Selesa Rindu

Selesa Rindu
Amarah Adhis


__ADS_3

Aku tersadar disaat perahu layarku bersandar


Aku terserat di kedalaman hati


Tak tahu arah, tak tahu kendali


-Wita-


Bandung, Wita-Wisnu-Tarmin


“harusnya kamu bisa memastikan berapa hari perjalananmu selama di Jogja bunda Wita, tak biasanya kamu sampai teledor seperti ini” suara Bu Tarmin dengan amarahnya menggema di ruangan kepala sekolah. Wita harus menerima konsekuesni atas kelalaiannya saat ini. Wita sebenarnya sudah akan pulang ikut rombongan pada hari selasa, dengan perhitungan hari rabu ia dapat kembali bekerja. Tetapi permintaan ketua pelaksana acara Study Banding se-Jawa Barat itu yang mendadak ingin berbelanja oleh-oleh di Malioboro dan menikmati indahnya Candi Borobudur membuat agenda kepulangan rombongan mereka tertunda. Tetapi hari ini, bukanlah saatnya Wita memberikan alasan pada Bunda Tarmin.


“kemarin Zahra bilang, waktu kamu cuti sakit selama seminggu saja Adhis membuat banyak kejadian yang sulit ditangani. Kamu bahkan tahu bagaimana history Adhis. Kamu tahu betul rekam tumbuh-kembang Adhis seperti apa? Seharusnya kamu bisa mengondisikan itu dengan baik. Adhis terlalu dekat dengan kamu, kamu seharusnya mengerti”. Bu Tarmin nampak sulit menghentikan kalimat-kalimatnya yang dari semalam ingin ia lontarkan. Kenapa untuk seorang Wita yang ia banggakan selama ini bisa membuat sebuah kesalahan?.


“saya.. saya meminta maaf atas segala keteledoran saya Bunda Tarmin, saya menyesal”.


“Pastikan semuanya selesai dengan damai. Saya akan turun tangan langsung menyelesaikan masalah ini. Kamu, siapkan mental untuk menghadapi mereka!!”. Wajah bunda Tarmin yang memerah memastikan bahwa ia sedang meluapkan segala amarahnya. Wita, hanya mampu mengepalkan tenaga untuk mempersiapkan diri menuntaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


Di ruangan pertemuan sekolah yang dingin dengan udara AC itu Wita duduk bersama. Ia tentu telah menyiapkan diri untuk bertemu Wisnu pekan ini, tetapi tidak seperti ini. Ini di luar skenario yang ia buat. Wisnu nampak duduk dengan tenang, sedang sesosok lelaki yang dapat ia perkirakan 5 tahun lebih tua dari Wisnu itu nampak memendam banyak amarah.


“baiklah, ayah dan bu guru yang hadir disini. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kehadirannya. Suatu kebahagiaan bagi saya bahwa kita semua dapat memutuskan untuk dapat duduk bersama di sini”. Bu Tarmin memulai pembicaraan mereka dalam situasi yang menegangkan. Satu persatu sang kepala sekolah mempersilahkan yang hadir untuk memperkenalkan diri, Wita, Zahra, Surya dan Wisnu.


Keberanian dan suara yang mendominasi ruangan yang Bu Tarmin lontarkan benar-benar menunjukkan wibawa sang kepala sekolah. Dengan suara tegasnya itu, Zahra memiliki keberanian untuk menjelaskan kronologis kejadian yang membuat Surya, Ayah Fahrezan, murka. Laporan kepolisian yang Surya buat tentu membuat sekolah ketar-ketir. Ini adalah kali pertama sekolah bergengsi itu mendapatkan ancaman besar dari wali muridnya sendiri.


“Adhis sebetulnya anak yang penurut. Ia memang sesekali sulit mengendalikan diri tetapi dapat kami arahkan dengan perlahan. Sampai sejauh ini Adhis sudah tidak mengalami lagi pemberontakan yang berarti di sekolah. Kemarin.., saya pikir karena sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan Fahrezan. Saya… saya.. saya tahu Fahrezan kala itu sedang mencoba menghibur Adhis yang tak kunjung berhenti menangis. Waktu itu saya sedang menenangkan Adhis juga, tapi mohon maaf!, karena kealfaan saya, saya tidak dapat menahan pukulan yang dilayangkan Adhis untuk Fahrezan”.


Penjelasan Zahra yang terbata-bata memancing amarah Surya. Sekolah macam apa yang tidak dapat melindungi keselamatan anak didiknya. “anak seperti Adhis harus mendapatkan pelajaran. Biar dia dan orang tuanya mengerti. Bahwa ulah seperti itu sangatlah tidak dibenarkan!!!”.


“mohon maaf Pak Surya. Saya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh anda”, suara Wisnu seketika menjeda amarah Surya dan memberikan keheningan yang dingin. Suasana ini, sungguh menyeramkan. Lebih menyeramkan dari film horor yang selalu Wita hindari. Suara Wisnu yang telah lama hilang dalam pendengarannya sejak 7 tahun yang lalu nampak menggema menghujam dada.


“tentu! tapi maaf saja tidaklah cukup. Saya akan tetap melaporkan anak anda Pak Wisnu, untuk mendapatkan rehabilitasi yang layak dan pantas. Jika sekolah dan orang tuanya tidak mampu ngurusin anak sekecil itu! Saya harus bergerak”.


“saya yang harusnya anda laporkan Pak Surya”, suara Wita sontak mendapatkan perhatian semua orang. Bu Tarmin bahkan menghunuskan mata yang tajam pada guru kesayangannya itu. “karena saya pemicunya”. Wita melanjutkan kalimatnya. Ia mencoba abai dengan tatapan Bu Tarmin di hadapannya.


Semua orang yang ada di ruangan itu tentu saja tahu, apa yang menjadi penyebab tidak terkendalinya Adhis kemarin. Adhis marah sejadi-jadinya saat tiba waktunya pulang, sosok yang ia tunggu-tunggu tak juga hadir. Adhis ingat betul, jika Wita membuat perjanjian dengannya bahwa hari Senin dan Selasa gurunya itu tak akan berada di sekolah. “Adhis yang sholeh ya, nurut sama Bunda Zahra dan bunda-bunda yang lainnya”, pinta Wita. “Kapan Bunda Wita pulang?, Adhis belajar sama Bunda kapan?”. “Hari rabu, insya allah hari rabu kita akan belajar lagi bersama”.

__ADS_1


Kenyataan yang diterima Adhis, saat hari yang ditunggu-tunggu ternyata teramat mengecewakan baginya, membuat Adhis tak mampu menahan diri. Tidakkah kalian tahu hei para orang dewasa, aku mau bunda Wita!!!.


“saya harap, Pak Surya bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan” Bu Tarmin menyela Wita sebelum gurunya itu membuat tindakan aneh lainnya.


“anak saya harus sampai pingsan, dan sekarang harus dirawat di rumah sakit. Apa hal ini seperti ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan?”.


“saya memahami apa yang anda rasakan Pak Surya. Saya benar-benar meminta maaf dan berharap dapat menyelesaikan semua ini secara kekeluargaan. Anda bahkan sudah menerima pelayanan dari rumah sakit terbaik yang saya berikan. Tetapi jika anda masih tetap akan memroses ini ke ranah hukum, tentu saya akan menghormati keputusan anda”. Wisnu benar-benar memberikan jawaban penuh ketegasan. Tak ada rasa takut ataupun lemah untuk membela putri kesayangannya itu. Ia bahkan ingat pesan Teh Rumi dengan tangisannya yang menjadi sesaat sebelum dirinya berangkat ke sekolah Embun Gemintang “selamatkan Adhis ya Wis, anak perempuan teteh”.


“tentu.. saya juga merupakan pihak yang dikecewakan. Saya menyesalkan atas tindakan Adhis, tindakan karena mempercayai seseorang yang salah, ia salah memercayakan sebuah janji pada seseorang yang sejak awal tidak dapat menepati janji”, tatapan Wisnu menghunus mata Wita, tepat sasaran dan mendarat pada jantung hati Wita yang seketika membawa dirinya merasakan oleng. Pegangan tangan Wita pada gagang kursi ia eratkan demi keseimbangan yang ia atur dengan sekuat tenaga.


####


vote vote vote


komen komen komen


like like like

__ADS_1


mmuch mmuach😘😘😘😘


__ADS_2