Selesa Rindu

Selesa Rindu
Bandung-Jakarta


__ADS_3

debaran itu tak dapat dirasionalkan dengan logika.


ada apa dengan hati?


-Wisnu-


Pontianak, Wisnu


Wisnu Pov


Penglihatanku kali ini membawa degup jantung yang tak menentu. Kulihat Adhis dalam pangkuan Wita. Wita tak henti-hentinya membelai rambut Adhis kecilku. Aku sempat terhentak sejenak saat Kang Indra mendekatkan kameranya pada kening Adhis yang memiliki robekan panjang. Sudah dapat dipastikan Adis harus dijahit.


Wita terus mengeratkan pelukannya pada Adhis yang nampak tak mau melepaskan diri dari pelukan Wita saat dokter memintanya tidur di ranjang pasien. Bahkan kulihat Wita tak henti-hentinya memberikan cimunan pada kepala Adhis.


“kalau Adhisnya saya peluk begini masih bisa diproses gak dok, jahit keningnya?” kudengar sayup-sayup Wita bertanya pada dokter muda yang mau menangani Adis.


“iyah, baiknya begitu mbak. Kasihan anaknya” jawab dokter tersebut.


Perhatian dan kegelisahanku kali ini berlipat ganda. Memandang dua sosok wanita yang menjadi pusat dari segala kehidupanku, setidaknya dulu, ya satu wanita yang dulu memenuhi arena kehidupanku. Wita, berani-beraninya kamu muncul kembali dalam hidupku. Apa kamu memang sengaja membuatku menderita?. Aku tak mengerti dengan keadaan yang kulihat hari ini. Bukankah gurunya Adhis itu bernama Fitri dan Zahra? Mengapa yang terlihat sekarang adalah Wita?. Kamu tengah merencanakan sesuatu Wita? Rasa sakit apalagi yang akan kamu berikan padaku Wita?. Apa kali ini aku harus benar-benar mewaspadaimu?.


Pikiranku kali ini benar-benar kacau. Aku tarik nafasku yang terasa berat di dada. Kutatap daun dari pepohonan yang menggoyang-goyangkan diri tertiup semilir angin Kalimantan. Aku eratkan peganganku pada pagar café yang berada di lantai dua itu. Sejenak bayangan Witaku di masa lalu menghampiri pandanganku. Dulu… 7 tahun yang lalu.


Bandung, 7 tahun lalu

__ADS_1


“biasa berangkat pagi?” tanyaku pada sesosok perempuan yang hampir tiap hari sabtu ini aku temui di tempatku menunggu bus menuju ibu kota.


“ah.. iya” ia menjawab. Ia sepertinya nampak kaget dengan pertanyaan yang aku lontarkan. Aku bisa memastikan apa yang akan dia lakukan kali ini. Sepertinya ia senang sekali menggambar. Aku lihat pensil yang selalu menemaninya itu menggoreskan beberapa garis melekuk dan menghasilkan sembuah gambar di sebuah buku berwarna. Aku tak bisa melihat dengan jelas gambar apa yang selalu ia buat di pagi buta ini.


“kelas berapa?” aku kembali melayangkan pertanyaan. Rasanya bibirku sudah tak tahan ingin melayangkan berbagai pertanyaan yang membuatku penasaran. Dalam beberapa bulan ini, wajah cantik yang hobinya menggambar itu pasti akan aku temukan di halte ini.


“aku kelas 3”. Jawabnya sambil menatapku dan tersenyum. Ya Tuhan, matanya itu, kenapa membuat jantung ini berdebar. Padahal niatku hanya ingin mencairkan suasana karena rasanya canggung dalam setiap minggunya kami harus berada di tempat yang sama, berdua, pada waktu yang begitu nampak sepi dan kilapan gelap yang perlahan memudar menuju pagi hari. Tiap pukul 05.30 dapat aku pastikan aku akan berada di tempat ini bersamanya.


Ya.. pada akhir pekan aku harus memastikan keadaan Ibu baik-baik saja. Aku adalah anak lelakinya yang sangat ia andalkan, setelah kepergian ayah, ibu menjadi sering sakit-sakitan. Aku meminta izin kepada om-ku yang sekaligus menjadi bosku saat bekerja di Jakarta untuk bisa pulang ke Bandung pada Kamis sore, hingga Sabtu pagi aku akan kembali ke Jakarta. Hari minggu? Tentu akan aku pakai untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku yang segudang.


“SMA mana?” tanyaku


“aku..” ia menjeda jawabannnya. Sepertinya ia anak yang pemalu. Ia hanya menjawab apa yang aku tanyakan, tak ada obrolan yang ia lontarkan untuk sekedar mencairkan suasana.


“SMA Negeri ***’” jawabnya singkat.


“angkotku sudah datang, aku duluan ya.. mas!”, pernyataan terpanjang yang aku dengar dari bibir tipisnya itu. Aku lalu memberikan senyuman disertai anggukan kecil. Sepertinya ia memang harus berangkat pagi-pagi sekali agar bisa sampai ke sekolahnya itu. Karena jarak dari sini untuk sampai ke sekolah dapat memakan waktu sekitar 30 menit. Sekolah favorit di kota Bandung memang terus diburu, sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Aku bisa memastikan ia memiliki kepintaran yang baik hingga bisa menjadi anak SMA Negeri ***.


Ah.. aku lupa menyanyakan namanya. Sesaat aku menyadari hal penting yang harus aku ketahui.


******


Sepekan sudah berlalu, pekerjaanku tak terlalu melelahkan minggu ini. Om Danu hanya memosisikan aku sebagai staf keuangan di perusahaan konsultan yang sudah ia rintis selama 10 tahun itu. Hanya sebagai pembantu staf tepatnya. Meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan bidangku, tetapi bekerja untuk memenuhi biaya kuliahku menjadi alasan utamaku menerima tawaran om Danu. Ia sangat tahu bagaimana kondisi keuangan keluargaku. Meski teteh sudah menikah, tetapi aku tak sampai hati kalau harus menghabiskan uang pensiun ayah dan ibuku. Cukup mereka mengorbankan banyak hal untuk kuliah s1 ku. Untuk s2 ku, biar aku mengatasinya sendiri.

__ADS_1


Kamis sore aku tengah berada di jok paling depan bus jurusan Bandung-Jakarta. Ada semangat yang menggebu hari ini. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Pulang ke kota Bandung menjadi hal paling mneyenangkan dan mendebarkan, untuk hari ini. Tetapi satu hal yang bisa aku simpulkan, sabtu pagi ini aku terengah-engah berlari menuju angkot yang akan membawaku pada halte tempat aku menunggu bus Bandung-Jakarta. Seharusnya tidak terlambat, pikirku saat aku berada di angkot itu. Jam lima lebih lima belas menit aku pastikan akan tiba di halte tersebut.


Lima menit… sepuluh menit.. lima belas menit. Bahkan sampai setengah jam berlalu. Gadis yang aku harapkan kehadirannya tak kunjung tiba. Apa aku benar-benar terlambat?, ini.. lima belas menit lebih awal dari jadwal kedatangannya yang biasa. Apa dia sakit?.


Sudah hampir tiga bis yang berlalu, semestinya aku memutuskan segera berada di bis tujuan ibu kota itu sedari tadi. Tapi, rasa kecewa menghampiriku hingga memunculkan sebuah harapan untuk bertemu seseorang yang tak kuketahu namanya itu.


Tatapanku terus beredar ke segala arah. Hingga cahaya mentari perlahan memastikan bahwa sepertinya aku tidak akan bertemu dengan orang yang aku tunggu. Bus Bandung-Jakarta nampak melaju perlahan dari kejauhan, mendekat ke arah pemberhentian ini, halte yang biasa menjadi tempat menunggu bagi sebagian orang yang akan menyibukan diri ke tempat masing-masing yang mereka tuju. Jika kuhitung, sudah hampir dua belas orang yang sudah datang dan pergi di tempat ini.


Aku hembuskan nafas beratku, menenami rasa kecewaku pagi ini. Aku angkat ransel dipunggungku, berdiri dari tempat dudukku di trotoar jalan itu untuk bergegas menaiki bus yang sebentar lagi tiba. Tetapi langkahku terhenti saat seseorang berkata, “aduh.. buku siapa ini?” kakinya tersandung.


Ia mengambil buku abu yang disandungnya dan sebuah pensil biru yang aku kenal. “sembarangan aja ya... kalau buang barang itu ke tong sampah, mana tebal lagi bukunya” ia menggerutu dan menuju tong sampah yang berasa di ujung trotoar sebelah kiriku. Aku lalu menghentikan langkahnya.


“maaf pak, itu buku milik temanku!”.


 **************


Hai readers.. terimakasih untuk segala dukungan atas karya pertama saya di ruang berkarya ini.


bahagia sekali saat lihat notifikasi like dan komen yang teman-teman berikan. sungguh benar-benar menjadi suntikan kebahagiaan untuk saya.


ada sesuatu yang ingin disampaikan dalam cerita halu saya... namun semuanya tentu demi memenuhi kebahagiaan para reader semua, "me time ala kita-kita" heheheh.


terima kasih banget lho.. kalau teman-teman mau memberi komentar-komentar untuk memeperbaiki tulisan saya ini menjadi lebih baik🤗. kalau perlu tiap paragraf. wuisssh.. saya pasti dapat terus memperbaiki tulisan saya ini.

__ADS_1


like setiap episode ya.. dan boleh berbagi ke sesama pecinta ruang karya seperti saya ini... saya kirim segudang ♥️♥️ buat teman-teman yang mau berbaik hati untuk itu...😘😘😘


salam cinta dan sayaang buat kaliaaan😚😚


__ADS_2