Selesa Rindu

Selesa Rindu
Maaf


__ADS_3

Sematkan jejakmu di nadimu


lalu kau raih gundukan bahagia


tanpaku, kau bisa?


-Wita-


Bandung, Wisnu-Wita


Wita Pov


“Ibu pulang dulu ya Wit, kamu gak apa ditinggal sendirian”, tanya ibu padaku. Wajah ibu hari ini nampak bahagia, setelah tadi pagi bertemu dengan tetangganya yang bernama bu Dedeh yang tak lain adalah ibu dari Satria teman semasa SMA ku dulu. Pertemuan kami di ruangan kami ini memang terkesan tergesa-gesa. Tapi bagiku tak apa, sebab kebahagiaan ibu akan menjadi kebahagiaanku juga. Sedangkan urusanku yang tak kunjung usai biarlah berjalan mengalir sampai tiba ke hilir kehidupanku.


“Iyah gak pa bu, Wita sudah baikan ko”, jawabku. Iya, aku sudah dinyatakan membaik karenanya jika hasil labku besok menunjukkan perubahan yang signifikan aku sudah diperbolehkan melanjutkan perawatan di rumah. Ibu lalu menghilang dari kamarku, dengan membawa tas yang berisi cucian baju-baju kotorku yang aku kenakan kemarin di rumah sakit ini. Selimut saja ibu ganti dengan yang baru padahal besok aku direncanakan akan pulang.


Aku lalu bergerak duduk di ranjang pasien dan menyandarkan tubuhku karena pegal seharian tidur terlentang. Aku coba tutup kelopak mataku bermaksud mengistirahatkan diri dalam kondisi dudukku itu. Sayup-sayup aku mendengar suara yang aku kenali, menepi ke telingaku. Dalam pejaman mataku, aku menggelengkan kepalaku; bahkan dalam mimpi saja aku merindukan Adhis. Rasa bersalahku karena telah membohonginya selalu membayangiku sejak aku dirawat di Rumah Sakit ini.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba aku merasakan pergerakan dalam ranjangku. Seketika aku merasakan sebuah kecupan di keningku, aku lalu membuka mata dan sedikit terkejut. “Eh.. Adhis?”, aku tatap wajahnya yang selama ini aku rindu.


“Maaf baru bisa nengok bunda Wita”, kudengar suara perempuan di sebelah kanan ranjangku.

__ADS_1


“mamah Adhis.., maaf jadi merepotkan”, jawabku.


“Enggak lah, justru kami yang maaf baru tahu kalau bunda Wita sakit. Itu juga dari Wisnu tadi pagi dia ke sekolah Embun Gemintang, dapat kabar bunda Wita dari teh Rani”.


Mas Wisnu?, aku terkejut mendengarnya. Keterkejutanku sempurna ketika aku lihat sosoknya berdiri tersenyum di samping kanan ranjangku.


“Bunda Wita.., mana hadiahnya?”, permintaan Adhis memecahkan keteganganku. Aku harus mengatur tempo nafasku. Aku tak boleh oleng di saat yang tak tepat. Aku pejamkan mata dan mengambil nafas panjang, lalu menatap Adhis yang masih berada dalam pangkuanku dan tersenyum serta menjawab, “Ada dooong, special untuk Adhis”.


Aku singkap ujung kerudungku lalu kulepas kalung yang kupakai, kalung emas berliontin boneka mengangkat simbol huruf W berpermata putih. Aku pakaikan kalung indah itu pada leher mungil sang Adhis, nampak masih terlalu panjang tetapi tetap indah dipandang. Tentu saja, kalung berliontin boneka dan huruf W ini adalah kalung kenangan indah yang mas Wisnu berikan padaku. Oleh-oleh dari Aceh yang waktu itu mas Wisnu berikan padaku. Sudah waktunya aku mengembalikan kenangan itu, aku akan berhenti dengan kisah yang baru.


“Waah bagus sekali nih”, mamah Adhis ikut menimpali reaksi riang yang Adhis perlihatkan. Dari ujung mataku, aku lihat mas Wisnu menegang. Ia tak mengeluarkan suara apapun. Aku tak bisa menyuarakan seluruh isi hatiku, tetapi menyerahkan kalung pemberiannya itu semoga dapat meyakinkan hatiku bahwa mas Wisnu akan memiliki kehidupannya yang lebih baik hingga aku pamit dalam diam.


Bicara, ya bicara sajalah, toh dari tadi kakak dan anaknya banyak bicara padaku. Mengapa untuk bicara saja meminta izin? Namun akhirnya aku mengerti maksud ‘bicara’ yang ia katakan sebab mamah Adhis lalu berpamitan membawa Adhis keluar dengan alasan ada yang harus ia beli di minimarket Rumah Sakit ini.


Aku memindai pergerakan mas Wisnu yang terus berjalan ke arahku. Sebentar!, aku harus kembali mengatur nafasku. Aku eratkan tanganku pada selimut yang aku balutkan sampai pada ujung pahaku. Ia lalu duduk di kursi pinggir ranjangku. Menatapku dan tersenyum. Tolonglah mas Wisnu, jangan kau beri lagi senyum itu untukku. Karena aku tidak pantas mendapatkannya.


“Adhis kemarin ngamuk-ngamuk”, mas Wisnu memulai ucapannya.


“saku kemeja aku aja sampai sobek lho”, lanjutnya lagi. Aku terheran dengan irama dan nada bicara mas Wisnu. Ada apa mas Wisnu?, apa kamu baik-baik saja?


“Dia kangen banget sama kamu Wita”, ia menjeda. “sama sepertiku..”, lanjutnya lagi.

__ADS_1


Aku tak dapat menahan bulir air mata keluar dari mataku. Mataku berkaca-kaca, aku tahan agar air mata itu tak keluar dan menampakkan kelemahanku pada mas Wisnu.


“kamu baik-baik saja Wita?, aku.. aku hampir gila selama 7 tahun tanpamu”.


Tangisku pecah tak tertahan, aku tangkup wajahku. Menahan segala pedih dan lara yang kualami melalui tangisan rindu hari ini. Meredam segala kesedihan yang kupendam. Meminjam banyak keberanian dalam menghadapi kepedihan.


“maaf.. maaf”, dengan terbata aku ucapkan kata yang selama ini ingin aku ucapkan padanya. Aku susut air mata di pipiku, kutarik nafasku panjang. Lalu kuberanikan diri menatap sosok yang tengah aku rindu selama ini. Ia tersenyum menatapku, wajahnya sendu dan matanya berkaca-kaca. Tubuhnya yang tegap itu, kini berada di depanku dengan aroma yang sama seperti 7 tahun yang lalu.


“Aku ingin kamu menceritakan sebuah dongeng untukku Wita. Dongeng yang memiliki tokoh wanita cantik dan kuat bernama Wita. Tolong ceritakan padaku Wita, petualangan apa yang telah kau alami selama ini!” Pintanya dalam tatap yang tak kunjung lepas tertuju padaku.


Aku tersenyum dan mengatur nafasku. “aku tak memiliki dongeng apapun untuk aku ceritakan”, ucapku. “Aku bukan guru TK yang pandai mendongeng”, jawabku membuat tawanya terdengar di ruangan ini.


“kalau begitu, dengarkan saja aku. Aku memiliki banyak cerita yang akan aku ceritakan. Kamu memiliki banyak waktu seumur hidupmu untuk mendengarkan kisahku”, jawab mas Wisnu. Permintaan yang begitu aku rindukan. Permintaan 7 tahun lalu yang sempat memberiku nafas kebahagiaan. Permintaan yang membuat aku meyakinkan diri bahwa cintaku tak serapuh benang tua yang merupa kain kusut dan usang.


Lalu aku tersadar bahwa rentang waktu telah menggoreskan banyak cerita tentang sebuah perjalanan dan keputusan yang telah aku ambil. Menorehkan kembali luka pada tempat yang sama, hingga aku tahu bahwa aku tak boleh lagi membuat luka pada hati seonggok jiwa.


“maaf, aku tidak bisa” jawabku menunduk.


Mas Wisnu sontak menegang dan menatapku penuh harap.


“Aku harus menepati janjiku pada seseorang”, jawabku seraya menunjukkan sebuah cincin emas yang tersemat di jari manisku.

__ADS_1


__ADS_2