
Fahamkan aku tentang kalimat tubuhmu
kau tersungkur dalam luka sejak aku menitip tangis ini di sudut hatiku
lalu aku dapat memahamimu
kau terlalu berharga untukku
-Wisnu
Jakarta, Wisnu-Andra-Kang Indra-Teh Rumi-Ibu
"Rumah sakit terdekat Ndra!!" titah Wisnu menggema di dalam mobil. Wisnu tak pernah sedikit pun dapat mengira kejadian ini akan menimpa dirinya. Sebut saja Tuhan memang memiliki seribu cara untuk mempertaruhkan hidup yang telah dianugerahkanNya untuk memiliki nilai tinggi dalam kata kesabaran dan perjuangan.
Saat duduk di kursi rumah sakit, Wisnu akhirnya berseloroh, "Gak nyangka ternyata rumah sakit tempat pertama yang saya kunjungi, Ndra. Saya pikir saya akan langsung meluncur ke rumah Wita". Ucap Wisnu di depan pintu kamar perawatan Wita, Rumah Sakit yang ia tandangi.
"yaelah baaang.. tapi kan yang pertama dilihat tetep mba Wita jugaaa, syukuri aja...", goda Andra.
"hmmz.. ", guman Wisnu seraya meringis merasakan nyeri di pelipis matanya dan lengan kanannya.
"Kamu nanti tolong urus semuanya ya Ndra, kelengkapan dokumen dan lain-lain, saya gak mau sampai ada yang kurang. Minta bantuan Salim juga! eh mana Salim?" Wisnu mencari ke kanan dan kiri.
"Lagi nelponin ibunya", jawab Andra santai. "Abang kata dokter ga ada masalah? gak usah dirawat?" tanya Andra khawatir.
"Saya minta pulang dulu aja, dokter sudah ngasih obat. Saya gak tenang, harus segera disiapkan malam ini juga Ndra!!".
Bagaimana kini hatinya bisa tenang, jika Wita harus jatuh pingsan akibat kecelakaan yang menimpa dirinya. Wita masih dalam keadaan tak sadarkan diri, sesaat yang lalu dokter mengatakan bahwa Wita mengalami dehidrasi akibat muntah-muntah dan stres yang berlebih. Tekanan darah rendahnya juga menjadi pemicu utama pingsannya kali ini.
"Mba nya masih harus dirawat dulu, barusan dia sudah siuman", ucapan dokter memberi Wisnu nafas lega.
"Lim, ibu sudah kamu kabari?" tanya Wisnu pada adik Wita.
"Sudah bang, besok ibu ke sini sama saya bang".
"Iya baiknya begitu. Tolong kamu siapkan segala sesuatunya, saya benar-benar mengandalkan kamu!"
__ADS_1
"malam ini Wita biar ditemani Putri, kamu gak nyetir, nanti Andra siapkan supir. Jadi kamu bisa sambil istirahat di mobil".
"iya bang", jawab Salim menyanggupi.
"Putri sudah kamu hubungi Ndra?" tanya Wisnu
"Sudah bang, katanya sudah ada di sini, lagi jalan menuju kamar mba Wita".
"Ya sudah, kamu tunggu sampai Putri nyampe, saya tunggu di mobil. Handphone lama saya di bawa Ndra?"
"Ini bang..", Wisnu menerima ponsel yang sejak kepergiannya ke Swiss ia tinggalkan bersama Andra. Malam ini akan menjadi malam terberatnya kembali. Ia harus segera bertindak cepat menyangkut hidupnya di masa depan, menyangkut wanitanya yang kini terbaring lemah. Ia seperti lupa dengan luka pada lengan yang sudah dijahit beberapa menit lalu beserta pelipis mata yang kini telah ditutupi dengan perban. Wisnu melenggang pergi menuju mobil Andra.
Ibu Wita, Wisnu harus segera menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, ibu apa kabar?"
"Wa'alaikumussalam..Nak Wisnu... ya allah.. alhamdulillah kalian bisa selamat"
Ibu Wita mengutarakan kelegaannya mendapati kabar Wisnu dan Adhis selamat dari kecelakaan yang menyebabkan empat puluh orang meninggal, dua puluh satu luka berat, sebelas luka ringan dan sebagian lagi dinyatakan selamat tanpa luka.
Wisnu menjawab dengan buncahan hati yang tak tertahan. Ingin segera menyampaikan keinginan hati, mempersunting rindunya ke pelaminan rasa yang akan membawanya pada kata cinta dan ibadah.
"bu.. maaf jika saya lancang.. saya.. mau meminta sesuatu"
"Apa nak?", tanya ibu penasaran.
"Sepertinya saya tak bisa menunda lagi bu, saya sudah banyak mengulang kejadian melihat Wita seperti ini. Saya khawatir akan ada banyak fitnah antara kami. Maksudnya, ... saya sudah tidak sanggup melihatnya seperti ini dengan keterbatasan status saya".
"hhmmm...., Wita sudah tau?"
"belum, Wita baru sadarkan diri, dokter memintanya untuk istirahat. Saya gak bisa menggangunya. Sepertinya saya tak perlu meminta izin ke Wita... apa yang terjadi hari ini sudah lebih dari jawaban bagi saya, bu..."
*****
"Kalau begitu biar akang balik dulu ke Bandung. Akang siapkan dulu semua keperluannya. Kebetulan kepala kantor agamanya teman akang. Mamah yang ngatur-ngatur di sini ya?!", ucap kang Indra di ruang keluarga setelah Wisnu mengutarakan segala rencananya. "Akang setuju, niat baik harus disegerakan", ucapnya lagi.
__ADS_1
"Ya sudah.. disini biar teteh yang ngatur. Teteh mau ada pengajian ya Wis? Kita undangnya kepala dan staf kantor kamu aja. Kebahagiaan harus dibewarakan, meski persiapannya terbatas", ucap Teh Rumi semangat.
"Gimana teteh aja, Wisnu udah gak kepikiran urusan teknis. Nanti biar Putri yang bantu teteh. Ndra coba kamu koordinasikan ke Putri ya?!", titah Wisnu pada Andra yang sedang duduk bersila diatas karpet seraya menikmati mie rebus yang sengaja dibuat oleh teh Rumi dini hari itu.
"iyyya bang", jawab Andra dengan acungan jempol.
"Teh... batik yang pernah ibu beli sewaktu ayah ada tugas ke Garut masih teteh simpan kan? yang dipakai sarimbitan buat nikahan teteh dulu", tanya Wisnu membuat sang kakak mengerutkan dahi.
"Batik Garutan yang dipakai sinjang sama ayah jeung ibu?" tanya Teh Rumi.
"Iya teh.. Wisnu minta satu, tolong dibuat kemeja, Wisnu mau pakai itu", tentu... Wisnu memiliki janji yang tak sempat ia penuhi untuk ibu, setidaknya ia akan melekatkan kenangan manis ini untuk sejarah hidupnya yang berharga esok.
"iiih... atuh eta mah (itu) kenang-kenangan untuk teteeeh", Teh Rumi nampak menolak permintaan Wisnu.
"Kasih aja mah, kita kan punya dua", sela Kang Indra. "Biar Wisnu punya kenangan berharga".
Wisnu melayangkan senyuman puas atas pembelaan kang Indra, "Adhis gimana teh?"
"Udah tidur di kamar teteh barusan, kamu istirahat di kamar teteh aja, temenin Adhis! Teteh biar di kamar tamu".
"Papah jangan nyetir, mobilnya dibawa mang Ujang aja!" Teh Rumi bersigap menyiapkan hal-hal yang harus segera dilakukannya, sekarang ini juga!!
Sementara Wisnu kini tengah berada di kamar memandangi putrinya yang beberapa jam lalu bertarung dengan keberanian melawan situasi yang menegangkan.
Wisnu menepikan tubuhnya di ranjang yang tampak seonggok tubuh mungil Adhisnya tertidur. Dengan pakaian yang sudah ia ganti kini Wisnu berbaring di ranjang tersebut. Setidaknya ia punya waktu empat jam ke depan untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum esok ia harus bersiap diri. Banyak hal yang harus dilakukannya. Sebab esok, akan menjadi hari terpenting dalam sejarah hidupnya.
"Ayaaah... Bundaaa.. ", Adhis menggumam dalam tidurnya. Wisnu memeluk dan menciumi kening Adhisnya dengan lembut.
"Ini ayah sayang, bundanya Adhis sebentar lagi bakal nemenin Adhis, ayah janji", ucap Wisnu yang perlahan mengantupkan matanya, terlelap setelah dokter memberinya obat untuk beristirahat.
###
yang kemarin mau langsung dihalalin ayo siapaaa???
kuy vote, hadiah, komen en like dulu๐๐๐
__ADS_1
Jumat Berkah... Selesa Rindu Berkah..๐ Aamiin๐คฒ