Selesa Rindu

Selesa Rindu
Membuka Masa Lalu


__ADS_3

Aku tak sepadan denganmu


Yang tulus dan murni


Sejati dalam hati


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Lanis


Wisnu Pov


Pertemuanku dengan lelaki yang selama ini aku sebut sebagai lelaki 'bedebah' bernama Tara membuatku merasa kerdil. Sedemikiankah aku cepat mengambil kesimpulan? Harus aku akui, pesona Wita dulu ataupun sekarang begitu menempati posisi teratas dalam hidupku dan.., Tara. Ia mengakui dengan lantang tentang ketertarikannya pada Wita yang memiliki sejuta daya tarik yang tak dimiliki wanita manapun. Persahabatannya dengan adik kelasnya -Wita- menyimpan cinta tersembunyi. Suatu hari ia mencoba memberanikan diri menyatakan cintanya pada Wita, lalu mendapat jawaban serupa penolakan. Wita mengakui persahabatannya dengan Tara begitu murni dan tulus, Tara mencoba membujuk dan terus memastikan hingga ia akhirnya mendapat kesimpulan, “Wita sedang menunggu seseorang”.


Kemauan konyol Tara tentang meminta waktu pada Wita untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam pernikahan perjodohannya dengan Citra jelas mengundang kecemburuanku yang membuta. Lala tak pernah menjelaskan padaku bahwa Tara sepupunya itu telah menikah dengan adik kelasku, bukan Wita. Dan kebodohanku terang menjelaskan bahwa aku memang lelaki pecundang yang tak pernah memberanikan diri bertanya pada Lala. Aku hanya tak sanggup mendengar kenyataan bahwa Witaku telah bersanding dengan lelaki lain. Aku memilih pergi meninggalkan Indonesia setelah selama 6 bulan lamanya aku mencari Wita.


Hingga tepat pada hari pertemuanku dengan Tara, seperti kesurupan aku mengendarai kendaraanku menuju Jakarta. Wita menjadi tujuan terpentingku hari itu. Ulahku hari itu bahkan sempat akan mencederai putri dan kakak kesayanganku. Aku memang lelaki bodoh itu!!!. ****!!


Setibanya di area Convention Hall hotel, aku mendapati Wita menyenandungkan sebuah lagu yang teramat melukai hatiku. Sebegitu terlukakah dirimu hingga teramat menginginkan kepergianmu menjadi penawar bagi rasa sakitmu? Ia menatapku dengan lekat dan penuh amarah, cinta dan rindu.


Keterkejutanku hari itu berlipat ganda saat gadis kecilku berlari memeluk Wita dengan begitu merindu. Akulah lelaki egois itu, yang telah memisahakan putri kesayanganku dan Wita tambatan hatiku merentangkan jarak dan rindu yang dapat aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka lalu mempertontonkan hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Wita memainkan gitar dengan penuh pesona, menemani Adhis bernyanyi dan bergerak lincah mengekspresikan segala kebahagiaannya. Aku mendengar dan melihat dengan jelas para penonton bernyanyi dan menari bersama. Sebegitukah bahagianya putriku berada di samping Wita? Tak terasa bibirku tersungging begitu saja memberi senyuman bahagia hari itu.


Tetapi bahagiaku hanya sesaat, sebab Wita tiba-tiba menghilang. Panitia mengatakan ia meminta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan keperluan mendesak. Tak dapat aku perkirakan sebelumnya bahwa keperluan mendesak yang Wita maksud adalah untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit ini karena tipes.

__ADS_1


Namun, perasaanku kini remuk redam saat mendengarkan penuturan panjang perempuan yang menyebutkan dirinya sebagai sahabat Wita.


“Saya tidak memiliki catatan medis secara klinis atas nama Wita, Pak Wisnu. Karena Wita tidak pernah memeriksakan gejala yang dialaminya itu ke Rumah Sakit. Tetapi saya adalah orang yang berperan sebagai sahabat sekaligus dokter baginya yang terus mengikuti perjalanan kesehatan Wita sampai saat ini”.


“saya, memutuskan untuk membicarakan ini pada anda, sebab selama beberapa bulan ke belakang ini Wita kembali mengalami hal yang serius dan belum sedikit pun mendapat solusi sejak pertemuan dengan anda. Mungkin Wita mengalami kesulitan memulai membuka masa lalunya dengan anda, sehingga saya akan meminta bantuan anda untuk menghentikan segala rasa bersalah yang dialaminya. Wita harus memiliki kehidupan layaknya perempuan lain. Menikah dan memiliki anak sesuai mimpinya itu”.


Aku menghela nafas, memahami setiap ucapan Lanis. Membayangkan Wita yang selama ini cenderung diam dan tak pernah membuka komunikasi denganku membuat aku memahaminya. Akulah penyebabnya!!!


“Saya belum dapat memahami seutuhnya dokter Lanis, apakah hubungan saya dengan Wita dulu menjadi penyebab trauma yang dialami Wita?, maksudnya.. hubungan kami adalah kenangan buruk?” tanyaku ragu. Memastikan apakah sebenarnya yang menjadi penyebab dari trauma yang dialaminya. Apakah aku adalah sosok buruk yang menjadi ketidakinginannya menjalin hubungan dengan orang lain sehingga ia mengalami trauma yang Lanis maksud? Wita bahkan menghilang dariku tanpa kabar dan berita.


“Benar apa yang ada duga pak Wisnu. Kenangan buruk menjadi pemicu munculnya trauma yang dialami Wita. Post-traumatic stress disorder atau PTSD membuat kondisi mental Wita tidak baik. Ia sering mengalami serangan panik, mimpi buruk, stress berlebih yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Mengalami kejadian traumatis adalah hal yang berat bagi Wita. Tetapi trauma apa yang Wita alami anda mungkin dapat menyimpulkannya setelah saya menceritakan apa yang terjadi dengan Wita 7 tahun yang lalu”. Pernyataan dan tatapan Lanis kali ini membuat jantungku berdetak tak menentu. Apakah gerangan memang yang terjadi?


“Wita mengalami kecelakaan di depan gedung Wedding Organizer You and Me, sesaat setelah menghubungi seseorang melalui ponselnya. Anda mungkin tahu persis siapa orang yang Wita hubungi". Wajahku seketika menegang mengingat saat itu, di atas motorku, aku menerima panggilan masuk dari Wita setelah beberapa kali aku memberinya pesan.


“Kecelakaan yang dialami Wita cukup berat sehingga mengharuskan dirinya dibawa ke Rumah Sakit Jakarta. Wita dibawa ke ibu kota dalam kondisi yang mengenaskan. Wita menjalani berbagai tahapan operasi dengan biaya yang tidak sedikit. Ayahnya memutuskan menjual seluruh apa yang dimilikinya termasuk rumah yang mereka tinggali di Bandung. Lalu saat menunggu perawatan panjang yang dijalani Wita, mereka menetap sementara di rumah saya yang di Jakarta, sedangkan adiknya Salim tinggal bersama uwa Bambang di Bandung”. Pernyataan Lanis mengejutkanku. Aku menegang dalam rasa bersalah yang mendalam. Seharusnya saat itu aku berada di sampingnya. Atau.. justru seharusnya kecelakaan itu tak boleh terjadi, jika... Astagfirullah..


“Selama satu bulan Wita mengalami koma, dan tersadar dengan kondisi yang membuat ayahnya terkena serangan jantung lalu meninggal dunia. Bagi seorang ayah yang begitu mencintai putri kesayangannya mengalami masa yang berat seperti itu membuatnya sulit menerima dan bertahan”. Lanis melanjutkan.


“Apa yang Wita alami?” tanyaku lirih.


“Amnesia, benturan keras di bagian kepala yang dialami Wita menyebabkan ia kehilangan ingatannya”. Pernyataan Lanis benar-benar memukul ngilu hatiku. Witaku yang aku benci selama 7 tahun ini, Witaku yang akan aku hadiahi kesumat dan dendam selama ini, Witaku yang tak pernah kuberi senyum rindu selama ini, nyatanya mengalami kepedihan yang disebabkan oleh amarah dan rasa cemburuku yang membuta. Terhina lah aku, sebab dengan cinta yang kumiliki, aku justru melupakan apa yang selalu ibuku gaungkan dalan ceramahnya di mesjid-mesjid semasa remajaku dulu, “sesungguhnya prasangka itu merupakan sedusta-dusta perkataan”. Aku sekarang faham mengapa dalam agamaku prasangka disandingkan dengan konsekuensi dosa. Astagfirullah..


“Beruntung, ingatannya berangsur pulih dalam setahun. Dan, hal yang pertama dilakukannya adalah mencari anda.. pak Wisnu!”. Katakan aku tak tahu diri, tetapi aku teramat sedih mendengar apa yang Lanis ucapkan padaku.

__ADS_1


“Wita lalu memutuskan kuliah di Jogja mengambil jurusan Psikologi setelah ia mengetahui berita pernikahan anda di Swiss bersama putri pejabat negara itu”. Aku tak dapat mengelak bahwa tanganku sekarang mengalami tremor. Bolehkah aku berteriak saat ini.. Wita?!.


“Aku mengetahui gejala yang Wita alami setelah ia mendiskusikan keputusannya memilih jurusan yang ia pilih. Ia ingin mengetahui semua cara dalam mengatasi gejala jiwa yang dialaminya melalui ilmu yang ia perdalam. Ia lebih religius semenjak kejadian buruk yang ia alami 7 tahun lalu. Ia memutuskan berhijab dan mengendalikan segala emosinya dengan apik dan rapi”. Lanjut Lanis.


“Tetapi pertemuan anda dengan Wita akhir-akhir ini, memicu kembali gejala traumatisnya yang sudah beberapa tahun terakhir hilang. Dan saya rasa, andalah pemicunya… maka dari itu andalah juga yang akan menjadi penawarnya”. Aku menangkup wajahku dan mengusapnya kasar. Kutarik nafasku yang sejak tadi terasa berat. Hukuman apa yang layak aku terima?. Allah… Aku telah banyak meninggalkan noda yang pekat dan menghitam pada kehidupan seseorang yang seharusnya aku limpahi banyak cinta.


“Wita harus melanjutkan kehidupannya dengan normal, ia mungkin akan segera memutuskan keinginan ibunya menerima lamaran putra tetangganya. Dan anda.., juga mungkin akan melanjutkan hidup anda sebagaimana mestinya..”, Lanis mengucapkan kalimat yang membuat pikiranku kacau, karena tatapannya tertuju pada ponselku yang aku simpan di meja café yang sedari tadi menampilkan layar panggilan video call yang tak berhenti, menampilkan nama LASTRI. Aku bisa menebak apa yang dipikirkan sahabat Wita itu.


“Tetapi saya tetap mengharapkan kehadiran anda dapat membantu proses pemulihan Wita”, lanjut Lanis memintaku dengan penuh harap.


“Apa yang harus aku lakukan”, tanyaku lirih.


“Temani Wita, menghapus segala trauma di masa lalunya”. Jawab Lanis dengan tatapan penuh keyakinan.


###


Hai readers.. semoga tulisan aku terus lebih baik ya. Menemani waktu kalian dalam ber-me time ria


Pada episode ini, Wita mau ganti cover nih. Berdasarkan masukan dari tim hidden editor Selesa Rindu… hehehe.


Semoga suka..🤗


Komen ya kalau suka.. soalnya sehabis ini mas Wisnu mau ketemu Wita nih,, aku double up ya mengganti liburku kemarin🙈…

__ADS_1


__ADS_2