Selesa Rindu

Selesa Rindu
Sesal


__ADS_3

aku pinta waktu menghukumku


menyisit perih ucap dan langkahku


membakar kesombongan diri


bertarung dengan sesal tak bertepi


-Wita-


Bandung, Wita-Ibu-Revita


Pemandangan langit pagi ini menguar kesejukan dan teduh. Menggelayutkan kerinduan tak terbendung, membekap diri dalam sunyi. Wita memulai hidupnya yang baru, seolah mencatat lembaran yang belum ia sentuh sepanjang sejarah. Padahal bukan hari ini, ia mendapatkan gelar baru tentang dipersuntingnya hati yang ia miliki. Padahal bukan pula hari ini, ia sematkan cinta untuk lelaki pemilik hati.


Kemarin adalah guratan kisah tak terlupakan. Teman semasa SMA nya yang nakal dan urakan, nyatanya telah mempertaruhkan hati untuk memberinya sekuntum kebahagiaan.


"Hari ini tetep kerja Wit?", ibu yang sejak kemarin membereskan rumah akibat tamu-tamu yang hadir, kini tengah menggulung karpet yang belum sempat ia rapikan.


"Iya bu, Wita kan gak jadi nikah. Ya jatah cuti nikahnya gak jadi juga. Wita malu sama atasan dan teman-teman. Nanti dikira makan gaji buta", Wita memberi jawaban namun kedua tangannya sibuk mencuci satu persatu gelas dan piring di dapur. Dapur yang menyatu dengan ruang keluarga miliknya.


Maka hari ini, adalah hari yang mungkin akan berat ia lalui. Karena pernikahannya yang batal akan menjadi pusat perhatian setiap orang. Seperti sekarang, di meja kerjanya yang menghadap pada kaca besar dengan menawarkan pemandangan kota Bandung, Revita tak henti-hentinya mengoceh bak wartawan infotainment.


"Jadi ini emang keputusan kalian ya?, Pak Satria kayaknya udah punya calon deh. Resikonya ngelamar gegara keinginan orang tua ya begini ini nih.. ". Ucap Revita setengah ragu dan percaya.


"Satria gak salah Rev! ini emang udah keputusan kami. Aku juga ikut bertanggung jawab", jawab Wita seraya menekuri tugas-tugasnya yang tertunda, mencoba mengalihkan pikirannya dari topik yang tak ia inginkan.

__ADS_1


"Terus..? gimana selanjutnya?", tanya Revita penasaran.


"Gimana apanya? terus apa?" tanya Wita balik.


"Ya kaliaan... batal nikah pasti ada rencana lain kan?", Revita mencoba menebak.


"Enggak, aku sih belum ada rencana apa-apa", jawab Wita. Jangankan untuk membuat rencana, memimpikannya saja Wita belum berani melakukannya. Kendati kemarin ia sempat akan menghubungi Wisnu saat dirinya memperoleh dua kado pernikahan dari dua orang terdekat Wisnu, Andra dan Teh Rumi.


"Ini kado yang dulu teteh cari, waktu kamu diajakin ke rumah Wisnu. Baru ketemu dan baru bisa teteh kasih hari ini. Yang beliin kado ini kalau tahu berita hari ini pasti seneng, sayang beliau udah gak ada", ucap Teh Rumi dalam duduknya yang hening diantara wangi udara lavender di ruangan mungil milik sang wanita.


Kado yang dilihatnya berupa mushaf al-Quran ditambah tulisan tangan yang bisa ia pastikan sudah melapuk oleh waktu:


dari ibu, untuk Wita.


Lalu sebuah kado yang Satria titipkan tempo hari, belum sempat ia buka. Ia rogoh hadìah kecil tersebut dari tas kerjanya. Sebuah amplop cantik yang sesaat melihatnya siapapun akan jatuh cinta. Dibukanya amplop tersebut untuk ia ketahui isi dari kado dari Wisnu yang kala itu ia hunuskan luka dalam hati.


Spanyol, negara yang menjadi hadiah pernikahannya. Ia kini mengerti apa yang dimaksud Andra dengan "segala sesuatunya akan saya urus, mba tinggal bilang waktunya kapan", sesaat setelah amplop ini mendarat di tangannya.


Sejenak Wita mengingat sesuatu, tentang masa lalunya dengan ocehan mimpi konyol. "Wita suka Spanyol, banyak gedung-gedung bersejarah di sana". Ucapannya pada Wisnu 7 tahun lalu saat mengantarkan Wisnu menuju bis Bandung-Jakarta nyatanya kini menjadi hadiah yang menyentuh hati.


Wita ragu untuk sekedar mengucap kata terima kasih, atau menanyakan kabar Wisnunya yang tengah berada di negeri Swiss. Ia teramat memegang teguh sikap bersalah yang dalam pada Satria. Ia akan menjadi wanita yang menunggu kebahagiaan temannya itu tiba.


Ponsel yang sejak tadi ia pandang atas nama 'Mas Wisnu Swiss', nomor baru yang ia dapatkan dari Andra hanya dapat ia pandang. Dimatikannya ponsel itu lalu ia lanjutkan kembali tugas kantornya hari ini.


Sementara dirumah Wita, ibu kini tengah kedatangan Kang Indra dan Teh Rumi. Dengan obrolan yang panjang dan hangat semua sudah sepakat. Namun Salim dan Andra akan tetap melakukan titah Wisnu untuk sesegera mungkin mempersiapkan berkas pernikahan, HARI INI JUGA, SEKARANG JUGA!!

__ADS_1


Beruntung Wita pulang ke rumah di saat yang tepat. Saat Teh Rumi dan Kang Indra telah bertolak kembali ke rumah mereka. Ibu tak mempunyai keberanian untuk bertanya atau membuat pernyataan apapun mengenai hubungan Wita dan Wisnu. Biarkan mengalir begitu saja, sebab bagi ibu, putri sulungnya itu merupa gelas kaca yang dalam sekali dentingan dapat retak dan pecah jika dirinya tak tahu arah kendali. Traumatis yang Wita alami menjadi satu-satunya alasan bagi ibu untuk lebih berhati- hati.


Namun sepertinya hati sang ibu harus kembali terkoyak saat tepat pukul 8 malam ia menerima telepon dari Teh Rumi. Teh Rumi yang tadi pagi memberinya kabar bahagia penuh cinta kini suaranya terdengar paraum. Ibu mendengar suara rintih teh Rumi dalam saluran ponselnya. "Ibu.. Wisnu.. Wisnu bu..".


Di dalam kamar Wita kini tengah memandangi ponselnya yang sejak 18 jam lalu tercatat pesan 'Adhis kangen bunda Wita.. ayahnya juga..'. Ia terus memandangi layar ponselnya itu dengan penuh harap. Jika dulu ia akan mengabaikan pesan yang terkirim dari sang pemilik nomor ponsel itu, maka hari ini ia tengah menunggunya. Seharusnya ia sudah mendapatkan kabar dari Wisnu. Ya.. jika Wisnu mau kembali menghubunginya.


Namun sepertinya pesan rindu itu tidak akan ia dapatkan sejak ia mendengar suara Revita dalam telepon, "mba.. lagi nonton berita ga?? ada berita tranding topik dari sejam yang lalu".


"Apa Rev? saya lagi rebahan. Berita apaan emang?", berita apa pikir Wita, berita apa lagi memang jika bukan gosip tentang para celeb yang sering dikupas tuntas oleh Revita. Sudah lama ia tak menonton berita-berita gosip selebriti semenjak ia mengenal Lastri. Ia seperti harus menutup mata dan telinga.


"Ada kecelakaan pesawat sore tadi. Beritanya heboh", jawab Revita.


"Kecelakaan pesawat? innalillah.. ada... sodara kamu di sana?" tanya Wita hati-hati. Ia hanya mengira jika berita yang tak lazim ini mungkin menyangkut sanak famili Revita hingga sang asisten harus menyempatkan diri mengabarinya.


"Bukan mba...Pak Wisnu dan putrinya jadi salah satu penumpang pesawat itu.. mba".


Apa? Kecelakaan pesawat? Wisnu dan Adhis, penumpangnya? Seketika tubuhnya menegang, dadanya berdegup kencang dan keringat menyelusup menyapa tubuh. Lalu rasa mual itu tak dapat ia tarungkan dengan keberanian yang dimilikinya.


HOEKKK....


###


Hari ini aku double up ya...


boleh donk hadiah en votenya double juga🤭🤭🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2