
Jika bahagia adalah jarak bagimu
akan kuserahkan seruluh langitku
mengawal setiap jejak nafasmu
tanpa celah yang kosong
-Wisnu-
Bandung, Wita-Ibu
"Kamu yakin gak memilih tawaran bu Tarmin, Wit?", tanya ibu pada Wita yang tengah sibuk memasukan berbagai dokumen lamaran kerja.
Tidak!, Wita memilih jalan lain untuk melanjutkan hidupnya kali ini. Anggap saja, ia sudah tak lagi bisa memerankan peran seorang pendidik, jika nyatanya dirinya telah menorehkan banyak amarah. Kegagalannya memberi contoh 'mendidik' adalah tamparan keras bagi dirinya. Ia cukup tahu diri untuk tak mengulang kesalahannya pada kubangan yang sama. Meski, tentu segala dunia dan candu sekolah adalah taruhannya.
"Enggak bu, Wita coba tawaran Lanis aja", jawab Wita. Ia akan mencoba keluar dari zonanya, seperti mengganti baju yang senantiasa ia lekatkan pada tubuh jiwanya, maka gaun kesayangannya akan ia gantung pada kisah lama namun manis, meski noda yang ia toreh biarlah menjadi kenangan.
Wita tak bisa hanya berdiam diri, jika ia memilih menghukum diri dengan penjara yang ia buat tentu ia akan merupa manusia naif dan kotor. Malam-malamnya yang berat adalah perjuangan panjangnya. Ia hanya dapat meyakini bahwa dari setiap titik awal maka akan bertemu dengan titik akhir. Ia hanya perlu yakin bahwa waktu tentu akan menjawab semua beban berat yang ia redam.
Wisnu kini tak lagi mengganggu dirinya. Apakah lelaki itu akan benar-benar menghilang dari hidupnya? Apakah kata 'pergi' yang ia minta menyelipkan makna untuk tak lagi 'pulang' pada kehidupannya? Apakah lelaki itu tahu jika butuh kekuatan paripurna untuk mengatakan bahwa Wita baik-baik saja, saat punggung lelaki itu menghilang dari pandangannya? Apakah lelaki itu tahu jika dadanya kini bergetar untuk menahan dan mengakui kalimat hati yang ia miliki untuk ia ungkapkan, apakah mas Wisnu baik-baik saja?
"Ya sudah, ibu mah da gak ngerti soal kerjaan model kamu. Sok yang penting kamu nyaman. Kamu bahagia", kalimat ibu yang menitipkan doa sederhana pada Khaliqnya itu teramat berarti bagi Wita. Iya, tentu Wita akan bahagia! Tetapi meyakinkan diri tentang bahagia dengan lelaki pilihan ibu adalah syarat yang harus terbayarkan untuk hidup di sepanjang hayatnya.
__ADS_1
"Aamiin, Wita pamit ya bu!", ucap Wita seraya mengecup punggung tangan milik sang ibu. Hari ini ia akan memulai langkah yang baru. Tak lagi memiliki status guru yang penuh keceriaan, tak lagi memiliki kelas dengan warna-warni kertas lipat dan gambar, tak lagi menyanyikan lagu-lagu yang menyenandungkan kefitrahan anak usia dini, candunya... kini harus rela ia tinggalkan.
Gedung Unishei Consultant yang berada di pusat kota Bandung menjadi tujuan Wita hari ini. Tawaran Lanis tentu akan menjadi salah satu langkah awal bagi Wita setelah Embun Gemitang memintanya hengkang dari sekolah tercintanya itu.
Lembaga Konsultasi Psikologi yang bergerak di bidang bidang pendidikan, bidang industri & organisasi, bidang klinis dan bidang sosial kemasyarakatan ini tentu akan lebih mendekatkan Wita pada dunia psikologi yang ia perdalam. Tidak akan sulit bagi Wita untuk mencoba terjun di dalamnya.
"Melihat berbagai dokumen yang saya baca, saya sangat tertarik. Kebetulan saya juga sedang membutuhkan staf yang akan menggantikan posisi saya di divisi pendidikan". Seorang yang sempat menyebut dirinya sebagai teman Lanis itu memberinya harapan untuk dapat menggeliatkan kembali candunya yang hilang. Divisi pendidikan tentu adalah bagian yang akan sangat ia harapkan.
"Saya tertarik dengan profil anda bu Wita, maka dari itu... silahkan bu Wita pelajari terlebih dahulu dokumen kontrak yang akan kita tanda tangani besok. Jika anda setuju, anda dapat dinyatakan bergabung bersama kami besok".
****
Jakarta, Wisnu-Andra-Lanis
"Saya akan menempatkan kalian untuk mengerjakan sebuah proyek apartement 10 tower di daerah Pakubuwono. Sebagai newcomer, kalian akan belajar mengambil tanggung jawab yang diberikan secara pelan-pelan untuk mengenali proyek yang sedang dikerjakan. Dengan begitu, kalian dapat mengeksplor berbagai bentuk crown atau puncak dari tower apartement sebagai alternatif tambahan dikarenakan desain puncak apartemen masih belum fix". ungkap Wisnu kembali di hadapan para stafnya. Termasuk di depan arsitek-arsitek yang baru saja direkrut oleh perusahaannya itu.
Rapat yang dipimpinnya hari ini terasa lebih berbeda. Hari ini, Andra saja mulai berdecak kagum melihat pengendalian diri Wisnu yang mulai terlihat lebih baik, lebih.. bijak?
Tadi pagi, Andra sudah mempersiapkan diri menerima segala ocehan dan amarah Wisnu akibat laporan perusahaan yang akan Andra bacakan. Tetapi di luar dugaan, cara Wisnu menyikapi masalah perusahaannya itu lebih luwes dan santai akhir-akhir ini. Apakah Wisnu memang benar-benar melakukan training emosi selama tiga minggunya di Bandung sana? Andra hanya dapat tersenyum lega.
"Sepertinya kita harus mengganti tenaga konsultan pengembangan SDM kita pak Wisnu", ungkap Andra di tengah langkah keduanya menuju lift perusahaan. "Sudah beberapa kali ada kasus-kasus yang signifikan terhadap komitmen yang dibangun dalam diri kawryawan perusahaan ini".
"Kamu sudah melakukan analisa di lapangan?", tanya Wisnu meyakinkn pada Andra. Perusahaan yang ia pimpin bukanlah perusahaan yang tiba-tiba besar tanpa proses yang panjang. Maka bersikap waspada dan antisipatif tentu harus dilakukannya, "lakukan saja!", jawab Wisnu singkat.
__ADS_1
"Bagaimana laporan dari Bandung?", tanya Wisnu saat dirinya tiba di ruang kerja kantor yang bernuansa Industrial Modern itu.
Mengambil jarak yang Lanis minta amatlah berat baginya. "Wita butuh waktu untuk mengatur segalanya pak Wisnu, berikan ia waktu dan jarak untuk menata dirinya". Permintaan Lanis itu sungguh sangatlah berat baginya. "Tapi apa Wita baik-baik saja?", tanyanya pada Lanis tempo hari. "Wita tidak baik-baik saja, insomnia dan mimpi buruk yang sekarang Wita hadapi perlu penanganan segera". Jawaban Lanis amatlah menyakitkan. Tolonglah Wita, bertahanlah!
"Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu memulihkannya?", pertanyaan Wisnu yang sering ia tanyakan pada dirinya sendiri. Lalu mendapatkan jawaban tegas dari sang dokter, Lanis; "anda bisa membantunya terus membuka diri dan memaafkan masa lalu yang secara teknis berkaitan langsung dengan anda pak Wisnu, tetapi keputusan Wita untuk melepaskan diri dari anda haruslah anda hormati. Jalan yang Wita tempuh akan membantunya meski akan terasa lebih berat".
Wisnu menghela nafas dan menepikan tubuhnya pada sofa panjang di ruang kerjanya. Andra tak menjawab pertanyaan Wisnu yang tentu akan mengganggu segala emosi dan fikirannya.
"Bagaimana Andra?", tanyanya lagi.
"Mba Wita terlihat lebih kurus sekarang. Sesekali juga harus meminum obat tidur di malam hari". Jawaban Andra memukul perih hati Wisnu. Tolonglah Wita, kalau kau sebut nama Wisnu sekali ini saja untuk hadir di hadapanmu ia akan berlari ke arahmu dengan membawa cinta serta ribuan kata sesal dan maaf.
"Salim sudah membawanya ke dokter?", tanya Wisnu kembali.
"Sudah adiknya bujuk, tapi Wita menolak". jawab Andra membawanya pada ambang penyesalan. Wisnu meremas rambutnya dengan kasar. Ia usap wajahnya seraya menghela nafas panjang, "astagfirullah...", kata kepasrahan yang lirih dan perih ia lontarkan melalui bibirnya yang gemetar.
###
yang minta up dua episode sekaligus maaf ya belum bisa aku kabulkan🙈✌🙏.
tapi untuk mengobati rindu kalian, kalian bisa intip isi hati Wisnu hari ini di ig atau fb ku ya...
kuy cekiceki👉NingTia's__
__ADS_1
jangan lupa follow, share en komen y...😘😘😘