
aku kehabisan waktu
memburu rasa rindu dalam pecundangku
membarakan api kenestapaan
cintaku bertalu pada luka dalam kasih yang sunyi
-Wita-
Jakarta, Wita-Wisnu
Wita Pov
"Ngelamun gak bakalan beresin kerjaan mba", suara Revita menegurku yang sedang menatap kosong laptop di depanku. Malam ini konsentrasiku sedang tak baik. Kejadian seminggu yang lalu membuat aku menjadi manusia linglung. Tak jarang aku menjawab pertanyaan yang tak sejurus dengan apa yang orang-orang tanyakan. Aku, bahkan pernah terlihat bodoh dalam forum rapat di depan direktur perusahaan yang menjadi partnerku -mas Wisnu- dan para pimpinan divisi perusahaan tersebut.
"Bagaimana bu Wita?", tanya Pak Brian di tengah ruang rapat.
"M-mmaaf pak.., bisa diulang pertanyaannya?", jawabku ragu. Sontak membuat anggota rapat di ruangan itu tertawa. Andra bahkan berseloroh dengan kocaknya, "Bu Wita raganya di sini, jiwanya di antah berantah". Aku melihat orang-orang yang ada di ruangan rapat tertawa. Revita kala itu segera memberiku segelas air putih. Entah bagaimana ulahku yang lain yang tak kusadari terlihat memalukan di hadapan mereka.
Mas Wisnu yang sama-sama menjadi anggota rapat menatapku dengan lamat. Aku tak bisa menerjemakhkan arti dari tatapannya itu. Sejak rapat ini dimulai, sampai saat dimana ke-erroran konsentrasiku terciduk semua orang, ia memindai kesemua gerak-gerikku.
Aku nampak bingung dan terkejut dengan guyonan Andra di depan anggota rapat waktu itu. Hingga mas Wisnu yang sejajar dengan posisi dudukku di sebrang meja rapat mengirimkan sebuah pesan singkat padaku.
mau break dulu?
Aku tak menjawab pesannya. Aku segera berdiri dan memohon maaf pada anggota rapat yang hadir atas kelalaian yang aku lakukan hari itu. Ya.. dengan berdiri dari tempat dudukku semoga dapat membantuku lebih berkonsentrasi hari itu. Aku meminta kembali Pak Brian untuk mengulang apa yang hendak ia tanyakan padaku. Aku lalu menampilkan performa yang harus kutampilkan di depan mitra kerjaku hari itu.
Harus aku akui, peristiwa kemeja putih dengan aroma romansa mas Wisnu telah menyudutkan kecamuk perasaanku. Terus berperang untuk mencari pemenang, menipis pada rasa yang sebentar lagi kandas. Ia bertabuh pada genderang cinta masa lalu dan janji pada cincin yang sedang aku semat pada jari manisku.
Maka, semenjak kejadian itu aku terus menghindari mas Wisnu. Keesokan harinya bahkan aku memandatkan segala urusanku kepada Revita dan memilih pulang ke Bandung dengan dalih memiliki urusan keluarga. Ya.. demikianlah, aku mewujud manusia pengecut yang tak mampu menghadapi kenyataan. Kenyataan akan hadirnya mas Wisnu yang telah menorehkan banyak kisah tentang kesetiaan, luka, dan rindu.
Aku terus melakukan permainan berlari dan bersembunyi dari lakon yang harus kuhadapi. Aku.. menghindari mas Wisnu sedemikian rupa meski apa yang dilakukannya seperti tentara berseragam perang yang tak mudah menyerah pada lawan tandingnya, aku dan kenyataan yang kusuguhkan.
__ADS_1
Mas Wisnu kini sering menghubungiku. Mengirimkan pesan, melakukan panggilan telepon, mencariku di kantornya, yang sama sekali tak pernah aku pedulikan. Apa mas Wisnu tak tahu, aku sedang mengatur segala emosiku menghadapi kehadirannya?
Lalu malam ini, layar teleponku berbunyi menampilkan nama Andra, berdering di tengah kota malam Jakarta ditemani suara klakson kendaraan ibu kota dalam samar dan sayup.
Ada apa dengan Andra?, malam-malam menghubungiku. Setahuku Andra orang yang paling memegang komitmen profesionalisme, tapi mengapa jam malam seperti ini menghubungiku?
Kuangkat telepon yang tengah berdering itu. Namun, malam ini aku harus menyiapkan kembali segala pertahanan diri sebab suara yang menyapa telingaku adalah suara yang aku rindu.
"Assalamu'alaikum.. Wita.. Akhirnya.. kamu angkat juga", suaranya begitu terdengar gemetar penuh kekhawatiran.
"kamu sehat kan Wit?"
"Ko kamu susah sekali aku temui?", tanyanya.
"saya baik pak Wisnu".
"Kamu dimana?, Bandung?"
"Jangan khawatir pak Wisnu, saya sudah di Jakarta. Kerjasama kita akan selesai sebelum tanggal yang kita sepakati".
"Saya baik pak Wisnu, jika anda ingin tahu tentang hal itu". Aku jawab dengan lugas agar ia tak lagi memberikan perhatiannya yang berlebihan.
"Kamu kenapa Wita?, tiba-tiba dingin seperti ini?, Aku ada salah sama kamu kemarin? ha?", tanya mas Wisnu yang mencap diriku berperilaku 'tiba-tiba' dingin itu. Mas Wisnu apa tak menyadari jika 'dingin'ku telah aku hunuskan semenjak cincin ini tersemat di jari manisku?
Aku lalu mengatur ketidakseimbanganku untuk mendapatkan kekuatan menjawab keluh kesahnya.
"Tidak", jawabku singkat. Memang benar tidak ada salah. Tapi.. aku harus memberinya ketegasan. Aku.. wanita bertunangan yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya.
"kamu marah?"
"Tidak", jawabku kembali.
"Sampai kapan Wita?, sampai kapan kamu seperti ini? Berhentilah menghindariku!", kalimat yang sejurus kemudian membuat tanya yang sama. Sampai kapan mas Wisnu menyadari?, jika aku tak akan pernah menerimanya kembali.
__ADS_1
****
Aku kini tengah berada di ruangan mas Wisnu. Ruangan ini terasa dingin, menghunus sampai ke sela-sela tubuhku meski saat ini waktu dalam jam digital di ponselku menunjukan pukul 13.00. Aku duduk di tepian kursi single menunggu sang penghuni ruangan keluar dari ruang pribadinya. Siang ini aku harus segera mengajukan perencanaan Inhouse Training, merupakan jasa konsultasi tahap ke-3 setelah dua bulan ini berjalan sebagaimana mestinya.
"Menunggu lama?", tanya mas Wisnu sambil merapikan kembali lintingan kemeja yang kulihat nampak basah. Wajahnya terlihat segar dengan aroma tubuh yang tegas. Rambutnya masih nampak basah, sisa air wudhu shalat dzuhurnya hari ini.
Kemana amarahnya semalam?, yang membuat pandanganku kabur pada setiap inci mimpiku yang gelisah. Mencabik-cabik ketenangan malamku dengan pekikan sakit tiada tara. Aku.. bahkan merelakan air mata menemani terjaganya malamku akibat mimpi buruk yang aku alami semalam. Mimpi buruk yang selama dua bulan terakhir tak lagi menderaku, namun malam tadi, aku terlahir kembali merupa pesakitan dalam lirihnya kesendirianku.
"Sudah makan siang?"
"Sudah pak!" jawabku.
"Oke.. jadi..bagaimana?" ia menopang kedua sikutnya pada lututnya sambil menatapku.
Kujelaskan semua yang harus aku sampaikan padanya. Sebuah training program lanjutan berbasis Team Building yang akan dilaksanakan pekan depan. Memiliki konsep pengembangan diri, membangun kinerja team dalam perusahaan.
"Setiap laporan psikologis akan dilakukan quality control oleh tim dari pusat sehingga kualitas laporan akan sama baiknya untuk setiap laporan psikologis". Aku akhiri penjelasanku dengan kalimat itu.
Tak lama dari itu mas Wisnu menutup berkas yang dibacanya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa panjang miliknya. Lalu bersedekap menatapku tajam.
Tatapan penuh amarah itu kini menghunus tajam mataku. Degup jantungku semakin tak terarah dan terkendali.
"Kamu.. sampai kapan mau menghindar dariku Wita?"
"Ini bukan bagian dari pembahasan kita hari ini pak Wisnu"
"Hentikan Wita, tolonglah! apa kamu benar-benar akan melupakanku?"
"Aku pernah menunggu seseorang, namun harus anda ingat pak Wisnu. Masa laluku telah lama tertinggal 7 tahun yang lalu".
"Kamu berniat menghukumku dari masa laluku itu? Kamu berniat menghukumku dengan pernikahanmu? Tak sedikitkah kamu merasakan bagaimana gilanya aku? Wita.. kumohon!!"
"Aku tidak sedang menghukum siapapun pak Wisnu. Anda seharusnya menyadari batasan anda saat ini".
__ADS_1
Mas Wisnu, tak ada kalimat yang dapat aku pinjamkan pada relung jiwaku yang hampa dan bertemali kepencundangan ini selain, berhentilah mas Wisnu sebab aku akan beranjak dari masa lalu atas nama dirimu!