Selesa Rindu

Selesa Rindu
Menyeramkan


__ADS_3

kosong dan bertalu pada sesak


BENCI


-Wisnu-


Bandung, Wita-Teh Rumi-Wisnu


Takdir memang seperti mempermainkan anak manusia. Wita yang tak pernah sempat memberikan penjelasan pada Wisnu seolah harus terus hidup dalam bayang penyesalan dan dosa. Tetapi hidup haruslah terus ia lakoni bukan?, dengan atau tanpa Wisnu. Bahkan hingga saat ini, ia harus mengikhlaskan hati untuk menapaki hari demi hari di sini, sekolah Embun Gemintang yag akan menjadi penawar bagi bayang-bayang masa lalu.


“Saya mohon maaf karena sudah menyita waktu mamah Adhis dan papanya Adhis”. Zahra sang guru membuka pembicaraan di ruangan yang bernuansa ceria, luas dan memiliki pencahayaan yang baik. Ruangan Wita menjadi tempat pertemuan kedua wali Adhis itu. Wita ditemani oleh Zahra akan membahas langkah yang akan diambil berikutnya mengenai Adhis. Setelah kejadian mengejutkan beberapa hari lalu tentang tragedi gagang pintu yang merobekkan kening Adhis, Wita harus segera mengambil tindakan.


“baiklah papa dan mamah Adhis, saya memohon maaf yang sedalam-dalamnya sebelumnya terkait kejadian kemarin yang menimpa Adhis. Seluruhnya hal tersebut merupakan keteledoran saya”.


Wita membuka suara seraya menatap dengan senyuman kepada Teh Rumi dan Kang Indra. Teh Rumi dan Kang Indra membalas ucapan Wita dengan anggukan dan senyuman. Bagi mereka kejadian ini bukanlah kesalahan sekolah. Mereka mengerti betul tentang kondisi Adhis. Bahkan sesungguhnya Teh Rumi sudah berencana untuk melakukan konsultasi dengan Wita yang diketahuinya sebagai konselor di sekolah ini. Tetapi ia tak menyangka justru kejadian kemarin lah yang membuatnya segera bertemu dengan Wita.


“dari berbagai catatan anecdotal record yang saya baca mengenai Adhis, saya menemukan beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk Adhis. Beberapa kali mungkin bunda Zahra sudah meminta bantuan ke mamah ya?” tanya Wita.


“iya Bun”, jawab Zahra.


“mamah Adhis sudah melakukannya dengan baik. Hypnotherapy sering mamah Adhis lakukan menjelang Adhis tidur” lanjut Zahra.

__ADS_1


“saya juga sudah menyediakan banyak buku cerita bunda Wita. Adhis malah meminta buku-buku cerita lainnya selain buku cerita yang diberikan oleh bunda Zahra”.


“wah alhamdulilllah, mamah Adhis ternyata sangat telaten membimbing Adhis” puji Wita pada Teh Rumi.


“Adhis cenderung mudah bersikap agresif kepada teman-temannya. Sikap egosentrisnya masih mendominasi dirinya. Sepertinya langkah kita sebelumnya memang belum menunjukkan perubahan yang signifikan untuk Adhis”. Wita melanjutkan.


“kali ini yang terpenting untuk Adhis adalah menemukan zona nyaman bagi emosinya yang mudah meledak-ledak. Sebelumnya saya meminta maaf, karena sepertinya target perkembangan utama untuk Adhis akan berbeda dengan teman-temannya yang lain”. Wita menjeda.


“kami akan membuat ritme belajar yang berbeda untuk Adhis. Dan untuk hal ini saya yang akan menanganinya langsung melihat beberapa kejadian kemarin”. Wita hanya membuat kesimpulan sementara bahwa Adhis merasa nyaman dengan dirinya. Hal ini tentunya akan menjadi peluang bagi dirinya untuk memudahkan Adhis menemukan zona nyamannya dan mengatur perkembangan emosional anak didiknya ini. Ini bukan kali pertama bagi Wita dalam menangani anak dengan kasus yang sama. Bahkan muridnya yang sekarang sudah berada di Sekolah Dasar kerap kali mengunjungi ruangannya untuk melepas rindu. Wita menjadi sosok yang diidolakan dan dikenang dengan rasa manis bagi anak-anak didiknya, khususnya bagi mereka yang seperti Adhis.


Sebuah kesepakatan dibicarakan oleh orang-orang dewasa untuk seonggok jiwa kecil tak berdaya. Kali ini Wita tidak memberanikan diri bertanya lebih banyak, karena dari obrolan papa dan mamanya Adhis barusan tidak ada hal yang janggal. Perhatian penuh telah diberikan oleh keduanya, bahkan sang kakak yang bernama Risyad kerap ikut andil dalam mendampingi tumbuh kembang Adhis. Tutur kata yang lembut dari papa Adhis yang sering dipanggil oleh mamah Adhis Kang Indra itu bahkan selembut sutra. Santun, sopan dan nyaman. Meski mamah Adhis sedikit berbeda, ia cenderung mudah bercanda dan ceplas-ceplos tapi bagi Wita ia merupa sosok ibu yang telaten dan lembut. Tak ada masalah dalam hal ini.


“Adhis itu butuh perhatian kamu Wis, tong sibuk wae (jangan sibuk saja). Mau cari uang segede panto (pintu)?! Rumah sabadag (sebesar) Istana udah punya, apartemen ogè (juga)ada, mobil juga bagusan kamu sama yang punya Kang Indra mah”, “jauh atuh mah” sela Risyad.


Setibanya di Bandung Wisnu langsung disuguhi kondisi Adhis yang menyedihkan. Kening Adhis yang masih dibaluti perban membuatnya sedikit merasa bersalah. Untung saja kemarin saat di Malaysia, Wisnu memberikan banyak oleh-oleh untuk anak kesayangannya itu, bahkan boneka yang dipesankan Adhis itu juga dapat ia bawa sejumlah yang Adhis minta meski harus sulit mencarinya.


“inget juga sama badan kamu, bukan hanya Adhis yang butuh perhatian, badan kamu juga. Emang bener kamu tèh sekarang tambah kasèp (ganteng), badan oge kayak artis-artis pake sering fitness segala, tapi kamu juga butuh rileks. Rileks Wis!!!” mulut tetehnya yang satu ini belum saja berhenti sedari tadi, tak ingin mendengarkan banyak lagi ocehannya Wisnu memilih menjawab ceramah singkat Teh Rumi dengan kata, “iyah..”.


Selepas makan malam Teh Rumi menghampiri Wisnu di kamar milik Adhis. Dilihatnya Adhis tengah tertidur lelap.


“kata dokter gimana tèh?”.

__ADS_1


“baik, Adhis mah tergolong anak yang hebat, gak cengeng. Dasar kamunya aja yang lebay. Tiga hari yang lalu juga sebetulnya udah bisa sekolah. Ini malah minta bolos dua minggu, kasihan boseneun tu Adhisna” jawab teteh Rumi panjang.


“ya karena Wisnu khawatir. Itu…” Wisnu menjeda kalimatnya. “guru yang gendong Adhis bukan guru kelasnya kan?” tanya Wisnu meyakinkan. “Wisnu lihat di video call sama Kang Indra”


“euh dasar lalaki, nu dikaput (dijahit) wae kudu divideo” gumam Tèh Rumi kesal. “hmmz.. itu bunda Wita namanya, dia tu yang bikin Adhis sampai robek keningnya”.


“apa? Gimana ceritanya?” Wisnu terdengar kaget.


“biasa ajah atuh bicaranya, meni kaget”, jawab tèh Rumi.


“Adhis ternyata apèt pisan (dekat sekali) sama Bunda Wita. Nah waktu kejadian kemarin bunda Wita datang ke kelas Adhis, buat lihat kondisi belajarnya Adhis, secara si Adhis itu suka bikin temen-temennya nangis. Teteh aja jadi sering minta maaf ke mamah-mamahnya temen Adhis”, Tèh Rumi menceritakan sensasinya menjadi ibu bagi Adhis seraya menyelimuti Adhis yang tengah tertidur pulas.


“nah Adhis terus aja nempel dipangkuan bunda Wita, sampai beliau harus meninggalkan kelas karena dipanggil kepala sekolah. Èh malah Adhis ngadat (nangis) sampai bentur-benturin kepala ke gagang pintu. Padahal bunda Wita udah janji cenah bakal balik lagi ke kelas Adhis. Dan emang betul bunda Wita kembali lagi ke kelas, tapi malah melihat Adhis yang menangis sudah berdarah”.


Wisnu menarik nafasnya panjang. Ada sesak dan amarah di dada. Ingin ia lontarkan makian kebencian pada Wita, atau ia layangkan tamparan pada seseorang yang telah menjadi pengkhianatnya itu. Kini Wita menjadi sosok menyeramkan kembali di hidupnya.


 


readeeers... aku tuh sampai degdegan nih bikin tiap partnya Wita en Wisnu...


hati ini udah gak sabar pengen cepet kelarin masa lalunya mereka berdua, tapi harus sabar dulu nih soalnya kalau ceritanya gak aku urai satu persatu nnt malah jadi buntu🤭🤭.

__ADS_1


Rindu terus buat kaliaaan dari Selesa Rindu. Tetap jaga imun di masa pandemi dan jangan lupa gunakan jempolnya buat like dan komeeen. share juga ke teman lainyaaaa😘😘😘😘


__ADS_2