
Cepatlah kau luluh
agar jiwa tak lagi rapuh
menjalin hubungan yang utuh
agar ku menjadi hamba yang utuh
Cintaku
semerbak harum merindu
-Wisnu-
(dikutip dari @Ayyu)
Bandung, Wita-Satria-Ibu-Wisnu
Wita Pov
Dua pekan semenjak pamitnya mas Wisnu padaku, aku habiskan dengan segala kesibukanku di kantor Unishei Consultant. Kondisi kesehatanku tidak buruk tetapi juga belum bisa dikatakan membaik. Lanis bahkan menyarankan padaku untuk segera melakukan pemeriksaan dan menjalani psikoterapi. Namun aku lagi-lagi menolak permintaannya, biar aku selesaikan sendiri apa yang tengah mendera jiwaku itu. Aku yakin aku bisa!
Pekan ini aku diberi mandat untuk melakukan kontrak kerjasama yang dilaksanakan oleh perusahaanku bersama Global Islamic School pada jenjang pra-sekolah. Tes kesiapan anak yang dapat membantu orangtua untuk mengetahui berbagai aspek perkembangan pada diri anak, terutama yang dibutuhkan untuk menunjang proses belajar di kelas. Aspek yang dapat diketahui berupa kemampuan dasar dan kesiapan anak dalam memasuki jenjang pendidikan yang lebih formal. Keterampilan dan kematangan kognitif, kemampuan bahasa, perkembangan kemampuan motorik halus dan motorik kasar, perkembangan emosi dan sosial kemandirian.
Aku menikmati aktivitas keseharianku. Inilah bagian dari caraku mengembangkan diri, melepaskan diri dari segala luka masa lalu dan membungkam rindu yang kututup rapat tanpa celah.
Siang ini suara ponsel tanda panggilan masuk berdering tepat di meja kerjaku. Aku yang tengah asik menekuri data-data hasil tes kesiapan belajar anak mengabaikan panggilan tersebut. Membutakan diri dengan nama yang muncul dalam layar ponselku itu, Satria.
Sudah hampir tujuh kali Satria menghubungiku. Ia memintaku untuk menentukan rancangan kebaya pengantin yang akan aku pakai. "Aku punya klien designer khusus baju pengantin. Dia janji mau ngasih hadiah karena kasusnya aku menangkan", ocehan Satria kemarin tak aku tanggapi dengan serius. Ayolah Satria, tiga bulan lagi pernikahan kami baru akan dilangsungkan. Bahkan tanggalnya pun belum ditentukan, mengapa Satria tidak bisa bersabar?
Hingga tepat pukul empat sore, selepas shalat ashar aku menuruni tangga. Menuju pintu keluar hendak memesan kendaraan online untuk segera pulang ke rumah dan mengistirahatkan tubuhku. Ya.. semenjak beberapa kejadian yang menimpaķu, ibu melarangku membawa motor maticku. Hanya Salim atau kendaraan online yang bisa aku andalkan. Satria sering menawarkan diri untuk mengantar-jemputku, tapi aku tolak dengan dalih; aku masih kurang nyaman harus berjalan berduaan.
Namun, kali ini sepertinya aku tak bisa menolak lagi keinginan Satria. Satria kini sedang berada di sofa tamu kantorku tertawa bersama teman-teman sekantorku. Sikapnya yang asyik dan mudah bergaul tak membuatku heran dengan keakraban yang kulihat.
"Sudah selesai?", tanyanya.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku lantas berpamitan pada rekan-rekan kerjaku dan melangkah pergi menuju pintu keluar diikuti oleh langkah panjang Satria.
"Makan dulu yuk!", pintanya.
"Aku sudah makan barusan Sat", kilahku. Malas rasanya meladeni ulah Satria ini.
"Ya sudah kalau yang ini jangan ditolak", ucap Satria seraya memasang sabuk pengamannya.
Aku tak bisa menahan rasa kecewaku saat berada di butik milik klien Satria. Berbagai model telah diperlihatkan oleh sang designer. Entah aku memang tak memiliki keahlian dalam memilih model baju, atau hariku yang memang melelahkan hari ini, aku akhirnya memutuskan kebaya warna broken white dengan aksen payet dan mutiara yang mewah.
"Makasih lho Wit", ucap Satria saat mobilnya berhenti di bahu jalan menuju rumahku.
"Maaf ya Sat!", hanya itu yang aku ucapkan pada Satria, tetangga sekaligus teman semasa SMA ku. Aku lalu menghela nafaksu, menutup mata dan menyadari sesaat segala kesalahanku, padanya atau pada lelaki lain yang tiga hari ini tak lagi menghubungiku.
"Satria..", ucapku ragu.
"Apa Wit?", tanyanya
"Aku banyak kekurangan, apa kamu bisa menerimanya?"
__ADS_1
"Hahahha... Kamu itu kurang apa Wit?, cantik, pintar. Kamu itu sempurna". Jawab Satria. Sungguh aku benar-benar tak mampu menjelaskan koordinatku padanya. Aku tak memiliki kemampuan untuk menjabarkan diri tentang borok dan naasnya diriku. Biarlah, demikian adanya, Satria teman semasa SMAku yang tak perlu tahu masa lalu dan kepedihan jiwaku.
Aku melenggangkan kakiku menyusuri gang sempit menuju rumahku. Memasuki gerbang yang dua minggu lalu sering terdengar lemah dalam genggaman gontai seorang yang kurindu, mas Wisnu.
"Assalamu'alaikum", ucapku seraya membuka daun pintu. Kulihat ibu yang tengah menata santapan malam di meja makan.
"Wa'alaikumussalam, kamu kok telat pulangnya Wit, ada rapat?", tanya ibu sambil terus melakukan aktivitasnya menata makanan yang akan kami santap bersama.
"Aku sama Satria", jawabku sambil menggeser kursi makan dan kududuki untuk sekedar melepas lelah hari ini.
"Owh ya?" tanya ibu heran. "Ada apa?", selidiknya lagi.
"Baju pengantin", jawabku datar.
Ibu lalu menyodorkan air mineral hangat padaku. Kemudian duduk dan menatapku. "Wita, ibu minta maaf karena telah meminta kamu untuk menerima lamaran Satria", ucap ibu sedikit mengejutkanku. Kenapa memang harus minta maaf, aku benar-benar tak faham dengan jalan fikiran ibu.
"Ibu bisa membatalkan pernikahan ini, kamu berhak memilih seseorang yang benar-benar kamu cinta. Siapapun ibu tak keberatan", ada apa dengan ibu, membatalkan setelah janji yang aku ucapkan. Janji menerima Satria kelak untuk menjadi pendampimg hidupku. Apa aku harus kembali menjadi wanita pengingkar janji itu?
Aku tak membalas ucapan ibu. Aku putuskan masuk ke kamarku dan mengistirahatkan segala lelahnya jiwa dan fikiranku.
"Wita...", ibu menjeda dalam panggilannya yang menghentikan langkahku. "Ibu minta maaf!".
Aku menoleh ke belakang dan membalas permohonan ibu dengan senyuman. Maaf atas apa ibu? Engkau bahkan terus mengguratkan takdir terbaik yang aku miliki melalui lelah dan juangmu yang tak henti. Aku bahkan tak memiliki balasan setimpal atas segala kesengsaraan yang aku berikan padamu? Bolehkah aku meminjam senyummu untuk kuabadikan dalam potret kehidupanku?, karena semurni dan tulus merdu kau lantunkan doa dalam setiap kasih sayangmu.
"Ibu jangan khawatir, Wita tidak apa-apa".
****
Pernyataanku tadi sungguh menghujam ngilu dadaku. Ibu jangan khawatir, Wita tidak apa-apa. Jawaban konyolku itu membuatku tertawa sendiri. Benar, aku harus dan akan baik-baik saja bukan.
Chat yang sudah tiga hari ini hilang tak menyapa malam-malamku dan tak pernah kubalas dengan satu titik pun. Apa dia baik-baik saja?
Hingga akhirnya aku membuka amplop coklat yang direkat dengan lem yang belum sanggup aku buka sejak pengirimnya menghadiahkannya padaku.
Kulihat beberapa kertas putih yang sudah terbubuhi tulisan dan gambar. Aku buka satu persatu.
B**UAT BUNDA WITA
Aku lihat goresan tangan yang belum berwujud tegak rapi menjadi pembuka halaman kertas dalam amplop coklat itu. Lalu aku buka lembar berikutnya berupa gambar yang sangat aku kenali, buatan sang gadis kecil yang kini gambarnya telah menegaskan kemajuan mental dirinya, Adhis kecilku.
Gambar yang merupa perempuan dewasa tengah duduk di dekat pohon kelapa dengan nama dibawahnya Wita. Berjauhan di sana kulihat gambar anak kecil bertuliskan Adhis. Jarak yang ia terjemahkan dengan tanda panah tak tegak lurus mengarah satu sama lain.
Satu hal yang membuatku pilu, saat aku amati gambar anak kecil itu dibubuhi titik-titik air mata yang hanya dapat aku duga penafsirannya sebagai, kerinduan.
Aku cium gambar itu dengan lembut, Adhis.. tumbuhlah dengan baik sayang!
Aku lalu membuka lembar berikutnya, sebuah foto yang tak aku kenali.
Wita..
Apa kabar hari ini?
Seperti janjiku waktu itu, aku mempunyai banyak cerita yang akan kamu dengar.
__ADS_1
Kamu terus menghindariku. Sepertinya.. menulis seperti ini bisa menjadi jalanku.
Foto ini aku ambil saat musim panas di Swiss. Saat aku memutuskan pergi menjauh setelah lama mencarimu. Aku benar-benar menyimpan amarah saat itu. Hingga dalam setiap memandang langit Swiss yang kau lihat di foto ini, aku selalu bertekad; kelak aku akan mengalahkanmu.
Tapi, apa kau tahu Wita? Dalam peperangan yang telah kutabuh sendiri ini, nyatanya akulah yang kalah. Hingga aku berakhir di titik ini, aku menerima takdirku.
Wita..
Ada banyak cerita tentang Swiss yang ingin kuberitakan padamu. Jika kamu mempunyai sedikit waktu untukku, aku akan bersenang hati menceritakannya. Meski ya.. aku tak pandai bercerita sama seperti katamu ;).
Makanan di sana kurang bersahabat dengan lidahku Wita. Terkadang aku rindu makanan yang kau bekalkan padaku saat aku pergi ke Jakarta.
Aku sesaat sering serakah Wita. Menginginkan yang tak lagi menjadi haknya untukku.
Namun, itu bukanlah lagi yang terpenting bagiku. Yang terpenting adalah, mulai saat ini berbahagialah Wita.. tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Lepaskan masa lalumu dengan kenangan manis.
Berbahagialah, kamu jangan khawatirkan apapun lagi. Karena aku tak apa-apa Wita. Aku bernafas dengan segala kekuatanku. Aku memiliki Adhis dan melihatmu akan berbahagia.
Satu lagi...
Mulai saat ini makan yang banyak ya..
Tidurlah yang nyenyak.
Bermimpilah yang indah.
Salam
Wisnu
####
Uwow.....senengnya...bnyk sahabat2 mampir buat baca..
Sayang sayang nya aku..maafin aku yang random banget jadwal up nya..niat hati yang mangatss ini ingin rasanya crazy up...tapi apa daya pemirsah...aku kesulitan dalam membagi waktu...(so sibuk yaa)🤣🤣🤣
Tapi demi cintaku pada mas Wisnu...
eh salah...
demi Cintaku pada kalian yang udah ngikutin perjuangan meyakinkan Wita...
Aku up deh sekarang....
Doain aku yaa semoga lancar jaya...
Dalam up Wisnu..
Sejujurnya aku pun gemas akan Wisnu dan Wita..
Kalo kalian gimana nih ????
Eh,,sayang sayang nya aku,
Jangan lupa vote,like,dan komen nya yaa....
__ADS_1
😉😉😉😉