Selesa Rindu

Selesa Rindu
Kang Indra


__ADS_3

Ia pasak bagi bumiku


menopang jutaan tanah dan air


yang mengepal dan meriak pada tubuh jiwaku


-Wisnu-


Bandung, Kang Indra-Teh Rumi-Wisnu


"Biarkan dia, suruh istirahat dulu Mah! pikirannya belum jernih", ungkap kang Indra di kamarnya sambil memeluk sang istri yang selama sepekan lalu tak bertemu. Teh Rumi mendadak pulang ke Bandung setelah mendapat kabar dari Andra. Mencoba meyakinkan bahwa Wisnu sang adik kini baik-baik saja. Adhis juga terpaksa dibawanya pulang ke Bandung dengan meminta izin kepada pihak sekolah.


"Wisnu harus dikasih motivasi Paaah. Tadi pulang meni katinggali kusut pisan (tadi pulang terlihat kusut sekali)" rajuk teh Rumi dalam pelukan kang Indra di ranjang kamarnya yang setiap hari senin hingga jum'at selalu kosong dari sang empunya, sebab hari itu kang Indra memilih tidur dengan anak bujangnya Risyad.


"Wisnu perlu menjernihkan pikirannya dulu, kalau Papah tiba-tiba ngajak dia ngobrol yang ada makin ngebul". ucap kang Indra.


"Hmmmzzz... kasihan Wisnu Pah! Mamah gak menyangka nasibnya bakalan kayak gini".


"Wisnu mah orang hebat. Papah tau, dia pasti bakal bisa mengatasinya. Papah sudah beberapa kali menyaksikan gimana tangguhnya Wisnu menghadapi kesulitan hidup" ungkap kang Indra pada sang istri yang tak lepas melingkarkan tangannya ke tubuh dirinya.


Teh Rumi lalu melepaskan pelukannya dari sang suami. Ia beringsut turun dari ranjangnya dan bersiap melangkah ke arah pintu.


"eh.. eh.. mamah mau kemana?" tanya kang Indra.


"Bawa Adhis atuh, kan kata papah Wisnu perlu menjernihkan pikiran dulu. Takutnya Adhis ngaganggu (mengganggu)".


"Ya gak akan atuh Mah. Justru anak bikin hati tentram. Biarin Adhis nememin Wisnu. Mamah mah disini ajah nememin Papah! gak kangen apa sama Papah? Pacaran jauhan wae" rajuk Kang Indra pada sang Istri.


"Ahahahaha... Mamah sampai lupa", jawab teh Rumi manja. "Ya sudah.." lanjutnya lagi dan tetap melenggangkan kaki ke arah pintu keluar.


"eh.. mau kemana lagi.. ko pergi ih mamah?", tanya kang Indra masih di ranjang miliknya.


"Mau ganti kostum atuh Paaah.. Mamah kemarin beli lingery model terbaru. Banyaaaak. Mamah lupa tasnya masih disimpan di ruang tamu. . hihihihi" sambil cekikikan teh Rumi menjawab pertanyaan sang suami. "Beli dari emmooll djekartaah.. Wisnu mah kalau ngasih uang ke Mamah suka banyak wae. Daripada mubadzir, mamah belanjain ajah sambil ngajak main Adhis", lanjutnya lagi.


"eh.. ko dibelanjain. Harusnya dipakai buat kebutuhan Adhis", protes kang Indra.


"iyah Wisnu mah.. katanya buat keperluan Adhis, tapi kalau Adhis butuh apa-apa suka ngasih lagi ke mamah. Kebanyakan uang yang dititip ke mamah mah numpuk di ATM".


"Ya sudah atuh, sini ajah.. lingerynya nanti dipakai buat besok. Sekarang mah segitu juga sudah seksi", goda kang Indra.


"eeuuh.. semua orang juga tahu body mamah mah membahenol (seksi), gak usah diragukan", jawab teh Rumi sambil tetap memutuskan melangkah ke arah pintu keluar. Tetapi sebelum pintu kembali ia tutup, teh Rumi berbicara dengan suara pelan namun masih dapat terdengar oleh kang Indra. "Ambil dulu lingery, biar lebih hot jeletot..", ucapnya sambil cekikikan dan melangkah ke luar.


Kang Indra hanya dapat menggelengkan kepala dan tersenyum melihat kegemasan istrinya. "hot jeletot, emangnya tahu", gumamnya.


Bagi kang Indra, teh Rumi adalah istimewa. Demikianlah perempuaan dambaan hatinya, karenanya ia begitu mencinta. Rumi yang lincah dan ceplas ceplos, selalu meluapkan segala keinginannya dengan leluasa. Gadis yang dulu menjadi pusat perhatian. Kang Indra bahkan harus bersaing dengan beberapa anak pejabat yang sudah matang secara financial. Tetapi begitulah Ruminya, cintanya dapat berlabuh pada sang lelaki yang hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan tak menjanjikan banyak kemewahan. Tetapi ia begitu bahagia.

__ADS_1


Berbeda dengan Wisnu, adiknya ini telah memilih jalan hidup curam yang bertegger pada luka dan duka. Wisnu, adik lelakinya yang begitu ia sayang. Bagi kang Indra, Wisnu tak hanya menempati status adik ipar, tetapi menjadi adik satu-satunya yang harus ia perjuangkan kebahagiannya.


Kang Indra lalu memutuskan turun dari kamarnya, sebelum hidangan 'hot jeletot'nya tersuguh. Memastikan kondisi sang adik baik-baik saja.


Ia melangkah menuju ruang keluarga yang dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala, sedangkan jam di dinding rumahnya telah menunjukkan pukul 23.30 WIB.


Dilihatnya sang adik tengah tertidur di sofa bed miliknya seraya memeluk sang Adhis yang sama-sama terlelap. Baju yang adiknya kenakan masih baju yang sama sejak ia melihat Wisnu datang ke rumah, tadi pukul 20.00 WIB.


Kemejanya nampak lusuh, rambutnya masih nampak berantakan. Ini seperti de javu bagi kang Indra. Beberapa tahun silam, ia pernah menyaksikan tak beraturannya Wisnu dalam menata hidup. Hingga keputusannya untuk pergi ke Swiss adalah keputusan terbesar yang pernah adiknya ambil.


"Wisnu..", kang Indra mencoba membangunkan Wisnu dengan suara pelan. Dilihatnya adik dan keponakannya itu tertidur dengan posisi yang tak nyaman. Belum lagi cuaca bulan ini menjadikan Bandung lebih dingin dari biasanya. Ia akan meminta Wisnu untuk pindah ke kamar demi kesehatan dua orang yang ia sayangi ini.


Wisnu terbangun, lalu perlahan duduk. "eh kang..", ucap Wisnu sambil menegakkan tubuhnya. "duh.. ketiduran barusan", lanjutnya lagi.


"Iya kalian kayak yang nyenyak pisan (sekali)", sahut kang Indra. "tidurnya pindah! disini dingin", pinta kang Indra pada sang adik.


"Iya kang..", jawab Wisnu pelan.


"Adhis dipindahin ke kamar akang aja? atau ke kamar Risyad? seharian tadi Adhis bilang pengen tidur sama aa Risyad katanya", ungkap kang Indra.


"sama saya aja kan, Adhis tidurnya", jawab Wisnu.


"Sudah Isya belum?" tanya kang Indra.


"Belum kang, duh makasih udah dibangunin", jawab Wisnu.


"Biar sama saya saja kang", tolak Wisnu sambil berdiri.


"Udah.. kamu shalat dulu, Adhis sama akang", sambil segera menggendong Adhis, kang Indra menjawab.


Selepas menidurkan Adhis di kamar Wisnu, kang Indra lalu memutuskan duduk di meja makan rumahnya seraya menyeruput kopi buatan teh Rumi. Sambil menunggu sang wanita yang menobatkan diri bahenol itu bersiap-siap.


Entah persiapan apa yang dilakukan istrinya itu, hingga sang istri memintanya untuk menunggu di meja makan dengan menghidangkan kopi panas buatannya. Katanya mau bedakan dulu, sama ganti sprei. Kang Indra hanya menggelang pasrah, mendapati kelakuan istrinya yang masih sama menggemaskannya seperti masa muda mereka dulu.


Setelah tujuh tegukan kopi ia rasakan menghangatkan tenggorokannya, tiba-tiba sang adik menemani dirinya duduk berhadapan di meja makan.


"Mau dibuatin kopi?", tanya kang Indra.


"Gak usah kang", jawab Wisnu.


.


.


.

__ADS_1


"Pasrahkan semuanya pada Allah!", kang Indra tiba-tiba berucap. "Ngelihat kamu sekarang ini, jadi inget akang waktu kecil dulu" lanjutnya lagi.


Wisnu menautkan kedua tangannya, mendengarkan sang kakak dengan seksama.


"Akang inget pisan, dulu waktu umur 7 tahunan lah, merengèk nangis sejadi-jadinya pengen dibeliin sepatu roda ke emak. Sepatu roda anu anak tetangga pada punya. Pokokna mah jadi primadona harita teh (dulu itu)".


Wisnu mengernyit, sang kakak tahu kan apa yang tengah dihadapnya? Tadi saja meminta dirinya untuk berpasrah diri pada Allah. Kenapa tiba-tiba ada sepatu roda?, jangan-jangan kakak iparnya yang kharismatik ini sudah ketularan dengan keabsurdan teh Rumi.


"Dulu emak gak ngewujudin keinginan akang, akang sampai nangis gogorèntèlan (sejadi-jadinya) juga tetep gak dikasih, padahal akang tahu emak bisa beliin sepatu roda buat akang, duit emak mah banyak, sawahnya dimana-mana".


Tuh kaan, bener ketularan teh Rumi. Batin Wisnu, menjadi hiburan tersendiri di tengah kepiluannya saat ini.


"Akang malah dibeliin mobil remot sama emak. Padahal bukan mobil remot yang akang mau, tapi.. sepatu roda!!", ucap kang Indra diakhiri dengan seruputan kopi yang masih mengepul.


Wisnu tersenyum, seraya menyimak dan memastikan kemana arah pembicaraan kakak iparnya itu.


Kang Indra melengkungkan senyumannya, saat mendapati Wisnu menyunggingkan senyuman atas cerita absurdnya yang ia sampaikan.


"Akang baru menyadari sekarang kanyaah (kasih sayang) emak saat itu. Karena setelah diingat-ingat, waktu itu kaki akang baru sembuh dari patah tulang karena jatuh dari motor".


"Emak lalu ngasih akang sepatu roda pas akang sudah usia 9 tahun", lanjutnya lagi. "Dari hal itu, akang menyadari banyak hal. Bahwa sesungguhnya manusia terkadang teramat emosional bahkan cenderung egois dan ingin memaksakan diri. Meyakini bahwa apa yang diinginkanya adalah hal yang harus dimiliki. Sesungguhnya, bisa jadi apa yang kita kira terbaik untuk kita justru adalah hal yang berdampak buruk untuk kita".


"Kita mesti memiliki keinginan, ya tentu!, maka dengannya kita selalu melambungkan doa pada Allah agar kita tak menyombongkan diri. Kita juga patut berusaha, karenanya Allah menjanjikan tentang mengubah nasib makhluknya dengan ikhitiar yang dilakukannya. Tetapi meyakini bahwa Allah memiliki banyak rahasia tentang kehidupan manusia adalah hal yang tak boleh dielakkan. Allah tahu yang terbaik untukmu Nu, karenanya kamu hanya perlu berkeyakinan bahwa yang terbaiklah yang Allah siapkan untukmu!"


Wisnu menunduk, mendengar ucapan kang Indra seperti mendengar suara sang Ayah yang biasa memberinya optimisme dalam hidup. Sejenak ia rindu, mendapatkan peta hidup dari sang ayah yang harus ia ambil dalam ketersesatannya saat ini. Sungguh nestapa ini tak lagi berlubang pada keterasingan diri. Ia kini menyadari, bahwa sesungguhnya jalanan berduri itu bukan hanya untuk ia tapaki, tetapi untuk membunyikan terompet kemenangan bagi dirinya. Bahwa pertarungan ini bukan hanya untuk sekedar memiliki.


"Terima kasih kang..", ucap Wisnu lirih.


"Sudah malam, kamu sekarang tidur. Jangan terlalu memforsir diri, kasihan Adhis, dia butuh perhatian kamu". Seraya berdiri kang Indra memberi Wisnu semangat hidup.


"Nu..", ucap kang Indra menjeda. "terkadang Allah memiliki kejutan tak terduga untuk kita, buktinya.. sepatu roda itu akhirnya ada", ucap kang Indra seraya mengarahkan matanya pada lemari kaca yang menyimpan benda-benda bersejarah dalam hidupnya dan teh Rumi, termasuk sepatu roda miliknya saat usia 9 tahun.


"Tidurlah!", ditepuknya bahu sang adik lalu melangkah pergi ke arah kamar yang telah mendadak berubah romantis malam ini.


Wisnu menatap sang kakak dengan lamat. Ia teramat menyadari bahwa teh Ruminya memiliki sosok tak ternilai dengan apapun, kang Indra. Karenanya, dirinya malam ini terhanyut dalam keberpasrahan dan keyakinan tentang, takdirnya akan ia titipkan pada Tuhan!


###


reader tercantik, tersayang dan ter-rindu...


mohon maaf ya sebelumnya beberapa hari ini aku belum sempat ngasih tanggapan di komen-komen kalian. tapi jangan khawatir, kaliaan tetap kesayangan... aciyeeee😍😍😍


Alhamdulillah akhirnya aku bisa up lagi nih. Allah masih memberi kesempatan untuk nulis lagi episode-episode yang udah numpuk di kepala🤭🤭. Hamdalah..


yang rindu berat sama aku, eh.. sama Wita-Wisnu🙈, banjiri aku hadiah, like dan komen ya..

__ADS_1


makasih juga buat kalian yang udah promoin novel aku. Bahagia bangeeet, pembaca Selesa Rindu terus bertambah. Love you all...


__ADS_2