
jika harus menghitung waktu
berapa kali jarum itu berdetak
untuk mengakhiri raguku
memutihkan masa lalu
-Wita-
Bandung, Wita-Bunda Tarmin
“Bunda Wita, tadi bu kepala sekolah titip pesan. Katannya ditunggu diruangannya”
Wita yang sedang menyantap cemilan pagi di ruangan guru itu mengangguk mengiyakan. Santapan yang disediakan Rani pagi ini memang menggugah selera. Entah karena apa, mungkin karena hari ini adalah pekan ke 3 sekolah Embun Gemintang memulai kegiatan pembelajarannya. Dan.. tak ada kejadian yang istimewa yang meghawatirkan. Owh,owh, bukan menghawatirkan sebagaimana biasanya. Karena, mendapati anak yang histeris saat memulai memasuki lingkungan baru yang bernama sekolah adalah makanan Wita dan para guru teman sejawatnya di setiap tahunnya, setiap awal tahun tepatnya. Masa adaptasi dalam rangka menumbuhkan rasa percaya terhadap sosok baru yang disebut guru bagi anak-anak bukanlah hal yang mudah.
Kata “menghawatirkan” baginya tahun ini lebih mengenaskan dari tahun-tahun sebelumnya yang ia lalui di sekolah ini. Bukan karena apa yang biasanya terjadi pada anak-anak didiknya dan para teman sejawatnya. Tetapi sebongkah masa lalu yang telah mengeras dan ia endapkan pada kuburan terdalamnya kini muncul kembali. Ia tak benar-benar sanggup mengakui bahwa dirinya telah menggoreskan luka terperih bagi seseorang yang ia sebut lelaki itu, lelaki dengan membawa luka di hati dan menggumam dalam kata rasa benci, Wisnu Permana.
“kayaknya mau membahas rapat guru nih bunda Wita” sahut bunda Widi di sebelahnya.
“hei.. jangan lupa piknik guru ya..!” kerlingan mata bunda Sarah yang setaraf dengan Pingkan keerrorannya.
“hmzz…” dengan mulut kembung berisi salad sayur kesukaannya ia jawab permintaan Sarah.
Dilapnya mulut yang masih menyisakan mayonaize dengan sehelai tisu. Diteguknya teh tawar hangat buatan Rani sang sahabat dengan perlahan. Aah.. nikmat apa lagi yang kau dustakan. Sepagi ini, makanan segar tengah memenuhi perutnya yang masih terlihat ramping itu.
Ia putuskan untuk ke ruangannya dulu untuk mengambil buku berwarna abu kesayangannya, pemberian anak didiknya tahun lalu. Ia harus membawa peralatan untuk mecatat fikirnya, karena sang ibu kepala sekolah yang perfecto delligiuso selalu mendetail dalam hal apapun.
“aku pamit dulu ya, takutnya bu kepala masih menunggu. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumussalam” jawab sebagian teman-temannya, karena sebagiannya lagi telah sibuk dengan playdough, lego dan krayon yang harus dibawa mereka ke kelasnya masing-masing.
“ditunggu kabar kembiranya yaaa…” teriak Sarah setelah Wita melewati pintu keluar ruang guru.
__ADS_1
“Okee, insya allah” jawabnya sambil berlalu.
Tak semenakutkan yang difikirkan ternyata. Sudah 3 minggu bahkan dia gak pernah terlihat berkeliaran di sekolah ini. Bisa saja dia lupa. Atau telah melupakannya. Toh sudah lama bukan? Apa mungkin wajahku sudah berubah menua? Iiih.. aku baru 26 tahun, gak setua bu Tarmin. hehehe .
Atau? Ah iyaah, penampilanku sekarang berbeda. DIA PASTI TIDAK MENGENALIKU
Sambil melangkahkan kakinya dengan lamban fikiran itu menepi di dalam akalnya. Memasuki ruangannya, seketika menyeruak aroma mawar sayup-sayup menyapa hidungnya. Aroma lavender kesukaannya itu telah ia ganti dengan aroma mawar. Entah untuk apa maksudnya, ia pun tak tahu. Diedarkannya penglihatan kedua mata berbulu lentik itu pada seluruh sudut ruangan. Ini adalah tempat terindahku. Tolong temani aku sekali lagi! Karena aku tidak tahu, harus pergi kemana lagi.
Buku abu telah ia genggam dengan erat. Tak lupa sebuah pena biru yang siap menemaninya bersama Bunda Tarmin sang kepala sekolah.
Tok-tok-tok
“assalamu’alaikum, bunda… saya Wita”
“wa’alaikumussalam, masuk Wit gak dikunci”
“maaf saya terlambat bu, tadi saya ke ruangan saya dulu”
“gimana kabarnya Wita?, maaf kita baru bisa diskusi evaluasi kegiatan awal pembelajaran sekarang. Kemarin saya lagi fokus-fokusnya sama bapak. Bapak perlu perawatan intensif. Bulak-balik ke rumah sakit jadi saya kurang fokus untuk ini. Mudah-mudahan gak terlalu terlambat ya Wit?”
“enggak bun insya allah. Kalau bapak masih dirasa perlu untuk didampingi, biar saya yang menghandle evaluasi ini bun, kalau bunda tidak berkeberatan. Kasihan bapak, juga punya hak dari bunda Tarmin”
“duh.. udah bicara hak-haknya ajah nih, kapan atuh bunda Wita ngasih haknya ke seseorang?”
Duh.. pembicaraan sudah mulai melenceng. Offset, keluar jalur!
“hehehe.. izin lapor saya sudah mengobservasi 6 kelas nol besar Bun” ia mulai mengalihkan pembicaraan yang bisa panjang ceritanya.
“empat kelas sisanya dan 5 kelas nol kecil belum sempat saya observasi. Tapi masih ada waktu beberapa pekan ke depan. Target saya dua kelas dalam satu minggu” Wita menjelaskan dengan penuh keyakinan.
“baik, apa yang sudah kamu temukan?”
“secara keseluruhan aman. Anak-anak berkebutuhan khusus pengecaulian ya Bun. Karena mereka sudah punya Individual Educational Programnya masing-masing. Dan telah saya bahas bersama shadow teacher dan lembaga terkait yang konsen untuk mereka”.
__ADS_1
“untuk kelas Bahagia, ada anak yang sedikit menutup diri. Ia cenderung sulit berkomunikasi secara verbal. Bukan karena ada kendala pada otot wicaranya sepertinya, saya hanya menduga kendala komunikasi social saja. Sebab saat berkonsultasi dengan orang tuanya, katanya di rumah ia dapat berbicara seperti biasanya. Akan ada observasi lanjutan untuk kasus ini, apa yang menjadi penyebab dan solusinya” Wita menggambarkan kondisi kelas yang ia observasi dalam 3 pekan ini.
“oke.. saya percayakan sepenuhnya sama kamu. Buat agenda khusus dengan orang tua yang bersangkutan untuk menangani hambatan yang dihadapi anak”.
“selanjutnya untuk kelas Terampil, kondisi anak sangat baik. Sejauh pengamatan saya selama satu pekan berada di kelas itu tidak ada temuan yang berarti. Tapi sepertinya kondisi bu guru yang harus mendapatkan perhatian kita”.
“kenapa?” jawab Bunda Tarmin sedikit penasaran.
“sepertinya kita perlu mengadakan pelatihan motivasi untuk guru bun, salah satu contohnya untuk kelas Terampil. Bunda Laras masih belum menemukan strategi yang pas untuknya agar dapat perfome di depan anak-anak. Tahun lalu saya sudah pernah mendelegasikan Bunda Laras memimpin program Happy Kidz Talent untuk mengasah kemampuannya, tapi tetap yang menyelesaikan tugas dan mengeksekusi acara adalah partnernya. Saya masih harus mempelajari apa yang melatar belakangi ketidakpercayadirian bunda Laras sampai saat ini”.
“oke kamu atur jadwal dan tempatnya saja, untuk pemateri biar saya yang mencari”.
“baik bunda, kalau boleh saya usulkan, bagaimana jika mencari tempat dengan suasana yang baru. Di luar sekolah yang dapat sedikit merefresh guru-guru”
“dimana kira-kira bunda Wita?”
“kalau saya boleh usulkan, bagaimana kalau Puncak? Kita bisa menggunakan waktu 2 hari untuk kegiatannya”.
“oke, kamu atur segala sesuatunya. Saya setuju-setuju saja”.
“baik bunda Tarmin insya allah”, Wita tersenyum tipis seraya mengetik sebuah pesan pribadi pada teman sejawatnya Sarah.
Bunda Sarah kita jadi piknik. Siapkan cilok yang banyak. wkwkwkwkwk
Bunda Tarmin dan Wita begitu menikmati diskusinya itu. Idealisme yang ia miliki untuk sekolah ini seolah menjadi penawar bagi segala yang menyesakan dalam dadanya selama ini. Bunda Tarmin bukanlah orang yang mudah mengabaikan peluang emas yang ia miliki. Potensi Wita tak boleh diabaikan. Tak terasa rapat 4 matanya bersama sang kepala sekolah berakhir pada durasi 3 jam 16 menit 20 detik.
“bunda Wita..” Bunda Tarmin menghentikan Langkah Wita yang telah berada di ujung daun pintu.
“ya Bunda?”
“keponakanya Pak Jajang yang tempo hari saya kenalkan, menurut saya dia sudah sangat mapan. Orangnya juga baik, kayak Pak Jajang gitu lah tipe-tipenya. Asik dan humble. Gak ada salahnya kamu mencoba!”
“saya belum memikirkan ke arah sana Bun, saya hawatir orang yang bersangkutan justru kecewa. Saya tidak sampai hati kalau hanya memberi harapan tak pasti. Mohon maaf untuk hal ini” ya.. begitulah seperti biasanya. Sikap tegas tentang perjodohannya dengan siapapun yang tersodorkan di hadapan selalu medapatkan jawaban yang sama, TIDAK. Sampai kapan Wita? Sampai kau benar-benar melupakan masa lalumu? Sampai kau benar-benar memaafkan dirimu? Entahlah…
__ADS_1