Selesa Rindu

Selesa Rindu
Memberanikan Diri


__ADS_3

Bulirkan debu pada cermin jiwa


Ia merogoh kenestapaan namun manis


Biarlah! Aku nikmati bersama bayangan hitamku


-Wita-


Bandung, Wita-Lanis-Adhis-Rumi


Dua pekan sudah berlalu, Wita beranjak baik. Lanis sang sahabat senantiasa menemani dirinya di waktu-waktu senggang yang ia miliki. Ditemani Lanis dan Rani, Wita menjadi memiliki keberanian untuk menghadapi. Ia tahu betul bahwa langkahnya dalam hidup adalah sebuah keputusan takdir yang tak dapat ia tawar lagi. Kalaulah takdir hidupnya dapat ia tawar untuk memutar sejenak pada roda waktu 7 tahun silam, ia akan memutuskan untuk tidak memenuhi keinginan sahabat yang dengan terang-terangan mengungkapkan hati terdalamnya tentang cinta, Tara.


“Baiknya kamu bicara sama Wisnu, Wit!”. Permintaan Lanis sungguhlah permintaan terberat yang harus ia tunaikan. Ya.. harus!!!. Wita harus mencoba mengeringkan luka yang membasahi setiap relung jiwanya untuk segera ia selesaikan. Dari segala rasa bersalah dan keterpurukan. Keangkeran tentang menghadapi kenyataan patahnya hati yang ia rasakan harus segera ia tuntaskan. Agar Wita menyadari bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kehidupan Wisnu sudah pada titik yang seharusnya, pun dengan kehidupan Wita. Bukankah itu yang dinamakan takdir?.


Sulit bagi Wita mencoba permintaan Lanis, tetapi Wita tak boleh menjadi pecundang yang terus lari dari sakit yang ia derita. Biarlah ia mencoba!. Dengan keyakinan yang berada pada ambang keraguan, Wita tetap akan mencoba.


Pagi ini seraya menghirup udara Embung Gemintang di antara rerumputan hijau taman depan ruangan kantornya ia duduk. Memasrahkan diri pada hari ini yang akan ia lalui.


“kamu bisa Wita!, yakinlah bisa!!”, Rani memecah keheningan yang mendalam bersama lambaian angin menyapa jemarinya yang terus ia tautkan pada jilbab yang ia gunakan. Tentu, akan bisa kan? Wita.. berdirilah menegak seperti pepohonan tua itu, yang selalu kau rawat setiap hari dengan siraman air pagi.


“bundaaaa…” teriakan Adhis melengking dari kejauhan memecah keraguan yang ia pendam dalam dada. Seketika gadis kecil yang jika ia amati dengan seksama begitu mirip dengan wajah Wisnu itu memeluknya tanpa aba-aba. Ah Wita.. mengapa kau tak menyadarinya.


“aku kangeeen.. Bunda Wita kemana?”. Adhis menegakkan kepalanya memandang lekat mata Wita yang sama-sama menatap kerinduan yang mendalam. Duhai Adhis! kalaulah kau tahu, betapa rindu ini tak terelakkan. Kalaulah bisa jagad ini bertemu dengan Pemiliknya untuk sekedar memohon menghentikan waktu, tolong hentikan saja kisah Adhis dan Wita hingga hari dimana ia tak mengetahui siapa Adhis sesungguhnya. Mengapa kebodohannya terulang kembali?. Mendalami Adhis dengan segala emosi yang dideranya, tanpa memeriksa identitas Adhis yang sesungguhnya. Salahkan saja kesibukannya, hingga ia abai dengan dokumen Adhis yang Zahra simpan di atas meja kerjanya. Lalu ia lebih memilih memasukan map itu pada laci kerja tanpa tahu bahwa itu justru membawa petaka.

__ADS_1


“Bunda kemarin sakit, jadi harus istirahat beberapa hari”, Rani menjawab pertanyaan Adhis. Wita nampaknya belum mampu membuka suara untuk sedekar mengucap rindu pada sang anak. Wita hanya sanggup membelai punggung mungil milik Adhis lalu memberikan senyuman termanis yang dimilikinya untuk Adhis. Seketika Adhis turun dari pangkuannya dan berbicara dengan binar bahagia.


“bunda sekarang sudah sehat? Makanya bisa sekolah?" anak kecil itu bertanya. "Adhis punya hadiah buat bunda, soalnya bunda udah sehat, kemarin waktu Adhis sehat bunda ngasih hadiah Adhis jalan-jalan memetik buah jambu, sekarang Adhis punya hadiah buat bunda”.


Adhis lalu berlari menjauh dari kursi yang Wita dan Rani duduki. Ia lalu membuka tasnya dengan antusias. Entah apa yang Adhis cari dalam tas kecilnya itu.


“bahkan anaknya pun suka sama kamu. Aku yakin Wisnu tidak akan semarah yang kamu bayangkan”, Rani mengucapkan kalimat yang sesungguhnya benar-benar ia takuti. Kemarahan Wisnu pada dirinya patutlah ia dapatkan. Pantas untuk seseorang yang tidak mampu menjaga hati seperti dirinya. Tetapi, bolehkah ia membuat pembelaan diri?.


“kamu buatlah janji dengan mamahnya Adhis, minta ketemuan sama ayahnya Adhis. Jangan ditunda-tunda, kamu harus segera menangani kesehatan kamu”. Oh Rani.. bukanlah Wita tak tahu akan hal itu, tetapi bagaimana kakinya itu akan melangkah jika luka yang ia buat justru menjadi peluru bagi dirinya sendiri.


“sim salabim… hadiah buat bunda” Adhis kini berada di hadapan Wita dan Rani kembali, dengan secarik kertas yang nampak kusut akibat lipatan yang tak beraturan. Tentu saja, Adhis pelakunya.


“ini Adhis buat waktu bunda tidak sekolah. Adhis hebat kan bunda, ya?”


“ini aku, ini bunda Wita”. Adhis menunjukkan gambar yang ia buat merupa goresan tangan menggambarkan sosok orang kecil, gambar sosok orang yang terbuat dari garis-garis sederhana yang ia sebut sebagai dirinya, dan gambar yang sedikit lebih besar yang ia klaim sebagai sosok Wita. Sungguh goresan yang Adhis buat menunjukkan jika Adhis memiliki emosi yang tidak stabil. @


Wita memahami betul, jika gambar berukuran kecil dengan letak di bagian bawah atau pojok kertas yang Adhis buat benar-benar mengekspresikan perasaan anak gadis kecil itu yang sedang merasa tidak aman dan merasa tidak cukup baik. @ Lalu bagaimana dengan bentuk hati yang Adhis ungkapkan untuk dirinya?, tolonglah Adhis.. jangan kau buat semuanya terasa lebih rumit. Wita tak mampu menahan pergerakan tubuhnya untuk memangku seraya memeluk Adhis dengan hangat. Genangan air mata yang ia tahan di pelupuk matanya tak terasa menetes pada punggung jemari yang ia eluskan di punggung sang anak.


*******


Bersama Adhis di hari pertama setelah insiden pertemuannya dengan Wisnu, menebar senyum dan tawa riang, bernyanyi dan bermain-main, bahkan Adhis teramat sangat merindukannya, lalu apa yang terjadi?, jika nyatanya ia tak bisa mengelak bahwa dirinya pun merindukan gadis kecil itu. Oh tolonglah Wita, bolehkah saat ini ia mengundurkan diri saja pada Bu Tarmin? agar tak harus berurusan dengan kelebat cintanya pada sang Adhis yang diam-diam telah menempati kehangatan hatinya.


Tetapi, ia tak harus menjadi seorang pecundang bukan?. Wita akan memantapkan diri menghadapi, ya.. HADAPI!!. Profesioalisme yang selalu ia junjung tinggi kini sedang mendapatkan taruhan yang pantas ia perjuangkan kemenangannya. Bersama keberaniannya itu, ia memulai kalimat yang membuat mamahnya Adhis berkerut dahi keheranan.

__ADS_1


“Wisnu? Ayahnya Adhis?” tanya teh Rumi meyakinkan.


“iya mamah. Saya perlu bertemu dengan ayahnya Adhis, Pak Wisnu”, Wita mencoba meyakinkan sang mamah meski bibirnya bergetar dengan keringat yang mulia menyelusup melewati pori-pori kulit wajahnya.


“ah.. Wisnu biasanya datang ke Bandung hari sabtu atau minggu, tapi akan saya usahakan agar Wisnu bisa kesini di hari kerja”.


“gak apa-apa mamah, saya ikuti jadwalnya ayah Adhis saja. Jika beliau sedia di hari week end, saya tidak berkeberatan” Wita menjawab penuh ketegasan.


“oh gitu ya, okey kalau begitu mah. Hari sabtu aja mungkin ya, saya coba supaya Wisnu mengusahakan datang di hari itu. Dan..” Teh Rumi menjeda kalimatnya. “ngomong-ngomong soal Wisnu.. ini ada oleh-oleh dari Wisnu buat bunda Wita. Dari Surabaya, kemarin ada tugas ke sana. Eh.. biasalah.. tu murid kesayangannya bunda Wita ngoceh terus minta dibawaain oleh-oleh buat bunda Wita katanya”.


Dua buah kotak Almond Crispy Cheese rasa cokelat tengah berada di meja kerja Wita. Santapan yang ia gigit perlahan dirasakan terasa begitu pahit di lidah. Wisnu, apakah kau memang tidak pernah lupa dengan cokelat yang Wita gemari?.


########


@https://www.popbela.com/career/working-life/dinalathifa/arti-coretan-tangan-sesuai-kepribadian/3


@https://www.ibupedia.com/artikel/balita/3-arti-coretan-balita-yang-dapat-ibu-ketahui


Hai-hai-hai..🤗🤗


Readers maafkan aku lelet banget nih. Membagi waktu diantara profesionalitas dan hobi itu serasa membagi hati ya. Hihiihi..🙈


Terimakasih banget buat kalian yang kemarin memberi aku banyak masukan dan suntikan semangat. Dan gak bisa aku sapa satu per satu disini.😘😘😘😘

__ADS_1


Ayooo kasih aku semangat terus dengan komen, like en share karya aku yang gak seberapa ini.👍👍💪💪✌


__ADS_2