Selesa Rindu

Selesa Rindu
Pesan Cinta


__ADS_3

Kusulam benang rindu dalam kalbu


dalam, rintih dan hening


agar kau tahu jika selendang hatiku


akan kutudungkan pada segenap tubuh cintamu


-Wisnu-


Bandung, Wita-Wisnu-Ibu


Wita Pov


Pagi ini aku membuka mataku perlahan dari tidur nyenyakku semalam. Malam berharga yang aku dapatkan karena aku tak harus menelan pil pahit itu agar bisa mengantarkanku pada tidur lelapku. Tak juga harus berkeringat dalam gelisahnya mimpi buruk malam ini.


Kulihat ponselku tergeletak pada telapak tanganku di atas bantal tepat disamping kanan wajahku. Kunyalakan ponselku itu lalu kulihat sebuah pesan yang belum kututup,


08XXXX..


assalamualaikum Wita..


tadi aku ke rumah kamu


kata ibu kamu sedang istirahat


aku bawa kue buatan Adhis


katanya buat bunda Wita


semoga kamu suka ya..


malam ini... tidurlah yang nyenyak


bermimpilah yang indah


Selamat malam


Wisnu


Iyah.. semalam aku mendengar gema suaranya menepi ke telingaku. Samar-samar kudengar tawa yang pernah aku kenali beberapa tahun silam itu. Mas Wisnu tertawa dengan renyah bersama Salim yang kutahu tempo hari melayangkan pukulan keras ke rahangnya.


Entah angin dari mana, Salim yang kutahu begitu ketus pada setiap lelaki yang mencariku ke rumah ini tiba-tiba menyuguhkan penyambutan yang ramah pada mas Wisnu. Aneh memang!


Ibu menemuiku malam tadi, mengatakan bahwa mas Wisnu berkunjung untuk menemuiku. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran ibuku ini, apakah ibu lupa kalau aku sudah menerima lamaran Satria yang tempo hari ibu pinta padaku? Dan malam tadi, aku harus menemui mas Wisnu? yang jelas-jelas memintaku kembali menjalin hubungan antara lelaki dan perempuan. Kemana norma kesetiaan yang selama ini ibu junjung tinggi-tinggi?

__ADS_1


Hingga akhirnya malam tadi, aku dengan yakinnya menjawab permintaan ibu, "Wita sedang gak mau diganggu bu, Wita lagi banyak tugas dari kantor. Lagi pula pak Wisnu itu sudah tak ada urusan dengan Wita, dia bukan lagi wali murid Wita bu".


Ibu lalu berdiri beranjak dari ranjangฤทu untuk melangkah pergi ke bibir pintu. Namun kutahan saat semua pikiran dan hatiku kacau malam itu akibat kedatangan mas Wisnu.


Aku harus secepatnya mengakhiri semua ini. Tak boleh lagi ada lelaki yang tersakiti karena ulahku. Tidak mas Wisnu, juga tidak Satria. Menikah secepatnya adalah jalan keluar yang tepat untukku kali ini. Agar aku tak lagi dihantui rasa bersalah yang mendalam pada mas Wisnu, agar mas Wisnu dapat dengan leluasa memilih hidupnya yang bergelimang kesuksesan itu dengan selebriti cantik yang bernama Lastri, agar Satria tak menjadi sosok yang akan kujadikan korban yang sama seperti mas Wisnuku tujuh tahun yang lalu.


"Ibu.. kenapa pernikahan Wita harus ibu tunda?", pertanyaanku sontak membuat ibu mematung lalu melangkah menggeser kursi kerjaku mendekati ranjang yang aku duduki.


"Ada banyak yang harus ibu persiapkan Wit, menikahkan kamu gak semudah yang ibu pikirkan ternyata", jawab ibu.


"Apa yang harus dipersiapkan lagi bu?, Wita gak perlu pernikahan yang mewah. Ibu juga gak usah khawatir memikirkan biaya pernikahan Wita nanti. Wita punya rumah cicilan. Ya walau baru tiga tahun tapi mau Wita over kredit, sudah ada yang mau beli kemarin. Harganya lumayan bagus, cukup untuk biaya pernikahan Wita bu", ungkapku.


Ya aku menduga jika biaya pernikahan adalah hal yang membuat ibu mengurungkan rencana pernikahanku yang seharusnya sudah dapat dilangsungkan seminggu ke depan. Sebab aku tahu betul bagaimana kondisi ibu saat ini, semenjak ayah menjual rumah kami yang dulu dan ibu banting tulang menjadi pengganti ayah dalam menafkahi keluarga kami ibu tak pernah memperlihatkan kelemahannya padaku.


Sempat aku memintanya berhenti berjualan bubur, usaha yang sudah dirintisnya semenjak menikah dengan ayah telah dapat menghidupiku dan adikku. Sampai aku mendapatkan pekerjaan dan merasa bahwa aku cukup mampu membiayai ibu dan adik, ibu tetap berjualan bubur, jejak sejarah cintanya dengan ayah yang tak pernah lekang oleh waktu.


"Bukan itu", jawab ibu memecah ketertegunanku. "Ya sudah, ibu temui dulu tamu kamu itu ya". Ibu tersenyum lembut kepadaku dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.


Malam itu, entah apa yang diperbincangkan oleh ibu dan mas Wisnu. Sayup-sayup aku dengar suara mas Wisnu begitu menyentuh sudut hatiku, tahukah jika aku teramat merindukannya? Aku lalu melangkah membuka tirai jendela kamarku, kulihat tubuh tegap mas Wisnu membuka gerbang rumahku. Mas Wisnu telah beranjak pergi dari rumahku, suaranya kini lenyap dari pendengaranku.


Aku lalu memutuskan untuk shalat isya sebelum merebahkan tubuhku di ranjang milikku dan bersiap menghadapi malam yang sulit. Mimpi buruk atau sulit mendapati rasa kantuk adalah makanan sehari-hariku, kembali.


Butuh waktu lima belas menit untuk menyelesaikan shalat dan persiapan aku menuju ranjangku. Belum tuntas aku menanggalkan mukena yang membaluti tubuhku, ponsel yang ada di nakasku berbunyi.


Aku ambil ponsel itu dan kurebahkan tubuhku diranjang. Kubuka layar ponselku dan kulihat nomor yang belum aku namai mengirimkan sebuah pesan di ruang chatku.


Tak pernah ada pertemuan layaknya sepasang kekasih, tak ada bermalam minggu layaknya manusia di mabuk asmara, tetapi mas Wisnu selalu menempati tempat yang istimewa yang selalu aku rindu. Entah mengapa aku tak dapat menerjemahkannya dengan nalar dan logikaku. Dulu... dan hari ini,...


Karenanya, pesan singkat yang mendarat hangat pada relung hatiku itu mengantarkan kantup mataku hingga lelap yang begitu nikmat sampai udara pagi ini menyapa tubuhku.


****


Cup cake buatan Adhis yang setiap minggunya tiba di rumahku kini telah lengkap kutata dalam toples. Aku simpan separuhnya ke dalam toples yang biasa aku simpan di kamar.


Tetapi, ada yang berbeda dari kue Adhis hari ini, sebab semalam ayahnya yang langsung mengantarkannya ke rumah ini, bukan jasa antar yang selalu mamahnya Adhis itu bayar.


Adhis, sampai kapan sikap manismu ini berhenti. Tolong bantu bunda Wita untuk menyelesaikan semuanya. Jika kamu tetap seperti ini, akan sulit untuk bunda..


Sore ini, sepulang dari kantor baruku aku cuci tubuhku dengan sabun yang baru kubeli dari salon langgananku. Ya.. semenjak aku pulang dari rumah sakit, bukan! Mungkin semenjak aku melihat betapa cantiknya perempuan 'dekat'nya mas Wisnu bernama Lastri. Ah bukan!, semenjak gejala traumatisku mulai kembali menyerangku, aku mencoba mencari cara untuk memanjakan diri, membahagiakan diri, mencari kepuasan diri. Lalu entah kenapa salon kecantikan menjadi pilihanku.


Wangi aroma tubuhku terasa segar sore ini. Aku putuskan duduk di meja kerja dan kuabaikan panggilan ibu di balik pintu, "aku ada kerjaan ibu, bilangin aja Wita gak bisa ketemu" jawabku. Ya.. mas Wisnu kini kembali tiba di rumahku. Ada apalagi mas Wisnu? Tolonglah berhenti bersikap begitu! Hingga mejelang adzan magrib tiba kulihat dibalik tirai kamarku tubuh tegapnya meninggalkan rumahku.


Menjelang tepat pukul sembilan ponselku berbunyi tanda sebuah panggilan masuk,


SATRIA

__ADS_1


Hallo Wita, assalamu'alaikum (Satria)


Wa'alaikumussalam (Wita)


Besok ada waktu? kita cari-cari buat persiapan pernikahan kita (Satria)


Apa gak terlalu dini Sat, masih lama kan tanggal nikahnya. baiknya nanti saja ya kalau udah mau deket. (Wita)


Benar, aku merasa kurang nyaman jika persiapan pernikahanku yang masih terbilang lama itu harus aku persiapkan sekarang. Atau.. aku sebetulnya belum memiliki kekuatan untuk mempersiapkannya.


Ya sudah aku ikut maunya kamu aja, besok aku ke rumah kamu ya. sekalian ada yang mau aku tanyakan (Satria)


iyah, aku ada di rumah paling sorean (Wita)


Satria.., entah apa dan bagaimana hubunganku dengannya. Sampai sejauh ini aku tak oernah menghubunginya bahkan nyaris aku abaikan setiap permintaannya.


Selang beberapa detik suara pesan masuk berbunyi di ponselku. Muncul di ruang pesan dengan sebuan nama yang sudah aku cantumkan.


MAS WISNU


Assalmua'alaikum Wita


bagaimana kabarnya hari ini?


barusan aku kerumah kamu


ada titipan amplop dari Adhis. Adhis sudah pulang ke Jakarta karena harus sekolah, katanya surat pamitan dari Adhis.


kata ibu kamu sedang ada kerjaan kantor ya?


jangan terlalu malam kerjanya


tidur yang nyenyak


mimpi yang indah


Wisnu


Aku menghela nafasku, sungguh mas Wisnu, hatiku saat ini terasa perih tersayat belati yang kuhunuskan oleh diriku sendiri.


####


readeer tersayaaang...


like, share, komen and vote yang buanyaaaak ya buat akuuu....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


biar Wisnu makin banyak tenaga buat rebut hati Wita nihโœŒ๐Ÿ’ช


__ADS_2