Selesa Rindu

Selesa Rindu
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Kau kantup hatiku dengan pilu


Membeku dengan sakit tersayat langit


Kemana lagi aku harus pergi


Sebab bumiku adalah dirimu


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Salim-Ibu-Wita


“Tolong jangan datang lagi ke sini pak Wisnu! Kakak saya sedang tidak bisa diganggu". Salim kali ini tentu harus pasang dada demi kakak perempuannya. Dua minggu semenjak kepulangan Wita dari rumah sakit, Salim lebih sering melihat kakaknya itu mengurung diri di kamar. Semula ia hanya berfikir jika dampak tipes yang diderita Wita adalah penyebab kakaknya itu bermuram durja. Namun beberapa kali mendapati lelaki yang mengaku dirinya sebagai Wisnu itu tak kunjung berhenti mendatangi rumahnya, Salim tentu berfikir lain tentang penyebab apa yang terjadi pada kakak tercintanya.


"Tapi dia baik-baik saja kan?, Salim?", tanya Wisnu di bibir pagar rumah Wita, di gang sempit itu Salim mengerutkan dahi terkejut dengan tamu tak diundangnya ini kini menyebut namanya.


"Anda tak perlu khawatir pak Wisnu, kesehatan kak Wita adalah tanggung jawab kami". Dengan pongah dan sikap percaya diri Salim menjawab. Meski Salim tahu saat ini adalah kondisi terburuk yang Wita alami sejak terakhir Wita mengalami kecelakaan. Semalam dan beberapa malam yang lalu ia harus terjaga memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja. Sang Ibu bahkan kini tidur bersama sang kakak menemani malam-malam yang berat.


Beberapa malam yang lalu, di bibir pintu kamar Wita terdengar suara isak tangis yang lirih. Saat Salim memberanikan diri membuka pintu kamar, dilihatnya sang kakak duduk menekuk lututnya menangis dengan keringat yang bercucuran. Ia berlari menghampiri kakak terhebatnya itu. Ditatapnya dengan penuh cinta, lalu mendapat balasan mata lirih dan sayu dari Wita.


Keesokan harinya ia dengar suara rintihan kesakitan dari kamar yang sama, dibukanya pintu kamar hingga terlihat Wita bergerak gelisah dalam mimpinya. Demam serta keringat yang bercucuran dari tubuh Wita sungguh menjelaskan dengan nyata bahwa kakaknya itu sedang tak baik-baik saja.


Pagi ini ia mencoba membuka suara pada kakaknya, “Kakak, itu tamunya udah beberapa kali ke sini. Apa mau ditemui dulu?”.


“Suruh pulang aja dulu Lim, kakak belum bisa nemuin dia. Kakak masih butuh istirahat”, jawaban tak biasa kakaknya ini menyiratkan tanda tanya yang besar bagi Salim. Tak biasanya sang kakak menolak tamu yang mendatanginya. Terlebih secara fisik, kakaknya ini nampak… baik-baik saja. Semenjak Wita bekerja di sekolah Embun Gemintang, kedatangan tamu untuk Wita adalah hal yang biasa. Rekan kerja, anak didik, teman semasa kuliah, sahabat semasa SMA, orang tua murid yang berniat untuk berkonsultasi atau bahkan orang tua murid yang berniat meminang Wita selalu Wita temui dengan tangan terbuka.


Tidak seperti pada sosok yang bernama Wisnu hari ini dan hari-hari sebelumnya. Apa alasan yang dimiliki Wita hingga menolak tamunya itu, sungguh Salim tak dapat menduga-duga.


Jika ditelisik dengan baik, lelaki yang berdiri di depan pagar rumahnya itu tidak tampak seperti orang sembarangan, brandal atau orang yang tidak tahu adat kesopanan. Tetapi Salim adalah lelaki yang menggantikan mandat wali dari sang ayah. Ia tentu akan menjadi orang yang berada di garda paling terdepan dalam melindungi kakak tercintanya.


“Apa yang ingin anda sampaikan pada kakak saya? Mungkin saya bisa menyampaikan padanya”, Salim tentu tak ingin mendapati lagi kehadiran Wisnu berada di depan pagar pintunya di setiap paginya, lagi. Ia harus menghentikan ulah lelaki ini, apakah lelaki yang dihadapannya ini tak tahu diri dan tak mengerti jika kakaknya tak mau menemuinya?

__ADS_1


“Tapi Wita baik-baik saja?, saya harus bertanggung jawab atas apa yang dialami Wita”, jawab Wisnu terang saja memancing kecurigaan dari Salim. Apa yang dilakukan lelaki dihadapannya hingga membuat sang kakak menangis dalam setiap malamnya, kejahatan apa yang telah dilakukan Wisnu hingga kakaknya harus mengalami mimpi buruk di setiap malamnya. Apa dia telah merenggut kehormatan sang kakak?


Tanpa berfikir panjang Salim beranjak maju melangkah ke hadapan tamunya itu, ia tarik kerah lelaki yang nampak memiliki tinggi yang sama dengannya. Secepat kilat ia melayangkan sebuah pukulan tepat pada rahang Wisnu. BUGGG!!


“SAAALIIIIM”, pekik suara ibu tua menghentikan pukulan Salim yang tak mendapatkan perlawanan dari lawan tandingnya. Wisnu lalu berdiri dari posisinya yang terjatuh akibat pukulan keras yang diterimanya.


“MASUK!!”. Titah sang ibu pada kedua orang yang tengah beradu tegang di depan rumah sederhananya yang berada di gang kecil itu.


*****


Hawa ruang tamu bernuansa shabbi chic yang bergaya elektik yang memadukan furnitur antik dengan warna-warna pastel dan sofa bermotif bunga dan dedaunan sederhana dan dinding yang berhiaskan foto keluarga kecil ini terasa dingin dan tegang. Wisnu diam mematung dalam duduknya menunggu reaksi dari adik dan ibu wanita yang ia cintai, Wita.


Lima menit yang lalu, ia baru saja menuntaskan kisahnya yang panjang pada kedua orang dihadapannya dengan nada suara penyerahan diri dan tulus mencintai. Wisnu kini mempersiapkan diri jika saja wajahnya harus memiliki memar tambahan dari tangan Salim. Ia tentu siap menerima itu, ia pantas mendapatkan lebih dari sekedar pukulan. Jika Salim dan ibunya meminta nyawanya untuk menebus semua kesalahan dan dosa yang ia perbuat, ia tentu akan merelakannya.


"Jadi.. maksud.. nak Wisnu.. anak saya.. sakit?", tanya ibu Wita dengan gemetar tangan yang mulai keriput mengumpulkan keberanian menerima kenyataan dan mendengar penjelasan Wisnu tentang kondisi anaknya itu.


Satu tetes air mata yang terjatuh dari sudut mata Wisnu pada punggung tangan miliknya dalam tunduknya yang sendu sungguh jawaban yang teramat menyakitkan bagi ibu dan Salim. Kenyataan pahit yang harus mereka terima tentang Wita yang dulu merapuh kini berwujud kepedihan pada luka yang lama terlupakan.


Wisnu mendongkak, menatap wajah orang tua satu-satunya milik Wita itu. Beginikah luasnya kasih sayang seorang ibu itu?, melengkungkan senyuman pada sosok yang nyata-nyata adalah musuh pada peperangan hidup yang putri gadisnya alami. Demi sebuah lengkungan hidup yang sempurna untuk putri kesayangannya ia rela mengorbankan perih yang ia terima, tak apa jika harga diri dan keteguhannya terkoyak. Ibu.. tetaplah sosok yang akan senantiasa hadir dalam rimbanya Wita sekalipun, sungguh beruntung Wita yang masih memiliki sosok berharga ini. Tak sepertinya, Wisnu harus kehilangan ibu dalam kisah yang tak usai ia tutup.


"Terimakasih.. ibu", Wisnu menjawab dengan senyuman tulus dan rindu yang mendalam. Tentu... ia bahkan kini merindukan ibu yang sama menyelimutinya dengan ribuan kasih dan cinta.


Ibu pergi melangkah menuju kamar Wita, meninggalkan Salim yang tak henti memberikan tatapan tajam pada Wisnu.


"Anda harus ingat pak Wisnu. Kakak saya sudah bertunangan, mohon anda selalu ingat batasan anda. Kami memberikan keleluasaan kepada anda untuk membantu memulihkan kakak saya, tapi bukan berarti anda bebas melakukan apa yang anda inginkan", Salim tak perlu mengingatkan apapun pada Wisnu, karena ia sadar bahwa Wita kini telah membuat sebuah keputusan pahit yang harus ia terima.


Wisnu menarik nafasnya panjang. Tersenyum memandang sekitar, menyadari dan berbahagia bahwa Wita telah dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya.


Beberapa saat kemudian lamunannya pecah saat hidungnya mencium aroma tubuh yang ia kenali. Ah.. Wita, Wisnu rindu..


Ia lihat sosok yang ia nantikan itu duduk ditepi kursi di hadapannya. Wisnu menatap sosok yang membawa sebuah kotak obat dengan tangan gemetar itu kian cantik. Wisnu menatapnya, lekat dan dalam, hingga Wita harus segera memecah sikapnya itu dengan sebuah kalimat; "Adhis, apa kabar?".

__ADS_1


Wisnu lalu tersenyum mendengar kalimat dengan suara merdu wanita yang ia cintaiya itu. "Baik.. dia baik", jawab Wisnu. "Kamu.. tidak menanyakan kabar ayahnya Adhis?" lanjutnya lagi.


Wita lalu menjwab dengan sebuah senyuman, "obati dulu lukanya", Wita menyodorkan kotak obat lengkap dengan cermin yang dapat Wisnu pakai untuk melihat dengan jelas luka yang sudah dibuat oleh tangan kekar Salim.


"Kita sudah berakhir mas Wisnu, tak ada lagi yang harus kita bicarakan", Wita melanjutkan percakapannya sesaat setelah Wisnu selesai mengobati lukanya.


"Saya akan menikah beberapa saat lagi. Tolong bantu saya untuk dapat menunaikan janji saya pada seseorang! Mas Wisnu tentu mengerti bukan?"


Mengerti bagaimana Wita?, jika hati yang dimilki Wisnu kini separuhnya membeku dalam genggamanmu. Apa yang harus dilakukan Wisnu padamu Wita? jika gila saja tak cukup mewaraskan kisah cintanya.


"Ya.. aku mengerti", jawab Wisnu ragu. "aku.. tidak akan membuatmu kehilangan calon suamimu itu, aku.. hanya perlu kita.. berteman saja", lanjutnya lagi dengan lirih.


"Kalau begitu, maukah temanku ini mengabulkan semua permintaanku?", tanya Wita.


"Tentu saja Wita, apapun yang kamu mau, akan aku wujudkan", jawab Wisnu.


"Pergilah.., kita akan menjalani hidup kita masing-masing sejak saat ini!".


###


hai.. hai reader semuaaa... maafkan baru bisa up hari ini.


selamat datang buat para pembaca yang super duper hebat, telah berkunjung ke Selesa Rindu adalah kebahagiaan buatku.🤗


Kaliaaan bisa mampir menemani Selesa Rindu di akun ig and fb ku ya...


kuy ceki-ceki👉 NingTias


di akun medsos kaliaaan😘.


jangan lupa follow dan share ke semua handai taulan kalian di seantero bumi perhaluan kita ya🤭✌

__ADS_1


mmuach.. mmuach..


__ADS_2