
Apakah kalian tahu?
kegilaan ini setipis jarum antara waras dan hancur.
-Wita-
Jakarta, Wita-Adhis
Wita POV
Jika jam diklatku bisa aku hapus sedikit kemarin, aku akan menghapus sesi itu. Saat bagian mas Wisnu diberi ruang untuk berbicara. Atau.. harusnya aku pura-pura punya keperluan mendesak hingga harus meninggalkan ruangan diklat. Tapi kenyataannya aku memang peserta yang taat dengan aturan yang ditetapkan oleh panitia. Aku memilih duduk di kursi bagian belakang, agar keberadaanku tak dapat diaamati oleh mas Wisnu.
Malam sebelumnya aku telah mempersiapkan diri untuk hari itu. Aku menceritakan kondisi kesehatanku pada Lanis untuk menghindari berbagai kemungkinan yang terjadi.
"Apa sebelumnya kamu melihat Wisnu?", tanya Lanis menyelidik.
"iyah., aku sempat melihat sekilas tadi makan malam bersama para panitia", jawabku.
"Apa kamu mengalami reaksi yang aneh?", tanya Lanis kembali.
"Alhamdulillah semua terkendali". Aku menimbang-nimbang sebelum menjawab, karena kenyataannya aku tak mengalami apapun saat itu. Mungkin benar apa kata Lanis, aku sudah beranjak membaik saat ini. Semoga.
Namun tubuhku terasa menggigil kedingingan dengan suhu yang sedikit panas -sepertinya-, saat duduk berada di ruang Convention Hall hotel ini. Gejala yang tak pernah aku alami sebelumnya, kedua telapak tanganku memanas, tenggorokanku kering dan kepalaku terasa pening.
Aku mencoba bertahan dalam kondisi itu dan memilih fokus pada sang pemateri. Mas Wisnu Permana tampil memukau dengan segala keluasan ilmunya. Aku tidak menyesal telah menjatuhkan hatiku padanya dulu, dulu ataupun hari ini ia begitu menakjubkan. Kemeja putih yang ia linting di bagian lengannya, dilengkapi dengan balutan celana Slim Fit Tailored Cropped Trousers dan sepatu kulit casual sungguh menegaskan kediriannya sebagai seorang direktur muda. Aku tatap lekat sosok yang dulu meminjam hatiku untuk hadir dalam hari-hari yang berwarna, benarkah ini mas Wisnu?, aku bahagia melihatnya.
Namun bahagia bagiku rasanya belumlah cukup sepadan dengan kebahagiaannya. Sebab aku melihat nada kebencian yang menukik pada kata yang ia lontarkan lengkap dengan hunusan tajam matanya yang nyalang. Aku tersentak saat mendengar bahwa kepergiannya ke Swiss adalah jalannya untuk membuang segala cita-cita indahnya yang ia susun. Sedemikiankah bahagianya itu lenyap karena ulahku?. Apakah sosok artis muda yang memperkenalkan diri sebagai teman dekat mas Wisnu itu tak dapat menghapus segala jejakku?.
Aku mematung dalam tundukku hari itu, menahan segala rasa bersalahku yang membuncah. Berhentilah mas Wisnu, aku memang pantas dihadiahi kemarahanmu namun kamu harus beranjak dari luka yang kutanam. Hingga aku tak dapat menjawab dengan lantang apa yang ia tanyakan. Ia melangkah mendekat dan berkata "apa yang menjadi alasan anda menjadi seorang guru bu Dewita Maharani". Aku berkaca-kaca, hentikan kesedihanmu mas Wisnu, aku menyerah, aku kalah.
****
Hari ini aku patut bersyukur, bahwa kemarin aku dapat mengendalikan diriku dengan baik. Mas Wisnu tengah berbaik hati menghentikan sesi tanya-jawab yang membuatku mengenang segala kesalahanku.
Di hari penutupan sore ini aku mengatur segala kemungkinan yang terjadi. Aku edarkan seluruh pandanganku ke segala arah. Menilik satu persatu manusia-manusia yang hadir di sini. Mas Wisnu tak ada, seperti kejadian 3 bulan yang lalu saat persidanganku masih tergelar, mas Wisnu menghilang begitu saja.
Sampailah aku pada keterlibatanku dalam acara penutupan. Acara yang sebenarnya dikatakan oleh Pak Burhan sebagai acara hiburan yang akan digelar mulai pukul delapan sampai sembilan tiga puluh malam hari. Beberapa orang tampil diatas panggung menyanyikan berbagai lagu yang mereka suka sebagai sebuah hukuman. Ada-ada saja, di saat materi kemarin dalam diklat menyebutkan bahwa tidak ada lagi kata hukuman dalam pendidikan kali ini panitia justru membuat acara yang mengundang banyak tawa dari kami sebagai sebuah bentuk hukuman. Jangan heran, jika suara yang kami suguhkan sebagian besar merupa suara artis dadakan yang biasa menyanyi di kamar mandi.
Aku sedikit terkejut saat teman-temanku mendorong tubuhku maju ke atas panggung. Aku melihat binar bahagia yang diperlihatkan Pak Burhan padaku. "Ayo bu Dewita, terima hukumannya", segera ucapannya mengundang tawa para peserta. Aku ters0enyum ikut menikmati kebahagiaan kami.
__ADS_1
Tetapi senyumku terhenti saat sosok mas Wisnu tiba-tiba berada di ruangan ini. Keterkejutanku berlipat dan sontak menghentak irama jantung dan nafasku saat kulihat jaket itu. Jaket itu... jaket jeans vintage berwarna biru muda yang selalu aku lihat 7 tahun lalu, kini terlihat begitu pas pada tubuh pemiliknya. Mengingatkanku pada masa lalu yang sedang aku perjuangkan untuk aku urai menjadi kepingan buih dan menghilang.
Tubuhku tiba-tiba bergetar, sedang jantungku bergemuruh. Tidak!, jangan sekarang Wita!, Lanis bilang kamu sudah membaik!. Aku mencoba mensugesti diriku.
Wajahku kini memanas saat melihat sang lelaki berbaju jaket jeans vintage biru muda itu mendapat sebuah bisikan yang tak ku ketahui apa, dari sesosok wanita yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai teman dekat mas Wisnu.
Aku tatap mata mas Wisnu, ada amarah dan rindu yang kusimpan terlalu rapat dalam dadaku ini. Marah? mengapa aku marah?, apakah karena kehadiran mas Wisnu? atau hadirnya artis cantik di samping dirinya?. Katakan aku gila, tetapi tatapanku tak terhenti dengan sebuah nyanyian yang ku lantunkan dengan segala sakit yang kuredam, mencari cinta sejati.
Aku harus tetap mengendalikan diri, aku luapkan segala emosi ini dengan lirik-lirik yang aku lantangkan dalam laguku. Biarlah ini menjadi kegilaanku hari ini. BIARLAH!.
Belum tuntas aku menyelesaikan tugas dan kegilaanku di panggung ini, aku tersentak oleh sosok gadis kecil yang berlari ke arahku dengan binar bahagia. Ia peluk tubuhku, sontak aku gendong tubuhnya dalam pelukanku. Aku terus bernyanyi dalam keadaan memangku Adhis yang terus mengeratkan pelukannya tanda rindu yang tak terperi. Kamu tahu nak, aku pun begitu merindukanmu!.
Sampai akhirnya aku selesai dalam nyanyiku, Adhis enggan beranjak dan terus memeluk serta mengeratkan wajahnya pada leherku. Saat aku memutuskan melangkah ia justru meronta. Apa ini? tidak mungkin kan aku terus berada di panggung ini?. Atau.. aku akan mendapati kemarahan mas Wisnu atas pemandangan saat ini. Aku harus membujuk Adhis!!!.
Kubisikan sebuah ide gila lainnya untuk mengurai pelukan sang gadis kecil. Ia mengangguk dan tersenyum. Ia lalu turun dari pangkuanku tanpa aku minta. Ah.. BINGO..!
Riuh tepuk tangan dan siulan aku dengar saat aku mengatakan "Adhis.. Meraih Bintang". Aku dan Adhis kecil akan kembali meluapkan segala emosi yang kami miliki. Seperti yang biasa kami lakukan di ruang seni. Ruang kedap suara yang dilengkapi dengan sebuah cermin besar. Bernyanyi dan berteriak sesuka hati agar kami sedikit mendapatkan kelegaan hati menghadapi emosi dan himpitan jiwa yang tak kunjung usai.
Aku tidak mengira jika kebiasaan kami yang aku sebut sebagai terapi untuk Adhis di sekolah Embun Gemintang ini akan aku pertontonkan di hadapan orang banyak. Kupetik gitar milik Pak Burhan, menemabi suara dan kelincahan Adhis yang meluapkan kebahagiaannya.
Wita
Setiap saat setiap waktu
Ini saat yang kutunggu
Hari ini ku buktikan
Ku yakin aku kan menang
Hari ini kan dikenang
Semua doa kupanjatkan
Sejarah kupersembahkan
Adhis
Terus fokus satu titik, hanya itu titik itu
__ADS_1
Tetap fokus kita kejar lampaui batas
Terus fokus satu titik, Hanya itu titik itu
Tetap fokus kita kejar dan raih bintang
kudengar tepuk tangan dan teriakan para peserta diklat menggema. Memuji sosok mungil yang dengan lincahnya bergerak dan bernyanyi. Bahkan aku dengar Adhis dengan lantangnya berteriak mengajak para penonton, "ayo semua.. ikut nyanyi sama Adhis!!!"..
Wita-Adhis
Yo yo ayo… yo ayo Yo yo ayo… yo ayo
Yo yo ayo… yo ayo Yo yo.. ooo…ooo
Yo yo ayo… yo ayo Yo yo ayo… yo ayo
Yo yo ayo.. kita datang kita raih kita menang
Wita
Kalau menang berprestasi
Kalau kalah jangan frustasi
Adhis
Kalah menang solidaritas
Kita galaang sportifitas.. wo..o..
Dengan suaranya yang renyah dan artikulasinya yang belum jelas, Adhis benar-benar menghibur. Ia lalu memelukku kembali setelah kami menuntaskan kegilaan kami. Aku gendong Adhis untuk turun dari panggung. Aku masih terus berdiri di pinggir panggung dengan konsentrasi penuhku mengatur segala emosiku. Tak mungkin jika aku harus tergeletak di sini. Dadaku memang sesak tapi aku harus menghadapi keadaan saat ini. Aku bisikan kembali sebuah kalimat yang membuat hatiku menyesal, pada Adhis.
"Adhis mau hadiah dari Bunda?", ia mengangguk dalam gendonganku.
"Adhis sekarang ke ayah dulu ya.. bunda mau ambil hadiahnya di kamar bunda".
Seketika sang Adhis mendongkak dan menatapku. Ia lalu tersenyum dan menciumku. Turun dari gendonganku dan berucap. "Adhis tunggu ya bunda, Adhis sama ayah dulu". Ia lalu berlari ke arah mas Wisnu.
Dengan berkaca-kaca aku tak berpikir panjang untuk membalikkan tubuhku. Berlari ke arah kursi dudukku, mengambil tas dan keluar dari ruangan itu. Setengah terengah aku terus berlari menuju lift dan menekan tombol 7 menuju kamarku. Aku kemas semua barang-barangku dengan keringat dan suhu tubuh yang mulai memanas, lalu aku telpon sahabatku.
__ADS_1
"Lanis, apa jarak Jakarta-Bandung bisa membuatku bertahan?".
"Ha??, Apa?"