Selesa Rindu

Selesa Rindu
Denyut Rindu


__ADS_3

Aku melolong bak serigala kelaparan


di tengah terangnya rembulan dan gelapnya malam


apa yang aku temukan?


segumpal rindu yang mengepal


-Wita-


Jakarta, Wita-Revita


Terhitung mundur dari hari ini maka hari pernikahkanku telah tersisa sebelas hari lagi. Entah kenekadan apa yang telah aku lakukan hingga aku memutuskan menerima keputusan Satria. Ya.. Satria, teman SMAku yang sejak dulu mengharapkanku. Satria yang urakan dan sukanya tawuran kini menjadi seorang pengacara yang handal dan sikapnya berubah total. Penggemarnya di masa SMA dulu tak terhitung. Ia memiliki paras yang bernilai sembilan puluh sembilan koma sembilan menurutku. Mendekati angka seratus, hhmzz.. aku tak sanggup menobatkan angka sempurna itu untuk Satria, sebab bagiku seratus itu hanya untuk mas Wisnu.


Mas Wisnu?, bagaimana kabarnya? Dua hari ini aku berada di kantornya tak pernah sedikitpun melihat bayangannya. Apa dia sakit? atau..marah? entahlah.. kelebatan bayang itu terus menghantuiku. Aku tepis segala pemikiran buruk itu, memikirkan tentang mas Wisnu sama saja dengan mengkhianati janjiku.


Hari ini aku tengah disibukan dengan persiapan training team building yang akan dilaksanakan di Lembang dua hari ke depan. Kegiatan yang semestinya dilaksanakan hari ini dalam targetanku tetapi melenceng akibat beberapa kendala teknis dari perusahaan mas Wisnu.


"mba, tim kita yang terlibat nanti di Lembang berapa orang?" tanya Revita padaku. Ia tengah sibuk mencatat berbagai keperluan yang harus disiapkan untuk kegiatan tersebut. Kegiatan yang pertama kali dilakukan perusahaanku -begitu yang pak Hermawan ungkapkan- yang akan dilaksanakan secara bertahap, mengingat banyaknya jumlah karyawan yang dimiliki perusahaan mas Wisnu.


"lima belas orang cukup kayaknya" jawabku mengestimasi.


"Memang gak semua karyawan ikut acara ini?", tanyanya lagi.

__ADS_1


"Divisi-divisi tertentu yang diikutsertakan. Pak Wisnu terakhir merevisi ajuan kita. Awalnya semua karyawan di seluruh divisi perusahaan mau diikutsertakan, tapi gak tau kenapa kemarin pak direktur, melalui pak Andra memutuskan hanya sebagian yang diikutsertakan. Divisi-divisi yang urgen saja katanya yang akan ikut", jelasku pada Revita.


"Berapa hari kita di sana mba?, udah lama ih aku gak ke Lembang", ungkap Revita dengan atusias.


"Tiga harian kayaknya. Kita akan membagi kegiatan ini menjadi tiga kelompok Rev. Masing-masing kelompok diikutsertai oleh lima puluh peserta. Kita efektifkan waktu", jawabku. Ya.. mengefektifkn waktu. Karena Satria benar-benar memberiku waktu yang sangat singkat. Setidaknya program besarku yang satu ini harus berhasil aku tuntaskan, untuk kontrak yang lain biar menjadi pemikiranku selanjutnya.


"Okey baiklah mba. Tiga hari cukuplah buat aku happy-happy di sana", oceh Revita membuatku tersenyum. "Dan ini mba, udh aku list daftar kebutuhan kita. Mohon dikoreksi! takutnya ada yang kurang atau tidak pas", pintanya seraya menyerahkan catatan yang sedari tadi ia tekuri.


"Oke.. makasih Rev", jawabku seraya menerawang ke arah jendela, sebab hatiku berdenyut kecewa ketika membaca data peserta dari divisi direksi di layar laptopku. Tak ada nama mas Wisnu di sana. Ia seolah ingin menghilang dari pandanganku, menghindarikuku, marah padaku.


"Tapi sebelum baca catatan dari aku ini..", Revita memecah lamunanku. "kita ke kantin dulu yu mba!!", ajaknya padaku. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Kurapikan meja kerjaku dan bersiap menuju kantin yang Revita maksud. Namun entah ada apa hari ini, Revita mengajakku makan siang di resto dekat gedung perusahaan ini.


Aku tersenyum dan menjawab, "ya sudah, hayu..!". Kuraih tas selendangku dan melangkah pergi berasamaan dengan langkah Revita yang bersemangat.


Revita memintaku menuju resto tersebut menggunakan mobil perusahaanku yang selalu kami pakai, ya.. setelah kejadian hilangnya kontak aku malam itu, Pak Hermawan jadi menyediakan mobil inventaris yang harus kami pakai selama di Jakarta. Pulang dan melakukan aktivitas bersama Revita adalah SOP yang baru dibuat olehnya, khusus untukku.


Aku sempat menolak keinginan Revita, sebab jarak antara gedung perusahaanku dan resto tersebut tak begitu jauh. Tapi sang asisten tetap saja keukeuh dengan keinginannya.


"Mba tunggu aja di sini ya.. aku bawa mobil dulu di parkiran!", pintanya. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan menunggu di halaman gedung perusahaan. Halaman yang cukup indah dengan penataan taman yang rindang, ya.. meski panasnya kota Jakarta tak dapat disirnakan dengan keberadaan taman ini.


Saat aku duduk di bangku taman, kulihat sosok mungil yang selama ini aku rindu. Kutahan rindu yang kumiliki ini agar egala rencana yang kubuat dapat berjalan dengan semestinya.

__ADS_1


Ia berlari ke arahku dengan binar bahagia dan ceria. "Bunda Witaaaa...", teriaknya padaku. Sontak membuat aku berdiri dari dudukku dan melambaikan tangan seraya tersenyum menyambut sang gadis kecil. Namun senyumku tiba-tiba terhenti dan tubuhku berlari tanpa berfikir panjang ke arah sang bocah.


"Adhiiiis... awaaaas!!!", aku berteriak dan berlari sekencang-kencangnya dan.. BRAAAK.. suara hantaman motor terbanting ke arah pilar taman setelah sebelumnya mengenai kaki sebelah kananku.


Aku tergeletak di atas tanah seraya memeluk Adhis. "Astagfirullah..", ucapku saat melihat Adhis di pelukanku. Ia menangis sejadi-jadinya karena shock dengan apa yang terjadi.


Bergetar tubuhku menggendong sang Adhis, lalu aku memberanikan diri melangkah ke arah pengendara motor yang kutahu adalah pengendara motor online yang siap mengantar pesanan makanan, sebab kulihat bungkusan makanan yang tumpah berserakan di tanah.


Aku tak dapat menahan gemetar tubuhku, dan amarahku untuk mengeluarkan kata-kata yang tak dapat ku kontrol dengan baik. Aku sorotkan mata amarahku pada lelaki berjaket dengan logo salah satu perusahaan kendaraan online di Indonesia itu.


"Kalau nyetir lihat-lihat dong!!!", bentakku padanya. "Gak lihat apa ada anak kecil heu? kalau terjadi apa-apa sama anak saya, saya gak segan-segan nuntut kamu ke pengadilan ya! Kamu sebetulnya bisa bawa motor ga sih? jangan-jangan gak bawa SIM". Amarahku meledak dengan suara pekikan teriak yang diiringi dengan gemetar dan cucuran keringat dari tubuhku.


"Awas saja!!, kalau anak saya ini ada yang luka kamu harus bertanggung jawab!!" teriakku dengan gemetar. Aku bahkan tak dapat menahan sudut mataku untuk tak mengeluarkan air mata. Dengan tangisan itu aku terus mencercarinya umpatan dan kata-kata amarah. Sedang sang pengendara motor hanya terdiam dann berucap kata maaf padaku. Seharusnya aku segera menghentikan ocehan dan teriakkanku, sebab jika dipikir kejadian ini bukan sepenuhya kesalahannya.


Namun, sikapku padanya sungguh di luar kendaliku. Entah apa yang terjadi denganku, sebab jantung ini terus berdenyut keras dan terengah mendapati Adhis dalam pelukanku menangis. Dan tubuh ini gemetar mengingat kelebatan motornya menghantam aku dan Adhis kecilku.


Tanpa aku sadari, sekelompok orang mengerumuniku dan membantu menegakkan motor sang pengendara. Salah satu karyawan perusahaan ini bahkan membantu sang pengendara motor berdiri dari posisinya yang sama-sama terjatuh dan mendapatkan luka di kening dan kakinya.


Sedang aku, baru saja menyadari jika amarahku telah menjadi tontonan para karyawan perusahaan. Lalu, aku menjadi lemas sendiri setelah kulihat tubuh tegap yang aku rindu memberikan sorot mata yang tak bisa kumengerti menatapku lekat dari arah depan tubuhku. Tiba-tiba tubuhku terasa sakit mendapat tatapannya, aku eratkan pelukanku pada Adhis yang tangisnya mulai mereda. Tubuhku sakit dan hatiku menangis pilu, entah mengapa. Apa karena gadis kecil dalam pelukanku? atau karena sang direktur yang berada di hadapanku?, atau karena darah yang mengalir dari kaki sebelah kananku yang baru saja kusadari sakitnya berdenyut hingga ke ulu hati.


###


janjiku buat double up sudah aku tunaikan ya...

__ADS_1


jangan lupa bahagiaaaa🤗🤗🤗


__ADS_2