Selesa Rindu

Selesa Rindu
Lapak Bersejarah


__ADS_3

tak akan ada yang usang


tak akan ada yang hilang


ia.. sejarah yang melekat pada waktu


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Wita-Ibu


"Aku antar sampai ke dalam?". Wisnu bersedekap menyandarkan tubuhnya pada mobil yang kini terparkir di halaman kantor Wita. Tak bisa ia bayangkan sebelumnya, jika wanita yang ia pindai saat ini, yang tengah menyelendangkan tas kulit cokelatnya dan menenteng laptop tipisnya, yang semalam ia cumbui dengan tiada henti, yang tadi pagi memakai kaos rumahan dengan rambut basah tergerai, adalah wanita yang telah menjungkir-balikkan dunianya.


"Enggaklah mas.. aku bukan Adhis yang harus diantar sampai kelas sehabis lama gak sekolah!". Menjawab pertanyaan posesif suaminya adalah hal yang lucu bagi Wita hari ini. Wita adalah wanita dewasa yang bisa melakukan segalanya sendiri. Untuk menuju kantornya dan memasuki ruangan yang bahkan tak memerlukan peta itu bukan hal yang sulit untuk Wita.


Wisnu tak harus mengekori Wita kemanapun ia pergi. Hari ini adalah hari pertamanya memulai aktivitasnya seperti semula. Wita tak perlu menekankan apapun lagi bukan? tentang tanggung jawabnya menuntaskan pekerjaan yang sedari awal telah menjadi ikatan dalam kontrak kerjanya.


Tetapi, membiarkan pagi ini berlalu begitu saja tanpa Wita adalah hal tak diinginkam Wisnu. Ah.. sungguh kekanakan sekali Wisnu. Tapi apa mau dikata, demikianlah yang terjadi saat ini.


Apa Wita tidak tahu? pertanyaan basa-basi suaminya tak lebih dari usaha Wisnu untuk berlama-lama dengan dirinya. Beberapa hari menikmati setiap detik bersama Wita adalah candu bagi Wisnu. Dan hari ini, ia harus merelakan hati untuk membiarkan Witanya kembali bekerja sebelum surat pengajuan berhentinya diterima.


"Itu..", Wisnu mendekat dan mengarahkan telunjuknya pada empat kantong plastik besar yang berisi beberapa box kue. Kue yang sengaja Wita buat untuk ia bagikan pada rekan-rekan kerjanya. Ungkapan rasa bahagia dan permohonan maafnya telah mengambil cuti lebih dari jatah yang ia miliki. "Kamu nanti gimana bawanya Wit? Berat! Tangan kamu itu udah pegang laptop".


Wita sontak memainkan kerah kaos polo berwarna navy yang tengah dipakai Wisnu. Warna yang menambah kesan maskulin dan kontras dengan kulit yang dimiliki Wisnu. Jemari tangan kanan Wita leluasa merapikan kerah sang suami dan menyetrika lapisan baju yang menutupi dada suaminya itu. Hal yang sesungguhnya tak perlu Wita lakukan. Ia hanya tengah mencoba membujuk suaminya itu untuk tidak lagi merajuk.


"Ada Revita mas. Sebentar lagi dia kesini bantu aku bawain kuenya". Memberi jawaban dengan senyuman agaknya akan membantu Wisnunya lebih tenang.


"Aku tuh masih kangen ih Wit! Sebentar aja ya.. aku ikut ke kantor kamu. Aku gak akan ganggu deh. Beneran!" Wisnu kini tak mampu menyembunyikan apa yang ada dalam hati dan keinginannya. Sembari memainkan ujung jilbab sang istri Wisnu kini benar-benar merajuk. Beginikah rasanya memerankan cinta tanpa tercatat menggelungkan kisah 'berpacaran' sebelumnya? Rasanya manis dan bergetar setiap saat.


"Jemput dulu Adhis gih! Nanti sore jemput aku ke sini bareng Adhis. Sehabis itu kita bisa kangen-kangenan sepuas-puasnya". Wita meraih telapak tangan suaminya dan mengecup punggung tangan sang suami meminta izin pamit untuk segera memasuki gedung kantornya.


Perasaan aneh menjalar ke seluruh tubuh Wisnu. Seolah kecupan itu mengalirkan aliran listrik yang menyengat sudut hatinya. Ah hati, beginikah rasanya menjadi orang yang diinginkann dan diimamkan wanita yang ia cintai? Adegan yang biasa dilakukan Adhisnya kini dipertontonkan oleh wanita bernama istri.


"Ya sudah, yang lancar ya kerjanya!" Wisnu mengusap puncak kepala Wita yang terbalut kerudung berwarna moca dengan gambar abstrak perpaduan cokelat hitam dan broken white. Menyerah dengan rajukannya yang tak beralasan, kekanakan dan menggelikan.


***

__ADS_1


"Enin.. buburnya yang banyaaak!" suara Adhis melengking diantara meja-meja dan kursi yang sudah dipenuhi para pelanggan bubur legendaris orang tua Wita. Adhis kecil memainkan sendok dan garpu, memukul-mukulkan keduanya seolah meja adalah drum band alat musik yang dikenalinya di sentra musik sekolah. Kedua kakinya yang mengayun-ayun, mengambang dari kursi yang ia duduki sungguh menggambarkan ketidaksabaran gadis kecil ini.


Ibu Wita yang kini mendapat gelar 'Enin' dari Adhis hanya dapat tersenyum manis. Rasa syukur harus ia pasrahkan pada sang Khaliq kali ini. Ia mendapatkan kenikmatan double combo atas pernikahan putrinya yang bernama Wita. Adhis adalah gadis kecil yang begitu mendamba kasih sayang di hadapannya. Tak jarang kemarin-kemarin sang cucu dadakan ini bergelayut mesra diatas pangkuan dirinya. Tak pernah memiliki sosok nenek menjadikan Adhis kini begitu manja dan dekat dengan dirinya.


Selain itu, Wisnu yang kini nampak sibuk dengn mangkuk-mangkuk bubur yang ia letakkan pada meja pelanggan adalah menantu yag tak pernah terpikirkan selintas pun dalam khayalannya. Kesempurnaan lelaki yang menjatuhkan hati pada putrinya itu adalah anugerah indah yang ia dapatkan. Bahkan demi membantu dirinya, statusnya sebagai direktur perusahaan besar di ibu kota tak lagi ia persoalkan. "Biar Wisnu bantu bu! mumpung Andra masih ngasih Wisnu cuti. Wisnu pengangguran sekarang. Sambil nungguin Wita pulang juga", ucapan Wisnu itu benar-benar membuat hati ibu bahagia tak karuan. Wisnu tak pernah memandang rendah apapun yang ada di hadapannya.


Lalu bagi Wisnu, pemandangan indahnya pagi ini, menemani ibu bersama Adhisnya adalah mimpi yang terpenuhi dalam hidupnya. Kehilangan ibu kandungnya membuat hatinya kini merasa tak lagi sepi. Sosok ibu tua yang dipanggil Enin oleh Adhisnya ini sama hangatnya dengan ibu yang telah meninggalkannya lebih dulu.


Tak ada yang berbeda. Bakti dan sayangnya pada ibu sama persis dengan apa yang dimiliki istrinya. Dalam semilir angin pagi yang beranjak menuju siang, Wisnu menikmati setiap pergerakan tubuhnya membantu ibu.


"Ini lahannya punya ibu sendiri?", seumur Wisnu mengenal Wita baru kali ini ia bertandang ke lapak bubur warisan ayah Witanya itu. Sebuah roda besar dilengkapi dengan tenda yang disangga besi2 kecil. Meja-meja yang terbuat dari kayu dilapisi taplak plastik bergambar salah satu produk kecap melengkapi lapak ini.


"Lapaknya ibu sewa dari pak Acep, ini ibu udah sewa buat dua tahun. Lumayan lah nak harganya gak terlalu mahal kalau nyewain ke ibu. Pak Acep itu temennya ayahnya Wita. Dari dulu ayahnya Wita maunya dagang di sini. Di daerah sini strategis katanya".


Wisnu menyimak dengan antusias apa yang diutarakan sang ibu. Ia akan segera menghubungi Andra. Meminta bantuannya agar lapak ini menjadi milik ibu sepenuhnya. Apa gunanya memiliki menantu seorang arsitek, jika lapak bubur yang dimiliki ibu ini terlihat terlampau sederhana.


Tidak! bukan hanya itu, adalah kepuasan bagi Wisnu jika tempat mertuanya berdagang itu ia sulap menjadi tempat yang istimewa. Bukan demi apapun, tapi dari tempat inilah Witanya dapat menjadi seseorang seperti sekarang ini. Dari tempat inilah Witanya menjalani semua perawatan rumah sakit pasca kecelakaan yang membuat Wita kehilangan ingatan. Dari tempat inilah Witanya selalu bersemangat untuk duduk di halte penuh sejarah itu lebih pagi dari teman-teman sebayanya.


Ah.. tetiba ia ingat wanita yang tadi pagi ia antar dengan penuh rajukan. Ia menepis kerinduan yang melandanya kini. Khawatir dan malu jika mertuanya tau dirinya tengah dibuat mabuk kepayang oleh Wita. Obrolan hangat dan ulah-ulah menggemaskan Adhis melengkapi harinya dalam menemani ibu pagi ini.


TING..


ISTRI


Mas.. lagi apa? sudah makan siang?


Wisnu menggeser kursi plastik yang sudah ia tumpuk barusan. Membuka dan meletakkan satu kursi lalu duduk diatasnya. Ia menekan tombol video call di layar yang tercantum tulisan 'istri' di ponselnya.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam.. mas lagi dimana ini?"


"Coba tebak!"


"Eh.. kok kayak di tempat bubur ibu".

__ADS_1


"iya.. aku disini dari tadi. Sama Adhis"


"Ah.. iya! Mas sudah makan siang?"


"belum.. nanti aja bareng ibu di rumah katanya".


"Owh baiklah.. Wita jam 3 sudah selesai. Nanti jemput ya!"


"baik sayaang.. udah gak sabar ini".


"Gak sabar kenapa?".


"Kangen kamu!"


"Mas ih.."


"hahahaha... kamu emang gak kangen apa?".


"bukan begitu.."


"bukan begitu.. jadi?"


"ya... kangen juga..."


"aaaaah.. jauh dari kamu bener-bener gak baik buat kesehatan jantung... sampai jumpa nanti sore cantik, bersiaplah untuk malam ini!"


###


hai hai semua.. maafkan nyatanya memang blm bisa up tiap hari. 🙈🙈🙈


Makasih buat yang sudah kangen..


Ada hadiah cantik dari Adhis nih.. kira-kira yang ini buat siapa ya🤔


__ADS_1


__ADS_2