
Dendam itu keruh dan pekat
Aku sesak dibuatnya
Tolong aku!, Wita..
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Andra-Lastri
Wisnu harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan Wita minggu ini. Teh Rumi yang semalam memberitahukan keinginan Wita untuk bertemu membuat jantungnya tak menentu. Meski sepertinya Wita tidak akan membahas tentang dirinya. Tentu, Wisnu akan tahu diri tentang hal itu. Wita bukanlah lagi gadis putih abu yang akan dipersunting olehnya. Ia sekarang telah merupa menjadi Nonya Tara yang harus Wisnu akui, cantik!.
“Sabtu ini tolong batalkan janji temu kita dengan pak Bambang!, Ndra..”. Andra menatap penuh tanya tentang permintaan atasannya itu. Bukannya kemarin-kemarin di ngebet banget pengen ketemu Pak Bambang Kontraktor kelas kakap di ibu kota ini?.
“maaf pak, sulit banget lho kita bisa mendapatkan jadwal dengan Pak Bambang. Ini kesempatan emas kita”. Jawab Andra memastikan. Wisnu berpikir sejenak sesaat setelah dokumen yang Andra sodorkan ia bubuhi dengan tanda tangan dirinya. “kamu suruh saja Alex untuk menggantikan saya, bisa?”
“Alex pasti bisa pak, tapi setahu saya Pak Bambang mintanya ketemu langsung dengan Pak Wisnu” jawab Andra mengingatkan tentang permintaan kliennya itu. Wisnu menarik nafasnya panjang, “kalau begitu kosongkan hari kamis saja!, saya mau ke Bandung”.
“Kamis ya pak?” Andra mencoba memindai jadwal atasannya itu pada tablet miliknya. “Oke sepertinya aman.. agenda hari Kamis biar saya yang handle”.
“Awas saja kalau Kamis gak bisa juga, aku pecat kamu!!”
“ish..ish.. abangku yang satu ini kenapa sih, sensi banget”, Andra menyeringai keheranan seraya melenggangkan kakinya ke arah pintu keluar. Perlu penyeimbang!!, Wisnu menjadi sering error akhir-akhir ini.
Langkah Andra terhenti saat berada di ambang pintu. Ia seketika membungkukkan badannya dan menyapa wanita cantik nan ayu dihadapannya.
“Pagi Andra, Wisnunya ada?”.
__ADS_1
“ada bu, silahkan!”, tak mungkin bukan jika Andra harus berbohong, toh sebetulnya wanita itu telah melihat Wisnu yang sedang duduk di meja kerjanya.
“Pak Wisnu, ada bu Lastri”
“siapa?”, dari meja kerjanya Wisnu asik menekuri macbook yang berisikan data-data yang harus ia pelajari hari ini.
“saya, Lastri” suara perempuan ini sontak menyebabkan Wisnu berhenti dengan aktivitasnya, ia lalu menatap tajam Andra yang berada di belakang tubuh Lastri dengan permohonan maaf yang Andra tunjukkan melalui jemari V.
“duduk..” pinta Wisnu pada perempuan itu. “teh?, kopi?, atau mineral?” tanya Wisnu.
“teh saja. Jawab Lastri tegas seraya menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruangan itu”.
“saya siapkan tehnya dulu ya pak, bu!” Andra berpamitan pada mereka berdua di ruangan itu. “saya kopi pahit ya Ndra, pa-hit!”, Wisnu mengeja dengan jelas permintaannya. Suatu isyarat jelas yang harus diterima Andra karena keteledorannya membiarkan wanita itu masuk ke ruangan Wisnu hari ini.
“makasih ya Wis. Kemarin ayah cerita sama aku” Lastri memulai pembicaraannya.
“untuk?” tanya Wisnu.
“oh.. bukan apa-apa itu. Saya sudah beberapa kali menolak ajakan pak Beni. Malu juga nolak terus. Kebetulan kemarib agak senggang”.
“gimana kata ayah?”
“ayah gak cerita apa-apa?”
“ada, ia banyak bercerita tentang bisnis kayunya yang di Surabaya. Mungkin suatu saat saya akan bekerjasama dengan beliau”.
“hanya itu?”
__ADS_1
“ya.. selebihnya kita saling tukar pengalaman. Ayah kamu hebat Las”. Jawaban Wisnu sungguh tak memberi Lastri kepuasan apapun. Ayolah Wisnu, apakah kamu tidak melihat dengan terang-terangan perempuan itu meminta dirinya untuk menjalin sebuah hubungan. Bukan tentang teman semasa kuliah, tetapi tentang laki-laki dan perempuan.
Lastri mencoba mengendorkan ritme hatinya. Ia tentu tak boleh gegabah dalam bertindak. Ia pernah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Wisnu, maka tidak untuk kali ini. Ia akan terus mencoba menyelami perasaan Wisnu, kegundahannya, nestapanya.
“kamu tidak berencana mencari ibu baru untuk Adhis?”, tanya Lastri dengan lembut.
“tidak, ah.. belum mungkin”.
“Adhis anak yang lucu dan menggemaskan, saya suka” Lastri melontarkan kalimat yang tak asing di telingan Wisnu. Tentu saja, bahkan Lastri telah berkali-kali mengunjungi kediamannya untuk bertemu dan bermain dengan Adhis. Wisnu juga menyadari jika Adhis tak pernah memberikan penolakan apapun akan kehadiran Lastri.
“belum ada yang pas aja Las, di hati”, jawaban Wisnu sungguh terasa seperti palu godam di dada Lastri. Jawaban yang sesungguhnya sering juga ia dengar. Seharusnnya ia baik-baik saja dengan apa yang dilontarkan Wisnu. Tetapi ia sudah cukup lama bersabar menunggu.
“saya yakin, Restari akan ikut bahagia jika Adhis mendapatkan ibu yang baru”.
Lastri benar-benar!, ia mengingatkan tentang pesan Restari pada Wisnu 4 tahun lalu. “kamu harus berhenti Wisnu. Berhentilah membenci Wita. Marah dan dendam bukanlah jalan hidup yang harus kamu tempuh. Bahagiakanlah dirimu, bayi yang ada dalam kandunganku bukanlah dendam yang kau simpan. Kau tak perlu membuktikan apapun pada Wita. Kau hanya perlu memaafkannya. Kelak, carilah wanita yangn benar-benar kau cintai, untuk anak kandungmu yang ada dalam perutku ini”.
“Restari, kita bisa belajar untuk saling mencintai”
“hahahaha… bohong Wisnu!, kamu tahu sendiri aku mencintai Raja. Tetapi kali ini aku menyerah, aku turut bahagia dengan apa yang Raja pilih. Biarlah ia bahagia dengan wanita pilihannya, aku tidak menyesal. Yang aku sesalkan adalah keputusan kita. Menikah demi sebuah dendam masing-masing yang konyol. Aku tak lagi ingin menunjukkan diri yang sesungguhnya adalah ketidakmampuanku. Mencintaimu, bukanlah jalanku. Aku tidak akan membuktikan apapun pada Raja. Biarlah ia hidup di jalannya. Dan kamu Wisnu, hiduplah di jalanmu. Lepaskan Wita.. lepaskan!. Carilah wanita yang kelak akan kamu cintai seutuhnya, aku tahu itu bukanlah aku, dan aku.. aku memohon maaf atas ketidakmampuanku mencintaimu”.
“anak ini, anggaplah sebagai tanda persahabatan kita. Bahkan aku tak sanggup melanjutkan hubungan yang disebut suami istri ini, aku tak sanggup. Bayang-bayang Raja masih melekat. Kamu.. aku juga hanya dapat melihat Wita di matamu. Aku tahu itu”.
Dendam dan amarah Wisnu pada Wita, nyatanya membuat luka yang baru. Ia coba membuktikan dapat merenggut mimpi Wita dengan rencana fatal dalam hidupnya. “aku ingin punya anak Restari, aku harus membuktikan bahwa aku yang akan terlebih dahulu mewujudkan cita-cita Wita, dia ingin punya anak? Persetan!!. Aku yang akan lebih dulu mewujudkannya. Aku akan sesegera mungkin memiliki anak, dan kamu akan sesegera mungkin membuktikan pada Raja bahwa kamu bukan wanita malang yang mengemis cintanya. Kita menikah, kita bisa bekerja sama melampiaskan dendam kita. Kita kembali ke Indonesia untuk membuktikan itu”.
Namun pilihan yang Restari ambil sepuluh bulan setelah pernikahannya adalah keputusan yang menyakitkan. Restari benar-benar menghapus jejak dirinya dengan lelaki masa lalunya. Ia memilih pergi dengan nama cinta Raja di hatinya. Swiss, menjadi saksi kehilangan yang Wisnu terima untuk yang kedua kalinya.
####
__ADS_1
Vote dan like kalau suka.
Tak lupa berbagi juga cerita ini pada teman sesama halu kayak aku… hahahaha