Selesa Rindu

Selesa Rindu
Dongeng Cinta


__ADS_3

aku sempat lupa


bahwa luka itu pernah ada


-Wita-


Bandung, Wita-Adhis


Wita memutuskan membawa gadis kecil yang sedang ia gendong itu ke ruangannya. Anak ini nampak terus meronta-ronta. Meraung-raung sejadinya, bergelinjang melampiaskan amarahnya. Diikuti langkah Fitri yang tergesa, ia masuk ke ruangannya dan menurunkan Adis dari gendongannya. Adis menendang semua yang ada dihapannya, melempar buku, frame foto, fas bunga, bantal sofa. Oh..oh…, segera ia mengamankan laptop kerjanya, dimasukannya ke dalam lemari. Berjaga-jaga takutnya Adis berlari ke arah laptop kerjanya itu.


Lalu, dipeluknya Adhis kembali, dielusnya punggung sang anak dengan perlahan. Dibiarkannya Adhis menangis dan meronta, elusan tangan Wita pada punggung sang Adhis terus mengikuti ritme lembutnya. Perlahan, tangis Adhis mengendur.


“kenapa?” bisik Wita pada Fitri


“tadi ditawarin makan pas waktu jadwalnya makan, eh dia-nya gak mau. Sama bunda Zahra dibujuk, apalagi Adis masih baru sembuh dari sakit flu. Adis malah nangis, marah sama Bunda Zahra, dan terakhir kondisinya seperti yang bunda lihat” jelas Fitri perlahan.


“oke” jawab Wita.


Adhis masih terdengar sesegukan dalam gendongan Wita. Dirapikannya rambut Adhis yang nampak berantakan, diikatnya rambut ikal tersebut dengan ikat rambut yang sedari tadi menempel di rambut Adhis tak beraturan. Lalu kerudung kecil Adhis ia lekatkan kembali pada wajah cantik gadis itu.


“sering begini?” tanyanya lagi.


“ini udah yang ke tiga kalinya bun, tapi hari ini yang terparah. Bunda lihat kan tadi, bunda Zahra sampai kondisinya begitu”, sambil menunduk Fitri menjawab malu.


Wita menarik nafas panjang. Fyuuuh.. dia sudah kecolongan untuk yang ke dua kalinya.


“maaf bun, saya fikir kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi soalnya sudah 3 hari ini Adis mulai gak ngamuk-ngamuk lagi” Fitri mengonfirmasi.


“iyah gak apa-apa, santai saja, semoga ini yang terakhir” Wita memberi senyuman pada Fitri.


“Bunda Fitrri boleh ke kelas, Adhis biar sama saya dulu” kasihan guru yang sedang ada di kelas fikirnya. Anak-anak yang lain juga menjadi prioritas. “Gak apa-apa, nanti Adhis saya antarkan ke kelas kalau kondisinya sudah tenang”.


“mau main aiiir” rengek Adis disela tangisnya yang sudah mula memelan.


“tadi katanya mau ngajak Adhis main aiiir” ungkapnya lagi sambil menangis.

__ADS_1


“oke.. kita main air, tapi Adhis minum dulu ya! Nanti biar main airnya kuat” anak pintar, masih ingat perkataanya tadi rupanya ya. Meskipun sedang ngamuk, ternyata ajakannya main air sudah jadi tawaran yang berharga untuknya. Hhhmzzz…


Adhis menangguk pertanda setuju. Not bad! Ia berdiri lalu mencoba melepaskan gendongan sang Adhis. Tapi Adis meronta tanda penolakan yang jelas. Oke, kita lihat sampai kapan gadis itu menempel.


Wita memutuskan membawa Adhis ke kolam mini kesayangan mang Tatang sang penata taman sekolah dalam gendongannya. Kolam yang berada di taman, tepatnya di belakang ruang guru itu menjadi tempat favorit anak-anak untuk mengamati ikan dan berbagai binatang lainnya. Ayam, kelinci, kucing, hamster dan burung. Ah, taman belakang ruang guru ini merupa kebun binatang mini di sekolah kebanggaannya.


Adhis menghamburkan diri ke arah kolam ikan, ditariknya sang guru bernama Wita itu dengan tergesa. “bunda-bunda ada ikaaaan” teriaknya antusias. Tanpa aba-aba Adis masuk ke kolam ikan mini tersebut yang memiliki kedalaman setara dengan lutut Adhis.


Dengan riang Adhis mengejar ikan-ikan yang meleok-leokan tubuh licin mereka. Wita sedikit menatap lega, dilihatnya Adhis begitu menumpahkan kebahagiaan tanpa syarat. Lepas, bebas, merdeka dan bahagia. Entah kemana larinya tangis tadi yang menggema di kelas dan ruang kerjanya itu. Sepertinya, energi yang harus dikeluarkan sang gadis kecil yang sedari tadi ditatapnya itu memang sangatlah banyak.


Biarlah!!!, ia senang melihatnya, karena itulah makna kebahagiaan, tertawa tanpa penjara, melepaskan beban tanpa garis pembatas, menumpahkan sesak di dada tanpa semburat keraguan. Tak sadar, senyum ia lepaskan begitu saja untuk seonggok gadis kecil yang baru saja reda dari tangisnya yang meradang.


“bunda.. bundaa.. ikannya banyaaak. Aku mau tangkaaap!!!”


Oh dapat dipastikan ikan-ikan yang beberapa menit lalu tengah menikmati segarnya air dengan sirkulasi air buatan Mang Tatang dibuatnya oleng tak karuan. Untung saja ikan-ikan itu adalah ikan mas hias yang dibeli mang Tatang dari pasar ikan bulan lalu, kalau penghuni kolam itu ikan Koi kiriman dari Jepang, mampuslah nasib Wita sekarang.


Mang Tatang, nanti ikannya Wita ganti.


5 menit sudah berlalu, Wita tak boleh membiarkan anak itu berlama-lama di kolam. Ia tahu, gurunya menceritakan bahwa Adhis baru pulih dari sakit.


“kemana?” teriak Adhis yang sudah dipastikan basah kuyup di tengah kolam.


“bunda punya ikan yang mau bercerita”


“ikaan? bercerita?” tanya Adis penasaran sambil menghampiri Wita. Diraihnya tangan Adis.


“kita ganti baju dulu ya!”


Segera ia merogoh ponsel di saku rok ungunya, “teh Santi tolong minta baju ganti buat anak perempuan ukuran M ya, simpan di meja saya! Makasih”


Dibawanya Adhis ke kamar mandi khusus yang ada di ruangannya itu, diguyurnya sang anak dengan air. Tak lupa sabun cair anak yang akan menghilangkan bau amis ikan kesayangan Mang Tatang.


Dibalurinya sang anak dengan kayu putih dan bedak bayi. Wuissh.. segerr. Wanginya menyeruak ke dalam hidungnya.


“Adhis cantik ini kalau mandi di rumah suka sama siapa?”

__ADS_1


“dimandiin sama mamah, trus kalau pakai baju suka sama aa”


Disisirnya rambut hitam adis dengan perlahan. Rambut basah itu nampak menyegarkan wajah Adis yang imut.


“ikannya mana bun? Ikan yang mau bercerita?”


“eh.. ko bunda lupa ya?, tapi Adhis makan dulu ya! Takutnya ikannya gak mau bercerita sama Adhis. Ikannya gak suka kalau lihat anak yang gak makan”


Adis mengangguk pelan. Segera Wita menghubungi Fitri untuk membawa makanan Adhis. Sambil menunggu ide ikan yang mau bercerita. Duh.. ikan yang mana nih. Dia belum punya ide.


Dilihatnya sebuah botol kaca dengan seekor ikan komet yang berenang-renang kecil di dalamnya. Ikan kecil yang kemarin Wita terima dari Fakhri, anak mungil kelas Bahagia yang sempat kemarin ia kunjungi.


“Haiii.. Adhis aku komet, ikan kecil yang sangat cantik. Kamu sudah mandi ya?” Wita mulai bercerita dengan suara terlucu.


“iya” jawab Adis berkonsentrasi pada botol ikan komet yang sudah berpindah ke tangan Wita.


“Kamu tahu gak sih aku suka membantu orang? Aku, binatang yang paling bermanfaaaat di muka bumi”


“wah, wah, kamu suka membantu orang ya? Kayak lumba-lumba doonk”


“eit, aku dapat membantu orang agar orang-orang bisa sehaat dan cepat sembuh”


“gimana caranya bunda?” Adhis seketika menoleh ke arah Wita dengan tanya.


“gampang banget kalau itu” jawab Wita dengan suara ikan komet melanjutkan obrolannya dengan Adhis.


“kamu tinggal bilang sama mamah, hei mamah jadikan aku sayur sup untuk Adhis makan. Agar adis cepat sembuh”


“Adhis kan udah sembuh bunda” jawab Adhis mengelak.


“waah alhamdulillah donk, besok Adis mau donk diajak memetik buah jambu?”


“mau.. mau,,”


“Adhis di rumah makan yang banyak ya, boleh makan sama daging, tempe, tahu, atau bayam, atau sama sup ikan gurami juga boleh, supaya besok ketemu dengan bunda Wita badan Adhis lebih segar dan sehat. Lalu kita bisa memetik buah jambu, gimana?”

__ADS_1


__ADS_2