
Perihal cinta yang membuta
Izinkan aku sekedar egois
Menginginkannya tanpa syarat
-Wita-
Bandung, Wita-Andra
Wita Pov
Putusan hakim yang dibacakan hari ini membawa senyum yang merekah pada Bu Tarmin. Aku melihat dengan jelas kebahagiaan beliau saat aku dinyatakan tak bersalah. Merujuk kepada Putusan Kasasi MA Nomor 3131 K/Pdt/20** untuk kasus serupa atas kecelakaan terhadap anak yang terjadi di sekolah. Pengelola Sekolah Embun Gemintang berusaha menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan atau diluar pengadilan. Namun orang tua Fahrezan memilih mengajukan tuntutan tersebut kepada Pengadilan Negeri Bandung. Upaya yang dilakukan dapat melalui jalur non litigasi yaitu negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan arbitrase, kemudian dapat melalui jalur litigasi yaitu dengan proses persidangan dan juga menyeret namaku sebagai pihak yang digugat.
__ADS_1
Sekolah Embun Gemintang telah berusaha bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialami muridku Fahrezan disekolah. Pertama, guru Sekolah Embun Gemintang membawa Fahrezan menuju ke UKS dan memberikan pertolongan pertama, dengan membersihkan luka. Pengelola sekolah telah mengunjungi rumah Fahrezan dan meminta maaf secara langsung kepada orang tua atas kelalaian yang telah dilakukan. Pengelola sekolah bersedia memberi santunan untuk biaya perawatan dan pengobatan kepada orang tua Fahrezan, namun orang tua Fahrezan menolak dan menuntut ganti kerugian yang lebih besar sehingga dibawalah tuntutan tersebut ke Pengadilan Negeri Bandung.
Pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan dan putusan Mahkamah Agung tidak menerima tuntutan orang tua Fahrezan karena pengelola Sekolah Embun Gemintang dan guru yang mendapat tuntutan tidak melakukan perbuatan hukum seperti yang dikatakan Penggugat serta tidak ada dasar hukum yang memuat agar sekolah memberikan ganti kerugian atas terjadinya kecelakaan kepada peserta didik disekolah.
Aku menyadari kemenanganku hari ini tak lepas dari bantuan mas Wisnu. Ia bahkan menyempatkan beberapa kali hadir dalam persidangan. Ia juga mengirim tenaga khsusus yang ahli di bidang hukum dalam menangani kasus ini meski kami sudah memiliki pengacara sendiri. “izinkan saya menebus segala kekacauan yang dibuat anak saya bu”, aku sempat mendengar dengan samar suara mas Wisnu pada bu Tarmin di balik ruangan persidangan sesaat setelah persidangan pertamaku usai. Harus aku akui, mas Wisnu saat ini telah berubah manjadi orang yang berpengaruh dan memilki kekuatan serta kekuasaan yang tak bisa aku gambarkan.
Beberapa kali kami terlibat dalam persidangan ia tak sedikit pun memberiku ruang untuk berbicara. "tidak ada lagi yang harus kita bicarakan", ungkapnya saat sempat aku memintanya waktu untuk bicara. Sikapnya yang dingin dan tak peduli terhadap kehadiranku membuatku semakin yakin bahwa ia benar-benar membenciku. Aku juga tak memiliki keberanian untuk bersikap lebih dari sekedar seorang tersangka, diam dan menerima. Aku hanya takut jika saja kisah lama kami aku buka akan berdampak pada kesehatan mentalku. Aku, mencari titik teraman.
Masih teringat dalam memoriku, aku tergeletak lemah di bibir pintu toilet ruanganku setelah terakhir bertemu dengan mas Wisnu. Awalnya aku begitu memiliki energi yang baik bertemu dengannya, karena kupikir segala lelahku akan berakhir. Tetapi kenyataan yang aku terima dari ucapannya tentang meninggalnya ibu kandung Adhis membuat aku hilang kendali. Telingaku tiba-tiba mendenging mendengar ucapan mas Wisnu itu. Seketika aku mengingat mobil merah yang menghujam tubuhku hingga terjatuh dan menghilangkan segala memoriku. Lalu pesan singkat mas Wisnu dalam ponsel selulerku serta suara ambulance yang membawa tubuh kakuku menjadi ingatan mengerikan bagiku. Kemudian batu nisan atas nama ayahku yang masih basah dan bayangan ia terjatuh ketika aku menjerit-jerit tak mampu mengingat dirinya dan menyebabkan dirinya mendapatkan serangan jantung hingga harus kubayar dengan kehilangan dirinya, berputar-putar di kepalaku.
Aku tentu harus fokus pada persidanganku, karena akan ada banyak orang yang aku korbankan jika persidangan ini gagal meloloskanku, keluarga dan nama baik sekolah Embun Gemintang yang aku cintai. Jangan sampai, apa yang terjadi kemarin di ruanganku menjadi penghalang dan menjadi keteledoranku yang lainnya. Urusanku dengan mas Wisnu biarlah berakhir dengan kisah seperti ini. Aku sudah mulai mencoba berdamai dengan hal ini. Selesai dan biarlah terjadi apa adanya.
Aku pikir persidangan yang aku jalani akan selesai dalam beberapa minggu. Aku keliru menduga hal itu, kenyataannya persidangan yang aku lalui menempuh waktu 3 bulan yang cukup alot dan melelahkan. Mas Wisnu bahkan hanya menyempatkan hadir beberapa kali saja dalam persidanganku, dapat aku hitung 3 kali sepertinya. Selebihnya ia serahkan sepenuhnya pada orang kepercayaannya yang membantu tuntas pengacaraku.
__ADS_1
Andra yang nampak selalu ramah berbeda dengan atasannya -mas Wisnu- membuatku berpikir bahwa aku sesungguhnya tak seburuk yang aku kira. Ia selalu terlihat sibuk dan sigap dengan dua orang yang ia bawa sebagai utusan mas Wisnu untuk menangani kasusku. Orang ibu kota ini memang benar-benar menunjukkan taringnya. Aku jadi bisa dapat menyimpulkan, kasus seperti ini sepertinya bukan apa-apa bagi mereka.
Ia juga senantiasa memberikan perhatian yang lain yang menurutku tidak wajar. Aku sempat berpikir, apakah aku pernah bersinggungan dengannya di masa lalu?, adakah bagian yang aku lupa dari masa laluku?.
Seperti saat ini, ia memberiku sebuah kotak kecil berwarna merah muda dengan aksen logam perak di samping sebelah kanan. Aku buka kotak pemberiannya, kulihat sebuah bros cantik dengan hiasan permata biru dan lapisan logam emas dengan bentuk lilitan abstrak. “hadiah untuk ibu guru yang telah berjuang ..”, ungkapannya sungguh menyentuh hati.
Kami berbicara dengan hangat, aku sesekali dibuatnya tertawa dengan ulah-ulahnya yang lucu. Mas Wisnu.. pasti menyenangkan punya partner kerja sepertinya. Ia lalu mengakhiri obrolan ringan kami dengan senyuman aneh dan mengucap sebuah kalimat yang membuatku tertegun, “hadiahnya.. brosnya.. dari Adhis”.
Oh Adhis, apa kabar anak itu? Tiba-tiba aku merindukannya, hasil gigitannya di bahuku bahkan belum hilang sempurna, kecupan bibirnya di dahiku setiap pagi masih selalu terasa, teriakan riangnya saat hasil kerjanya selesai memberiku tawa setiap hari, nyanyian dan tarian kami di ruang seni selalu memberiku energi kebebasan dan bahagia.
Bersamanya… Adhis kecilku.. aku bahagia. Tetapi aku terancam tak dapat lagi menatap wajah mungilnya, karena mas Wisnu memutuskan memberhentikan Adhis dari sekolah Embun Gemintang. Adhis.. tak sempat aku beri permohonan maaf dari mulutku yang kelu. Mungkin aku.. terlalu pencundang untuk menghadapi dan mengakui bahwa aku menginginkan kehadirannya.
#####
__ADS_1
ayooo... jadi baiknya Wita gimana ya???
boleh kasih aku saran donk...✌😘😘