
Namamu adalah pahatan batu
di setiap sudut rindu
Sempurna saja tak cukup menggambarkanmu!!
aku kelu
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Teh Rumi-Adhis
"Akhir-akhir ini Adhis sering melamun. Belajarnya kurang konsentrasi dan mudah menangis". Perempuan paruh baya yang berperan sebagai wali kelas Adhis di Ibnu Sina KinderSchool menjelaskan perkembangan Adhis pada Wisnu. Ruang kelas yang dijadikan tempat laporan perkembangan anak pada setiap semesternya ini dilengkapi dengan penataan bangku warna-warni. Lalu berjejer tas-tas yang didalamnya memuat portopolio setiap anak selama satu semester.
"Kematangan Adhis dalam perkembangan motorik kasar sudah baik Pak Wisnu. Ia anak yang lincah dan tangkas dalam melakukan berbagai aktivitas fisik".
Wisnu mendengarkan dengan seksama apa yang sedang disampaikan sang wali kelas.
"Adhis juga anak yang percaya diri, ia cenderung berani tampil dan cenderung mudah mengungkapkan berbagai informasi. Banyak hal yang selalu ia ceritakan, dari mulai aktivitas di rumah, kebiasaan mamah Rumi, liburan bersama ayah, makanan kesukaan, dan.. bunda Wita".
"Bunda Wita?", tanya Wisnu menyela.
"Iya Bunda Wita, calon bundanya Adhis kan?, duh selamat ya pak Wisnu", ucap sang wali kelas yang usianya dapat diperkirakan sekitar empat puluh enam tahun itu.
Wisnu hanya mampu tersenyum seraya berfikir sejenak, darimana wali kelasnya Adhis itu dapat mengambil kesimpulan?
"Kelihatannya Adhis sayang banget sama bundanya. Adhis suka bercerita banyak tentang bunda Wita. Antusias sekali saat menceritakan kebiasaannya. Bernyanyi dengan bunda, menari dengan bunda, menangkap ikan dengan bunda, menggambar dengan bunda, jalan-jalan dengan bunda, membuat kue dengan bunda, memetik buah jambu dengan bunda, dapat hadiah dari bunda, dimandiin sama bunda, ah banyak pokoknya pak".
Apa-apaan ini?, Wisnu terkesima dengan apa yang diutarakan wali kelas Adhisnya itu. Bukan pada penuturannya yang lemah lembut dan tegas tapi pada apa yang disampaikannya. Sedemikiankah dekatnya Adhis dengan wanita pujaannya? Ia bahkan lupa kapan terakhir kali memandikan Adhisnya. Jalan-jalan bersama Adhis? Ia baru dapat membiasakannya pasca kejadian pelaporan Adhis insiden yang melukai temannya yang bernama Fahrezan.
Melangkahkan kaki keluar pintu kelas dengan sebuah tas portopolio dan map dokumen laporan perkembangan Adhis, Wisnu menatap lekat putri kecilnya. "Adhis itu anak yang penurut. Saat ini frekuensi tantrumnya sudah mulai menurun. Bunda Wita hebat juga ya.. bisa jadi motivator buat Adhis. Adhis itu kadang suka bicara sendiri kalau lagi nahan nangis dan meredakan marahnya, kata bunda Wita Adhis boleh nangis tapi sebentar biar jadi anak hebat".
Mengapa bisa begini?, hidupnya merupa lingkaran yang tergurat pada tanah bertuliskan Dewita Maharani. Sejenak ia memberanikan diri untuk mereda dari kerinduannya yang membuncah dan keserakahannya yang membakar kesadaran akan takdir tentang Witanya yang akan segera menghilang.
__ADS_1
Wisnu duduk di tepian kursi taman sekolah Adhisnya itu. Membuka ponselnya, chat yang tiga hari lalu ia coba lupakan, untuk tak ia sentuh. Kau tak bisa begini Wita, kau buat temali ini semakin erat pada perahu yang kudayuh di lautan lepas keterasinganku. Kau hanya perlu meninggalkanku dengan jejak cintamu, tak perlu kau lukis kasih dan sayangmu menghias kerinduan yang fana untuk Adhisku. Ini.. terlalu berat untukku, dalam kecepatan kilat kau akan menenggelamkanku ke kedalaman luka pahit tak terobati.
Wisnu harus tetap menatap langkahnya menjadi kepastian untuk memberi kekuatan bagi dirinya, dan putri kesayangannya. Tak boleh menyerah pada titik hampa dan nestapa. Cukup sudah ia mendapatkan balasan setimpal atas kesalahan yang diputuskannya di masa lalu. Kini ia hanya perlu memutuskan langkah hidupnya. Witanya telah bersemayam sejak lama dalam hidupnya, maka hilang adalah kata yang tak akan pernah ia izinkan!!! TAK KAN PERNAH
***
BUNDA WITA
Assalamu'alaikum bunda
maaf mengganggu nih kayaknya
Adhis dari kemarin nanyain terus. mamah kapan ketemu bunda katanya
gara-gara Wisnu tuh, kemarin janji mau nagajakin Adhis ketemu bunda, eh ayahnya malah sibuk wae kerja
Ini nanyain terus dari semalam.
saya udah bosen jawabnya. hehehhe
nanti Adhis mau nelpon
Akhirnya pesan itu Teh Rumi kirimkan ke nomor Wita. Teh Rumi benar-benar memberanikan diri mengirim pesan singkat untuk meminta Wita menerima teleponnya. Katakan jika ia lancang, tapi Teh Rumi sudah tak tahan lagi dengan ocehan Adhis sejak semalam. Bahkan siang ini, di taman sekolah Ibnu Sina Kinder-School, Adhis tetap meminta pada Teh Rumi untuk menemui Wita.
Selagi menunggu Wisnu sang adik menyelesaikan urusannya dengan wali kelas Adhis itu, Teh Rumi lalu mengirimkan kembali pesan yang belum dibalas oleh sang guru favorit Adhis, Wita, dengan sebuah foto hasil jepretannya barusan di taman sekolah.
kangen bunda katanya...
Teh Rumi menyadari jika kini dirinya hanya bisa berharap pada keberuntungan. Bahwa adik dan keponakan manisnya ini akan mendapatkan kebahagiaan.
"Teh.. ayo..", Wisnu tiba-tiba berada di hadapannya. Mendapati Wisnu tengah menggendong Adhis dengan sebuah tas bertuliskan Ibnu Sina KinderSchool.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?", tanya Wisnu pada Teh Rumi dan Adhis.
"Horeee ke rumah bunda Witaaa", teriak Adhis girang.
"Eh kenapa rumah bunda Wita?", tanya Wisnu heran. Tak gurunya, tak Adhis, Wita selalu disebut di hadapannya.
"kamu lupa nyak Wis, kamu teh pernah janji mau ngajak Adhis ketemu bunda Wita, matakna (makanya) ka anak kecil mah ulah (jangan) janji!", gerutu Teh Rumi saat mereka berjalan menuju mobil Wisnu yang terparkir di halaman belakang sekolah. Kini kakaknya ikut menjadi komplotan penyerang barisan koalisi Wita-Adhis. Yang benar saja!!
"Wita gak membalas pesan Wisnu teh..", jawab Wisnu pasrah. Terima saja ocehan kakaknya itu siang ini sebagai ganti play musik di mobilnya.
"Kita ke SkyWorld?" bujuk Wisnu pada Adhis.
"Aseeek.. mauuu", jawab Adhis riang. Teh Rumi hanya mampu menggelengkan kepala. Dasar budak dibobodo ku ulin we langsung lupa kahayangna (dasar anak kecil, dibohongi dengan main saja langsung lupa dengan keinginannya).
Wisnu berjalan menuju mobilnya diikuti suara riang Adhis. Dalam gendongannya itu Adhis terus berceloteh. Tak heran jika gurunya Ahdis mengatakan bahwa Adhis merupakan asetnya yang berharga. Kritis sekaligus ekspresif. Sebuah potensi yang akan menjadi bekal bagi tumbuh kembangnya Adhis hingga mampu mengalahkan segala tantangan yang dihadapi. Yakni menghadapi kenyataan kelak yang serba tak pasti. Sebuah kata penutup yang disampaikan sang wali kelas yang telah memukul nyeri perasaan Wisnu, "dia sering murung akhir-akhir ini, bukan Adhis banget lah Pak. Pernah suatu ketika ia berkata; Bunda Wita ko gak ikut pindah sekolahnya sama Adhis bu guru?..."
Wisnu harus mencoba meredakan kerinduan Adhis dengan bujuknya melalui jalan-jakan ke tempat favorit Adhis. Di mobilnya itu ia telah bersiap.
"Siap semua?" tanya Wisnu
"siaaap.. siaaap", jawab Teh Rumi dan Adhis berbarengan.
Perjalanan menuju arena wisata itu terasa lambat. Sebab jalanan ibu kota yang dilengkapi dengan teriknya matahari ini harus meladeni kemacetan yang biasa terjadi.
Hingga suara ponsel Teh Rumi terdengar memecah keriangan Adhis dalam mobil yang tengah berbahagia akan bermain berama sang ayah.
"ssstttt... bunda Wita" suara berbisik teh Rumi sontak membuat Adhis mendongkak dan Wisnu menoleh ke arah kursi penumpang.
Sebuan panggilan video yang menampilkan wajah cantik sang Wita kini tampil di layar ponsel Teh Rumi.
"Assalamu'alaikum Adhiis".
"bundaaa.. bundaa..." teriak Adhis riang.
__ADS_1
Suara Wita yang terdengar mahal itu kini menepi di telinga Wisnu. Sosoknya bahkan kini tampil di layar ponsel yang dipegang sang Adhis. Hati Wisnu kini bergetar mendengar merdunya suara wanita yang ia rindu. Namun dadanya seketika sesak saat sang kakak merajuk dan berkata; "kamu mah tega Wisnu ka teteh sama Adhis, lamun (kalau) Wita gak jadi kamu bawa!!!"