Selesa Rindu

Selesa Rindu
Berakhir?


__ADS_3

jika daun itu kering


dari tanah tandus berdebu


aku rela air mataku


menjadi penghidupannya


-Wisnu-


Bandung, Wita-Wisnu


"bener itu Ndra? aduuuh.. kumaha atuh ieu teh? (aduh bagaimana ini?)", tanya teh Rumi dengan gelisah. Teh Rumi mendapatkan kabar dari Andra melalui sambungan telpon tentang keputusan mendadak Wita. Kabar tentang tanggal pernikahan Wita yang telah di depan mata tentu adalah kabar terburuk yang teh Rumi dapatkan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya Wisnu saat ini.


Teh Rumi tidak akan lupa, bagaimana adik kesayangannya itu linglung tanpa arah, tujuh tahun yang lalu. Pulang ke rumah dengan wajah kumal. Berbulan-bulan tak kuliah atau kerja ke Jakarta. Kemudian secara mendadak memutuskan mengambil beasiswa ke luar negeri sebelum pesta wisuda S2 nya digelar.


Ibu bahkan sempat berkata pada teh Rumi, "teteh.. pang olokeun Wisnu (tolong bujuk Wisnu), jangan jauh-jauh kituh kuliah teh!. Ibu udah tua, ibu mah cuma pengen lihat Wisnu segera menikah, bukan sekolah terus". Perkataan ibu yang terdengar rintih di telinga teh Rumi nyatanya tak dapat diwujudkan karena pelarian yang Wisnu lakukan.


Teh Rumi kini sangat faham apa yang telah dialami adik kesayangannya itu dahulu. Sebuah harapan yang tak pernah pudar dari doa sang ibu, "ibu mah yakin, jodoh yang ditunggu Wisnu ada di sini!!"


Sambungan telepon teh Rumi dan Andra terus menyala, sedang lamunan teh Rumi tak berhenti berputar tentang kenestapaan Wisnu dan tentang harapan ibu.


"Teh.. hallo.. teh Rumi??" Andra mencoba memastikan jika teh Rumi masih tersambung pada layanan telepon dengannya.


"iya Ndra... Terus gimana Wisnu?", tanya teh Rumi.


"Ini Andra lagi nunggu bang Wisnu di parkiran kantor Satria".


"Ha.. Wisnu nemuin Satria? eta budak (itu anak) nekad". Iya.. teh Rumi tahu betul siapa Wisnu. Tak pernah mengemis apapun pada orang lain. Tak pernah meemperlihatkan titik lemahnya di depan musuh. Keberhasilannya memenangkan banyak tender telah menunjukan wibawa dan kepercayaan dirinya di hadapan banyak orang. Tetapi untuk satu hal ini, adalah pengecualian yang di luar nalar bagi sang adik.


"Terus gimana? Ada kabar baik", tanya teh Rumi penasaran.


"Sepertinya.. tidak baik teh..", jawab Andra di belakang mobil yang ia kendarai tadi, seraya menyaksikan Wisnu yang tengah berteriak memukul tubuh mobilnya yang pasrah dengan kelamnya nasib sang tuan.


Teh Rumi hanya mampu memejamkan mata, bersiap diri menjelmakan sosok tangguh yang akan menjadi penopang bagi rapuhnya sang adik.


***


"Wita... kamu yakin dengan keputusan kamu?", ibu kini bertanya pada sang putri kesayangannya yang ia tahu telah merapuh sejak lama. Jika, ibu tahu sejak awal kondisi Wita yang sesungguhnya tentu memaksa putrinya untuk menerima lamaran Satria akan ia urungkan.


"Sejak awal ibu yang meminta, ibu yang akan membatalkannya. Kamu tak usah berfikir bahwa kamu mengkhianati Satria jika pernikahan ini dibatalkan" ungkap ibu pada Wita.

__ADS_1


"Tidak ibu, Wita sudah memutuskan, Satria orang yang baik, Wita tidak akan menyakiti siapapun". Jawab Wita dengan lirih.


"Siapapun siapa yang kamu maksud? Apa nak Wisnu tidak termasuk dalam orang yang tersakiti? Apa diri kamu sendiri tidak merasa tersakiti?"


"Tidak, kami sudah mengalami banyak hal bu. Mas Wisnu akan menemukan kebahagiaannya. Ibu tahu gak artis terkenal yang suka tampil di TV? Mba Lastri, dia cocok kan bu sama mas Wisnu?" tanya Wita mengalihkan pembicaraan.


"Kamu gak bisa mengalihkan perasaan semau kamu Wit ah!, aya-aya wae", ungkap ibu sambil melenggang pergi menuju dapur untuk bersiap menyediakan makan malam mereka saat ini.


Wita hanya menghela nafas, entahlah.. hari ini biarlah demikian yang terjadi. Wita kini membuka catatan-catatan kantornya yang harus tertunda akibat kepulangannya ke Bandung hari ini. Ia harus segera menghubungi Revita agar programnya yang sudah Wisnu tanda tangani kemarin bisa segera dilaksanakan dua atau tiga hari ke depan.


"Assalamu'alaikum, Revita, lagi dimana?"


"Wa'alaikumsalam, mba.. mba kemana ih?? dicariin pak Wisnu tadi siang. Kayak kesetanan beliau nyariin mba". Revita yang sejak tadi menghubungi Wita tak bisa menghentikan celotehannya. Mendapati atasannya yang mecari rekan kerjanya seperti kehilangan arah. Sedangkan orang yang dicari sulit untuk dihubungi.


"Aku ke Bandung Rev, mendadak ada yang harus aku selesaikan. Kamu lagi di kantor kan?", ungkap Wita.


"Iyah aku di kantor mba", jawab Revita.


"Aku butuh data karyawan yang akan jadi peserta training Team Building di Lembang nanti. Sekarang kalau bisa ya. Kirim ke email aku!"


"Iyah mba aku kirim sekarang. Tapi... mba baik-baik saja kan?". Ya.. tentu saja Revita akan mengkhawatirkan keadaan rekan kerjanya itu. Sebab sejak semalam ia tak dapat menghubungi Wita. Lalu pagi-pagi dikejutkan oleh kehadiran seorang lelaki asing yang kemudian ia tahu namanya sebagai Satria, membawa Wita pergi.


"Aku gak apa-apa Rev, baik-baik saja kok. Minta bantuannya ya buat fixasi acara kita di Lembang. dua hari lagi kita eksekusi", jawab Wita dengan yakin.


Wita memakai kacamatanya, lalu menandai beberapa tanggal pada kalender duduknya. Sebuah target yang harus ia tuntaskan tepat pada empat belas hari ke depan. Empat belas hari yang akan sangat menegangkan. Baginya... bagi hatinya!


"Wita.." ibu memasuki kamar Wita dan menghampirinya.


"Ada tamu, nunggu di depan" suara ibu lembut.


"Siapa bu?"


"Kamu temui saja!", sambil tersenyum ibu mengusap lengan Wita lalu beranjak pergi.


Wita lalu menuruni anak tangga kamarnya menuju teras depan, menemui tamunya sore ini. Dilihatnya punggung sang tamu. Punggung yang ia kenali, tegap menyimpan kepedihan dengan kepala tertunduk pasrah dalam semilir angin sore.


"Mas Wisnu..", Wita menyuarakan sebuah nama yang begitu menyentuh hati terdalamnya. Ditatapnya sang Wisnu yang kini nampak... 'mengenaskan'. Kemeja yang dipakainya tak beraturan. Rambutnya berantakan dan wajahnya kusut.


Wisnu segera berdiri. Memberinya senyum samar yang sesaat meredup. Dengan tatap mata sayu, memuja Witanya yang akan melemparkan segenap pemilik hati bernama cinta itu ke pengasingan rimba.


"Wita... kumohon! jangan kau bunuh aku perlahan dengan keputusanmu itu! Aku.. Aku bisa gila untuk yang kedua kalinya".

__ADS_1


"Wita ambilkan minum dulu. Sepertinya mas Wisnu perlu air untuk diminum"


"Aku tak perlu apapun Wita. Aku hanya butuh bicara. Dengarkan aku sekali ini saja!".


"Bukan Satria yang kamu inginkan. Kamu hanya akan menipu dirimu sendiri Wita. Kamu.. kamu hanya menginginkan aku".


"Tidak ada yang Wita inginkan mas Wisnu. Mas Wisnu keliru".


"Ahahahahah... aku keliru? kamu tidak menginginkan aku? atau kamu benar-benar menginginkan Satria? benar? ha? kamu mencintai Satria?"


Wisnu.. melempar tanya yang tentu tak akan pernah bisa Wita jawab. Sebab jawaban atas tanya yang Wisnu ungkapkan sejatinya telah memiliki jawaban yang tak perlu dipertanyakan.


Wita hanya menatap gemetar Wisnunya yang memberi kilapan mata amarah.


"JAWAB WITA!!", teriak Wisnu yang membuat tubuh Wita semakin gemetar. Ia tak mampu lagi memandang Wisnu dengan keberanian. Sebab Wisnunya kini merupa manusia serigala yang mengaung di tengah gelapnya malam yang gulita diantara kesendirian yang hampa.


"Aku... hanya mengikuti takdir hidupku sendiri. Sejak dulu sampai hari ini, aku hanya mengikuti takdir hidupku sendiri"


"Ya Tuhaaan.. ayolah Wita!! takdirmu adalah untukku. Pastikan itu terjadi, jangan kau buat semuanya semakin sulit seperti ini!!"


"Aku.. wanita yang dulu telah menyakitimu mas Wisnu. Mencoba memegang janji namun nyatanya Wita kotori. Maka hari ini, tolong bantu Wita untuk menepati janji Wita pada Satria dan keluarganya".


"Menikah bukan sekedar menepati janji Witaa... bukan!, kumohon hentikan kegilaan ini!! Apa kamu tidak menginginkan aku lagi? Ha? Kamu sudah mencintainya?"


Wita menunduk tak memberikan jawaban apapun untuk Wisnu. Hingga dengan lirih Wisnu berucap, "jikapun iya kamu sudah tak lagi menginginkan aku Wita, aku rela mendapatkannya. Jikapun iya kamu tak lagi menyimpan namaku di hatimu Wita, aku rela menerimanya. Tetapi.. hiduplah disampingku sampai seluruh cintaku habis memberimu kehidupan di sepanjang hayatmu, Wita... kumohon!"


Wita, ditatapnya sang Wisnu yang memberinya tatapan rindu menggebu. Lelaki yang kemarin malam memberinya usapan lembut pada punggungnya yang menyimpan banyak ketakutan, dengan hadirnya ia mempunyai keberanian menghadapi rasa kalut. Lelaki yang kemarin malam memberinya ucapan indah, dengan hadirnya ia memiliki keyakinan hidup untuk menghadapi.


"Pergilah mas Wisnu!"


"kita sudah berakhir".


Kalimat terperih yang akan mengguratkan nasib cinta mereka berlabuh di kedalaman rindu.


###


reader.. maafkan aku gak bisa nepati janji buat double up eung. Ketularan Wita nih.. gak bisa nepati janji✌🀭


Dan.. sepertinya aku off beberapa hari ke depan. Ada hal yang mendesak yang harus aku prioritaskan. Jangan Rindu ya.. nanti Selesa...😁😁🀣


Part sekarang aja tu maunya berpanjang-panjang kali lebar sampai Wita mau istikharah lah minimal. Tapi apa mau dikateu, keadaan gak memungkinkan. πŸ˜­πŸ™

__ADS_1


By the way.. makasih buat komen, like, vote dan hadiah-hadiahnya buat episode hari ini. hihihi.. aku ge er duluan yaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ˆ


mmuach mmuach


__ADS_2