Selesa Rindu

Selesa Rindu
Amarah


__ADS_3

nafas cintaku telah mengarang


memburu amarah dalam-dalam


karena kau menggumam bisu dalam lari


hingga aku mati dalam hidup


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Andra


Buku dalam genggamannya hanya dapat ia sentuh dengan pegangan yang erat. Terus menimbang-nimbang apakah buku dihadapannya itu layak ia baca. Tetehnya memberikan buku ini sebelum ia menstarter mobil sport mewahnya untuk melanjutkan aktifitas kesehariannya di Jakarta. “ini udah teteh baca, PR katanya buat orang tua Adhis supaya baca buku ini. Bagus banget menurut teteh, teteh juga jadi termotivasi untuk terus lebih baik. Jadi mamanya Risyad sama jadi mamanya anak kamu yang ngegemesin itu”.


Buah tangan yang seharusnya memberinya kebahagiaan, namun hadiah yang ia terima dari sang kakak kali ini tak sedikitpun membuatnya bahagia. Bahkan saat perjalanannya tadi ia menjadi sosok pembalap dunia merupa Lewis Hamilton yang berpacu menjadikan jalanan layaknya pacuan F1 sepanjang jalan tol Bandung-Jakarta. Menancapkan gas berkecepatan tinggi hingga ia sendiri tak mengerti waktu apa yang sedang ia buru.


“Pak Wisnu!” Andra memecah lamunannya. “hari ini meeting kita dengan jajaran direksi, sekitar lima belas menit lagi. Apa perlu saya undur waktunya?” Andra memutuskan bertanya karena sedari tadi koneksi pikiran Wisnu seperti berada di pelosok pegunungan yang sulit terjangkau. “tidak usah, kamu siapkan segala berkasnya!” jawab Wisnu sambil melangkah menuju pintu ruang kantornya.


Andra mengangguk dan segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh atasannya itu. Ia sedikit melirik apa yang sedari tadi mengganggu pikiran Wisnu. Dilihatnya sebuah buku tebal berwarna abu muda dengan judul INI CERITA-CERITA TENTANGKU. Dibukanya buku tersebut, sekilas ia melihat daftar isi yang terpampang dalam buku tersebut. Memuat beberapa tema tentang anak-anak usia dini. Andra hanya menggelengkan kepala, sedikit tidak faham dan lebih baik memutuskan untuk tak usah ambil pusing. Ia tutup kembali buku yang ia buka tersebut, lalu sedikit mengernyitkan dahi saat membaca sesuatu di sampul buku tersebut; penulis: Dewita Maharani.


Rapat panjang yang sangat alot menguras energi beberapa orang yang berada di ruang rapat. Menganalisa dan membahas tentang Kontrak Rancang dan Bangun (Design and Build) yang baru saja pemerintah keluarkan dalam Permen No 25 tahun 2020. Durasi yang sangat panjang hingga melebihi batas waktu berkumandangnya adzan di petang hari. Rapat lalu dihentikan setelah sang pimpinan rapat memutuskan menunda pembahasan rapat hari itu.


Kegiatannya ia lanjutkan dengan menemui beberapa klien di beberapa hotel berbintang kota Jakarta. Membuat suatu kesepakatan yang akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak. Waktu di jam tangan mewah berlabel Rolex dengan bandrol setengah milyar yang dipakai di tangan kiri Wisnu, menunjukkan pukul 22. 45 WIB. Ia masih saja menekuri berbagai laporan di layar tabletnya bersama suara denting piano di resto hotel tempat terakhir pertemuannya dengan klien hari ini. Sedang kliennya sudah berpamitan dengannya sejak satu jam yang lalu.

__ADS_1


“Dra.. kamu gak pulang? Jam kerjamu udah habis dari tadi” pertanyaan Wisnu memecah lamunan Andra yang sedari tadi menimbang-nimbang sebuah pertanyaan yang ingin ia lontarkan.


“bang..” Andra menjeda ucapannya.


“apa dra, pasti ada maunya. Manggil abang..abang..” ucap Wisnu seraya meneguk secangkir kopi hangat suguhan hotel langganannya itu. Andra baginya adalah sesosok sahabat sekaligus ia anggap sebagai adik yang selalu dapat ia andalkan. Dalam pekerjaan, atau dalam organisansi kampusnya dulu. Meski ia berada hanya setingkat di diatas Andra, tapi Andra selalu menganggapnya sebagai seorang kakak yang penuh kehangatan dan setia terhadap solidaritas.


“abang.. sudah menemukan Wita?”.


Kopi hangat yang ditegus Wisnu mendadak terasa pahit saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Menemukan? Apakah memang dia sedang mencari? Tidak!, dia tidak sedang mencari keberadaan Wita. Ia bahkan berniat lari ke ujung dunia untuk menghapus segala jejak yang berkaitan dengan Wita. Lalu sekarang Andra bertanya tentang ‘menemukan’? brengsek!!.


“kamu tahu apa Andra? Tentang apa yang sedang aku lakukan dan aku hadapi saat ini”, tanya Wisnu pada Andra dengan sekerat amarah yang membuncah.


“setidaknya abang bisa bertanya. Mengapa dia tega melakukannya. Abang bahkan tak sempat mengatakan apapun pada Wita saat abang memutuskan untuk pergi ke Swiss. Atau…” Andra menjeda memantapkan keberaniannya untuk melanjutkan kalimatnya. “abang bisa mengucapkan kata selamat dan memberinya doa atas pernikahannya”.


“tapi abang harus memastikan itu. Hingga abang layak dan pantas menyebutnya sebagai sosok wanita yang tidak istimewa”.


“kamu tidak tahu apa-apa Andra!, apa kamu merasakan nyerinya melihat kekasihmu melalui mata dan kepalamu sendiri dengan setianya bersama lelaki lain, memilih berbagai barang berharga yang akan menjadi kenangan manis pernikahan mereka?. Lalu wanita itu mengombang-ambingkan hatimu tanpa kata dan bicara. Aku bukan tidak berusaha menghubunginya. Aku...setelah itu.. mendatangi rumahnya berkali-kali, bahkan berbulan-bulan. Tapi apa nyatanya? Jawaban yang aku dapatkan hanya pernyataan tetangganya yang mengatakan mereka sekeluarga pergi ke luar kota. Kemana lagi jika bukan ke tempat lelaki bengsek itu, yang ia nikahi setelah tega mengkhiantaiku”. Mata Wisnu mendadak merah menyalakan amarah. Marah pada Andra? Atau pada kenyataan hidupnya?


“saya hanya khawatir, kita sedang salah menyimpulkan sesuatu”, kalimat penutup yang diberikan Andra malam itu memukul ngeri dada dan jiwanya. Kesimpulan mana yang Andra maksud, bukankah ia hanyalah manusia yang terus berpijak dengan segala rencana yang diberikan Tuhan?. Bahkan jika ia terus meronta meminta segala penjelasan tentang nasibnya yang tak masuk akal ia tetap medapatkan kisah yang sama, ditinggalkan!.


Malam itu, ia tak memiliki tujuan pulang yang jelas. Rumah? Apartemen? Menemui sahabat?. Menjenguk sang paman yang sudah renta? Entahlah.. kendaraan roda empatnya terus mengitari jalanan ibu kota. Sedang jarum jam di tangannya telah menunjukkan angka 01.30 dini hari. Ia sedikit linglung, ke arah mana mobilnya akan ia tuju. Hingga tanpa ia sadari mobilnya telah menepi di depan sebuah gedung pencakar langit yang menawarkan kegagahan dengan kilapan cahaya lampu-lampu, Art and De, gedung kantornya sendiri.


“selamat malam pak, eh pagi..” tanya sang security perusahaannya dengan ragu. “masih ada kerjaan pak Wisnu?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“ada yang tertinggal bang. Saya ke atas dulu.” Jawab Wisnu


Setibanya di ruang kantornya, tempatnya mencumbu waktu untuk terus belalu, ia lemparkan jas hitam yang hari ini ia kenakan ke atas sofa. Dilintingnya lengan kemeja putih yang ia kenakan. Dilonggarkannya dasi yang mencekik lehernya, dibukanya kancing kerah kemeja, lalu ia teguk sebotol air dingin yang ia ambil dari lemari pendingin.


Ia lalu menjatuhkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk. Matanya lalu menatap ragu seonggok buku bersampul abu pemberian sang kakak beberapa hari lalu yang tak sedikitpun ia baca. Matanya terus memindai judul buku yang ia pegang.


INI CERITA-CERITA TENTANGKU


Penulis: Dewita Maharani


Dengan gemetar ia buka sampul buku tersebut, dilihatnya beberapa kalimat pengantar dari berbagai tokoh. Lalu ia buka baris-baris daftar isi. Hingga sampai di lembar ke-5 tangannya terhenti, melihat sebuah gambar yang ia kenali dulu, kepala berkepang dengan wajah lucu merupa karikatur seorang anak, membubuhi halaman pertama menjadi sampul dari subtema sang penulis. Mendadak dadanya bergemuruh, tubuhnya berkeringat dan nafasnya tersengat.


“aaarrrrgggghhhh..!!” ia lempar buku itu ke arah lemari yang menjadi interior ruangannya.


BRAAK


PRAAANGGG


Bukunya tergeletak jatuh bersamaan dengan lampion hias di atas lemari yang terbuat dari kaca. Apalagi yang harus ia lakukan, apalagi.


Sekali lagi ia meluapkan segala emosinya yang menyesakkan dada.


“aaarrrrgggghhhh..!!”.

__ADS_1


__ADS_2