Selesa Rindu

Selesa Rindu
Gerimis Sendu


__ADS_3

saat ajal menyapa


tak ada jeda dan tiba-tiba


berserahlah... hingga kita terus meminta


ampunan pada Sang Pencipta


-Wisnu-


Bandung, Wita-Wisnu


"Kamu harusnya sudah minta cuti hari ini Wit!, pernikahan kita seminggu lagi ini", rengek Satria ketika Wita kini tengah bersiap kembali menuju Jakarta.


"Aku malu Sat, tiga hari kemarin harusnya aku yang jalanin program, ini malah pak Hermawan. Aku karyawan baru, malu kalau kerjaku cuma bolos aja".


"Tapi setidaknya, jawab telpon atau chat aku Wit ya!, jangan dicuekin akunya. Kita tu udah mau nikah lho ini!"


Satria, menghadapi Wita harus memiliki kesabaran yang paripurna. Mendapatkan Wita butuh waktu yang panjang. Teman semasa SMAnya itu sulit untuk ia kejar dan gapai. Maka, saat Wita menerima lamarannya, ia tak ingin terlalu banyak membuang waktu. Kendati beberapa bulan lalu, ia harus menahan diri untuk bersabar akibat permintaan ibu Wita dalam mengulur waktu.


Wita hanya melempar senyum untuk Satria. Satria lalu memutuskan meninggalkan Wita yang tengah bersiap itu dengan rasa kecewa. "Ya sudah, hati-hati di jalan ya!, janji tiga hari sebelum hari H kamu sudah harus di Bandung. Gak ada tawar menawar lagi!" ucap Satria sebelum melenggang pergi dan menghilang dari pandangan Wita.


Wita hanya mampu menghela nafas. Tujuh hari lagi? benarkah? Lalu apa yang dilakukannya hari ini? Semestinya ia tengah menyibukan diri untuk pernikahannya kali ini. Tetapi ia lebih memilih jalan menghabiskan sisa waktunya di perusahaan mitranya, perusahaan.. Wisnu Permana.


Saat beberapa dokumen tengah ia persiapkan dimasukkan ke dalam tas jinjingnya. Dokumen yang akan ia garap beberapa hari ke depan, mengenai persiapan assement dalam rangka rekrutment karyawan baru, terdengar suara ponselnya berdering.


Revita memanggil..


"Hallo.. Assalamu'alaikum, Rev.."


"Mba.. mba Witaa..", jawab Revita terbata-bata mengabaikan salam yang Wita lontarkan.


"Kenapa Rev? aku insya allah meluncur hari ini ke Jakarta. Ada masalah?"


"Mba Witaaaa..... mba... mba Witaaa...", suara isak tangis terdengar di balik telepon.


"Revita.. tolonglah.. ada apa?"


.


.


***


"Pak Wisnu!!", terengah-engah Andra menghampiri Wisnu yang sedang memantau project pembangunan City Hotel Jayakarta bertajug modern kontemporer di kawasan Jakarta Selatan. "Pak Wisnu.. anda.. anda sudah mendapat kabar dari Bandung?", tanya Andra pada sang atasan.


"Ada apa Ndra?" sontak Wisnu menghentikan aktivitasnya.


"Pak Hermawan mengalami kecelakaan", ucap Andra terengah.


"Astagfirullah.., gimana sekarang keadaannya?, kecelakaan dimana?"


"Menurut kabar.. kecelakaan pas mau ke rumah anaknya. Mau ngadain acara syukuran cucunya yang baru di sunat. Pak Hermawan...." Andra menjeda ucapannya. "Pak Hermawan... Meninggal...", lanjutnya lagi.


"Innalillahi...", sontak Wisnu beranjak dari tempatnya berdiri. "Kapan kejadiannya? Gimana? sudah dikebumikan belum?"

__ADS_1


"Barusan saya dapat kabarnya. Belum dikebumikan bang, posisi masih di rumah sakit".


"Kamu.. handle dulu persiapan kontrak dengan Pak Josep siang ini. Setelah selesai, segera susul aku ke Bandung! Bantu segala sesuatunya, pastikan apa yang diperlukan keluarga almarhum bisa kamu tangani, pemakaman dan lain-lain!"


"Baik bang".


"Ingat, dengan pak Josep kamu bahas intinya saja. Kamu nanti minta jadwal ulang untuk mematangkan kembali kerjasama kita!"


"Siap bang, abang.. hati-hati di jalan!"


Pak Hermawan, sosok yang Wisnu kenal selama dua bulan terakhir. Banyak memberinya jasa dan semangat untuk berjuang. Masih ingat dalam memorinya, sosok kebapaan itu tertawa renyah mendengar ungkapan hati Wisnu.


"Hahahaha... gak nyangka nih saya, direktur perusahaan besar yang saya idam-idamkan untuk mendapatkan kontrak kerjasama orangnya semuda anda pak Wisnu, dan dalam hal ini ternyata anda yang mengidamkan perusahaan saya, karyawan saya tepatnya".


"Panggil saya saja Wisnu pak"


"iya.. baik-baik. Nak Wisnu, tak apalah walaupun misinya seperti itu, tapi saya jamin perusahaan saya akan memberikan layanan terbaik"


"saya percaya pak, sebab orang-orang di balik anda adalah orang-orang terbaik, yang memiliki pemimpin terbaik pula"


"hahaha.. kamu pandai juga memuji orang"


"Tidak pak, itu fakta"


"hhhmmmzźz...lihat kamu, saya jadi ingat anak saya. Mengejar cintanya sampai ke ujung dunia. Dan akhirnya, saya sekarang sudah punya satu cucu yang sebentar lagi mau disunat. Cinta memang harus diperjuangkan. Kelak, saya akan menjadi saksi bahagianya kamu dan Wita bersanding. Seperti saya melihat bahagianya anak saya yang dapat meraih cintanya*"


"Insya Allah, saya berjanji untuk mewujudkannya pak"


"harus!!!"


Hati Wisnu kini berdenyut nyeri, baru saja.. baru saja ia melihat sosok ayah yang telah lama meninggalkannya pada diri sang mitra bernama pak Hermawan, kini ia harus kehilangan kembali.


Tiba di kediaman rumah duka, bendera berwarna kuning bertengger menyelinapkan dukanya sore ini. Berbagai karangan bunga berjejer memenuhi jalanan komplek perumahan elit itu. Sekumpulan orang berdatangan membawa wajah sendu.


Wisnu kini melangkah menuju ruang yang nampak dari kejauhan seonggok tubuh tak bernyawa tertutup samping kebat telah berpasrah pada akhir tugasnya sebagai hamba semasa di dunia.


Dilihatnya sekitar nampak sosok wanita yang mematung memandangi jasad sang lelaki yang menjadi atasannya. Wita, diam membeku menghunuskan tatapan kabur penuh sesal. Tak ada air mata, tak ada isak tangis!


Wisnu menghampiri wanita yang ia rindu itu dengan perlahan. Lebih dari apapun, Wisnu yakin, dibandingkan dirinya, Witalah orang yang paling terpukul dari kejadian ini.


"Sudah shalat jenazah?", bisiknya pada Wita seraya menyetarakan duduknya dengan berjongkok.


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Wita. Ia hanya memandang kosong jasad yang ada di hadapannya. Mematung dan membeku dengan mulut yang bisu.


"Wita, perbanyak istighfar!", bisik Wisnu selanjutnya. "Saya shalat dulu untuk almarhum", ucap Wisnu seraya berdiri dan memantapkan diri untuk bertakbir mengimami beberapa pelayat yang datang bersamaan dengannya.


Dalam tangis dan penyesalannya ia meyakinkan diri untuk berpasrah. Allah.. tempatkan beliau di sisiMu pada tempat yang terbaik!


"Allahu Akbar.."


"Allahummagfirlahu..."


Shalat yang ia persembahkan untuk mengantarkan pak Hermawan dengan untaian doa itu telah ia tuntaskan. Ia lalu menyalami dan menyapa istri almarhum juga anak yang pernah


diceritakan dengan bangganya oleh pak Hermawan. Namun sesaat kemudian ia menyadari sesuatu, Witanya tak ada di tempat yang barusan ia lihat.

__ADS_1


Wisnu mencari ke sekeliling, halaman rumah, teras, ruang tamu bahkan dapur. Wita tak ia temukan.


"Revita, kamu lihat ibu Wita?", tanyanya saat bertemu dengan Revita di ruang dapur rumah duka.


"Enggak pak, dari tadi saya disini. Menyiapkan beberapa kebutuhan untuk keluarga", jawab Revita dengan wajah sembab.


Ia lalu memutuskan keluar menuju area parkir. Lalu bertemu dengan Andra yang baru saja menepikan mobilnya.


"Ndra.. lihat Wita?"


"Enggak bang" jawab Andra.


Wisnu menghela nafas dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. "ya sudah.. kamu tolong urus segala persiapan untuk pemakaman almarhum, saya harus mencari Wita dulu".


"Baik bang, hati-hati".


Wisnu, ia edarkan kembali pandangannya ke segala arah. Berharap bisa menemukan sosok yang ia cari. Namun aktivitasnya seketika terhenti karena sebuah sapaan dari arah belakang.


"Pak Wisnu.. sudah lama?" suara perempuan dengan tubuh semampai menyapa dirinya.


"Hai bu dokter Lanis. Tidak begitu lama"


"Sedang mencari sesuatu?"


"iyah dok.. saya.. cari Wita"


"Wita? barusan ke sini? sekarang dimana? sama siapa ke sininya? dia gak apa-apa" tanya Lanis tanpa jeda.


"saya gak tau, tadi saya lihat di dalam rumah. saya shalat dulu tapi tiba-tiba dia udah gak ada"


"Cari pak Wisnu! Cari Wita! CARI WITA SEGERA!!!" pinta Lanis dengan gemetar.


Ucapan Lanis benar-benar membuatnya kalap. Ia lajukan kendaraannya seraya memindai setiap titik jalanan yang ia lalui.


Tolonglah Wita!! Jangan kau buat aku gila!


Mobilnya terus melaju hingga ia tiba-tiba menginjak rem mobilnya saat melihat sosok yang ia cari tengah duduk berjongkok di sebuah taman komplek perumahan elit ini.


Dihampirinya sang Wita dengan perlahan.


"Wita...", ucapnya lirih.


Wita lalu mendongkak, menatap sang Wisnu yang sejak tadi menyimpan rasa khawatir. Dilihatnya sorot mata sang wanita pujaan berkaca dan sendu. Lalu dengan lirih dan gemetar Witanya berucap, "Aayaaah.... Aayyaaah.. ayah..." Tangis Wita .. kini pecah tak terbendung.


"Tidak apa, menangislah!!", ucap Wisnu menemani duduknya sang Wita di tanah taman yang basah akibat gerimis hujan yang menyapa siang ini. Untuk kedua kalinya, ia usap punggung wanita yang terus meluapkan segala tangisnya di hari yang penuh duka ini.


Wita, jika boleh. Berikan segala luka dan duka itu padaku. Biar aku yang menanggungnya...


Dalam duka yang lirih menjelma angin semilir sendu, ditemani gerimis hujan, dua onggok manusia itu kini tengah berada di peraduan duka yang mendalam.


###


sedih aku nulisnya juga😭😭😭


vote mana vote... 🙏🙏🙏😭

__ADS_1


__ADS_2