Selesa Rindu

Selesa Rindu
Rumah Masa Lalu


__ADS_3

kubangun segala mimpi


menjadi harapan pasti


namun mati sebelum pemiliknya kembali


-Wisnu-


Bandung, Wita-Bu Tarmin


“kayu putih!”, Bu Tarmin berharap dengan aroma kayu putih yang ia eluskan pada hidung Wita dapat membantu menyadarkan Wita. Di Ruang Kesehatan Guru Embun Gemintang kini Rani ditemani Sarah, Zahra dan Laila melakukan apapun agar Wita tersadar dari pingsannya. Bu Tarmin bahkan duduk di samping Wita sejak ia tahu gurunya itu dibawa ke Ruang Kesehatan Guru. “dokternya sudah datang?”, Bu Tarmin memastikan kembali pada Laila yang tadi menghubungi dokter Danu, dokter yang bekerja di Klinik Embung Gemintang.


“tidak dapat dihubungi bu”. Bu Tarmin mendapat kekecewaan setelah 30 menit dokter yang ia harapkan dapat membantu tak bisa dihubungi. “siapkan mobil, kita bawa ke Rumah Sakit”, tetapi belum sempat permintaannnya itu dilakukan Rani memberinya kelegaan.


“ini juga dokter Bunda Tarmin”. Rani mencoba melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menyadarkan Wita. Ia tak berpikir panjang saat menemukan Wita bersandar di dinding pintu toilet ruangannya, berwajah pucat dan berucap “Rani, tolong hubungi Lanis..”

__ADS_1


Benar saja, 5 menit setelah kehadiran Lanis, entah apa yang dilakukan sang dokter muda itu. Wita tersadar dari pingsannya. “kamu bikin kita kaget Wita”, elusan lembut pada punggung Wita dirasakan begitu lembut dan hangat, tangan tua Bu Tarmin sungguh menenangkan. Bu Tarmin, menyadari betul apa yang dihadapi Wita saat ini sangatlah berat, sejak keputusan Pak Surya yang begitu mengejutkan.


Bu Tarmin tak tahu apa yang terjadi saat pertemuannya dengan Wisnu di ruangan guru kesayangannya itu. Ia bahkan sangat menyesalkan, kalau saja pertemuannya dilakukan di ruangannya dan ia temani hingga segalanya tuntas, mungkin Wita tidak akan pingsan seperti ini.


Beban berat yang dipikul Wita adalah bukti nyata tangung jawab dan dedikasinya terhadap status yang ia sandang saat ini, guru anak usia dini. Bu Tarmin tak menyangka, keberanian Wita menantang keegoan Pak Surya nyatanya telah membuktikan banyak hal kepada teman-teman sejawatnya. Butuh banyak pengorbanan demi menegakkan kebenaran.


Cinta dan kasih sayangnya kepada Adhis terlihat begitu tulus dan murni. Wita, ia memang selalu demikian. Bu Tarmin telah banyak menyaksikan bagaimana sang Wita mempertahankan cinta dan kasihnya pada anak-anak didiknya. Lalu hari ini.. hari ini adalah perjuangan terberatnya.


Pertemuan dan diskusi yang ia lakukan bersama Pak Surya kemarin tak membuahkan hasil yang berarti. Satu yang nampak jelas terlihat kelegaan yang dirasakan Wita, laporan yang dilayangkan atas nama Adhis telah Pak Surya batalkan. Pak Surya yang beberapa saat lalu juga melaporkan Adhis ke Komisi Perlindungan Anak sepertinya lupa jika Adhis pun berhak mendapatkan perlindungan.


Keputusan yang diambil oleh Pak Surya tak mendapatkan perlawanan dari Wita, Bunda Tarmin yang mati-matian mencegah keinginan Pak Surya tak lagi mampu membendung ***** dan murkanya lelaki paruh baya itu. Wita sangat menyadari, baginya luka hati yang dialami Pak Surya dan istrinya tentulah sangat mendalam. Cinta dan sayang yang begitu berat telah mampu memporak-porandakan kesabaran dan perdamaian. Tentu, Fahrezan juga adalah anak didiknya yang berhak mendapatkan keadilan yang sama, maka Wita akan mempertanggung jawabkannya. Sama seperti yang diutarakan Wisnu pada dirinya, ia harus mulai mencoba belajar menetapi janji dan mempertanggungjawabkan janji yang tidak ia tepati.


Jakarta, Wisnu


Wisnu Pov

__ADS_1


Solusi yang diberikan Kang Indra membuat aku harus banyak bersyukur. Kakak iparku ini mewujud layaknya sosok ayah yang begitu bijaksana memberikan banyak harapan dan optimisme. Teh Rumi sempat menangis dengan manja padanya, “aku gak mau pisah sama kamu pa..”.


“memang siapa yang mau pisah?, kita bisa ketemu seminggu sekali. Mama bisa pulang ke Bandung atau Papa yang akan berkunjung ke Jakarta. Mulai sekarang kalau ada diklat-diklat di Jakarta papa akan ambil, biar bisa ke rumah Wisnu ketemu mama. Risyad udah besar, udah bisa ngurus diri sendiri. Tadi aja papa sarapan nasi goreng Risyad yang nyiapin”. Risyad mendukung penuh usulan papanya. Ia begitu menyayangi Adhis, Adhis adik kecilnya harus menjadi lebih baik.


Tak hanya Risyad, Teh Rumi juga tak bisa menahan tangisnya saat aku memutuskan untuk membawa Adhis kembali ke Jakarta. Siapa yang akan mengurusnya? Baby sitter lagi? Bagaimana jika aku tidak mendapatkan baby sitter yang tepat, lagi?!.


“setahun kang, Insya allah”, jawabanku meski diri ragu. Ya.. aku akan mencoba mempersiapkan diri setahun ke depan. Entahlah, aku mungkin akan mencari pengasuh Adhis dengan system seleksi yang ketat memenuhi standar-standar kepribadian yang diperlukan. Atau.. memenuhi saran Kang Indra yang menurutku sangatlah berat, “menikahlah, dalam setahun ke depan fokuslah mencari ibu untuk Adhis, istri untuk kamu”.


Aku abaikan sejenak perkataan Kang Indra. Hari ini aku memerintahkan Andra untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan rumah yang aku bangun 3 tahun lalu untuk kami -Adhis, aku dan Teh Rumi- tinggali. Tanah seluas 120 meter persegi yang aku beli 7 tahun silam, dari hasil tabunganku selama aku mendapat projek kecil-kecilan semasa aku masih kuliah dulu. Burhan adalah orang yang paling berjasa untuk hal ini, ia menjual tanah warisan dari ibunya dengan harga yang murah padaku. Pertanyaan isengku padanya benar-benar dibuat nyata olehnya. “kalau ada tanah yang murah di Jakarta, gue mau beli Han. Buat masa depan, gue udah yakin sama satu cewek nih”.


Meski kenyataannya, tanah itu melapuk selama 4 tahun. aku bahkan mungkin lupa telah membelinya, karena sosok yang akan aku bawa ke rumah di tanah itu sudah lebih dahulu memilih lelaki lain. Hingga aku memutuskan mengambil program doctor dengan beasiswa penuh di Swiss. Kuliah di luar negri saat itu sesungguhnya di luar rencanaku. Awalnya aku memutuskan melamar ke perusahaan yang aku incar selama ini lalu menikahi gadis yang setia menungguku, Damn!!.


Swiss menjadi saksi kehancuranku, aku oleng tanpa arah. Membeku dengan amarah yang membuncah. Hingga bertemu dengan sahabat semasa kuliah s1 ku, Restari. Sama-sama terluka dengan kisah yang menyayat, kami menjadi partner yang hebat dalam menyusun rencana untuk menghancurkan musuh yang bernama cinta.


Pulang ke Indonesia dengan kekalahan telak sebelum bendera perang dikibarkan. Aku membawa bayi mungil yang suci. Bukti keegoisan dan kebodohanku. Aku tak sampai hati menyerahkan Ahdis kecilku pada kakak Restari yang memiliki suami berprofesi sama seperti ayah mertuaku. Berpindah-pindah negara untuk tugas dinasnya. Sedang ibu mertuaku sudah lama mendahului Restari.

__ADS_1


Aku lalu membangun rumah di atas tanah yang aku beli dulu. Merancangnya sesuai mimpiku 7 tahun lalu, meski sampai saat ini rumah itu kosong tak berpenghuni. Entahlah, mungkin aku hanya masih berharap, rumah itu kembali pada pemilik yang aku inginkan, Wita.


__ADS_2