
kenangan hitam itu
akan aku remukkan bersama angin malam
kau hanya perlu, mencintaiku
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Wita
Angin segar yang dirasakan Wisnu pasca adegan 'keluarga cemara' di kantornya nyatanya tak berlangsung lama. Sebab semenjak kejadian tersebut Wita justru menghindarinya. Lenyap dari pandangannya dan sulit untuk ditemui bahkan dihubungi.
Tapi satu hal yang membuatnya geram. Mengantarkan sudut hatinya bertambah pilu saat Lanis menghubunginya. "Semalam Wita menghubungi saya pak Wisnu. Mimpi buruk menyerangnya kembali.., ini tak baik!"
Wisnu meminta Andra untuk membuat Witanya bertemu dengan dirinya. Tak ada waktu untuk membiarkan Witanya sakit berkepanjangan. "Andra.. buatkan jadwal Wita untuk melaporkan segala persiapan kerjasama kita dengan perusahaannya, siang ini!". Suara tegas Wisnu membuat Andra bergidik. Jika nada dan intonasi suara atasan Andra itu sudah sedingin bongkahan glister di kutub utara dan selatan, maka bisa dipastikan ini adalah perkara besar.
Memandangi Witanya di ruangan kerjanya mengantarkan dirinya pada amarah yang tak tertahan. Marah pada kenyataan tentang kerapuha n sang Wita yang tak kunjung mereda. Marah pada keangkuan sang Wita atas penapian cinta dan kasih antara mereka.
"Berhentilah bertindak bodoh pak Wisnu, karena anda tidak akan mendapatkan apa pun", suara Wita di dalam ruangan kantornya sungguh menggemakan kesakitan yang pelik pada kisah cintanya. Apakah Wisnu nampak menjadi manusia bodoh yang berlakon pada perjuangan untuk wanita pujaannya?
"Urusan kerjasama yang melibatkan saya secara pribadi akan saya selesaikan lebih awal pak Wisnu. Agar anda tak lagi menggila dengan kehadiran saya", mata nyalang Witanya itu sungguh membuat perih yang sejak pagi ini ia bawa terasa lebih menganga nestapa.
"Keluar bu Wita!! silahkan anda keluar! jawaban anda cukup membuat saya faham", Wisnu yang sejak awal menahan amarah tak beralasan, antara rindu dan ketakberdayaan, menyerah pada sorot mata dengan binar benci dan sesal yang ia dapatkan dari wanita yang ia cintai. Sungguh sangat menyakitkan!!
Wita, melenggang pergi meninggalkan dirinya yang masih menahan degup jantung amarah dan kepedihan kehilangan cinta yang telah lama hilang. Kamu.. keterlaluan Wita!!!
****
"Masih mau lembur mba?" tanya Revita di ruang yang beraroma lavender itu.
"Enggak ko.. cuma tanggung aja", jawab Wita masih fokus dengan menilik berbagai e-mail yang masuk dari Pak Hermawan.
"Aku siapin makan ya mba? dari tadi aku lihat mba belum makan lho", Revita kembali bersuara.
"Gak perlu, saya belum lapar Rev". Entah makanan apa yang telah dikonsumsi Wita pagi tadi, rasa lapar yang seharusnya ada sore ini tak dirasakannya sejak siang. Ia mengabaikan perhatian sang asisten.
"Mba... mau tanya-tanya boleh?" tanya Revita selanjutnya dengan ragu.
"Apa Rev?", tanya Wita seraya mencatat point-point penting yang disampaikan Pak Hermawan dalam e-mailnya.
"Pak Wisnu kayak yang udah kenal lama sama mba?"
__ADS_1
"Dia mantan orang tua murid saya Rev"
"Owwh.. baik banget lho sama mba. Kayak yang.... nyimpen rasa gitu"
"Gak gitu Revita.."
"ya itu cuma yang aku lihat aja. Setiap hari dia nanyain mba ke sini. Mba nya aja aneh, milih ngantor di rumah sewaan daripada di kantor yang super nyaman ini. Apalagi banyak pemandangan yang ganteng-ganteng di sini. hihihihi.." Revita tertawa sendiri menyadari kekonyolannya.
"itu cuma dugaan kamu saja Rev"
"Aku setuju lho mba kalau mba sama pak Wisnu, dia orangnya baik"
Ucapan Revita sudah mulai melantur. Kalau tak segera dihentikan bisa menjadi perkara, pikir Wita.
"Kamu sudah boleh pulang Rev, aku masih nanggung ini. Nanti aku pulang pake mobil online aja", sela Wita.
"Bener nih mba?", tanya Revita lagi.
"Iyah.. kamu pulang duluan aja!"
"Mba jangan terlalu lelah ya!, semalam mba gak tidur lho", ya.. benar! mimpi buruknya semalam membangunkan Revita yang berada di sebelah kamarnya. Revita memberinya air hangat, menemaninya untuk sekedar ngobrol-ngobrol ringan, hingga akhirnya rasa kantuk tak bisa menahan Revita untuk terjaga dan berkata, "mba aku tidur ya.. ngantuk banget".
"Mampang Prapatan pak!", pinta Wita pada supir yang mengemudikan mobil pesanannya yang disetujui dengan anggukan dan jawaban, "baik mba".
Malam ini, Wita memindai setiap gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh menemani kelemahannya di balik jendela mobil. Ia menjadi tertamat kerdil di tengah keangkuhan malam kota Jakarta.
Hingga mobil itu berhenti dengan kencang menahan rem yang dipijak sang supir.
BRAAAK
Sontak membuat Wita tersentak dari jok penumpangnya.
"Ada apa pak?"
"Sepertinya kecelakaan, benturannya keras sekali", jawab sang supir yang memegang kemudi mobil dan diam di tempat akibat kemacetan yang dibuat dari kecelakaan tersebut.
Dilihatnya oleh Wita banyak orang berhamburan, ke luar dari mobil ataupun para pejalan kaki. Lalu terdengar suara jeritan seorang wanita di luar sana melengking memekikkan telinga Wita.
Pandangan Wita kini mulai kabur, terkelebat bayang mobil merah menghantam dirinya. Perutnya mual dan kepalanya mulai berdenyut nyeri. Telinganya berdenging, hingga putaran rekaman ayah, ambulance, mobil, terpental, suara ponsel muncul dalam penggalan tak beraturan.
"Pak.. saya turun di sini!"
__ADS_1
****
Wisnu kini mengemudikan mobilnya sendiri. Meluapkan amarahnya pada takdir yang belum dapat ia kendalikan kemudinya. Witanya, menjelma wanita asing tak tergapai oleh bentangan rasa apapun.
Dalam gelapnya malam yang remang di antara lampu kota, ia menyusuri jejak waktu yang terasa lambat dan menyakitkan. Lalu suara ponselnya tiba-tiba membuat amarahnya berubah menjadi was-was tak terhentikan.
"abang.. mba Wita belum ada di rumah. Revita barusan nanyain, nomornya sulit dihubungi".
Andra setengah terengah mengatakan hal tersebut pada Wisnu.
"kirimkan posisinya Ndra, lacak!!!".
Wisnu lesatkan mobilnya menuju tempat yang Andra kirim. Kini degup jantungnya tak dapat ia tahan lagi untuk berdetak kencang saat melihat kemacetan dan riuh orang-orang berkumpul disertai suara ambulance.
Amarahnya nyatanya tak dapat menghapus jejak cinta yang ia toreh pada hati sang Wita.
Jangan Wita, tolonglah ya Allah.. jangan Wita!!
Wisnu lalu memutuskan menepikan mobilnya. Turun dan berlari ke arah titik yang GPS ponselnya tunjukkan.
Diedarkannya pandangan ke segala arah. Hingga berhenti pada satu titik. Pada seonggok manusia rapuh yang berjongkok di tepian trotoar jalan. Nampak menggigil, menangkup wajahnya pada pangkuan dirinya sendiri.
Wisnu berlari tanpa aba-aba ke arahnya. Dilihatnya tangan Wita gemetar, sedang suara lirih tangis terdengar begitu menyakitkan.
"Wita..", suaranya menyapa sang gadis dengan menyamakan posisi duduknya yang berjongkok.
Wita mendongkak melihat ke arah suara. Sedang gigilan dan gemetar tubuhnya belum dapat ia kendalikan. Ditatapnya Wisnu dengan sendu.. tatapan mendalam atas luka yang tercatat pada sejarah hidupnya. Lelaki yang tadi siang ia beri kepahitan. Lelaki yang tadi siang telah ia buang ke pelataran terasing dalam hidupnya.
"gak apa-apa Wita, semua baik-baik saja, semua sudah berlalu..!"
Wisnu memberinya harapan pada kemenangan peperangan jiwanya. "kamu wanita hebat Wita!, aku.. takkan berhenti mencintaimu".
Sepenggal kalimat yang mengantarkan air mata jatuh di peraduan hati, menyelusup diam dalam rindu tak terperi.
###
cinta,! untuk hari ini...
semoga kalian senantiasa dinaungi kasih dan sayang dalam cinta yang sejatiπ€²π€²π€²πππ
please ... yang suka follow IG, FB dan akun aku di NT ini yaππππ
__ADS_1