
Apa yang kau toreh pada luka terdalamku
Nyatanya menyayat sela-sela hidup
Tak bertepi dan tak berujung
-Wisnu_
Jakarta, Wisnu-Andra
“alhamdulillah kemenangan ada di pihak kita pak”. Wisnu memang benar-benar!!, baru saja Andra asisten pribadinya itu berencana ikut merayakan keberhasilan nya membantu memenangkan kasus Wita dengan acara makan-makan bersama Wita dan teman-teman sejawatnya. Andra harus menelan rasa kecewa karena titah Wisnu tak bisa dibantah. Ia menancapkan gas kendaraan roda empatnya melesat menuju ibu kota dengan dalih meeting darurat.
“Bagus, kita memang layak menang”, jawab Wisnu penuh rasa kepuasan.
“mengenai meeting kita kali ini saya sudah menyiapkan beberapa dokumen yang harus kita tanda-tangani. Silahkan Pak Wisnu pelajari dulu”.
“saya sudah mempelajarinya, tapi tolong kamu pastikan kembali Ndra, kausal AMDAL dari projek yang akan kita garap. Pastikan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau penilaian komprehensif atas dampak lingkungan dan sosial yang disiapkan oleh kita sejalan dengan regulasi dan sistem pemerintah. Saya tidak mau ada masalah ke depannya, seperti projek kita di Bau-bau tahun lalu”, Tegas Wisnu.
“dan… pelajari area komersial pada lokasi yang ditunjukkan pada rencana tata letak yang mengacu dokumen desain!!”.
“baik pak, saya siapkan semuanya”.
Andra menjadi asisten pribadinya yang menangani banyak hal yang berkaitan dengan Wisnu. Ia jelas dibayar mahal untuk itu, tapi tidak karena hal itu Andra merelakan dirinya mendedikasikan hidup pada Wisnu, sebab Wisnu dan Teh Rumi adalah sosok keluarga yang hadir yang tak bisa terbayarkan oleh apapun.
__ADS_1
“Bu Rumi barusan berpesan, takut anda lupa hari ini ada janji makan malam dengan Adhis”. Ah Wisnu hampir saja lupa, ia kali ini sudah harus mulai membiasakan diri membagi waktu yang ia miliki dengan anak kesayangannya itu. Teh Rumi bahkan sudah rela membagi perhatiannya untuk Kang Indra dan Risyad demi membantu memulihkan Adhis dari segala perilaku sosialnya yang terbilang… perlu diperhatikan. Maka Wisnu sudahlah semestinya memberikan pengorbanan yang besar untuk Adhis kecilnya.
Tiga bulan bersama Adhis di rumah yang lama ia mimpikan nyatanya memang memberikan nuansa yang baru bagi Wisnu. Kehadiran Teh Rumi memberi Wisnu sedikit harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Teh Rumi, menjadi sosok yang menggantikan kehadiran ibu yang selalu menyayanginya. Ibu.. ia tak pernah lupa memiliki janji manis yang tak pernah bisa ia tunaikan. “Wita namanya bu, baru lulus SMA, gadisnya periang, tapi juga unik”. Wisnu ingat betul bagaimana wajah bahagia ibu saat Wisnu menceritakan hasrat cintanya terhadap gadis pujaannya. Ibunya menjadi sadar akan cinta yang Wisnu miliki adalah semangat bagi hidup anak lelakinya. “Susah banget diajak jalan-jalan atau main-main ala-ala anak muda bu, tapi Wisnu suka. Tiga tahun lagi Wisnu janji akan membawanya sebagai menantu ibu”.
Tiga tahun yang ia tuliskan nyatanya retak menjadi angka yang samar. Setahun setelah kepergian Wisnu ke Swiss ia harus menahan kepedihan kehilangan sang Ibu tanpa dapat melihat jasad dan mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Bolehkah ia menghakimi dirinya sebagai anak tak tahu diri?, ibu.. ampuni segala lemah dan tak berdayanya Wisnu.
Wisnu berhenti dari segala aktivitasnya dalam mencatat beberapa hal yang akan ia bahas pada meetingnya dua jam ke depan. “nanti aku coba hubungi Teh Rumi, kita upayakan rapat kita hanya berdurasi 3 jam. Saya mau ngajak Teh Rumi dan Adhis makan di luar”.
“baik pak” jawab Andra singkat. Ia tetap mematung memandangi atasannya yang dengan seksama menilik catatan persiapan meetingnya. Udara dingin yang dihadirkan oleh penyejuk ruangan Wisnu membawa aroma berbeda. Mengapa menjadi seperti ini hidup sang kakak tingkat semasa kuliahnya itu?. Aura semangat dan hangat beberapa tahun silam berubah wujud menjadi ambisi dan amarah serta dendam dan kesumat. Lalu hari ini, Wisnu nampak menyerah pada perjuangan yang belum berakhir pada titik finish.
“ada apa lagi Ndra, masih ada yang perlu saya tanda tangani lagi?”, tanya Wisnu tanpa melepaskan aktivitasnya bersama buku dan bulpoint kerjanya.
“enggak bang.. saya kok merasa janggal”, jawab Andra ragu.
“apanya yang janggal?”.
“saya sudah tidak lagi berurusan dengannya, kamu jangan mengkhawatirkan itu”.
“bukan itu Bang.. ini karena…selama 3 bulan ini, selama persidangan, saya kok gak pernah lihat suaminya mba Wita ya?, atau anaknya mungkin. Waktu kita mau pergi makan-makan, yang jemput cuma ibu dan adiknya”. Andra menjelaskan kecurigaannya selama ini, instingnya tentang sebuah hubungan yang janggal tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
“hahahahaha…, kamu sudah mulai tertarik dengan urusan rumah tangga rupanya. Kamu jangan suka ngurusin rumah tangga orang. Cukup jadi asisten dan.. saudara saya saja”, jawaban Wisnu memang sungguh gambaran tentang seseorang yang mulai, menyerah.
“maafkan saya bang.. apa kalian sudah pernah membicarakannya?”.
__ADS_1
“tidak ada yang perlu kami bicarakan, urusan kami telah selesai”.
“kalau saya perhatikan, dia wanita yang baik, bang!”.
“hahahaha.. tahu apa kamu Ndra tentang arti baik dan tidak?”, tanya Wisnu seraya menatap penuh ejek lawan bicaranya itu. Andra, tidakkah kamu tahu, membicarakan wanita yang bernama Wita adalah hal yang paling memuakkan bagi Wisnu. “tolong jangan membicarakan apapun tentang Wita lagi, saya sudah selesai dengannya. Tak ada yang tersisa apapun”.
“saya tidak bermaksud begitu bang, maksudnya, saya hanya ingin memastikan saja”.
“tak ada yang perlu kamu pastikan, semua sudah terlihat jelas bagi saya. Semenjak saya bertemu dengannya sejak terakhir kali dia menghilang, tak sedikit pun ia berniat membicarakan apapun dengan saya. Saya pikir itu sudah menjadi keputusan terbaiknya. Saya hanya harus menyadari bahwa kehadiran saya di masa lalu hanyalah angin lalu baginya”.
“saya.. mengerti bang!”, Andra menunduk pasrah dengan apa yang diutarakan Wisnu padanya. Biarlah, beginilah jalan hidup manusia yang terkadang tak mampu terrasionalkan oleh akal, terjadi tanpa kendali.
“seperti apa yang kamu inginkan Andra, saya harus mulai fokus dengan masa depan saya”.
Iyah.. tentu saja, masa depannya bersama anak yang hadir tanpa pamrih. Menetap pada kehidupannya yang serba hampa. Ia harus mulai menata ulang kembali hidupnya. Mendesain sesuai rancangan yang benar tanpa cela. Memiliki Adhis adalah pilihannya, yang harus ia pertanggung jawabkan bukan hanya sekedar komitmen dan amarah belaka, tetapi menyadari bahwa sesungguhnya ia adalah ayah yang harus hadir dengan cinta dan kasih sayang.
“saya berdoa, semoga abang segera mendapati kebahagiaan”.
“hahahaha… aamiin, saya sudah bahagia Andra, jangan khawatirkan itu”
“ah iya.. saya kok lupa. Bagaimana anda tak bahagia pak Wisnu, asisten pribadimu ini selalu hadir satu kali dua puluh empat jam dengan pelayanan paripurna”, seloroh Andra mengubah suasana pembicaraannya beberapa detik lalu.
“yup.. maka dari itu, teruslah jadi asisten yang baik. Jangan suka ngungki-ngungkit masa lalu”, senyum Wisnu mengembang.
__ADS_1
“siap, tentu pak Wisnu”, jawab Andra dengan sikap hormat bendera merah putih. Apa yang asisten Wisnu itu lakukan, sungguh mengundang senyum hangat Wisnu siang ini. Andra lalu melenggang pergi dari ruangan Wisnu setelah sebelumnya berucap, “Bros yang anda titipkan sudah saya berikan sama mba Wita, mba Wita bilang makasih, dan.. jangan khawatir.. saya bilang bros itu pemberian Adhis, murid kesayangannya”.
Wisnu.. apa yang terjadi denganmu. Mengapa akal dan pikiranmu kini tak sebanding dengan tindakannya yang irasional. Tidak!, anggap saja bros yang sengaja ia pilih adalah tanda ucapan terima kasihnya pada Wita untuk cinta dan sayang yang ia berikan padanya, bukan.. pada Adhis maksudnya.