
Tak ada yang bisa menerjemahkan jantungku saat bertalu
Tak ada yang bisa menafsirkan keluku saat membisu
Tak ada yang bisa menyingkap tabirku saat merindu
Hanya ia kekasihku
Menyekap cinta dalam raga bahagia
-Wita-
Bandung, Wita-Teh Rumi-Wisnu
Wita Pov
Hari ini aku dikejutkan dengan perlakuan mas Wisnu. Jantungku hampir copot rasanya saat mas Wisnu memasuki kamarku dan mengunci pintu kamar dengan pelan. Aroma tubuhnya masih tercium tegas di hidungku bahkan hingga saat ini, ketika raganya telah hilang dari pandangan.
Barusan? Apa yang terjadi barusan? Aku tak mengira jika mas Wisnu harus kembali ke rumah karena ponselnya tertinggal. Aku mandi dan berkeramas pagi ini karena tubuhku sudah benar-benar terasa lengket. Haha.. Aku tidak mandi setibanya dari Jakarta semalam.
Semalam aku tak sengaja menutup mataku saat membacakan dongeng untuk Adhis. Mataku terpejam hingga lelap dan hanyut ke alam mimpi. Padahal, rencananya aku akan mandi dan menyegarkan tubuhku sebelum tidur. Aku.. ingin tampil cantik di depan mas Wisnu. Bodoh bukan?
Lalu, benar saja. Wajahnya saat merajuk pagi ini membuatku merasa gemas sendiri. Aku tak menyadari jika kini aku adalah milik seseorang. Mas Wisnu meminta keadilan padaku. "Aku juga perlu diperhatiin Wit..!", rajuknya saat aku mengobati luka jahitnya.
Aku memberinya perhatian kecil dengan mengobati lukanya, menyiapkan baju untuknya dan mengancingkan kemeja yang ia pakai. Tanpa aku sadari tangannya terus memainkan jilbabku saat aku berkonsentasi dengan kancing-kancing kemejanya. Ya Allah.. tolonglah mas Wisnu, aku sedang mengatur nafasku ini..!
Sejenak aku menyadari, sejak ia mengucap ijab qabul di hadapan semua orang, sejak ia mematrikan diri sebagai jiwa yang terikat dengan hati yang aku miliki, aku tak pernah melepas jilbabku di hadapannya padahal aku adalah kehalalan untuknya. Tapi, aku begitu enggan melalukannya. Entah kenapa, hanya saja.. aku.. belum siap!
Jantungku terkadang menabuhkan kegaduhan sendiri saat berdekatan dengannya. Dan konyolnya, aku sering terselamatkan oleh putri kesayangannya yang kini semakin lengket denganku. Adhis, kamu memang penolong!
Maka, aku saat ini merutuki keteledoranku. Aku bukan tipe orang yang nyaman memakai pakaian di kamar mandi. Kebiasaanku berganti pakaian di kamar tanpa mengunci pintu pun menjadi pelengkap kejadian menebarkan ini. Kejadian yang membuat tubuhku memanas dan meremang seketika. Aku kehilangan kendali atas diriku. Ciuman pertamaku... masih terasa manis di bibirku hari ini, aku terkejut!
Mamah Adhis hari ini memintaku bersiap diri? katanya hendak membawaku ke butik langganannya untuk memilah dan memilih gaun yang akan aku pakai di resepsi pernikahanku nanti. Aku tak pernah menyangka, jika ijab qabul yang telah dicatat menjadi sejarah bahagiaku nyatanya akan dibuatkan pesta yang diambil alih langsung oleh mamah Adhis.
Mamah Adhis, ia begitu semangat dalam menyambut kehadiranku. Aku layak menaburkan rasa syukur yang tak terhingga mendapati keluarga mas Wisnu sebaik ini.
Setibanya di butik aku diminta oleh kakak kesayangan mas Wisnu itu untuk memilih gaun yang ingin aku pakai. Mamah Adhis ikut sibuk memilih dan memilah gaunku. Tanpa ia sadari, ia lebih mendominasi acaranya hari ini. Memintaku memakai dan mencoba gaun-gaun pilihannya. Bertanya detail-detail dan kemungkinan-kemungkinan tentang kenyamananku saat memakainya. Menelaah sendiri warna yang sepadan untuk acaranya. Ah.. aku menikmati kehangatan ini.
Adhis juga tengah menikmati acara kami ini. Ia sesekali bergelayut manja padaku. Meminta untuk digendong, berlari-lari kecil mengitari baju-baju yang terpajang, berlenggak-lenggok di depan cermin. Dan tentu.. ia mendapatkan jatah gaun yang sama senada dengan gaun yang aku pakai.
Mamah Adhis dan Adhis kecilku memang luar biasa. Aku... tersenyum jemawa melihatnya.
Tepat pukul dua belas siang mamah Adhis menuntaskan acaranya di butik ini. Ia juga memberikan sebuah totebag berisi pakaian pilihannya di butik ini. "Hadiah dari teteh. Nanti pakai ya!".
Setelah shalat dzuhur, ia meminta supir yang dibawa mas Wisnu dari Jakarta untuk mengantarkan kami ke tempat selanjutnya. Ini di luar jadwal yang aku tahu. Aku harus meminta izin suamiku, sebab tadi pagi ia memintaku untuk tak terlalu lelah hari ini. Izinku padanya hanya pergi mencari gaun.. tidak dengan acara selanjutnya ini. Aku tak tahu sampai jam berapa mamah Adhis akan menghabiskan waktu bersamaku.
Mas Wisnu..
Wita ganggu ga?
Aku kirim chat di ponselku. Tanpa menunggu waktu, ia membalas pesanku.
enggak dong.. apa sayang?
maaf gak bisa nelpon..
ini masih meeting sama klien.
Membaca kata 'sayang' dalam ruang chatku dari mas Wisnu membuat aku geli sendiri. Sungguh, aku sering mengucapkan kata itu untuk anak-anak didikku. Aku juga sering mendapatkannya dari mereka. Tapi menerima kata itu dari mas Wisnu membuat hatiku terasa melayang ke awan. Menyibak semua rindu dan rasa, lalu menari-nari di angkasa, menyanyikan suara merdu berirama cinta berbalut asa.
Aku balas pertanyaannya dengan ragu. Ini adalah kali pertama aku meminta izin atas diriku pada seorang lelaki yang telah menjadi imamku.
Wita pulang agak sorean.
gak apa-apa?
.
.
Mau kemana cantik? aku kan bilang jangan terlalu cape.. Adhis gak rewel kan?
.
.
bukan.. bukan Adhis yang minta. Adhis ga rewel ko. Adhis seneng malah jalan-jalan.
.
.
siapa emang yang ngajakin?
.
__ADS_1
.
Mamah Adhis, katanya ini penting juga. Gak boleh ditunda.
.
.
Satu menit.. dua menit.. tujuh menit.. sepuluh menit.. dua puluh lima menit. Lama aku mendapatkan jawaban. Apa mas Wisnu marah? Tadi pagi ia meminta perhatian padaku, perhatian apa yang ia maksud? Apa aku harus berada di rumah sebelum dia pulang? Harus menyiapkannya makan siang? Tiba-tiba aku jadi khawatir sendiri. Aku-kah istri yang belum bisa membuat suaminya senang itu? Tanpa pikir panjang aku menuliskan kembali pesan di ponselku.
Mas Wisnu.. marah?? Apa Wita pulang saja sekarang?
.
.
Maaf baru balas.
Barusan lagi ada negosiasi alot sama klien.
Marah kenapa?
masa marahin istri cantik ini sih?
nanti kabari aku aja kamu dimana!
Teh Rumi emang suka aneh-aneh.
Kalo kamu kelelahan nanti aku susul. aku jemput.
.
.
makasih mas..
.
.
itu aja?
.
.
.
.
yakin cuma itu aja? gak ada lagi?
Aku bingung dengan pertanyaan ambigunya. Memang apalagi yang harus aku tanyakan? Izin mas Wisnu sudah aku kantongi, aku pun tak ada lagi keperluan mendesak yang harus aku sampaikan melalui chat ini pada mas Wisnu. Aku lalu memastikan apa yang ia maksud.
eh.. maksudnya gimana mas?
.
.
*m*mmmuach..!!
.
.
Aku terkejut dengan sikap manjanya. Wajahku memanas tiba-tiba. Jikalau ada cermin, aku ingin melihat wajahku sendiri, karena sepertinya wajah ini berubah warna seperti tomat merah yang matang.
.
mas ih..
Aku jawab dengan sedikit perasaan malu.
.
.
jangan terlalu lelah .. cinta...
.
.
Mas Wisnu benar-benar! Pesan terakhirnya itu membuat aku serasa menjadi ABG yang sedang dimabuk asmara. Aroma udara yang kuhirup seketika berbau karamel. Langit yang kutatap seketika melukiskan pelangi. Dan suara bising klakson jalanan seketika merupa melodi gitar asmara. Aku.. hanyut dalam cinta bertabur kehangatan dan hasrat kerinduan yang mas Wisnu tebar tanpa batas.
__ADS_1
****
Mobil yang aku tunggangi telah menepi di sebuah tempat. Aku memindai tempat ini dengan seksama. Tempat ini adalah... salon kecantikan?
Mamah Adhis itu mau apa lagi ini? Aku telah merasa bersalah pada adiknya yang tak lain adalah suamiku karena harus berlama-lama di luar. Lalu kini? mamah Adhis membawaku ke salon yang tentunya hanya untuk memanjakan diri dan bersenang-senang?
Merawat diri dan pergi ke tempat seperti ini adalah hobiku. Caraku dulu untuk menghilangkan segala penat dan traumaku di masa lalu. Tapi hari ini bukanlah hari yang tepat menurutku.
"Teteh juga mau perawatan ah", Mamah Adhis sibuk sendiri memilih perawatan apa yang ia inginkan. "Buat anak kecil juga ada ga neng?" tanyanya setelah itu pada sang pelayan di sana.
"Ada bu. Mau sekalian sama dedeknya bu?"
"Iya.. sekalian aja! yang ini berapa jam?", jawabnya sambil menujukkan buku menu pada item 'hair spa' mom en me.
"Satu jam bu" jawab pelayan.
"iyah yang ini aja" jawab mamah Adhis. "Ayo Adhis.. kita seru-seruan lagi!", ajaknya sambil merentangkan tangan memangku Adhis yang ada dalam gendonganku.
"Wita.. kamu santai aja. Nikmati perawatannya ya!" ucapnya sambil melenggang pergi.
"Mba.. dipakai dulu kembennya! ruang gantinya sebelah sana. Nanti langsung di tunggu di kamar sebelah kiri ya mba!?" ucap pelayan seraya menyodorkan batik katun berwarna coklat yang ia sebut kemben itu.
Aku lalu terlentang tidur di kasur ruangan berbau aroma terapi. Menikmati pijatan-pijatan di seluruh tubuhku dengan zaitun yang wanginya membuatku tenang.
Aku menerima pesan saat menikmati perawatan yang aku terima.
MAMAH ADHIS
Bunda Wita, teteh sama Adhis pulang duluan ya. Udah beres nih kita.
Terus Adhis udah kangen sama papah katanya. Adhis mau teteh ajak dulu main ke villanya temen papah Adhis. Ada acara family gathering.
Gak seru kalo gak bawa anak kecil. Risyad udah gak mau diajak ajak. hadeuh.. eta mah si jalu..
Wisnu udah ngizinin ko.. cuma tiga hari aja.
Wisnu nnti jemput kamu. kamu telpon aja dia kalau udah beres.
Aku menghela nafas. "Adhis.. nanti bunda kangeen!!"...
Saat kerinduanku yang baru saja mulai menjalar padahal baru beberapa jam terpisah dengan Adhis, ponselku berbunyi menampilkan panggilan dalam layar; 'Mas Wisnu'.
"Assalamu'alaikum. Udah beres sayang? kamu lagi dimana? aku mau jemput".
"Wa'alaikumusalaam. jangan dulu mas! Ini masih lama.. katanya tiga jam lagi".
"Lagi dimana sih? biarin aku nunggu di sana aja".
"Laki-laki gak boleh masuk mas. Nanti masnya suntuk lagi. Aku lagi di salon, Salon kecantikan".
"Kamu lagi ngapain di sana? gak diisengin sama teh Rumi kan?"
"Gak tau mas, diisengin iya kayaknya. Aku disuruh perawatan sama Mamah Adhis. Mamah Adhis juga perawatan barusan. Tapi mamah Adhisnya udah pulang duluan aja".
"Lho.. kok..?? Bisa beda gitu beresnya? kamu lama banget perawatannya? Emang perawatan apaan?"
Lama aku terdiam, malu untuk menjawab tanyanya saat ini.
"Hei.. sayang? lagi perawatan apa? kok lama?"
.
.
.
"Perawatan pengantin mas...", jawabku pelan.
"Hahahaha... teh Rumiii... harus dikasih hadiah nih dia", tawa mas Wisnu terdengar renyah dan bahagia.
Ia lalu melanjutkan kalimatnya dengan suara remang dan menggetarkan.
"Nikmati harimu sayang! Kalau sudah beres kabari ya! nanti aku jemput...".
"Aku.. udah gak sabar mau lihat rambut basahmu lagi!"
"I Love You.. Wita.."
Seketika jantungku berdebar mendengar suara tegas dan paraunya. Dadaku bergemuruh membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.
###
Sabar gaes.. sabar gaes.. malam masih panjang.. Wita masih butuh hadiah shampo buat keramasan nanti nih. hahahah..
Hadiah, like, bintang en vote nya gak lupa yaaa....😘😘😘😘
__ADS_1