Selesa Rindu

Selesa Rindu
Tiga Tahun


__ADS_3

Sejak dedaunan jatuh di tanah itu


aku goreskan angka kehidupan baginya


dalam dan bermakna


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Wita


7 tahun yang lalu


Wisnu Pov


Sebulan berlalu semenjak chatku pada Wita menggantung tanpa jawaban. Maka sejak dari itu dapat aku hitung tiga kali aku bertemu dengan Wita di tempat yang selalu menjadi rutinitasku di akhir pekan kota Bandung pagi hari. Aku sudah bertekad memutuskan mendiadakan rasa yang terus bergejolak tak wajar. Tetapi mengapa segala rencanaku selalu berakhir tak berirama dengan tindakanku. Benar-benar mengkhianati segala prinsipku sebagai seorang arsitek.


Minggu pertama pertemuanku dengan Wita setelah chatku tempo lalu, ia masih sesegar yang selalu aku lihat. Selalu asik dengan gambar yang dibuatnya dalam buku abu yang sekarang terlihat baru. Kami hening tanpa percakapan. Semilir udara pagi yang perlahan mengencang menyibakkan rambutnya yang tergerai. Ia masih asik dengan dunianya bersama pensil biru dalam pegangan jempol, telunjuk dan jari tengah.


“kamu suka cokelat” tanyaku.


“iya?” tanyanya nampak kaget. Ku keluarkan cokelat yang kubeli kemarin di minimarket depan rumah. Aneh, bahkan tetehku mengomentari janggalnya tindakan yang aku tunjukkan. Aku yang sedari kecil memang tidak suka cokelat mendadak memiliki inisiatif untuk membelinya.


“bisku hampir tiba” sambil memperlihatkan cokelat yang masih menggantung dalam genggamanku di hadapannya. Ia raih makanan kecil pemberianku dan menatapku heran. Aku beranjak tanpa suara dan menandangi pintu masuk bis Bandung-Jakarta.


Kali kedua pertemuanku dengannya, ia nampak duduk dengan seragam yang berbeda. Sedikit berbeda karena kulihat name tage yang menggantung dengan tulisan “Ujian Nasional” yang dilengkapi dengan pas foto milik wajah cantik berfaras ayu, Wita Maharani.

__ADS_1


“ujian?” tanyaku.


“ah.. iya hari terakhir” ia nampak kaget dengan pertanyaan yang aku layanngkan. Kupikir-pikir, ia selalu kaget saat mendengar suaraku. Mendengar pertanyaanku yang sesungguhnya.. sederhana. Tapi ya, pertanyaan tentang menjadi kekasihnya memang bukanlah hal yang sederhana baginya, sepertinya.


Kusodorkan sebuah dus kecil padanya, sedang ia nampak mengernyit. Bertanya dengan mata dan senyumnya. “pensil untuk menemanimu menggambar” jawabku. Ia lalu mengambil pemberianku dan terpaku memandangi pensil yang dibaluti kemasan dus kecil tersebut. Aku beranjak pergi dan siap menghampiri bis yang sudah nampak dari arah depan menuju tempatku berdiri. Aku lalu putuskan untuk menghentikan langkahku lalu menoleh ke belakang, kusodorkan sekantong makanan yang kemarin aku beli dari minimarket yang sama. Berisikan susu kotak, cokelat, roti sobek dan sebuah botol kecil air mineral berlogo gunung biru.


“hari terakhir ujian, harus banyak makan” aku ucapkan saat kantong plastic itu mendarat di pangkuannya. Ia memandangku, dan tatapanku tertuju pada kedua bola mata jernihnya. Ayolah Wita, mengapa aku begitu merindu, sedang dirimu masih jauh untuk aku jangkau. Aku lalu putuskan untuk melangkah dan memasuki pintu bis langgananku, berjalan menuju jok tengah yang masih nampak kosong. Memantapkan diri duduk di jok tersebut. Kutangkup wajahku dengan kedua telapak tangan, menghela nafas dan.. menyerah.


Pertemuanku yang keempat setelah chat tak berbalasku aku putuskan untuk behenti dan diam. Tak ada yang bisa memaksakan segala keputusan yang diambilnya. Tak ada kata hak dalam sebuah pertemuan yang tak memiliki kepastian. Lidahku kelu untuk mengeluarkan kata tanya, karena nyatanya aku tak punya kalimat yang pantas untuk aku ucapkan. Ia masih duduk termenung, menatapi dedaunan yang tertiup angin pagi kota Bandung. Aku bahkan tak peduli dengan buku abu dan pensil pemberianku yang sedari tadi ia abaikan dalam genggamannya. Aku melenggang melangkahkan kedua kaki dan beranjak pergi. Memasrahkan diri pada mobil jurusan Bandung-Jakarta untuk membawaku pergi.


Beberapa bulan berlalu, hingga aku tak melihat wajah manis bernama Wita di trotoar ini. Sungguh ini tak baik bagi semua organ tubuhku. Aku memang mengikhlaskannya, tapi boleh kan jika aku masih ingin melihatnya?. Lalu suara ponselku berdering, tanda panggilan seseorang. Wita?


Kuangkat telpon yang sedari tadi bersuara dengan sedikit gemetar.


“halo, assalamu’alaikum”


Hening sejenak, ayolah ucapkan sesuatu Wisnu, kemana pita suaramu?!.


“sabtu ini kelulusan Wita, Jum’at siangnya bisa kita ketemu?”.


Aku terdiam, owh Tuhan, suaranya mengapa begitu merdu. Dan apa? Bertemu?


“iyah tentu.. kamu yang tentukan tempatnya” jawabku dengan segera.


Lalu hari ini, di sebuah caffe modern tetapi sederhana aku berhadapan dengan wanita yang aku rindu beberapa bulan ini. Baju sederhana membalut tubuhnya, nampak lebih cantik dari biasanya yang aku lihat dengan seragam putih abu.

__ADS_1


“Wita tidak punya pacar, dan belum pernah punya pacar” ia memulai kalimat dalam keheningan kami berdua. Yang benar saja, wajah secantik ini belum punya kekasih? Belum pernah?. Bahkan aku yang mempunyai tampang alakadarnya ini sudah dua kali menjalani sebuah hubungan dalam istilah anak muda sekarang, pacaran. Ya.. meski tidak berawal dari hatiku hingga berakhir juga karena hatiku yang tak pernah rela memberi, memberi hati pada seseorang.


Hana pacar pertamaku menyatakan perasaanya di tengah-tengah podium saat aku menjadi ketua pelaksana ospek kampus. Dengan ratusan pasang mata aku terpaksa menerimanya. Apa yang akan terjadi dengan hatinya, jika aku tolak perasaannya di hadapan banyak orang, Hana sahabat karibku. Berjalan satu tahun yang menyiksa, aku putuskan untuk megakhirinya meski kulihat wajahnya yang kecewa.


Pacar keduaku harus aku terima karena alasan klasik perjodohan antar orang tua. Dan berjalan selama 6 bulan hingga harus berada pada titik berakhir. Burhan pernah bilang, wajahku yang bernilai 9 plus memang mengundang banyak minat para wanita, memang betul? Pernyataan Burhan tak valid. Tidak bisa diterima keakuratannya, karena nyatanya Wita menolakku.


Aku tatap Wita dan berdiam diri, menunggu melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Ia buka buku warna abu yang memiliki sampul baru. Ia merangkaikan beberapa kalimat panjang namun perhatianku terarah pada goresan pensil yang terbubuh pada kertas putih bergaris. Bagaimana bisa ia berbicara sedang tangannya terus bergerak membuat sebuah gambar?, matanya.. tak berani menatapku. Ia fokus dengan bukunya sedang lawan bicaranya ada di hadapan.


“Wita anak pertama dari dua bersaudara”, ia menggambar dua wajah dengan kepang dan wajah maskulin berambut pendek. Aku tebak adiknya laki-laki.


“Adik Wita laki-laki” benar kan? “masih sekolah” ya iyalah Wit, kamu aja baru mau lulus SMA.


“ayah seorang pedagang, dagang bubur. Sedang ibu membantu ayah berdagang. Setiap malam Wita juga harus membantu mereka menyiapkan dagangan. Maka dari itu Wita harus sejak pagi berangkat ke sekolah agar dapat menyempatkan waktu untuk belajar di kelas sebelum waktu belajar tiba”


“owh..” jawabku mengangguk faham. Ia lalu melanjutkan.


“cita-cita Wita cuma satu. Menjadi seperti ibu. Mendampingi ayah dan mempunyai anak seperti Wita dan Salim”. Oh.. Salim nama adiknya.


“Mungkin Wita tidak akan memutuskan untuk kuliah, karena adik masih memerlukan biaya sekolah. Ia lebih penting untuk sekolah karena ia laki-laki” lho..lho.. konserpativ sekali pemikiran wanita ini.


“jadi..” ia menghela nafas sejenak, lalu mengangkat wajahnya yang menunduk pada buku abunya. Baru saja ia goreskan gambar terakhir merupa gedung sekolah dan sang adik yang tak bisa kutebak seperti apa wajahnya. Karena itu.. hanya sebuah karikatur.


Ia lalu menatap mataku yang sedari tadi memandangi tangan indahnya bergemulai menggambar di bukunya, sedang tanganku bersedekap diatas meja dan kucondongkan tubuhku untuk melihat jelas gambar yang ia buat. Aku balik menjawab tatapannya dengan tatapanku. Ia lalu mengucapkan sebuah kalimat yang akan menjadi pengikat bagi kehancuranku saat ini. Sampai pada titik ini.


“berapa lama Wita harus menunggu?” tanyanya. Beberapa detik aku terdiam. Mencoba memahami pertanyaannya yang ambigu. Menahan nafas dan mengaturnya dengan perlahan.

__ADS_1


“tiga tahun, tunggu aku tiga tahun” jawabku dengan tegas.


“baik, Wita tunggu”, jawabnya seraya menutup buku abunya dan meneguk segelas air putih milikku dan menandaskannya tanpa sisa.


__ADS_2