
aku memilih garis tipis yang sederhana
mengulas senyum dengan warna mata polos
menggores kenikmatan hati
bahwa hari ini cukup sederhana
Bandung, Wita-Rani-Adhis
Selalu berfikir positif, mengarahan semua energy yang ada, mempelajari segala kemungkinan dan… lakukan dengan senyuman. Betapa pun waktu begitu merentangkan keleluasaannya untuk terus menembus setiap ujung-ujung kehidupannya,Wita tak boleh menyerah.
Sekolah yang pertama kali ia tandangi 4 tahun yang lalu ini menjadi penawar rasa sakitnya. Masih tersimpan dalam ingatan, sahabatnya Rani berkunjung ke rumah Wita kala itu selepas ia mendapat kabar bahwa Wita telah menyelesaikan studi S1 nya.
“Wit,katanya kamu udah selesai kuliah?, apa rencana kamu berikutnya?” yang pasti bukan menikah sepertinya. Fikir Rani dengan yakin.
“yang pasti bukan nikah”
Tuh kaan bener.
“kayaknya aku mau kerja Ran, sayang dong ijazah aku kalau harus ngamar di lemari” candanya.
“udah ngelamar kemana aja?”
“ada, banyak”
“mau ke ibu kota?”
“ah enggak Ran, kota itu satu-satunya kota yang paling aku hindari. Kamu tahu kan?”
“okey, yang belum bisa move on” cibir Rani.
“please Ran jangan mulai deh, aku udah mulai baikan nih”
“hahahaha.. oke oke! Aku ada lowongan nih. Sekolah tempat aku kerja lagi ngebutuhin guru. Ya.. cuman guru sih. Gajinya gak seberapa. Tapi kamu tahu donk.. sekolahku sekolah elite gajinya bakal lumayan lah, dibanding guru-guru di sekolah swasta lainnya” jumawanya Rani dengan percaya diri.
“deuh yang udah datang narsisnya”, jawab Wita tak percaya dengan kebiasaan sang sahabat yang masih suka bernarsis ria sedari dulu.
__ADS_1
Ia memang sudah merencanakan untuk tak membuang waktu. Bekerja adalah tujuan utamanya. Apapun itu, asal ia dapat menyibukan diri. Menghabiskan seluruh fikirannya untuk melupakan, ya.. melupakan yang telah lama ia lupakan hingga harus sekuat tenaga kembali melupakan.
Memutuskan bekerja di kota ini adalah pilihan yang tepat. Mendapatkan tawaran bekerja di berbagai kota dan perusahaan sudah sering ia dapatkan, bahkan semenjak ia masih kuliah dulu. Tapi kembali ke kota kelahirannya adalah tujuan utamanya. Menemani sang ibu dan adik tercinta, ia harus mulai memperhatikan ibu yang sudah renta, dan lagi ia tak harus menyiapkan segala mental baja untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk, bertemu Wisnu.
“Wita Maharani, S.Psi, artinya jurusan psikologi betul?” Tanya sesosok ibu tua yang penuh kharisma dan mendominasi ruangan tersebut.
“betul bu”
“melihat dari profil yang kamu lampirkan di sini, kamu memiliki kompetensi yang baik. Apa yang menjadi alasan terbesar kamu melamar ke sekolah ini? Saya fikir ada tempat-tempat lain yang lebih pantas dan mengharapkan orang seperti kamu” Tanya bu Tarmin menggema mencoba menelisik hal apa yang melatar belakangi sosok Wita melamar ke sekokahnya.
“saya sangat tertarik dengan visi dan misi yang dimiliki sekolah ini, sahabat saya Rani bekerja di sini. Beliau mnjelaskan beberapa hal tentang sekolah ini, dan saya sangat tertarik”.
“seperti?”
“komunikasi aktif dengan orang tua terhadap tumbuh kembang anak. Dan saya memiliki tawaran lain tentang hal ini, guna perkembangan sekolah ini, perkembangan pendidikan bagi anak usia dini tentunya”.
Sedikit ketegasan yang meyakinkan, mengantarkan Wita pada semangat dan totalitas pada langkahnya yang bernama ketulusan alami. Mengajar, mendidik dan menyayangi. Entah apa yang ada dalam fikiran Wita, hingga ia memutuskan untuk terus melangkah, mewarnai kehidupannya bersama nyanyian anak kecil, coretan krayon, susunan lego, terseraknya boneka, dan tawa riang gembira yang bernama taman kanak-kanak Embun Gemintang.
Hari ini, adalah pekan ke-4 Wita melakukan observasi kelas yang berada di sebelah barat area playground sekolah, sedikit menjauh dari ruangannya. Wita saat ini telah menentukan jadwal kunjungannya ke kelas Gembira sejak 3 hari yang lalu. Karena dapat ia yakinkan bahwa observasi kelas sebelumnya telah dirasa cukup.
Suasana kelas Gembira nampak tenang, kelas yang berpenghuni 15 siswa itu sedang ditemani oleh seorang guru yang sedang bercerita di depan kelas. Lho.. satu lagi kemana, fikir Wita dalam hati. Ia putuskan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kelas tersebut. Dilihatnya Bu Jiska tengah menemani anak laki-laki berbadan gendut dan menggemaskan, sedang menatap jendela dengan tangisan yang terdengar lirih. Oh.. pantas saja Lastri di depan sendiri.
“kenapa?”
“mau ke momynya Bund”
“Mau ke momy… mau ke momy” rengek sang anak seraya memandangi jendela
“udah lama suka nangis gini? Ato Cuma hari ini saja?” Tanya Wita pada sang guru.
“dari pertama kali masuk sekolah bun”
Apa? artinya sudah beberapa pekan anak didiknya yang satu ini belum merasakan kenyamanan bersekolah?. Wita menghela nafas, tak habis fikir sudah 3 minggu sekolah ia tak pernah mendapatkan laporan apapun tentang anak didiknya yang satu ini.
“maaf Bunda Wita, Bagas memang suka menangis sepanjang berada di kelas, tapi kalau waktunya istirahat dan main di luar kelas tangisnya mereda” seolah tahu keresahan Wita, Jiska menjelaskan dengan rasa menyesal.
“kalau waktu istirahat selesai? Bagaimana?”
__ADS_1
“nangis lagi Bun” Jiska menunduk sambil mengelus-ngelus kepala Bagas yang terus menangis, sampai matanya nampak memerah dan bengkak.
“hai ganteng Bunda Wita mau kenalan donk”
“mau pulaaang… heuheuheuhue… mau pulaaang” bukan menjawab Bagas malah menangis tak menghiraukan.
“eh.. bunda Wita mau jalan-jalan ke luar kelas nih, mau ikut?”
“heuheheu…” tangis Bagas perlahan melamban.
“mauuuu… heuheuheu”
Diliriknya Jiska dengan senyum dan anggukan kepala sebuah kode untuk membiarkannya membawa Bagas keluar. Jiska mengangguk dan tersenyum.
Berada di playground sekolah, Bagas terlihat tenang. Ia sesekali bermain perosotan. Lalu berakhir dengan bemain plastisin dengan Wita. Dari kejauhan, dilihatnya Sarah berlari menghampirinya.
“Bunda Wita, maaf! Boleh ke kelas Ceria dulu” Sarah terengah-engah.
“ada apa?”
“Bunda Zahra kasihan bund”
“oke, titip Bagas”
Segera ia memutuskan untuk pergi ke kelas Bunda Zahra, kelas Ceria.
Matanya dibuat terkejut saat berada di depan pintu kelas, dilihatnya Zahra dengan kerudung yang berantakan, bahkan dapat dipastikan rambut dan setengah kepalanya kelihatan. Wajah Zahra memerah menahan tangis dan amarah. Sedang Bunda Fitri memegang seorang anak yang meronta-ronta dengan tangisan dan suara yang tak jelas.
Sementara anak-anak yang lain harus ditemani oleh Bunda Wiwit, guru kelas sebelah. Diraihnya anak perempuan mungil berkulit putih itu, digendongya anak tersebut meski tubuh sang anak terus meronta dan menjerit. Kerudung Wita ditarik sekencang-kencangnya. Tapi Wita terus melangkah keluar.
“Bunda Fitri ikuti aku” ajak Wita pada Uswah.
Anak itu terus menjerit dan meronta.
“siapa nama kamu cantik?”
“haaaaa… haaaa… Adiiiissss”
__ADS_1
“oke Adis ikut bunda Wita main air yuuuk”