
Senja berkabut awan rindu
ia menyorotkan kehampaan
aku relakan..
sebab temali itu tak pernah benar-benar mengikatku
-Satria-
Bandung, Satria-Wita
Satria Pov
Hari ini semestinya Wita tengah berada di sampingku. Ya.. sebab sejak keberangkatannya ke Jakarta aku tak pernah sedikitpun mendapat kabar darinya. Sejak hari itu hatiku benar-benar tak karuan. Bukan karena sikapnya yang tak bisa dibantah untuk tak pergi ke Jakarta. Bukan pula karena ia tak mau memenuhi keinginanku untuk segera cuti mempersiapkan pernikahan kami. Kesetiaannya pada janji yang ia simpan untukku sungguh membuatku terhanyut dalam cinta berluka rindu.
Luka yang terasa perih saat aku berniat mengantarkan Wita ke mobil travel menuju Jakarta. Aku putar balik setelah beberapa meter mobilku melaju meninggalkan rumah Wita. Karena kupikir aneh rasanya.. seminggu lagi mau menikah hubunganku dengan Wita masih begini-begini saja.
Aku tak mendapati wanita yang hendak aku antar itu. Ibu mengabari jika Wita sekarang berada di kediamaan atasannya. Hari itu, atasan Wita bernama Pak Hermawan meninggal dunia.
Aku putuskan melajukan mobilku menuju rumah duka. Aku sempatkan menandangi rumah pak Hermawan dan menyalatkannya. Ya.. meski sebisaku saja aku berdoa dalam shalatku, tapi aku tak mau kelihatan bodoh di mata rekan-rekan kerja Wita. Hahahaha.. aku ternyata masih Satria yang sama. Berandalan yang banyak akalnya.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, tapi wanita yang kucari tak ada. Aku coba menghubungi ponselnya namun yang kuterima hanya nada sambung belaka. Lalu, aku melihat lelaki yang beberapa hari lalu ada dikantorku, yang ketika itu bermata nyalang mengatongi amarah menggebu, Wisnu.
Aku berniat menghampiri lelaki itu, sekedar ingin membuktikan bahwa ini adalah wilayah kekuasaanku. Tetapi, niatku terurungkan sebab lelaki tersebut berlari ke arah mobilnya dengan tergesa setelah berbicara dengan temanku Lanis. Lanis lalu menangkap basah keberadaanku yang terus menatap Wisnu. Temanku itu memberi tatapan yang tak dapat aku artikan. Berkaca-kaca seolah mengirim sebuah permohonan padaku.
Perasaanku mulai tak baik, aku abaikan kehadiran Lanis lalu kulajukan mobilku mengikuti kendaraan yang dikemudikan rivalku. Aku melihat ia berlari seperti kehilangan kendali setelah menepikan kendaraannya, menghampiri Wita yang sedang.... menangis?
Wita menangis? apa yang terjadi dengannya? aku tak pernah melihat sedikitpun kerapuhan yang melekat dalam dirinya. Ia adalah wanita tertangguh yang pernah aku temui. Ia merupa cinta yang merona dan berdegup pada jantung hatiku. Selalu mengibarkan bendera keperkasaan cinta dan juang hidup yang membara. Menegak kokoh dengan jiwa yang tegap dan kuat. Ia-lah Witaku yang kupunya, lalu.. apa yang kulihat sekarang? tangisnya membuat langkahku terhenti di balik semak belukar taman yang kutandangi dengan langkah yang gontai.
Kulihat Wisnu mengusap punggungnya, Wita membiarkan tangan lelaki itu membelai dirinya, sedang wanitaku itu larut dengan tangisnya yang pecah tak tertahankan.
Wita menangis diantara gerimis yang perlahan mulai menjadi hujan deras. Aku lalu berlari ke arah mobilku. Lama aku duduk di dalam mobil, ku pikir Wita dan lelaki yang bernama Wisnu itu akan beranjak dari sana segera, namun nyatanya mereka memilih duduk di sebuah saung kecil.
Kulihat Wisnu hanya diam menemani Wita. Tak ada gerakan tubuh yang mencurigakan dari mereka. Aku hanya mengamatinya dari kejauhan.
Saat mereka memasuki mobil Wisnu aku terus mengikutinya. Kukira Wita akan diantar pulang menuju rumah. Tapi aku malah menepikan mobilku di sebuah, pemakanan?
Yang benar saja Wisnu, pemakaman bukan tempat romantis yang dapat meredakan tangis perempuan. Aku lalu mengambil jaket hodie dan kaca mata hitam. Kuikuti langkah mereka setelah menyempatkan membeli sebotol air dan kembang untuk kutabur pada makam yang akan pura-pura kukunjungi. Aku membututi mereka seperti seorang detektif. Jangan-jangan aku sebetulnya tidak cocok jadi pengacara. Hahahah.. pikiran errorku meracau saat seperti ini.
Aku pasang telingaku dengan tajam, setajam telinga kelelawar yang siap menarik mangsa. Hodie yang menutupi kepala dan kacamata hitamku menyempurnakan penyamaranku.
Kudengar setiap ucapan yang dilontarkan lelaki bernama Wisnu. Tiga kematian yang melengkapi hidupnya, diakhiri dengan pesan mendalam tentang permohonan akan kebahagiaan yang harus Wita raih.
"Adhis dan aku akan membuat kisahku sendiri yang baru. Kau telah menentukan hidupmu, maka aku hanya perlu terus menjalani hidupku bersama Adhis. Tidak akan ada masalah apapun ke depannya. Seperti katamu Wita, kita telah berakhir. Maka, berbahagialah dengan akhir kisah kita ini!"
Kalimat Wisnu itu seperti menjelaskan dengan tegas dimana koordinatku berada. Aku tak pernah sekalipun bertanya pada Wita, adakah ia menginginkanku? Adakah ia menyimpan rasa untukku? Adakah alasan yang dapat menyentuh relung hatiku mengapa ia menerima lamaranku? Aku terlalu terlena dengan bahagianya diriku telah memiliki janji yang akan ia tepati.
__ADS_1
Maka hari ini, kegundahan hatiku semakin sempurna saat kubuka email yang masuk dengan alamat pengirim bernama Wisnu;
...
Satria.. kemarin saya ke kantor kamu, tapi sekretaris kamu bilang kamu gak ada. Maaf saya minta alamat email kamu ke dia.
Gak banyak yang ingin saya sampaikan. Saya hanya memohon maaf tidak bisa hadir di hari bahagia kalian, karena saya harus pergi ke Swiss. Mungkin terdengar seperti pengecut tapi saya sedang berusaha menyiapkan hati saya, sekaligus membantu menyiapkan mental putri saya yang akan kehilangan Wita.
Wita wanita yang baik, saya mohon tolong jaga dia dengan baik pula. Mengenai traumanya itu, saya mohon maaf tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantunya. Kamu.. mungkin bisa meminta bantuan Lanis jika Wita mengalami kembali kesulitan. Tapi saya harap hal itu tidak terjadi.
.....
Membaca surat yang dikirim Wisnu membuatku bergidik sendiri. Aku.. seperti manusia hina yang merampok harta kekayaan manusia yang lain. Aku hanya perlu meyakinkan kembali kegundahan yang kualami, sebelum besok... aku ucapkan ijab kabulku untuk wanita luar biasa bernama Wita.
Kuminta Wita untuk menemuiku, aku.. ada yang mau dibicarakan, chatku pada Wita sore ini hingga akhirnya wanita itu kini berada di dalam mobil pribadiku.
"Kamu bahagia?" tanyaku yang membuat matanya menatapku heran. "Kamu bahagia besok kita mau menikah?" tanyaku lagi.
Hening menemani kami dalam mobil yang saat ini melaju atas kemudiku. Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam membisu. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca lalu menjawab, "tolong bimbing aku.. agar aku bisa menemukan bahagia yang kamu maksud".
"hahahahaha....", tawaku pecah mendengar jawabannya. Entah apa yang aku tertawakan kali ini. Mungkin aku sedang menertawakan jawaban gamang dirinya. Atau mungkin.. aku sedang menertawakan nasibku.
"Apa yang paling kamu suka dariku Wita?" tanyaku.
"Apa?" tanyanya terkejut.
"maksud kamu?"
"Tolong jawab saja Wita!!, sekali ini saja buat aku ke gè èr-an. hahahah", aku tertawa sendiri dengan ulahku, "Apa yang kamu suka dariku?"
"Kamu.. ada apa tiba-tiba aneh begini?", tanyanya heran.
"Aku naksir kamu sejak kita satu sekolah di SMP. Cinta monyet kayaknya kalo orang bilang", ucapku. "Aku paling suka kamu dikuncir dua, sekarang udah gak kebayang lagi soalnya kamu beda banget. Jadi lebih... beuh.. memukau..", lanjutku setelah memegag ujung jilbabnya. Ia kemudian menarik kasar jilbab yang kupegang dan menanggapi ocehanku dengan beberapa kalimat.
"Aku gak nyangka, berandalan kayak kamu bisa jadi pengacara. Tapi.. ada yang mau aku ucapkan ke kamu yang belum pernah aku utarakan", ia menatapku dan menjeda. "Makasih sudah jadi teman yang selalu melindungiku dari teman-temanmu yang sama-sama berandalan itu. Mungkin jika kamu bertanya apa yang aku suka dari kamu, ya.. kayaknya sikapmu yang selalu melindungiku, itu yang kusuka".
Pernyataannya yang apa adanya. Wita selalu menawarkan pemandangan alami dari setiap sudut tingkah lakunya. Aku.. selalu suka.
"Hahaha.. akhirnya, aku gak terlalu merasa jelek-jelek amat kalau begini", jawabku seraya menepikan mobilku ke halaman sebuah rumah yatim yang sering aku kunjungi.
Aku mengajaknya memasuki rumah itu yang dipenuhi oleh ratusan anak yatim. Bu Rahma yang menjadi pengelola rumah yatim ini menyapa kami dan mempersilahkan kami untuk duduk di taman belakang rumah.
"Semua sudah disiapkan nak Satria, rumah yatim yang di Antapani dan Buah Batu juga siap ikut katanya", ucap Bu Rahma padaku seraya menyimpan dua gelas cangkir teh untuk aku dan Wita. Ia lalu meninggalkan kami di taman belakang, menghirup udara sore yang sedikit dingin.
Aku lalu memutuskan mengucapkan kalimat yang sejak dua hari lalu telah aku susun rapi. "Wita... saya minta maaf! besok.. kita tidak akan menikah!"
Ia menatapku dengan tatapan terkejut. Meminta jawaban dan penjelasan yang sungguh akupun tak tahu darimana akan aku urai.
__ADS_1
"Aku.. Satria Prasasti Gumilang.. teman lamamu yang selalu melindungimu, dan akan tetap menjadi teman bagimu".
"Aku merasa menjadi lelaki terhormat saat kamu tengah memegang ikatan janji pertunangan kita, sungguh.. aku tersentuh dengan segala sikapmu".
"Kamu tak perlu melakukan apapun padaku Wita, aku memutuskan hubungan ini dengan segenap kasih sayang yang kita miliki".
Ia terus menatapku dengan mata berkaca-kaca, tak ada bantahan yang terlontar dari bibir tipisnya. Ia hanya memandangku dengan lirih dan gemetar.
"Orang tuaku sedang berada di rumahmu, dan aku barusan dapat kabar dari adikku semua berjalan sesuai rencana. Kamu.. tak perlu mengkhawatirkannya", ucapku mencoba meredam kekhawatiran yang mungkin ada dalam pikirannya.
"Wisnu...", ucapku berat. "Dia lelaki hebat menurutku".
Ya.. harus aku akui sikapnya sejak awal telah memukul telak diriku yang tak seberapa ini. Lalu keputusannya untuk merelakan Wita dan membawa buah hatinya yang akan terluka akibat ulahku, sungguh keputusan pria dewasa yang teramat sempurna.
"Satria...".
Dari sekian menit aku berbicara, Wita lalu menyebut namaku dengan lirih. Wita.. aku sungguh yakin dan akan terus memberanikan diri untuk mengakui bahwa sejak dulu kau tak memiliki hati untukku.
"Maaf...", ucapnya dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Aku yang harusnya minta maaf, kehidupan itu tak selalu berlakon sama seperti yang kita inginkan kan Wita? Namun, izinkan aku bahagia dengan memberi kita jalan masing-masing".
"Aku tak pernah bercita-cita mempersunting wanita yang tak mencintaiku, kamu ingat pacarku dulu yang pernah menamparmu?", tanyaku padanya. Tangisnya tiba-tiba mereda setelah pertanyaan itu aku lontarkan.
"sahabatku, aku gak tau lagi kabarnya gimana", jawabnya ragu.
"ya.. dia itu pacar tergigih yang mengejarku diantara pacar-pacarku yang lain", ucapku sontak membuat tawa kecil terdengar dari mulutnya.
"lalu?", tanyanya lagi.
"menurut kabar dia masih jomblo... ", jawabku mengundang tawanya pecah diantara keheningan senja. Tawa yang tak pernah aku lihat sejak aku mengikatnya dalam ikatan pertunangan. Tawa itu.. nyatanya bukan untukku.
Berbahagialah Wita.. dengan Wisnumu itu!!!
###
yang kemarin minta Point of View-nya Satria siapa hayoooo???
maaf baru bisa dipublish sekarang ya... nunggu Wisnu dulu cuss ke Swiss. ππβ
Akhir-akhir ini kayaknya waktu aku up bakalan random nih. Ada tanggung jawab lain yang sama-sama prioritas.. jadi kita berbagi dengan waktu yang ada. hehe.. Moga maklumππππ
Mohon maaf beberapa hari ke belakang komen2 para reader setia Selesa Rindu belum bisa aku balas satu persatu, tapi yang pasti.. pokokna mah aylopyu...ππ
Untuk Satria yang udah merelakan hatinya... aku minta kembang segunung sama kopi yang paling manisπ€ππ
pokoknya hadiah dan vote yang banyak buat Satriaaaaaπ€£π€£π€£π€£πππππ
__ADS_1