
Hilanglah kelemahan hati
sebab Tuhan menapakkan KuasaNya
untuk syukurku hari ini
-Wisnu-
Bandung, Teh Rumi-Wita-Wisnu
Wisnu tidak dapat menyembunyikan lagi rasa bahagianya saat layar monitor Ultrasonografi memperlihatkan gambar janin yang dikandung oleh istrinya. Buah hati yang sama-sama telah ia mimpikan bahkan sebelum benar-benar mengakhiri masa lajang, dengan Witanya tentu mimpi itu akan indah.
Tangannya gemetar, memegang erat sang istri dan sesekali mengecup kening cintanya itu dengan lembut. Matanya berkaca menahan rasa haru yang membuncah. Ia akan menjaga istri dan buah hatinya dengan sekuat tenaga, AKAN SEPERTI ITU!
__ADS_1
“Gimana keadaan istri saya dok? Sehat? Bayinya? Dia susah makan dok, gak apa-apa kan? Muntahnya juga kasihan saya lihatnya, itu gak apa-apa gitu? Gak bahaya juga buat bayi saya kan.. dok?”
Serentetan pertanyaan Wisnu membuat dokter cantik bernama Jihan di ruang pemeriksaan tersenyum. Dokter ini tentu sering mendapati bagaimana kebahagiaan seorang suami sekaligus calon ayah dari janin yang akan terus tumbuh beberapa bulan kemudian ini, tertuang melalui berbagai reaksi dan ekspresi. Seperti calon ayah yang satu ini.
“Waah.. si ayah udah gak sabar ini kayaknya. Pertanyaan yang mana dulu nih yang harus saya jawab?”, jawaban dokter Jihan telak membuat Wita malu sendiri.
“Mas yang sabar ih, nanti dokternya akan jelasin juga ke kita”. Wisnu lebih baik menghadapai rapat darurat yang sering memanas di perusahaannya, dibandingkan harus menunggu ‘lama’ penjelasan dokter tentang keadaan Wita dan buah hati yang dikandung sang istri. Peringatan istrinya itu memintanya untuk lebih bersabar.
Tetapi Wisnu kini dapat bernafas lega, saat dokter menjelaskan banyak hal tentang kondisi ibu hamil pada umumnya, termasuk apa yang dialami Wita. “Makan yang banyak! Bunda harus sehat, biar bayinya ayah sehat!” Wisnu menyendokkan beberapa potong daging ayam katsu di atas piring milik Wita. Selepas bertolak dari rumah sakit kandungan kota Bandung, restoran ini menjadi peneman mereka berdua merayakan kebahagiaan hari ini. Ditemani tiga puluh anak yatim piatu, anak-anak yang tak seberuntung anak-anak lainnya karena kehilangan orang tua sejak kecil, bersama mereka Wisnu berbagi kebahagiaan.
“Teman ayah”, jawab Wisnu. Wisnu lebih memilih menyuapi sang istri yang hanya terus memainkan nasi dalam mangkuknya, terihat utuh tak sedikitpun berkurang. “Bunda maunya makan apa? Biar ayah pesankan”, ucap Wisnu melanjutkan aktivitasnya menyuapi sang istri.
“Sudah ini saja, Wita gak lagi kepikiran makanan apapun”. Wita mengusap lembut perutnya yang masih nampak rata dengan perasaan menghangat. Fase kehidupan yang kelak akan ia lalui dengan kisah yang baru akan segera ia hadapi. Terlebih sikap Wisnu yang begitu memproteksi dirinya sedemikian rupa. Membawa keyakinan akan langkahnya menghadapi hidup dengan penuh keberanian. Seperti kemarin, ketegasan Wisnu menentang keputusan Teh Rumi untuk berpisah sesaat dengannya adalah bukti kehebatan suaminya dalam mencinta. Ia dengan jelas dapat menangkap perlawanan diri Wisnu yang tengah berperang melawan rasa takut dan khawatir dari banyang-banyang masa lalu meninggalnya Restari begitu dalam dan hebat. Tetapi hebatnya Wisnu juga melebihi rapuhnya yang ia miliki.
__ADS_1
Dengannya, Wita teramat yakin bahwa lelaki bernama Wisnu itu tak hanya akan menjadi ayah bagi putri kecilnya yang bernama Adhis, tetapi akan menjadi ayah luar biasa bagi anak-anaknya kelak di masa yang akan datang.
“Habis ini langsung ke rumah Teh Rumi? Atau mau jalan-jalan dulu?”, tanyanya sambil mengusap lembut sisa makanan yang menempel di tepi bibir Wita dengan tissu.
“Langsung ke rumah Teh Rumi saja”, jawab Wita mantap. Tentu ia harus segera ke rumah kakak iparnya itu, sebab hari ini akan menjadi hari tersibuk bagi Teh Rumi. Menjelang resepsi pernikahannya dengan Wisnu yang akan digelar di Bandung, yang katanya cita-citanya sejak dulu.
Ternyata, pesta pernikahan yang diidam-idamkan Teh Rumi sejak dulu yang ia maksud bukanlah perkara lokasi. Konsep pernikahan yang bernuansa Rustic dengan pilihan gaya indoor dan outdoor telah ia gadang-gadang sejak Wisnu mengucap ijab kabul untuk sang adik ipar, ibu gurunya Adhis. Jika dulu ia tak mampu mewujudkannya maka kali ini bolehlah ia menjadi lakon utama untuk cita-citanya itu. Ah Teh Rumi, kalau ada dua kakak semacam ini, bungkus saja satu! Sebab dia, memang ajaib.
Pesta pernikahan yang sedianya akan digelar dua hari lagi ini akan berlangsung di Intercontinental Bandung Dago Pakar. Intercontinental menawarkan pemandangan hijau dan asri dari pegunungan yang mengelilinginya. Fasilitas ballroom yang besar, bisa menampung hingga 3.000 tamu undangan. Undangan yang berjumlah besar ini bisa dibagi ke dalam tiga ruangan yang berada di dalam ballroom.
“Wita, coba kamu cek-cek lagi takutnya ada undangan yang belum kecatet!”, Teh Rumi dengan kacamata bacanya terus melingkari nomor urut undangan yang ia catat sendiri. Khawatir ada saudara, mamahnya teman-teman Adhis, guru Adhis, teman dan kolega Kang Indra, tentangga, teman-teman semasa kuliahnya -teman Teh Rumi tentunya, catat!- dan genk sosialita mamah mantan muda yang sekarang masih sering bertemu dalam tema perkumpulan tatap muka workshop baso aci hot jeletot. Hmm..
###
__ADS_1
hari ini aku crazy up ya man temaan😘😘😘
jangan lupa tinggalkan jejak🤩🤩🤩