Selesa Rindu

Selesa Rindu
Ibu


__ADS_3

ia merupa kesatria wanita sepanjang masa


tak pernah sirna


ada ataupun tiada


Ibu.. kau wanita tak tertandingi


cintamu merupa waktu yang mengitari


kehidupanku.. di sepanjang waktu


-Wita, Wisnu-


Bandung, Wita-Wisnu


Wita Pov


"Ada tiga kematian dalam hidup aku Wita", aku mendengar suaranya yang tegas menggema di langit bebas siang ini. Langit yang menawarkan kesenduannya dengan aroma bau tanah yang basah selepas hujan, dan warna awan kelabu selepas angin membawanya mendaratkan basahnya air ke permukaan bumi.


"Restari, wanita yang aku nikahi karena sebuah obsesi. Obsesi untuk menghadiahi kamu dendam dan kesumat. Restari yang sama-sama terluka karena cinta di masa lalunya, telah rela meregang nyawa demi mewujudkan keinginanku berbalut ego untuk memiliki seorang anak. Anak yang kau cita-citakan sejak pertama aku mengenalimu. Restari meninggalkanku dengan membawa cinta masa lalunya dalam hati, tanpa sempat tersampaikan pada pemiliknya. Ia meninggalkan aku dan Adhisku, di sebuah negara, tempat pengasinganku dari dirimu", ucapnya dengan lugas.


Aku tak pernah mengira, mas Wisnu akan menceritakan ibu kandung Adhis itu dengan sederhana, tanpa beban dan penuh keikhlasan. Aku sejenak sadar, kebenciannya yang teramat mendalam padaku telah menyeretnya pada sebuah keputusan pernikahan dengan mengorbankan hati dan perasaan. Hati yang dimilikinya, juga hati wanita yang dinikahinya. Sama-sama menyimpan cinta di masa lalu dengan sebuah dendam membuat dirinya menyadari banyak hal, bahwa amarah tak membuat manusia puas dan ikhlas.


Mba Restari memilih menyerah dan membawa kasih tak sampainya hingga akhir nyawa. Membiarkan cintanya itu berbahagia dengan pilihan hidupnya. Lalu, ia berikan apa yang temannya minta, seorang anak yang akan menuntaskan segala dendamnya padaku, Adhisia Chantika Permana.

__ADS_1


Dendam yang nyatanya mengalahkan segala ego yang kami miliki. Karena nyatanya, Adhis telah mampu menggoyahkan segala rasa dan rindu yang selama ini aku kubur bersama hilangnya ingatanku di masa lalu. Adhis, juga telah mengubah misi hidup mas Wisnu, tentang arti sebuah amanah dan titipan Tuhan yang berharga. CintaNya seluas samudera, melalui gadis kecil itu, kami tunduk dengan segala kekerdilan kami.


"Jika pengadilan Tuhan membawaku pada pencarian tersangka dari sejarah yang kualami, maka terdakwa dari kematian Restari adalah diriku. Jika saja aku tak menikahinya dan membuat sebuah perjanjian konyol tentang memiliki seorang anak, maka kematian itu tidak akan menjadi kematian yang terus menghantuiku. Melahirkan Adhis adalah keputusan terfatal yang ia ambil, setelah ia tahu bahwa nyawa adalah taruhannya".


Aku terus mendengarkan ucapannya yang perlahan membuat suaranya parau. Aku.. menatap dirinya yang terus mengeratkan tautan kedua telapak tangannya sendiri. Kulihat mas Wisnuku itu dengan jiwa yang berbeda. Kemana segala ambisi dan optimismenya itu?, dan kemana segala amarah yang kemarin ia lontarkan pada diriku itu?, kemana pula pengharapan cintanya yang kemarin ia pinta padaku itu?, aku..melihat sosok yang berbeda dari lelaki tegap dan menawan ini.


"Diah Halimatissa'diah, dia adalah ibuku. Wanita berfaras cantik dan ayu yang katanya sorot matanya mirip denganku dan hidung mancungnya ia wariskan padaku", ia menyebutkan nama lengkap itu seraya mengusap lembut batu nisan di hadapannya. Aku lihat tulisan itu dengan jelas;


Diah Halimatussa'diah binti Suherman


Lahir: Bandung, 16 April ...


Wafat: ...


Ibu.. aku tak pernah mengira jika ibu mas Wisnu telah tiada. Sejenak aku gemetar. Dadaku bergemuruh dan nafasku sedikit sesak. Aku mencoba mengatur segala reaksi tubuhku dengan perlahan.


Aku tak sempat menunaikan keinginannya, sebab kecelakaan 7 tahun yang lalu menghilangkan seluruh ingatanku, termasuk ingatanku tentang mas Wisnu dan keinginan ibu untuk bertemu denganku.


"Ibu.. meninggal tiga hari setelah aku menikah dengan Restari", ucapannya membuatku tersentak. Kenyataan apalagi ini? Kenyataan yang tentunya mengguratkam kepedihan yang mendalam di hati mas Wisnu.


"Ibu, tak dapat menghadiri pernikahanku karena sakit yang dideritanya". Lanjut mas Wisnu dalam duduknya yang tegar. "Hanya kang Indra yang menjadi wakil dari keluargaku yang pergi ke Swiss. Bahkan, sepertinya.. ibu merelakan pernikahanku dengan berat. Ia menghubungiku malam sebelum ijab kabul yang aku ucapkan untuk Restari. "Ibu.. menginginkan kebahagiaanmu Wisnu. Sejak dulu ibu percaya padamu dengan segala keputusanmu. Meski sesungguhnya ibu masih berharap, kamu dapat menjalani hidupmu dan mendapatkan istri di sini bersama ibu, di Indonesia bukan di negara orang lain".


Mas Wisnu menghela nafas lalu menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan yang... sendu! "Aku.. mengantarkan kematian ibuku, dengan membawa duka yang aku simpan untuknya. Ibu, merelakan kepergianku ke Swiss, meski dengan jelas aku lihat dalam raut wajahnya, memendam rasa berat dan ketakrelaan yang mendalam. Namun aku, memutuskan segala kehidupanku dengan keegoisanku Wita". Kulihat mas Wisnu menerwangkan tatapannya ke depan. Mencoba menatap kembali masa lalunya bersama ibu.


"Aku.. menerima takdir tentang kepergian ibuku tanpa aku lihat dan aku antarkan jasadnya untuk yang terakhir kalinya". Dengan berkaca-kaca ia terus menatapku. "Kamu tahu Wita bagaimana perasaanku sejak hari itu sampai hari ini?". Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya dapat membayangkan betapa remuknya hati lelaki di hadapanku itu kehilangan sang ibu, wanita terhebat di dunia yang kasih sayangnya tak dapat ditandingi oleh apapun.

__ADS_1


"Akulah anak tak tahu diri itu Wita!!, aku pantas untuk diberi hukuman yang setimpal, atas luka hati yang kusematkan untuk ibu kandungku ini. Ibuku.. yang tak bisa aku talkin saat malaikat maut menjemputnya dan aku peluk erat untuk yang terakhir kalinya. Ibuku.. yang telah bersusahpayah melahirkanku ke dunia dan dengan berkesusahpayahan pula ia memendam segala rindunya padaku. Ibuku.. yang aku justru meninggalkannya ketika ia tengah melawan rasa sakit yang mendera". Ia lalu meneteskan air mata dan menahan dukanya di dada. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana mas Wisnu mencoba menahan deru nafasnya yang mulai tak terarah.


Aku menatapnya lirih, tak terasa air mataku ikut mentes membasahi pipiku. Lalu otakku tak mampu berfikir apapun selain mengusap air matanya dengan jemariku dan mengucapkan kata "M..m..maaf.. Mas Wisnu... ".


Ia membiarkan kedua telapak tanganku mengusap air matanya sejenak. Lalu memegang jemariku ini dan menjauhkannya dari wajahnya. Ia simpan kedua tanganku ke pangkuanku lalu mengucapkan kalimat yang membuatku perih dan pedih;


"jangan sentuh Wita!, jika tidak, aku tak akan mampu merekalanmu pergi".


###


😭😭😭


Tahukah reader tersayang.. aku memiliki ibu mertua yang sempat aku rawat sampai hari terakhirnya di dunia. Selalu ada sesal saat menyadari betapa aku tak mampu memberikan yang terbaik untuknya. Untuk wanita yang telah menghadiahkan putra bungsunya padaku yang tak seberapa ini. Sungguh kasih dan sayangnya terkenang sepanjang masa.


Dan.. aku patut bersyukur, aku masih memiliki ibu yang cintanya tak pernah berhenti sejak aku dalam kandungannya hingga aku sudah mampu berdiri dengan kakiku sendiri.


Keriput kulit tubuhnya terus memastikan bahwa ia semakin menua. Tetapi cintanya tak pernah sedikitpun memudar. Ia mampu memberi kita dunia tapi kita tak mampu memberinya apapun. Ia mampu tak tidur sepanjang malam saat kita sakit bahkan sampai memiliki keriput di matanya, tapi kita tertidur pulas saat malam-malamnya sudah terasa sepi.


Air mata kita selalu menjadi air matanya, ibu. Tapi pernahkan kita berfikir bahwa air matanya akan menjadi air mata kita?


Yang masih punya ibu.. saat ini.. peluklah mereka👩‍👧‍👦.. yang sudah tiada.. hadiahi mereka keshalehan dan doa🤲.


Cium manis untuk ibu kita semua😘😭. semoga mereka senantiasa berbahagia🤲🤗


Salam cinta Selesa Rindu

__ADS_1


Cek curahan hati Wisnu untuk sang Ibu.. di IG dan FB aku ya.. 👉NingTias___


__ADS_2