
Cantikmu menjalar ke ubun-ubun
Menari-nari pada jiwa yang haus rindu
Menapak pada hati yang memaku
Kau indah, hanya untukku
-Wisnu-
Bandung, Wita-Wisnu
Ancaman terkaman Wisnu yang membuat wajah Wita merona merah tomat nyatanya tak berlaku sampai hari ini. Hari saat Wita tengah berada di kota Bandung setelah dirinya dinyatakan pulih.
Keinginan Wisnu untuk segera membawa Wita ke rumah yang telah ia siapkan untuk sang tambatan hati itu harus urung. Kendati cinta yang ia miliki teramat besar dan tak bernilai dalam hitungan angka, namun rasa hormat dan takdzimnya terhadap ibu dari istri tercintanya teramat besar.
"Pernikahan anak ibu ini terlalu mendadak buat ibu.. Wita sekarang sepenuhnya milik kamu. Kamu berhak atas Wita. Ibu sudah tidak lagi.. Tapi, boleh gak ibu minta waktu untuk melepas Wita?"
Permintaan ibu mertua Wisnu teramat meyentuh sudut hati terdalamnya. Ia membayangkan ibunya yang kini telah tiada, saat sang ibu meminta untuk tak berujung pergi meninggalkan dirinya ke tempat yang sulit ibunya jangkau. Wisnu, tak boleh lagi melukai wanita yang bernama ibu dalam hidupnya.
"Memangnya.. ibu gak mau tinggal dengan kami? Ibu sudah harus pensiun dari dagang. Salim juga kan udah besar. Salim bisa sendiri di Bandung, atau kalau mau.. Salim pindah saja ke Jakarta?!" Wisnu mencoba membujuk ibu untuk ikut serta dengannya.
Ibu yang kini menuangkan berbagai macam lauk makan siang ke dalam piring Wisnu tersenyum dengan binar bahagia. Ia.. sempat meminta pada Tuhan untuk mengguratkan takdir cinta berbalas bagi putri kesayangannya. Memenuhi hari-hari sang anak dengan kalimat bahagia. Ia tak pernah mengira bahwa Tuhan kini telah berbaik hati padanya. Wisnu seperti sebuah hadiah yang dikirim Sang Khaliq untuk kehidupan putri kesayanganya. Tak hanya itu, cinta sang menantu yang bertengger pada rasa putri tercintanya kini merambah pada nadi hidupnya yang sudah mulai merenta.
"Salim kan sebentar lagi skripsi. Sudah mau beres dia.. kasihan kalau pindah. Kalau nak Wisnu gak mengizinkan ibu gak apa-apa. Nanti minggu depan Wita wajib kunjungi ibu ke Bandung ya!" ucap ibu.
"Hahaha.. ibu gak usah khawatir, Wisnu izinkan ko. Biar Wita dengan ibu dulu di Bandung, sambil mempersiapkan resepsi bulan depan, kasihan kalau Wita harus bolak-balik Jakarta. Bisa-bisa nanti Ratu Elizabeth murka". Ucap Wisnu sambil melirik ke arah Teh Rumi yang sibuk mencari-cari WO untuk pesta Wita dan Wisnu bulan depan yang sesungguhnya akan menjadi pesta kakaknya.
Kelincahan dan kecerewetan Teh Rumi bukanlah tandingan untuk Wisnu. Tetapi bukan tentang hal itu ia membiarkan kakaknya menikmati euforianya hari ini. Bagi Wisnu, teh Rumi adalah wanita yang menjadi sosok pengganti ibu. Wanita cerewet itu adalah wanita yang selalu berada di garda terdepan dalam melawan segala perang yang dialami Wisnu.
"Jadi Wita dari RS langsung ke Bandung, kitu?" tanya teh Rumi meyakinkan.
"Iya Teh.. begitu aja, dokter bilang Wita udah sehat ko. Pemulihannya gak akan lama".
"Eeuuh... hanas Teteh masak banyak".
"Biar atuh Mah.. kan bisa dibekal buat nanti makan pas nyampe Bandung. Kita juga sekalian aja konvoi pulang ke Bandung ya Wis?! Seru kayaknya", ucap Kang Indra disela suapan terakhirnya.
Dialog indah mereka tadi siang telah mengantarkan Wita dan Wisnu berada di kamar mungil milik Wita hari ini. Malam dengan nuansa yang baru dalam cinta dan rindu.
"Tidurnya di sini gak apa-apa? Kamar Wita kecil mas!" tanya Wita ragu.
__ADS_1
"Gak apa-apa lah Wit, emang kamu butuh kamar seluas apa buat tidur kita berdua..." jawaban Wisnu terhenti saat matanya tertuju pada sosok Adhis yang terlelap di ranjang.."bertiga..".
Wita menahan senyumnya, mendapati betapa lucunya lelaki yang dulu dengan lancang meminta hatinya.
"Adhis juga tidur di sini, tadi aku udah janji sama dia.. ", terang Wita.
"Ko... sama ayahnya gak ngasih janji apa-apa..?" goda Wisnu.
Wisnu melangkah pelan menatap istrinya yang nampak mulai menegang. Derap langkah yang membawa bongkahan cinta dan rindu itu terus menyapu keheningan malam. Tak tahukah wanita yang ada di hadapan Wisnu ini? jika irama jantung Wisnu sudah tak beraturan setiap kali Wisnu berdekatan dengan dirinya.
Hingga langkah Wisnu terhenti dan tangannya mulai menyentuh bibir manis sang istri. Ya ampun, kendati masih lengkap dengan balutan jilbab rumahan yang tak pernah lepas dari kepalanya, Wita nampak begitu menggoda.
Diusapnya bibir setipis sutra berwarna merah muda itu dengan jemari. Wisnu.. menyondongkan kepalanya untuk sedikit saja menyentuh bibir yang menjadi magnet bagi dirinya malam itu.
Kecupan itu menjadi kecupan pertama yang menjalarkan darah panas pada tubuhnya. Wisnu tak lagi mampu menegakkan kesadarannya tentang cinta itu begitu memburu dan merajutkan hasrat tiada tepi.
Wita hanya tertegun mendapati bibir sang saumi menyentuh bibir miliknya. Terkejut dengan perlakuan lelaki yang ia cintai, menatap rindu dirinya dan menyentuh lembut sanubarinya.
Sejenak Wita memejamkan mata, diam terpaku.. tak mampu menyambut apapun dari tamu hatinya itu karena sejatinya ia tak pernah mendapatkan hal ini dari siapapun. Ia hanya mampu mematung dan mengeratkan kedua tangan pada ujung piyama yang ia pakai untuk menyalurkan segala ketegangannya. Lalu... suara sang Adhis terdengar memecah adegan yang sepenuhnya belum tuntas Wisnunya lakukan untuk dirinya..
"Bunda... Adhis mau pipis.."
"Sini sayang... bunda antar ke ******".
****
"Aku tuh lagi sakit Wit!", rajuk Wisnu dengan dada telanjang berbalut handuk abu yang ia lilitkan di pinggangnya. Aroma segar menguar di ruang kamar mungil milik sang Wita pagi ini. Betapa tidak, ia memang harus merajuk sebab semalam ia harus merelakan hati mendapati Witanya terlelap dengan buku dongeng yang masih dalam genggaman dan tubuh Adhis dalam pelukan. Pemandangam yang teramat indah!
"Iyah.. ini kan Wita lagi perhatiin!", suara Wita begitu lembut diiringi sentuhan halus jemari cantiknya mengoleskan obat pada luka jahit di lengan Wisnu.
Dari jarak terdekat ini, dengan posisi Wita berdiri dan Wisnu terduduk seraya melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Wita, adegan ini adalah adegan termahal bagi Wisnu.
"Makanya gak usah kerja aja!", ucap Wita selanjutnya sambil mengancingkan seluruh kancing kemeja sang Wisnu. Wisnu menatapnya lekat dan dalam. Sungguh cintanya itu pagi ini begitu.. cantik!
"Hari ini meeting penting, mumpung klien akunya lagi di Bandung juga. Jadi kalau kata Andra tadi malam, kesempatan emas kataya. Hadduuh!!" keluh Wisnu.
"Ya sudah.. setiap keringat yang keluar dari mas buat cari nafkahnya Wita dan Adhis setara dengan berjuangnya di medan perang. Jadi jalan tergugurya dosa-dosa dan terbukanya pintu surga" ucap Wita seraya menepuk-nepuk jas berwarna navy yang dikenakan Wisnu hari ini.
"Aduuuh... istri siapa sih ini??.. sayang belum diapa apain", goda Wisnu.
"Apaan sih mas!", jawab Wita malu-malu.
__ADS_1
***
Wisnu kini melajukan mobilnya dengan mebawa binar bahagia. Ia mengulum senyum sendiri seraya menyenandungkan sebuah nyanyian kebahagaiaan. Tentu saja, sebab hari ini, untuk pertama kalinya pungung tangan miliknya dicium penuh ketakzdiman oleh wanita yang diinginkannya.
Sejenak ia berpikir.. "Ya allah.. aah.. mana buru-buru lagi!!!", ucap Wisnu saat menyadari ponselnya tertinggal di kamar miliknya, milik Wita dan dirinya.
Wisnu memutar arah mobilnya menuju rumah Wita. Dengan tergesa ia membuka pintu kamar sesaat setelah sampai di rumah Wita.
Namun kini jantungnya tak dapat lagi ia atur untuk dapat bernafas teratur. Ia tertegun menatap sosok wanita berbalut handuk putih menatap dirinya dengan terkejut. Wanita dengan rambut basah terurai panjang menyentuh lengan seputih susu. Lekukan tubuhnya membiola irama hasrat rindu. Bibirnya ranum semerah delima.
Wanita yang sejak ia halalkan kemarin tak pernah menanggalkan jilbabnya, kini seolah menafsirkan diri jika sang wanita adalah keabsahan Tuhan yang Ia berikan untuk Wisnu.
Perlahan Wisnu menutup pintu dan menguncinya. Melangkah dengan tegap membawa butiran hasrat dalam dada. Ia sibak rambut sang wanita ke tepian telinga, menelusuri ujung leher jenjang nan merona. Disentuhnya pinggang wanita yang sejak tadi nampak tegang. Ia sentuh bibir manis itu dengan jemari, lalu mendaratkan kecupan cinta tak terhingga.
Lama ia terdiam dalam bibir sang wanita. Hingga memangut lebih menuntut dan lembut. Terdengar suara ******* dan balasan kecil dari sang istri dengan mata terpejam dan eratnya genggaman tangan pada jas yang membaluti tubuhnya.
Hingga..
DDRRRRT..DDRRRT..
"Ah Andra sialan!", ponselnya bergetar di atas meja pinggir tubuhnya.
Wisnu meraih ponselnya dan menuntun wanita cantiknya untuk duduk di tepian ranjang. Ia berjongkok dan menegadahkan kepala ke arah sang istri dengan mengusap lembut tautan jemari cantik itu.
"Kamu... tidak ada acara hari ini?"
"Wita mau cari gaun .. kata mamah Adhis".
"Hmmmz... jangan terlalu lelah", ucap Wisnu dengan kecupan pada punggung tangan yang kembali membawa Witanya melayang mengawang-awang.
"Pakai baju gih!, jangan lupa kerudungnya... Pastikan hanya aku yang bisa menikmati rambut indah kamu itu". Wisnu kecup kening Wita dan memutuskan melangkah keluar.
Hingga di bibir pintu ia berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Wita... malam ini.., giliran aku yang diperhatiin ya... hhhmmmzz?!"
####
mungkin ada yang bertanya ko kenapa part ini sedikit berbeda. Othor cuma mau bilang bahwa novel ini bernuansa realisme romantis. Pada part selanjutnya penulis akan bercerita tentang pernikahan dan segala yang membumbuinya, dengan harapan dapat menjadi edukasi pra-nikah buat kalian yg masih pada zombloooπ€£π€£π€£β dan motivasi buat kalian yang udah mantan zomblo alias sudah memiliki pasangan halalπ€
Jika ada reader yang belum pada tahap siap membaca part selanjutnya, its oke... santuy aja! ending bahagia W couple udah bikin kalian bahagia kaaan???..
__ADS_1
Apapun itu.. teuteuup minta vote dan hadiahnya hari ini yaaa...πππππππ’