
Aku dahaga di padang cinta
Aku terpejam di rimba hati
Kau.. merupa anak sungai
menggemericik dalam luasnya rindu
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Andra-Teh Rumi-Wita
Pesatnya perkembangan perusahaan yang bergerak di bidang rancang bangun milik Wisnu tak ayal membuat banyak investor dan klien melirik perusahaan besar tersebut. Imbasnya tentu membuat Wisnu hari ini terus memijat pelipisnya. Seminggu sudah hampir Wisnu tandaskan dengan kerja keras dan lelah, namun nyatanya tujuh hari tidaklah cukup untuk menyelesaikan tugasnya.
"Ndra... bener-bener gak ada libur ini?" protesnya diantara tumpukan dokumen yang tengah ia geluti.
"Besok mungkin jadwal bisa kosong. Tapi senin pagi Pak Wisnu sudah di sini ya! Rapat direksi penting untuk bapak hadiri", kalimat Andra ini sungguh membuat pertanyaannya sia-sia. Tolonglah Andra! bisa-bisanya ia bilang besok libur dan pagi harus berada di sini sementara jam kali ini menunjukkan pukul 23.00 waktu Indonesia, JAKARTA.
"Udahlah Ndra, aku gak jadi ke Bandung. Dokumen itu nanti aku selesaikan besok subuh. Aku istirahat dulu". Wisnu menyimpan kacamatanya dan meregangkan seluruh otot-ototnya dengan rentangan tangan mengepal. Berjalan kemudian menuju Andra yang fokus dengan laptopnya. "Kata istriku.. aku gak boleh terlalu cape!!", bisikan Wisnu di telinga Andra membuat sang asisten bergidik geli. Wisnu kini nampak memiliki gairah dan semangat dalam banyak hal. Tapi terdengar konyol dalam waktu yang bersamaan. Benar, cinta dapat membawa keistimewaan dalam hidup seseorang.
"Kamu.. istirahat juga! tidur gih di kamar tamu! badan harus dijaga, uang bisa dicari selagi badanmu sehat. Jangan terlalu memaksakan diri!" sebuah tepukan di bahu Andra, Wisnu berikan untuk asisten yang telah ia anggap adik itu.
"Baik bang!", perhatian ini.. begitu indah Andra rasakan. Wisnunya kini tengah kembali memberinya magnet positif yang menjalar di setiap waktu yang mereka miliki.
Mereka pergi ke kamar mereka masing-masing, meninggalkan setumpuk pekerjaan yang tak akan tuntas jika terus mereka cumbui bahkan hingga dini hari.
Sesampainya di kamar dirinya. Kamar yang Wisnu siapkan untuk ia huni bersama istri tercintanya, ia mencoba menghubungi Wita.
sayaang.. sudah tidur?
1 menit.. 9 menit.. 23 menit..
bunda...
1 menit... 3 menit.. tak ada jawaban dari Wita, wanita yang dirinduinya setengah mati selama sepekan ini.
cantiik.. sudah tidur ya?
mimpi indah sayaang...
****
"Terserah teteh lah.. aku sama Wita gak terlalu memersoalkan itu", Wisnu menjawab pertanyaan Teh Rumi di sela sarapan paginya.
"Bunda Wita mau pulang Mah?" Adhis tiba-tiba mempertanyakan hal yang tidak ada hubungan sama sekali dengan apa yang sedang dibicarakan Teh Rumi dan Wisnu.
"Enggak sekarang sayang! Bunda masih harus kerja", usapan di puncak kepala Adhis diberikan oleh Wisnu untuk menenangkan putri kecilnya. "Adhis udah gak sabar ya pengen dianter sekolahnya sama bunda?", tanya Wisnu sambil mengusap nasi yang belepotan di pipi Adhis dengan selembar tissu.
"Bunda mau ngajak Adhis jalan-jalan cari ikan. Kata Bunda nanti di Jakarta Adhis boleh memelihara ikan".
"Waah.. Adhis memang bisa memelihara ikan?", tanya Wisnu.
"Bisa... kata bunda nanti Adhis yang mandiin ikannya".
"Ahahahaha... ayah jadi tambah kangen sama bunda nih".Tentu! Jawaban Adhis barusan telah membuatnya menumpuk rindu yang terlalu berat.
"Kamu mah kangen terus sama bundanya Adhis. Kayak anak ABG lama-lama kalau dilihat kamu tuh Nu". Teh Rumi menanggapi adiknya yang semakin hari semakin terlihat seperti anak remaja jatuh cinta.
Wisnu hanya membalasnya dengan senyuman. Andra yang sejak tadi menyimak obrolan mereka di meja makan pagi ini ikut menimpali. "Udah biasa Teh.. bucin akut dia".
Wisnu mengabaikan ocehan Teh Rumi dan asistennya itu. Ia memilih merapikan baju dan memakaikan kerudung Adhis yang tengah menyelesaikan sarapan paginya.
__ADS_1
"Jadi.. teteh dealkan aja ya Nu?" Teh Rumi kembali membujuk Wisnu untuk agenda besarnya itu.
"Iyah terserah teteh. Wisnu ikut aja!"
"Beneran gak apa-apa ditangguhkan sebulan lagi? Dua bulan dari akad gak akan masalah gitu?"
"Ya gak akan jadi masalah dong Teh.. yang masalah itu kalau Wisnu belum ngehalalin Wita. Itu masalah!!!..."
"Kamu tuh!"
"Ya udah teteh hubungi WO-nya dulu"
"Iya Teh atur aja sama teteh!"
"Teteh soalnya maunya kamu resepsinya di sana".
"Iya Teh.."
"Gak mau di tempat lain".
"Iya Teh"
"Soalnya ini cita-cita teteh dari dulu. Impian teteh"
"Iya Teh.."
"Dulu teteh pengen resepsi nikah sama Kang Indra di sana. Tapi kang Indra waktu itu gak punya biaya buat sewanya, ayah sama ibu juga cuma PNS biasa". Teh Rumi memang antik, ia begitu antusias mengatur resepsi pernikahan Wisnu dan Wita seolah ini adalah pernikahannya. Ya.. pestanya yang akan digelar sesuai mimpinya dulu. Teramat indah saat ia membayangkannya
"Iya Teteh.. atur-atur saja! Asal Teteh Rumi seneng. Mamah Adhis harus bahagia. Pestanya spesial buat Teteh dan Kang Indra".
"...."
"Wisnu berangkat dulu ya Teh?!" ia menyalami punggung tangan sang kakak sebelum melenggang pergi bersama Andra. "Baik-baik sekolahnya sama Mamah Rumi ya!!", Wisnu menggendong Adhisnya dan mengecup pipi gembul putri kecil itu dengan gemas.
****
"Coba Hubungi Revita atau Salim Pak!" Andra mulai berkomentar setelah sejak tadi ia tak menanggapi gerutuan atasannya itu akibat tak bisa menghubungi Wita. Andra bahkan sudah bosan melihat ulah Wisnu. Setiap harinya, ia akan menghubungi Wita melalui telepon atau video call.
Wisnu seperti tak mengenal waktu. Wita adalah wanita yang membagi waktu untuk dirinya dan kantor. Sesekali kekesalan Wita terdengar di ujung telepon Wisnu. "Mas.. Wita lagi kerja ini. Telponannya udah ya?! biar cepat kelar kerjaannya".
"Kalau menghubungi Revita ogah ah! Entar-entar ngetawain kayak kamu". Ya.. betapa tidak, selama sepekan ini Revita selalu menjadi sasaran yang akan dihubunginya. Saking terjadwalnya, Revita terkadang menggoda jahil seseorang yang pernah menjadi kliennya itu.
"Lim.." akhirnya Wisnu memutuskan menghuhungi Salim. "Kakak kamu ada? saya hubungi susah ini".
"Wah.. aku lagi di kampus bang. HPnya gak bisa dihubungi bang?"
"Justru itu, sekarang malah gak aktif". Ah Wita yang benar saja. Kemana dia?
Wisnu akhirnya memutuskan untuk mematikan dan menyimpan ponselnya. Daripada harus tidak fokus saat bekerja, lebih baik nanti malam saja ia hubungi istrinya itu.
Seharian ia habiskan waktu tanpa jeda istirahat sedikitpun. Pekerjaan yang menumpuk dan segudang masalah yang harus ia atasi benar-benar menguras energinya.
"Pak! tadi kakak anda menghubungi, beliau bilang pulang ke Bandung hari ini. Ada yang harus diurus untuk pesta nanti katanya". Andra menginformasikan pesan yang Teh Rumi sampaikan di balik kemudinya.
"Iyah.. makasih Ndra udah ngasih tau" jawab Wisnu malas. Ia tak bisa membayangkan harus kesepian kembali. Adhis sudah dipastikan akan dibawa oleh Teh Rumi. Sang kakak tidak akan membiarkan Adhis bersama Emak Rohayati asisten rumah tangga Wisnu. Jangankan bersama orang lain, bersama Wisnu pun Teh Rumi tak akan rela.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Mobil yang dikendarai Andra terus menembus jalanan ibu kota menuju rumah Wisnu. Bersama lelah dan penat malam ini, Wisnu sudah tak lagi berdaya untuk memikirkan dan melakukan apapun.
"Beneran gak makan malam dulu pak?"
"Enggaklah Ndra. Aku capek, pengen cepet-cepet rebahan. Gak lapar juga!"
__ADS_1
"Iya pak.. Andra memutar kemudinya ke arah jalan menuju rumah Wisnu".
Sampai di rumah tepat pukul sembilan malam. Ia ingin segera menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan akan mengaktifkan kembali ponsel si biang keladi kekesalannya hari ini. Ponselnya bertepuk sebelah tangan sebab pesan atau telponnya tak kunjung mendapat balasan dari sang istri.
Memasuki rumah megah dengan desain interior modern miliknya rasanya hampa. Tapi ada yang aneh dengan aroma rumahnya kali ini. Tercium aroma menggiurkan yang bisa membangkitkan rasa laparnya malam ini. Apa Emak Rohayati yang sering dipanggil dengan Emak Yati itu memasak malam ini? Sebab ia tahu Teh Rumi sudah tak lagi ada di rumahnya. Tapi untuk apa Emak Rohayati memasak? Bukankah Wisnu tak pernah makan malam di rumah akhir-akhir ini?
Wisnu perlahan mengendap memasuki ruangan dengan aroma semakin menajam di hidung. Namun lelahnya kali ini sepertinya membawa pandangannya berhalusinasi tak wajar. Ia tersenyum sendiri menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan pikirannya.
"Malam banget sih mas pulangnya. Ganti baju dulu gih! Kata Andra mas belum makan malam".
"Atau mau langsung makan?"
Wanita yang sejak tadi pagi berkutat dalam pikirannya kini berada tepat di hadapannya. Bersuara dan mengirimkan senyum manis untuknya malam ini.
"Wita? kamu Wita?" tanyanya meyakinkan diri jika ini bukanlah halusinasi.
"Kayaknya emang harus langsung makan suamiku ini..."
"Aaaah... kamuuu..." Wisnu beringsut menghampiri Wita dan menggendongnya seketika. Berputar seperti anak kecil yang baru saja menemukan boneka lucunya.
"Maaas.. iih apaan ini.. turunin mas! Wita berat".
"Neng Wita ini mangkuk yang..." Emak Yati menghentikan langkahnya melihat pemandangan tak biasa dari Wisnu. Wisnu dan Wita menoleh ke arah Emak Yati dan terpaku sesaat dalam hening.
"Mas.. turunin ih", bisik Wita.
"Taro aja di meja, Emak!", bukannya mengindahkan permintaan Wita, Wisnu malah menjawab Emak Yati dengan perintah sederhananya dan membawa istrinya dalam gendongan menuju kamarnya. "Makasih Emak.. Wisnu istirahat dulu", lanjutnya.
"Mas iih.. Wita malu. Turunin dulu!"
"Nanti kelihatan sama Adhis ...malu....".
"Jam segini Adhis udah tidur Wita, aku gak bisa dikibulin".
"Iya.. iya.. kalau gitu makan dulu yuk! Gak laper apa?"
"Gak mau.. aku lapernya yang lain" tegas Wisnu sambil merebahkan sang istri di ranjang kamar miliknya. "Kamu harus dihukum karena udah bikin aku khawatir seharian". Wisnu mengunci sang istri dengan kedua lututnya hingga wanita yang dirinduinya itu tak bisa bergerak untuk beranjak pergi.
Wita mengusap lembut wajah Wisnu. Menatapnya penuh rindu dan cinta.
"Wita seharian nyiapin barang-barang yang harus Wita bawa ke sini. Kelupaan sama HP takut ada yang ketinggalan".
"Diantar sama siapa ke sini?"
"Bareng sama papah Adhis dan Risyad. Sambil jemput mamah Adhis katanya".
"Terus kamu emangnya gak ngantor?"
"Wita udah resmi berhenti mas. Kemarin hari terakhir Wita kerja".
"Jadi? udah bisa nemenin aku di Jakarta?"
Wita mengangguk pelan dan tersenyum. "Iya mas.. Wita gak mau ditinggal lagi lama-lama sama mas Wisnu ah!"
"Aaahhhh... kamu layak dapat hadiah, bukan hukuman!".
Malam itu, sepertinya hidangan makan malam yang dibuat Wita akan dibuat dingin oleh keduanya. Sebab Wisnu lebih merasa lapar di kamar beranjang panas dibandingkan meja makan dengan kepulan sayur iga sapi kesukaannya.
###
episode berikutnya aku akan umumkan penerima GA dari Selesa Rindu ya..
__ADS_1
Bismillah.. semoga menjadi ajang silaturahmi kita semakin lekatπ€²ππππ