Pak Wisnu kan? yang suka ditanyain sama mba dari tadi?", jawaban sang perawat membuat tubuhku oleng kembali hingga aku harus berpegangan pada tangan perawat yang sedang memasang bros di jilbabku.
####
__ADS_1
maafkan lama menungguu ya readerr✌🤭 telatnya kebagetan ya??? uuuh cup cup cup...
Aku double up deh hari ini.. tiket votenya masih ada kaaan?? sisihkan yang banyak buat mas Wisnu ya... buat modal mas kawin😁😁😁😁