
seseorang pernah berkata,
jika kita terpisah jarak dan waktu
gunakan teleponmu
; aku di sini sekarang!
-Wita-
Bandung, Rani-Wita
45 menit sebelumnya
“okey.. kamu sekarang atur nafas. Rileks Wit”, titah seorang perempuan dibalik seluler yang sedari tadi ia tempelkan di telinga.
“good.. pejamkan mata, atur lagi nafas!”
“fyuuuhhhh”
“oke, kerreen!. Sekarang kamu lagi dimana?”
“tolilet Laaan” gemetar ia menjawab.
__ADS_1
“aku mual lagi” lanjutnya.
“no.. no.. no.. kamu berdiri sekarang. Kamu gak mau muntaah, come on!, sekarang kamu berdiri. Pastikan itu kamu yang paling hebat. Wita, every think its gonna be okey! Kamu pindah ya. Eh toilet mana ini?” Lanis baru menyadari bahwa jawaban toilet tadi tidak menggambarkan keberadaan Wita yang lebih jelas.
“sekolah”, jawabnya.
“oke..kamu pindah ke taman bermain yang ada pohon mangganya itu. Disitu ada kursi kan? Kamu duduk dulu disana!” Lanis mengomando dirinya untuk menuju taman sekolah Embun Gemintang karena ia fikir tempat itu yang memang pas untuk menetralkan kondisi Wita sekarang. Menghampiri Wita dalam kondisi yang mendesak seperti sekarang bukanlah keputusan yang tepat. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sekolah Wita dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Wita mengangguk, mengatur berdirinya dengan lebih seimbang lalu berjalan keluar dari toilet yang menjadi tempat “meledak”nya barusan. Memutuskan untuk duduk dikursi depan kelas yang dirimbuni oleh pot-pot serta tanaman indah yang sekarang sedang populer. Ia tak harus berjalan menuju taman sekolah fikirnya, karena itu akan memakan waktu yang lama. Sementara, ia masih sangat sadar bahwa Pingkan dan ratusan orang masih menunggunya di sana.
“aku sudah duduk” jawabnya. Memohon tanpa suara setelahnya ada Lanis untuk memberinya jalan menuju kesimbangan untuk emosi dan pikirannya.
“oke Wita, sahabatku yang baik. Kamu sebetulnya paling tahu apa yang harus kamu lakukan. Tak ada acara makan obat ya?” titah Lanis tegas.
****
Rani memandangi Wita tanpa suara, sedang tangannya masih berjibaku dengan kabel-kabel conector infokus dan laptop milik Wita. Lega melihat acara tahunan ini selesai dengan baik. Setelah 45 menit yang lalu ia mengejar Wita yang nampak tergesa berlari menuju toilet. Aneh, saat ia sedang mengantar jus ke ruang kepala sekolah terlihat Wita keluar gedung pertemuan dengan wajah yang tak dapat ia artikan. Setengah memburu tempat yang Wita tuju, terdengar jelas di balik pintu toilet, Wita memuntahkan isi perut. Apa ia salah memberinya sarapan tadi pagi?. Tapi masa iya?, itu makanan yang biasa ia sajikan untuk Wita dan guru-guru yang lain di akhir pekan kerjanya. Handle pintu dicobanya untuk ia buka namun urung saat mendengar suara rintih Wita di balik pintu toilet, “Lanis.. aku kambuh”.
Beberapa detik ia menunggu sang sahabat di balik pintu. Berjaga-jaga jika sesuatu terjadi. Ceklek, pintu toilet perlahan terbuka, sudut matanya tak lepas memindai tubuh Wita yang gemetar. Nampaknya Wita terlalu fokus pada dirinya sendiri. Kehadiran Rani di depan pintu tak dihiraukan. Diikutinya sang Wita menuju arah yang tak jauh dari toilet, berbelok ke sebelah kanan lalu langkahnya berhenti saat Wita memutuskan untuk memojokkan dirinya di kursi teras kelas dengan tetumbuhan yang rimbun.
Nampak Wita menutup matanya dan mengatur nafas dengan perlahan. Dilihatnya sang sahabat masih menggenggam handphone dan melekatkan pada telinganya. Menyadari jika Wita takkan melihat dirinya, ia memutuskan untuk perlahan mendekat pada Wita yang dalam pandangannya tengah membutuhkan sebuah pertolongan. Keanehan ini, bukanlah kali pertama ia temukan. Tetapi sepertinya hal ini bukanlah masalah yang besar untuk Wita, karena sampai sejauh ini Wita baik-baik saja bukan?
__ADS_1
Ditatapnya sang Wita yang tengah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, seperti memasrahkan diri pada angin yang terus menyibak jilbab jingga milik sahabatnya itu. Bisa ia lihat dari balik pelipis yang tertutup jilbab Wita, basah tanda keringat yang mengucur. Wajah Wita yang tadi ia temukan saat pagi hari penuh semangat membara, telah hilang entah kemana. Wita perlahan membuka matanya yang sayu. Senyum ia sunggingkan pada sahabatnya yang luar biasa ini.
Sahabat yang dari dulu tak kenal lelah menjalani arena kehidupan yang mempunyai banyak rasa. Sahabat yang menemani rasa kantuknya saat sang guru sejarah bercerita. Sahabat yang menemaninya berjalan kaki menyusuri trotoar jalan menuju rumah karena ongkos yang ia punya lenyap untuk membayar fotocopy tugas matematika. Sahabat yang menemaninya dengan sepenggal cita-cita sederhana. Sahabat yang tak muluk-muluk dalam menjalani hidup.
“Rani…” dengan suara parau serta kepala yang masih tersandar pada kursi teras kelas itu Wita menyebut namanya. Lalu buliran air mata menetes perlahan meski dalam hitungan tetesan yang tersisa.
Diusapnya air mata sahabatnya itu dengan telunjuk kasarnya. “Gak apa-apa, menangis saja!”. Tanpa memohon izin pada sang pemilik tubuh ramping berjilbab jingga itu, Rani memeluk sahabatnya. Tangis Wita tumpah tanpa sebuah kata permisi. Wita, sosok sahabat yang tak pernah dilihatnya menangis, sosok sahabat yang tak pernah mendengar suaranya mengeluh, sosok sahabat yang selalu menaruh hidupnya dengan senyuman dan keyakinan. Sahabat terbaiknya kini menangis dengan pilu, bahkan ia tak pernah benar-benar mengetahui tangis apa yang tengah Wita perlihatkan. Biarlah ia izinkan pundaknya untuk tumpahan rasa sedih yang mendera sahabatnya ini.
Sesaat Rani menyadari bahwa tempat mereka kali ini bukanlah tempat yang tepat. Seharusnya Wita berada di gedung pertemuan acara parenting karena waktu masih menunjukkan kurang dari satu jam waktu yang sudah ditentukkan untuk menyeleseikan acara, dan Rani seharusnya berada di ruangannya bersama Siti untuk menyiapkan beberapa kebutuhan guru.
“Kita gak lagi pacaran kan?” ledek Rani yang sama-sama memakai jilbab itu beberapa detik setelahnya, membuat Wita meregangkan tubuhnya dan menoyorkan telunjuk ke dahinya.
“Dasar sableng”.. jawab Wita.
“Hahahahah… fix kamu udah oke sekarang” jawab Rani dengan tawa melegakan.
“Aku butuh teh hangat buatan kamu Ran!” pinta Wita pada sang sahabat.
“Okee.. perkara gampaaang..” sambil mengangkat jempol pertanda mengiyakan Rani mengiyakan permintaan Wita yang baginya bukanlah hal sulit..
“Tolong antar ke ruanganku ya, gak pake lama, aku mau betulin dulu kerudung nih. Kasihan Pingkan masih nunggu di gedung”. Jawab Wita dengan yakin.
Dilihatnya Wita dengan penuh keraguan. Kemana tangisnya barusan?. Apakah sahabat mungilnya ini sekarang memang sudah baikan? Apakah akan baik-baik saja jika Wita melanjutkan tugasnya? Tidak akan terjadi apa-apa kan?. Rani harus menepis pikiran-pikiran negatifnya. Sahabatnya saja terlihat yakin, mengapa ia tidak. Bukankah sahabatnya ini telah banyak melewati hal-hal yang dluar dugaan, tetapi dengan mata dan kepalanya sendiri dapat ia saksikan Wita dapat bertahan, samapi pada titik ini.
__ADS_1
Rani lantas berdiri meyakinkan diri dan menjawab permohonan Wita, “okey my friend” seraya tersenyum ia mengangkat tubuhnya dan melenggang pergi menuju pantry sekolah dengan tergesa.