Selesa Rindu

Selesa Rindu
Berhenti dan Memaafkan


__ADS_3

Seonggok pilu yang usang


Biarlah merapuh sendiri dan sirna


Aku lupa jika cinta itu lautan


Luas dan bernyawa


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Andra-Adhis


Wisnu PoV


Hari itu entah keberanian darimana aku tak menyanggah permintaan kakakku untuk menjemput Adhis. Ini adalah kali pertama aku melihat halaman luas yang membentang diantara ruang-ruang kelas berwarna cerah-ceria. Ya.. harus kuakui kalau pengambilan tema warna terang pada dinding-dinding kelas itu memang cocok untuk anak-anak seusia Adhis. Hanya saja kalau boleh aku memberikan sedikit saran, penataan ruang penghijauan dapat dimaksimalkan pada lokasi tanah yang sesungguhnya dapat digunakan dengan baik.


Aku bergegas menuju kelas Ceria yang baru saja ku ketahui tempatnya setelah bertanya pada seseorang. Ia menjawab dengan ramah dan senyuman. Aku jadi tak menyesal, menyekolahkan Adhis di sini, meski… ya begitulah… semoga aku tak harus berurusan dengan seseorang yang telah lama aku hindari.


Ternyata Adhis tidak berada di kelasnya pada saat jamnya pulang, Teh Rumi biasa menjemputnya di ruangan ini. Begitulah informasi yang aku dapatkan dari guru yang bernama bunda Zahra padaku, yang katanya Bunda Zahra adalah wali kelas Adhis.


Aroma ruangan itu begitu menyejukkan, pantas saja Adhis betah di sini. Samar-samar aku dengar tawa renyah Adhis dari kamar mandi yang sepertinya sedang ditemani oleh seseorang. Ah.. aku jadi kangen sama Adhis!. Aku putuskan duduk di sofa merah yang berdekatan dengan sebuah meja kerja lengkap dengan laptop, printer dan…, boneka?.


Boneka yang sangat aku kenali, karena untuk membelinya aku harus bermalam di rumah temanku di Kualalumpur. Oleh-oleh untuk guru Adhis? Ikan gurame?. Pikiranku tiba-tiba mulai keruh, aku terus menggeleng dan mencoba menjernihkan apa yang baru saja aku duga. Bukan kan? Bukan…

__ADS_1


Lebih baik aku tunggu saja di luar, sepertinya itu keputusan yang tepat. Namun, belum sempat aku mengangkat tubuhku dari sofa empuk itu, suara yang aku kenali sejak dulu tiba-tiba menyapa pendengaranku. Sosoknya masih secantik dulu, semakin matang dan membuat degup jantungku tak menentu. Aku biarkan ia terus berbicara, biarkan saja, toh aku pun tak tahu harus berucap apa.


Pergerakan tangannya mengusap lembut kaki Adhis yang basah dengan handuk tiba-tiba terhenti saat netranya tertuju pada tatapanku. Ia mematung sejenak mencoba memahami yang terjadi sepertinya. Jangankan kamu Wita, aku pun tak faham dengan apa yang terjadi.


Kalaulah boleh meminta, beri aku beberapa menit lagi untuk mendengarkan ocehannya. Sentuhan lembutnya pada anakku membuat seluruh tubuhku bergetar, dan suara merdunya menghujam dada, bahkan Adhis saja tak memberontak dengan apa yang sedang dilakukannya. Oh Tuhan, bolehkah aku sedikit berkhianat pada keadaan. Bahwa aku masih merindu seseorang. Seseorang yang tak lagi layak untuk aku rindu. Brengsek!!!


Wita menghilang dari pandanganku lalu aku dekap perempuan yang berlari padaku, perempuan yang tak akan hilang untuk dirindu, Adhis kecilku.


*****


“Pak Wisnu, anda mendapat undangan makan malam dari Pak Beni. Apa anda akan datang?” Andra memastikan atasannya ini saat membawa kendaraan yang ia kemudikan menuju Surabaya bersama Wisnu.


“kapan?” tanya Wisnu.


“akhir pekan ini pak”


“yakin pak?”


“iya Andra!! Apa harus aku tolak lagi?”, pertanyaan Andra membuat kepala peningnya makin menjadi. Untuk apa menanyakan yakin atau tidak. Toh ini hanya makan malam, biarlah ia terima saja.


“nanti akan bertemu mba Lastri pak” jawab Andra ragu.


“Lastri temanku Dra, tidak ada masalah”, iya.. tidak akan menjadi masalah. Ia nampaknya harus mulai terbuka dengan hatinya. Jika memang Lastri, tak jadi masalah. Biarlah takdir yang membawa kisahnya sendiri.

__ADS_1


Andra hanya menjawabnya dengan satu kata “oke”, biarlah sahabatnya ini memutuskan, karena Andra pun tak dapat memberikan apapun untuk Wisnu.


Perjalanan Jakarta-Surabaya memberikan sedikit suntikan baru untuk Wisnu. Setelah kejadian kemarin ia telah memutuskan membuat dua judul baru dalam hidupnya, ‘berhenti dan memaafkan’. Ia harus mulai berdamai dengan masa lalu, dendam yang ia pendam nyatanya tak membuahkan suatu apapun. Wita memang harus selalu ada dalam paragraf kisahnya, tetapi tokoh yang Wita perankan memang tak selamanya harus sesuai dengan apa yang ia inginkan bukan?, keimanan apa yang telah lama Wisnu tinggalkan hingga ia lupa dengan kata yang harus ia terima, TAKDIR.


Bukankah Wita telah berbahagia dengan kehidupan yang ia pilih?, maka dengan alasan apa Wisnu harus terkungkung pada kubangan masa lalu?. Dalam shalatnya yang panjang malam kemarin, Wisnu membentangkan asa dan harapannya, memohon pada Sang Pengendali hidupnya untuk memberinya keikhlasan dan segenap kekuatan.


“rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ 'alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu 'annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn”


“ya allah Dzat Yang Maha Kuasa.. jangan Kau hukum aku jika aku lupa atau aku pernah membuat kesalahan.. jangan Kau bebankan suatu apapun yang tak sanggup aku pikul,.. ampunilah hamba.., maafkanlah hamba.. limpahi hamba dengan cintaMu..”.


Wisnu... mengingat dengan baik bagaimana anaknya itu bercerita dengan binar bahagia.


“Adhis suka dibacain cerita sama bunda Wita, terus suka dikasih kue buatan bunda enaaaak banget. Kue yang ada cokelatnya Adhis paling suka” celoteh Adhis beberapa hari lalu di rumah sang kakak. Di halaman belakang rumah Wisnu menemani Adhis sepulang sekolah. Wisnu menanyakan kejanggalan yang tadi terjadi pada Teh Rumi, kenapa Adhis gak berada di kelasnya saat jam pulang?, tapi bukan jawaban Teh Rumi yang di dengar. Celotehan Adhis mendominasi pembicaraan mereka.


“terus itu pakaian Adhis kenapa harus diganti? Main air?” tanya Wisnu.


“Adhis suka main air sama bunda Wita, suka nangkep ikan di kolam Mang Tatang”.


Hadeeuh, anaknya yang satu ini malah cerita-cerita hal yang membuat kepalanya tambah pening. “kalau tadi karena Adhis pupnya keburu keluar di celana. Hihihii… tapi Adhis udah bilang ko ke bunda, Bunda Wita… Adhis mau pup. Terus bunda bawa Adhis ke kamar mandi.. eeehhhh Adhis emang gak tahan”, cerita Adhis tanpa merasa berdosa sambil memakan makanan kecil buatan Teh Rumi, Pisang Cokelat Keju.


“ayaaah.. Adhis kemarin punya janji sama bunda Wita”.


“apa?” Teh Rumi malah menyela dengan antusias.

__ADS_1


“Adhis bilang, nanti ayah mau ke Surabaya, terus mau bawain oleh-oleh buat Adhis yang banyak. Nanti bunda Wita juga mau Adhis kasih” jelas Adhis kepada Wisnu sambil beralih menuju pangkuan Wisnu yang sedang duduk bersila di karpet teras halaman belakang rumah Teh Rumi.


Wisnu menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar. Sebaiknya ia pergi wudhu, shalat ashar mungkin akan sedikit membantu mendinginkan pikirannya. “Andra.. kita berhenti di Rest Area ya. Dan… di Surabaya nanti tolong cari tempat oleh-oleh yang bagus”.


__ADS_2