
bisakah kau diam?
di tempat itu tanpa sepatah kata
agar aku ungkap kepedihan hati ini dengan bisu
-Wita-
Jakarta-Bandung, Wita-Revita-Salim
"Iya Salim, kunci mobilnya aku titip di kakak kamu ya", ucap Revita pada sambungan telponnya.
Pagi ini Revita tengah disibukan dengan persiapan acara di Lembang. Training Team Building yang telah direncanakan secara matang sebulan yang lalu akan mulai dieksekusi hari ini. Tim dari perusahaan UniShei Consultant harus berada di Lembang setidaknya pukul sepuluh pagi ini untuk melakukan berbagai persiapan. Para peserta yang tak lain adalah karyawan di beberapa divisi pilihan perusahaan akan ikut serta dalam kegiatan ini. Mereka telah dijadwalkan untuk tiba di vila yang sudah dipilih oleh perusahaan tepat pukul satu siang.
"Aku ikut aja Rev..", pinta Wita pada sang asisten.
"Gak bisa mba, nanti aku kena teguran deh dari pak Hermawan", jawab Revita.
"Kamu sih, pake bilang-bilang segala ke pak Hermawan kakiku kena luka", Wita menyesalkan apa yang terjadi hari ini. Rencananya yang telah ia susun harus ambyar begitu saja karena ia tak dapat menunaikan tugasnya sendiri. Projectnya di perusahaan besar seperti sekarang ini adalah pengalaman pertamanya. Ia tentu ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaannya. Setidaknya, membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia akan menorehkan prestasi terbaik setelah sebelumnya kisah tentang sekolah Embun Gemintang dan pengadilan memberinya tanda hitam di namanya.
Wita sangat berharap ia dapat melakukan segala yang telah dimandatkan perusahaan padanya, dengan tangannya sendiri!
"Aku tuh gak bilang-bilang ke pak Hermawan kalau mba kemarin kena serempetan motor lho", ungkap Revita. "Udah ah.. mba pokoknya sehatkan dulu! Istirahat aja di Bandung, Salim nanti jemput mba hari ini. Nanti pulang pake mobil kantor dulu. Aku berangkat ke Lembang sama rombongan tim. Jadi.. rencana acara di Lembang tetep bakal berjalan sesuai rencana".
"Aku udah gak sakit Rev.. aku bawa obat juga kaan. Jadi bisa lebih baik hari ini juga", ungkap Wita dengan nada membujuk. "Lagian nanti siapa yang akan memberi pengarahan pada tim?", ucap Wita meyakinkan Revita.
__ADS_1
"Pak Hermawan akan turun langsung katanya mba, jadi mba Wita gak usah khawatir". Jawaban Revita sungguh membuatnya tak percaya. Atasannya kini menangani langsung project yang jelas-jelas adalah garapannya. Keteledorannya kini kembali ia ulang lalu benar-benar menelanjangi dirinya.
Apa yang telah ia lakukan kemarin nyatanya membuat dirinya berperang dengan pikirannya sendiri. Atas nama kemanusiaan ia dapat saja membela diri bahwa perbuatannya tidaklah mencoreng nama profesionalisme kerja. Tapi denyut nyeri yang ia rasakan saat mendengar sang Adhis terisak sungguh menyeretnya pada kesadaran ketidakrelaan untuk kehilangan. Lalu kebahagiaan yang berdiri menegak pada sudut hatinya saat melihat senyum manis sang Adhis nyatanya menyadarkan dirinya tentang betapa berharganya gadis kecil putri kandung dari masa lalunya itu.
Namun, kehilangan dan keberpisahan seharusnya telah siap ia kemas untuk ia bawa ke singgasana hidupnya yang akan datang. Sebab sepuluh hari lagi ia akan segera sah menjadi milik seseorang, sedang Adhis dan Wisnu harus ia tinggalkan menjadi jejak masa lalu semata.
Apakah masa lalunya itu telah benar-benar merelakannya? Kenyataan bahwa hari ini ia tak mengantongi izin untuk ikut terlibat kegiatan di Lembang membuat hatinya rindu dan pilu. Tepatnya saat Revita mengatakan, "pak Wisnu yang meminta langsung ke pak Hermawan, supaya mba Wita diminta istirahat. Dia gak sampai hati katanya membiarkan mba Wita bekerja sementara kaki mba luka gara-gara anaknya. Pak Wisnu juga bilang mba harus segera pulih untuk mempersiapkan diri karena sebentar lagi mba akan menikah. Kita baru tahu lho, mba Wita tu mau menikah? kapan mba? sama siapa?"
Wita, tak dapat mempercayai sepenuhnya apa yang terjadi hari ini. Maka tidak heran saat berada di mobil pada perjalanan pulang menuju Bandung seluruh konsentrasinya terganggu. Beberapa kali teguran Salim tak diindahkannya. Mobil kantor yang dikemudikan sang adik terasa melesat tanpa arah, kemana ia akan pergi? dimana ia akan berhenti?
Hingga terik matahari menyorot jalanan yang ia tempuh, panas dan pengap. Ia hanya ingin berhenti, berhenti!
"Lim, kita berhenti buat shalat dulu", pinta Wita pada sang Adik. Ia butuh tersentuh air wudhu siang ini, agar segala resah yang ia redam segera menemukan jalan pulang.
"Nanti di depan ada mesjid, paling kita sekalian istirahat dulu di sana. Kakak masih sakit gak kakinya?", tanya Salim.
"Bukan Kak Revita sama pak Hermawan yang berlebihan, bang Wisnu yang berlebihan", ucap Salim sontak membuat Wita menoleh ke arah sang adik.
"Maksudnya?", tanya Wita
"Bang Wisnu tu.. nelponin Kak Revita, pak Hermawan, bahkan nelpon aku" ungkap Salim seraya memutar kemudinya mencari area kosong untuk memarkirkan mobil. "Dia bahkan bilang jangan sampai kakak itu sakit, dia yang minta supaya aku jemput kakak. Katanya baiknya kakak istirahat di Bandung supaya ada yang rawat".
"Seharusnya dia gak khawatir, kakak baik-baik saja", ucap Wita pelan.
"Emang keserempet gimana sih kak?, sampai kaki kakak luka gitu".
__ADS_1
"Kakak juga gak tau gimana keserempetnya, tahu-tahu kakak udah jatoh aja di taman kantor".
"Gimana ceritanya kakak bisa keserempet gitu sih kak?".
"Kakak mau ngehindarin Adhis dari motor".
"Kakak...", Salim menjeda. "sayang banget kayaknya ya sama Adhis?.
Pertanyaan Salim yang tak berani ia jawab. Sayang? benarkah? bahwa sejak awal hati itu tak bisa berkelit, dari rasa rindu dan kenikmatan dalam memadu kasih dengan tangan mungil benama Adhis.
"Bang Wisnu juga kayaknya sayang banget sama kakak. Satu sebetulnya ketidakberuntungan yang bang Wisnu alami; dia harus pergi menjauh dari kakak sewaktu dia kehilangan kabar dari kakak. Tapi ya.. sudah takdir kali ya?", ungkap Salim seraya memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang halaman mesjid.
"Kamu gak boleh bilang gitu Lim!", jawab Wita pada sang adik. "Kita sudah punya jalan hidup masing-masing".
"Kalau aku amati mah sih, jalan hidupnya abang Wisnu masih tertuju ke kakak. Dia masih mengharapkan kakak. Tapi pasrah aja kali ya.. soalnya kakak sudah punya pilihan".
"Kakak gak bisa memaksakan kehendak Lim. Udah jangan ngomongin terus mas Wisnu!, kakak sekarang harus bersiap diri menghadapi Satria. Kakak yang ngejalanin kok kamu yang galau", Wita mencoba mangkir dari jebakan yang telah Salim buat. Ia akan tetap bertengger pada keputusan yang sama meski berdirinya kini tak ubahnya menegakkan setengah kaki di pinggiran jurang. "Hayu... kita butuh berdoa dulu kalau lagi penat gini!!", ajak Wita seraya membuka sabuk pengamannya.
"Oke!!", jawab Salim. "Jangan lupa doakan bang Wisnu juga ya kak!, agar dia juga dapat jodoh yang baik. Dokan yang tulus kak!! Kasihan, Salim... belum pernah melihat orang setulus dia. Dia kedengeran panik banget waktu nyeritain kaki kakak luka. la malah minta Salim jagain kakak, jangan sampai pernikahan yang kakak inginkan katanya ada celah cacat sedikitpun".
Wita terdiam membeku, air mata perlahan menyamarkan pandangannya.
Mas Wisnu.. tidakkah kau tau? aku layak kau hujani sumpah serapah karena kepedihan yang telah kuberi!!
###
__ADS_1
kalau buat aku... hujani vote dan hadiah yaaaa🤩🤩