
Hujanku menyentuh langit malam
menyegarkan gersang musim lalu
bau tanah basah menggeliatkan hasratku
kau keindahan malamku
-Wisnu-
Bandung, Wisnu-Wita
Wisnu Pov
"Sayaang... itu penumpangnya gak apa-apa. Kakinya terluka, tapi akan baik-baik saja. Kita mau lihat ke sana?" aku mencoba menenangkan dirinya. Membantunya menegakkan keberanian melawan perih yang ia alami di masa lalu.
Ia menggelengkan kepala tanda tak setuju. "Okeey.. baik!" ucapku mengiyakan permohonannya. "Macetnya sudah terlerai nih.. kita lanjut ya.. jalan?".
Wita mengangguk dan aku menegakkan tubuhku kembali. Memegang setir dengan tangan kanan dan memastikan tangan Wita tetap dalam genggaman tangan kiriku.
Aku melajukan mobilku dan mengarahkan kendaraan ini menuju sebuah gedung bertingkat yang megah. Sepertinya niatku untuk bermalam di kota Bogor hari ini bersama Wita harus urung. Aku mencari hotel terdekat mengingat bajunya yang basah membaluti tubuhnya.
"Malam ini.. kita tidur di sini saja ya? Terlalu jauh kalau kita pulang. Aku hubungi ibu setelah tiba di kamar", Wita diam dan menganggukan kepalanya. Aku tak mengutarakan niatku membawanya ke villa indah nan sejuk di kota Bogor, karena bagiku percuma saja.
"Kamu.. nanti ganti sama baju aku aja dulu, ada kemeja di tas ku", sambil memusatkan konsentrasiku aku tersenyum sendiri membayangkan Witaku mengenakan kemeja putih milikku.
"Wita ada baju ko.. tadi Mamah Adhis ngasih", suaranya baru terdengar setelah kurasakan tangannya tak lagi gemetar.
****
"Kamu sudah makan?", tanyaku setibanya di kamar milik kami. Kamar yang cukup bisa membuatku tak lagi berkonsentrasi. Ia hari ini melawan trauma masa lalu, sedang aku melawan kegrogianku. Ya ampuun.. aku berada dengan wanita yang halal bagiku, tapi kenapa rasanya jantungku belum sepenuhnya berjalan normal?
"Mas Wisnu sudah makan?" ia malah balik bertanya.
"Aku.. belum sempat istriku.. keburu kangen sama kamu", aku mencubit hidungnya gemas. Senang rasanya mendapatkan perhatian kecil ini darinya.
"Wita juga belum" jawabnya.
"Ya sudah kita pesan ya..".
"Kamu ganti baju gih! nanti kedinginan. Aku shalat dulu".
"Wita gantinya di kamar mandi saja"
__ADS_1
Ya ampun Wita!, gadis SMA yang pernah aku taksir ini benar-benar pemalu. Ia beranjak menuju kamar mandi membawa tas kecil berupa totebag yang kuduga sebagai baju pemberian kakakku.
Aku lalu menghadapkan tubuhku menghadap kiblat. Shalat Isya-ku yang tertunda aku tunaikan malam ini di hotel yang bukan menjadi rencana awalku. Aku akhiri shalatku ini dengan zikir dan doa yang separuhnya aku persembahkan untuk wanita yang aku cintai. Ya Allah.. bimbing aku untuk senantiasa menjadi imamnya, pemilik cintanya, penabur bahagianya.
Lima belas menit aku menunggu. Aku tak kunjung mendapati Wita keluar dari kamar mandi. Apa yang terjadi di dalam? Tak terdengar suara gemerecik air sejak tadi. Aku memanggilnya seraya melipat sajadah dan sarung yang aku pakai. "Wita.. Wit.. lagi apa? kok lama? udah ganti bajunya?"
"Iya mas.. Sebentar! Wita keluar sekarang".
Aku dengar suara pintu bergeser. Lalu aku terpana dengan pemandangan yang kulihat di bibir pintu kamar mandi itu. Witaku.. ia teramat indah untuk dilukiskan.
Rambut hitamnya yang tergerai, menyentuh lengan putih nan mulus miliknya. Dadanya leluasa menampakkan nafas tak beraturan darinya. Tangannya tak henti memegangi gaun yang membiarkan kaki dan pahanya tersuguh indah untukku.
"Wita gak tau.. bajunya kekecilan" ucapnya malu-malu. Kecil yang ia anggap karena baju yang ia lekatkan pada tubuhnya terlalu... ah.. sulit aku sebutkan.
"Gaunnya pas untukmu. Cantik!", ucapku sambil menghampirinya. Gaun berbahan brukat warna merah muda yang mengekspos lehernya yang jenjang dengan tali tipis menghubungkan bagian dress tersebut, memberi sang pemilik tubuh keleluasaan dalam menyeruakkan tubuh indah nan sempurna.
Belum sempat aku menyentuh dirinya, suara ketukan pintu kamar menghentikan langkahku. "Makanan kita tiba", ucapku sambil tersenyum dan membuka pintu kamar lalu menerima makanan pesananku barusan.
Aku menikmati makan malamku dengan wanitaku hari ini. Ia juga terlihat menikmati dan melupakan kejadian yang membuatnya berbasah-basahan di jalanan tadi. Lama kami bercengkrama. Aku berubah menjadi reporter yang mewawancarainya tentang apa saja yang dilakukannya hari ini. Ya.. aku tak perlu membawanya pada obrolan-obrolan yang terlalu berat. Sampai akhirnya, aku memintanya menemaiku untuk tidur di atas ranjang kami.
"Sini Yang... tidur!"
Dengan ragu dan malu-malu ia duduk menepi di ranjang kami. Ia menegakkan tubuhnya bersandar pada bantal yang telah aku tumpuk untuknya.
"Katanya perawatan pengantin. Satu paket".
"Rinciannya?" tanyaku usil.
"Manicure dan Pedicure"
"Owh ya?" kukecup kedua punggung tangannya dan kunikmati halus sentuhan jemarinya.
"Lalu?"
"Creambath"
Aku menggeser tubuhku dan kuhirup rambutnya perlahan. "Hmmm... wangi sekali".
"Lalu?"
"Facial"
Kuusap lembut kedua pipinya dengan jemari jempolku dan kukecup perlahan keningnya, kedua matanya, hidungnya, pipinya dan... bibirnya. Perlahan aku hantarkan rasa rindu ini pada sang pemilik hati hingga singgah semakin mendalam. Enggan untuk beranjak dan terus melabuhkan hasrat yang aku miliki.
__ADS_1
"Lalu?", ucapku semakin berat dalam remang jiwa tak tertahan.
"Body spa".
Kusibak rambutnya dan kutelusuri leher jenjangnya dengan hembusan nafasku hingga hidungku mencium aroma tubuhnya. Aku tititpkan rindu ini pada geliat pasrah yang kulihat dalam getar dadanya yang bergejolak.
"Lalu?", ucapku semakin berat dan mengerat pada gerakan tak henti menelusuri setiap inci batas cinta dan rindu yang ia hadirkan untukku.
"Itu..."
"Apa sayang?" tanyaku dengan mata terpejam menghirup wanginya tubuh yang ia miliki.
"itu... mas" jawabnya parau.
Aku mendongkak, "itu apa?", godaku saat kini tanpa sadar ia tengah berada dalam kungkunganku. Kutopang kedua tanganku dengan sikut yang menekuk demi memindai wajah cantik wanita halalku ini.
"Itu mas.. ya.. itu.." jawabnya malu-malu.
"ini?..", tanyaku saat jemari kiriku menyentuh apa yang ia maksud. Ia bergelinjang dan mengangguk pelan. Ia mencengkram kedua lenganku keras lalu memejamkan mata saat jemariku bergerak.
Aku tersenyum menikmatinya. "Sudah boleh? malam ini?" bisikku di telinganya.
Ia mengatur nafasnya dan berhenti saat kembali membuka pejaman matanya. Jemarinya menyentuh wajahku, mengusap lembut alis mataku, dan menyisir rambut di keningku.
"Wita untuk mas Wisnu.. mengapa tidak boleh?"
Ah Wita.. Kau memang keindahan bagiku. Tutur kata dan perilakumu mengikat aku pada sebuah cinta yang tak bisa kulepas bebas begitu saja.
Kurafalkan doa dalam hatiku, lalu kusentuh setiap inci dari lembutnya faras indah ini. Kualunkan melodi-melodi indah pada jiwanya. Aku terbang ke alam cinta yang memabukan. Kukeluhkan segala keinginan hasratku pada malam indah berteman rintik hujan untuk wanitaku yang lembut dan penuh gairah.
Aku dengar rintihan merdu cintanya yang mendamba atas diriku. Mendesis dan mengesah, mengerang dan mendesir. Membagi rasa dan hasrat ini, menelanjangi segala lemah dan kuatku. Aku ayunkan kesejatian hidup tentang hubungan hati bernilai suci.
Belum tuntas aku tebus kerinduanku ini, sudut matanya berlinang air mata. Dalam peluh kuusap matanya perlahan. "Sakit?" kutanyakan padanya. Pertanyaan yang sesungguhnya tak perlu mendapatkan jawaban.
Ia tersenyum menjawab kekhawatiranku. Lalu dengan cintanya itu aku hanyut dalam pelepasan rindu yang menggema menjadi kesyahduan tak terhingga.
"Aaaaahhhh... sayaaaang...".
Wita.. kau wanita terindah yang kumiliki!
####
hadiaaah sekeboooon buat Wisnuuuu🙏🙏🙏 udah berhasil hari ini... yeaaaay....🕺🕺🕺
__ADS_1
yang gerah... kipas kipaaaas....🤣🤣🤣🤣