Selesa Rindu

Selesa Rindu
Tempatmu di Sini


__ADS_3

nafasku adalah perantauan


menghembus pada jalan-jalan setapak kehidupan


duhai hati! aku tetap akan pulang..


-Wisnu-


Bandung, Andra-Teh Rumi-Kang Indra-Wita-Satria


"Buruan Andraaaa.... !! Papa cepet iihhh!! Mamah mau lihat akadnya. Syukur-syukur bisa ngebatalin acara nikahannya", ucapan absurd Teh Rumi kini menggaung di pelataran rumah yang khas dengan berbagai tanaman hias. Tanaman yang ia beli untuk memenuhi kesetaraan trend masa kini dengan para sosialita gank baso aci dan seblak ibu-ibu bernama 'mantan mamah muda'.


"Baru juga jam delapan ini Mah.. ih.. kayak mamah aja yang mau 'dirapalan' (dipersunting)". Seloroh Kang Indra menghentikan ocehan istrinya. Sementara Andra sibuk mengecek ponselnya, berharap jika atasannya yang telah ia nobatkan menjadi kakaknya itu menghubungi dirinya.


Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi Andra yang akan mengantarkan ucapan selamat atas nama atasannya untuk pernikahan dengan nama Wita dan Satria. Sejarah yang akan mengguratkan tinta hitam nan pekat bagi hidup sang atasan yang telah lama ia anggap sebagai kakak, satu-satunya sosok manusia yang menjadi keluarganya, Wisnu.


Kini mobil yang dikemudikan Andra telah melaju menembus jalanan kota Bandung, menuju Jl. Halimun Palasari untuk menggenapkan keikhlasan rasa yang telah sempurna tercatat dalam sejarah cinta sang atasan.


Gedung yang telah ia siapkan atas mandat Wisnu untuk membuat pernikahan sang Wita berkonsep mewah dan modern, namun tetap menyisipkan kesan klasik yang timeless, Malaka Hotel Bandung dengan glass house unggulannya, Benggala, membuat pesta outdoor yang semakin berkesan dengan suasana romantis yang istimewa untuk sang Wita.


Kini mobilnya menepi di area parkir yang telah dipenuhi oleh beberapa kendaraan tamu undangan. Waktu pada jam tangannya telah menunjukkan pukul sebelas siang. Ia dan Kang Indra tak mengindahkan keinginan Teh Rumi yang ingin menyaksikan akad nikah Wita dan Satria.


"Ini kenapa ko asa kedengaran banyak suara anak-anak?", celoteh Teh Rumi mengomentari suasana parkiran yang terdengar sayup-sayup suara anak-anak. Lalu terlihat beberapa tamu undangan yang hilir mudik berbisik dengan raut wajah dengan penuh tanda tanya.


"Ndra.. gak ada masalah kan?", tanya Kang Indra meyakinkan.


"Gak ada Kang. Semuanya saya yakin oke. Tiga hari yang lalu saya sudah memastikan tempat ini aman", jawab Andra sambil mengedarkan pandangannya.


Ketiga manusia patah hati itu kemudian melangkahkan kaki mereka menuju area aula besar dengan gaya arsitektur hotel minimalis yang mengusung konsep eco-green. Sebuah aula besar yang terpisah dari bangunan utama hotel dan terhubung dengan teras hijau yang indah.


Pemandangan yang tersuguh kini tak sesuai dengan apa yang mereka siapkan dalam pikiran mereka masing-masing. Nampak ratusan anak yang hadir duduk di kursi tamu yang telah disediakan. Hilir mudik tamu undangan menyalami beberapa orang yang nampak kharismatik dan meneduhkan. Lalu terlihat sebagian dari mereka menukar barcode souvenir dengan benda cantik yang telah Andra pesan sebanyak seribu lima ratus buah.


Pemandangan yang membuat ketiga manusia yang dilanda luka hati itu mengerutkan dahi. Hingga terdengar suara MC yang berada di atas panggung berkata, "sekali lagi selamat datang untuk para tamu undangan, selamat menikmati jamuan kita. Terhatur salam dari mba Wita dan Pak Satria, semoga kegiatan berbagi dengan para anak yatim hari ini membawa keberkahan pada kita semua. Bagi para tamu yang ingin bersilaturahmi langsung dengan mereka, mba Wita dan Pak Satria sekarang berada di rumahnya. Bapak-ibu, Aa-Teteh, bisa menemui mereka langsung di sana. Tapi sebelumnya mari kita nikmati suguhan kami selanjutnya, aisyah istri Rasul!"


Terdegar suara denting gitar dan alunan merdu biduan menemani meriahnya pesta hari ini, pesta dengan kemeriahan para anak, pesta berbagi dengan anak yatim? Pesta yang kini konsepya berubah dari apa yang Andra, Kang Indra dan Teh Rumi kira.


Maka, mobil Andra kini melaju dengan kecepatan tinggi, lalu beberapa kali terdengar suara klakson dibunyikan oleh sang Andra saat kemacetan tiba. Sungguh mereka harus segera tiba di rumah Wita. Untuk memastikan, memastikan jika Wita akan menjadi milik mereka!


Tiba di rumah kecil Wita, mereka mendapati jawaban yang teramat mengharukan. Terlihat oleh sang Andra, Satria tengah berada di teras depan dengan para teman-temannya.


"Hahahaha... lo emang dari dulu gak berjodoh sama Wita. Wita itu target gue.. kalo gue gak bisa, lo juga jangan ngarep bisa" ucap sahabat Satria mencibir sambil menyeruput sirup yang tersuguh.


"gileee.. bini lo inget di rumah", jawab sahabat lainnya sambil mengepulkan asap rokok mengingatkan ocehan konyol temannya itu.

__ADS_1


"Hahahaha.. saya salut sama kamu Sat! Kamu pasti punya jodoh terbaik", ucap lelaki berkemeja batik yang duduk tepat di samping Satria.


"Doakan bro.. minta yang terbaik buat gue sama Wita. Wita cewek baik, gue juga sedikit baik kalo gak salah. hahahahaha... Jadi doakan saja", ucap Satria diakhiri tawa para sahabat dan kata aamiin penuh keseriusan.


Andra kini menemani Teh Rumi menemui Wita. Wanita bernama Wita itu baru saja menyelesaikan shalat dzuhurnya di kamar pribadinya, ia terkejut mendapati kehadiran Teh Rumi. Wita memandangi tamu istimewa itu. Tamu terakhir yang ia temui siang ini, hari ini.


Ia dapati dengan mata telanjangnya sang Andra di belakang tubuh Teh Rumi. Andra tersenyum lalu meninggalkan dua perempuan itu di kamar sang pengantin yang telah membatalkan pernikahannya.


"Mamah Adhis...", ucap Wita seraya memegang mukena yang baru saja ia lipat.


Teh Rumi berlari tanpa basi basi ke arahnya. Ia lalu memeluk Wita yang sejak tadi berdiri mematung memandanginya. Dipeluknya sang Wita dengan tangis yang pecah menembus keheningan hati yang ia redam sejak Wisnu dan Adhisnya pergi. Bukan tak tahu dan tak mengerti, ia hanya mencoba menapikan apa yang terjadi.


"Wita... bundanya Adhis... bundanya Adhis..", dengan sesegukan Teh Rumi memeluk Wita tanpa jeda.


Teh Rumi lalu menegakkan tubuhnya, memandang setiap inci wajah cantik nan ayu wanita bernama Dewita Maharani. Ditangkupnya wajah cantik itu dengan kedua telapak tangan dirinya.


Telapak tangan yang pernah membelai lembut Wisnu kecil. Adik lelakinya yang tampan, yang selalu ia bawa jalan-jalan ke taman setelah ibu memandikannya dan memakaikannya sepatu bayi. Telapak tangan yang dulu menyisir rambut hitam Wisnu yang lucu. Telapak tangan yang selalu siap sibuk berjibaku di dapur untuk menyiapkan makanan kesukaan Wisnu saat pulang dari kota tempat adiknya kuliah dulu. Adiknya.. ia akan melihat binar bahagia pada mata adiknya sekarang. Ia akan memastikan itu!!!


Sementara itu, di teras depan Andra memberanikan diri menghampiri Satria yang sejak tadi sibuk menerima tamu. Dilihatnya ibu Wita, Salim, juga orang tua Satria sama-sama sibuk bercengkrama dengan para tamu dan tetangga. Mereka menyuguhi obrolan dan tawa yang hangat. Sungguh pemandangan yang tak dapat ia kira sebelumnya. Mereka memiliki keberanian dalam menghadapi kenyataan. Kenyataan tentang sebuah rencana besar manusia yang tertanggalkan akibat rasa yang tak dapat dipaksa.


"Pak Satria...", Andra mencoba menyapa.


"iya?", jawab Satria keheranan. Seseorang yang tak ia kenal menyapa dirinya. Apakah salah satu klien yang sengaja datang ke acara pernikahannya -yang batal-? Beberapa diantara klien terkadang menjadi sosok yang misterius dan tak mau menampakan dirinya sebelum nasib dari kasus mereka jelas.


"Andra?? maaf??", tanya Satria meminta penjelasan lebih dari sang lawan bicara.


"Saya Andra, asisten pribadinya Pak Wisnu.. ", jawab Andra yang sontak disambut tawa sang Satria.


"Hahahahaha...., ya..ya.. I see...!!!"


****


Bern, Wisnu


Siang ini tepat pada pukul 10:17 di Switzerland adalah hari yang masih terasa berat untuk Wisnu. Ia tengah memandangi kakek tua yang sedang berlarian mengejar Adhisnya di taman rumah kota yang ia singgahi untuk sementara saat ini, Bern. Kota tua yang masuk dalam situs warisan budaya dunia UNESCO dengan menawarkan pemandangan kota tua dan indah.


Nampak sang kakek yang tak lain adalah ayah dari Restari tertawa menunjukkan rona bahagianya. Ia akan terus melepaskan kerinduannya kepada sang cucu yang memiliki bola mata yang sama dengan putri bungsunya yang telah tiada.


Wisnu tak henti menatap pergerakan mereka dan sesekali menatap birunya langit yang terang hari ini. Langit yang sama menyelimuti jiwa manusia yang kini ia rindukan. Lama ia menepis segala pikirannya yang kemarin teramat kacau. Tentu, sebab kemarin adalah waktu yang ingin ia hapus dalam sejarah hidupnya. Witanya dipersunting lelaki bernama Satria! Lalu sejenak ia menggelengkan kepala saat otaknya berpikir bahwa saat ini adalah waktu subuh dengan tubuh dan rambut basah dari wanita pujaannya di negeri sebrang sana. SIAL!!


Memutuskan untuk menyalakan ponselnya kembali mungkin akan sedikit mengurangi kekacauan hatinya. Ia bisa membaca beberapa artikel tentang arsitektur dunia atau mendengarkan berita terkini tentang peluang bisnis perusahaan yang dimiliki temannya itu di sini.


Ponsel itu menyala dengan lamban setelah ia aktifkan kembali. Ponsel baru dengan nomor yang baru itu kemarin sengaja ia matikan untuk sekedar menghindari. Ia tak mau menerima kabar apapun dari Andra, Teh Rumi atau Kang Indra tentang pernikahan sang Wita.

__ADS_1


Benar saja, ketiga manusia yang Wisnu takuti akan menghubunginya kemarin telah mengisi notifikasi panggilan masuk dan puluhan chat yang belum terbaca. Belum sempat ia membaca chat yang masuk dari Kang Indra, panggilan masuk atas nama Andra tampil pada layar ponselnya.


Ada apa pikirnya?, waktu di sini menunjukkan pukul 10:17, tentu dapat ia perkirakan jam yamg berada di kamar Andra itu menunjukkan pukul 04:17 dini hari.


"Hallo.. assalamu'alaikum Ndra".


"Hallo bang... abang kemarin kemana aja? ditelpon gak aktif?", tanya Satria.


"Ya.. saya kan di Swiss Ndra.. gak kemana mana, kamu kan tahu", jawab Wisnu seraya memberinya tawa kecil.


"Gak lucu bang!!"


"Saya emang gak lagi ngelucu", jawab Wisnu santai.


"Abang.. harus segera pulang!! ini PENTING!!", nada tegas Andra membuat bulu kuduk sang Wisnu terasa berbeda. Ia ingat betul nada ini pernah terdengar dari suara Kang Indra saat mengabari bahwa ibunya telah tiada. Seketika pikirannya bertambah kacau.


"Ada apa Ndra??", tanya Wisnu dengan nada khawatir.


"mba Wita bang... mba Wita...", ucap Andra terbata-bata.


"Wita?? Wita kenapa"?


Hening sesaat ketika Wisnu melayangkan tanya dengan penuh kekhawatiran. Entah mengapa Andra menjadi orang yang gagap dan gagu saat berbicara dengannya. Pikiran-pikiran kotor berseliweran dalam kepalanya tentang Wita saat ini.


"Abang harus secepatnya kembali ke Indonesia. Segera!!!" jawab Andra menambah jantung dan nafas Wisnu pengap seketika.


"ANDRAAA... ADA APA DENGAN WITA??? JAWAAAB!!!"


"Mba Wita.. mba Wita.. dia.. membatalkan pernikahannya, saya yakin... mba Wita.. dia.. masih mencintai abang!!"


Tubuh Wisnu seketika mundur, bersandar pada tiang pintu teras rumah. Tangannya gemetar dadanya bergemuruh, ponselnya ia hempaskan dalam genggamannya, jatuh mengikuti arah lemah tubuh dirinya. Seketika senyum manis wanita berseragam putih abu mengelebat dalam pandangannya, faras cantik dengan buku abu dan gambar karikatur yang lucu menyapa kembali ingatannya.


"Wita...", dalam gumam ia merapalkan nama terindah dalam hidupnya. Air mata itu jatuh tanpa meminta izin pada sang pemilik jiwa.


Wita.. rindu ini adalah milikmu semata. Hanya untukmu....


####


Jum'at berkaaaah.... ayo guyur aku kopiii, bungaa, cintaaa dan lainnya...


jempol like-nya gak lupa ya. Daaaaannn... kasih aku bintang lima hari ini. Buat bekal ongkos Wisnu balik ke Indonesia🤣🤣😜


Yang kemarin udah nyiapin drescode buat pesta hajatnya W couple.. pastikan sesuai tema yang dibuat Teh Rumi ya.. biar gak cerewet dia....😁😁😁🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2