
Duhai hati..
pintalah padaku sepasang belati
karena kepongahanku kini kau tertunduk
memeluk rindu yang sejenak lalu pergi
meninggalkan jejak manis cinta sejati
-Wita-
Jakarta, Wita-Wisnu-Teh Rumi-Lastri
Wita itu duduk dihadapan Wisnu dan tak beranjak sebab putri kecil Wisnu itu menahan sang Wita. Wita, harus duduk di kursi yang sengaja Adhis geser untuk diduduki berhadapan dengan Wisnu. Adhis duduk dalam pangkuan Wita dan enggan melepaskan diri, padahal sepanjang perjalanan ia duduk dalam pangkuan Wita hingga membuat tangan kirinya sedikit kram.
Suasana kamar Wisnu kali ini terasa berbeda baginya. Lebih hangat, beraroma segar dan cerah. Padahal warna cat yang ia gunakan berwarna abu yang cenderung redup, pilihan warna gelap bersifat dinamis dengan cara lain. Abu yang sengaja ia pilih untuk kamarnya demi menciptakan suasana menenangkan yang ditujukan untuk tidur malam yang nyenyak.
Tidak banyak yang tahu, jika sesungguhya ia hanya mampu memejamkan mata beberapa jam dalam setiap malamnya. Selebihnya, ia akan menyibukan diri dengan pekerjaan di kamarnya itu. Bukan karena pekerjaan yang mendesak sesungguhnya, tetapi rasa kantuk yang sulit ia dapatkan adalah alasan yang paling utama.
"Bunda Wita yang buat?", tanya Wisnu pada sang wanita seraya menyeruput wedang hangat yang ada pada genggamannya. Kini ia tengah duduk sempurna di tepian rajang dan menggunakan sandal yang ia gunakan sebagai alas kaki untuk menghindari rasa demam yang baru saja hilang.
Dilihatnya Adhis tetap menempel di pangkuan Wita sambil menyandarkan wajahnya di dada sang wanita seraya memainkan boneka pemberian dirinya. Pemandangan yang indah untuk hatinya hari ini.
"Mamah Rumi yang buat", jawab Adhis sambil terus menempel pada jilbab Wita yang berhiaskan bros pemberian Wisnu.
"Mas Wisnu.. harusnya jangan terlalu kecapean!" Ucap Wita tiba-tiba.
"ahahahaha.. enggak kecapean. Kayaknya lagi butuh istirahat aja. Bukan sakit yang gimana gimana".
Tentu saja.. memang Wisnu tidak merasa kelelahan. Ia sudah terbiasa bekerja dengan waktu yang ia miliki. Ia bahkan sering berdebat dengan kakaknya akibat kesibukannya yang melebihi batas wajar.
Tetapi setelah keikhlasannya kemarin melepas wanita di hadapannya itu, tubuh Wisnu seakan meminta waktu untuk.. 'beristirahat'.
"Harusnya.. pola makan juga dijaga!", ucap Wita.
Sejak berada di mobil Wisnu tadi, Wita terus diberi suguhan curahan hati Teh Rumi yang lebih tepatnya disebut ocehan, "Wisnu tuh gila kerjaaa... kalo gak diingetin buat pulang kayaknya bisa-bisa pulang bedug subuh".
Lalu beberapa saat kemudian dalam perjalanan Wita juga mendengar keluhan Teh Rumi tentang kebiasaan makan Wisnu, "makan juga.. kudu diingeti wae, untung aya Andra yang bisa teteh ajak kerjasama. Teteh suka nitip rantang makanan ke Andra. hehehehe".
__ADS_1
Wita menghela nafas berat mengingat apa yang diucapkan Teh Rumi beberapa saat lalu. Tak tahukah Wisnu? jika mendengar kata sakit yang kau alami membuat hati Wita itu meremuk?
Wita lalu melayangkan banyak pertanyaan pada Wisnu.
"Kemarin pulang dari rumah almarhum pak Hermawan jam berapa?"
"Sepuluh malam"
"Sempat makan malam?"
"Lupa.."
"Pulang lagi ke Jakarta jam berapa?"
"Sehabis subuh"
"Andra yang nyetir?"
"Sendiri.. Andra pulang duluan"
Wisnu terus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Wita. Mendengarkan suara merdu wanita itu adalah candu. Ah.. manis sekali! Ia akan membiarkan hari ini tetap begini. Tak akan membahas apapun tentang pekerjaan. Tak akan membahas apapun tentang pernikahan wanita yang ada di hadapannya. Ia akan sedikit egois dan menikmati. Biarkan..! kendati besok kisahnya akan berakhir di ujung kasih tak sampai.
Wita terus mengelus-elus puncak kepala Adhis sampai anak tersebut nyaris tertidur. Nampaknya Wita tak menyadari apa yang telah ia ucapkan barusan. Tanpa berpikir panjang ia pun kembali berucap, "harusnya gak gitu.. !"
Ditatapnya sang Wita yang tengah menimang Adhis dalam pangkuannya itu. Wanita yang terus mengelus puncak kepala Adhis dengan lembut. Wisnu lalu berucap, "iya.. maaf! gak bakalan lagi".
Mendengar jawaban Wisnu, Wita tersadar dari makna segala ucapannya. Ia mendongkak menatap Wisnu dan sejenak beradu pandang. Bolehkan ia meralat ucapannya tadi?
Namun, keberuntungan agaknya tengah berpihak padanya saat Teh Rumi tiba-tiba berada di bibir pintu kamar dan berucap, "ayo ih kalian , pada makan dulu! Teteh udah bikin sop iga biar nyes ke badan".
Wisnu tersenyum dan berdiri dari duduknya. "ayo makan dulu! Adhis biar saya tidurkan".
Berada di meja makan rumah ini, bersama wanita yang ada disamping kirinya adalah mimpinya sejak lama. Sejak ia membeli tanah ini dari Burhan dengan uang hasil kerja kerasnya semasa melajang.
Tuhan memang selalu memiliki banyak cara untuk mewujudkan mimpinya. Meski benar, kita tak boleh serakah dengan mimpi yang ingin kita raih. Begini saja... sudah lebih dari cukup.
Wisnu tersenyum saat melihat kakaknya dengan bersemangat menata hidangan buatannya barusan. Ia dapat mendengar dengan jelas Teh Rumi bernyanyi lagu Rita Sugiarto kereta malam. Wisnu dapat memastikan bahwa ini semua karena ulah Teh Rumi. Ulahnya yang telah membuat kakaknya sedemikian bahagia, membawa Wita ke rumah ini kendati sesungguhnya hanya akan merupa fatamorgana.
Saat semua hidangan telah siap, samar-samar tersengar suara tamu. Suaranya semakin jelas mendekat.
__ADS_1
"Hai.. Lastri.. kebetulan ke sini, kita lagi pada mau makan nih.. sini-sini!", ucap Teh Rumi pada sang tamu.
Lastri lalu menghampiri Wisnu dan menyimpan dua buah kotak kue di atas meja makan. "Wisnu.. gimana udah baikan?, ini aku bawa makanan kesukaan kamu"
"Alhamdulillah... lebih baik" jawab Wisnu. "makasih ya..".
Wita kini terdiam, mencoba memahami situasi ini. LASTRI, adalah orang yang ia sodorkan untuk mendampingi Wisnu bukan? Tapi mengapa saat mendengar 'makanan kesukaan kamu' hatinya malah berdenyut. Ia lalu harus mencoba mengatur nafas dan reaksi tubuhnya, demi kehendak yang selalu ia paksakan.
Sesaat Lastri menyapa Wita "Eh.. ada tamu ternyata. Apa kabar bu guru Wita?"
"baik mba.." jawab Wita singkat.
Suasana dapurpun kini disibukan dengan suara denting piring dan obrolan yang tak Wita fahami, terlalu berkelas!
Tentu saja, Lastri kini tengah bercerita tentang pengalamannya bermain film berjudul Cinta Senja yang berlokasi di kota Florence, Italia. Disambut antusias oleh Wisnu karena kota tersebut memiliki kekayaan arsitektur yang eksentrik. Menganut konsep Renaissance atau abad pertengahan, pesona kota Florence sangat menakjubkan untuk Wisnu.
Obrolan tersebut dibumbui tanggapan Teh Rumi yang tak mau kalah bersaing dengan tamu dan adiknya itu. "aaah... pokokna mah bab Itali Cristiano Ronaldo jagonya, Juventus harga mati!!!"
Ocehan absurd Teh Rumi sontak mengundang tawa penghuni ruang makan tersebut. Disela tawa mereka, Wisnu menyempatkan diri menyodorkan sebuah piring kecil ke samping piring milik Wita, Wisnu lalu berbisik, "buncisnya taro disini aja!"
Wisnu yang sejak tadi mengamati wanita disampingnya, menyadari bahwa buncis adalah makanan yang tidak disukai Wita.
"Owh ya Wis....", Lastri mencoba memecah perhatian Wisnu. "Makasih lho kemarin kadonya, ayah suka banget".
"waah.. alhamdulillah kalau suka", jawab Wisnu santai.
Sementara mendengar obrolan keduanya, seonggok hati yang berada di tengah ruangan itu terasa terbakar, panas mengepulkan denyut rasa tak terbaca.
###
hai hai reader semua....🤗
Kemarin ada yang guyur aku kopi sama kembang nih. Makasih ya...😘
Makasih udah cinta banget sama Wita-Wisnu.
Aku juga jadi makin cinta kaliaaan😘😘😘😘
yang belum follow aku d NT dan akun medsos aku cussss segera ya...
__ADS_1
sehat sehat buat kalian semua🤗
💋💋💋