
Biar aku habiskan air mata hari ini
Agar esok tak ada lagi perih
Aku catat pada buku hatiku
Aku selesai!
-Wita-
Bandung, Lanis-Rani-Wita
“aku hanya menduga-duga selama ini”, Lanis memulai perbincangannya dengan Rani. Awalnya Lanis ragu untuk mendiskusikan hal ini pada sang sahabat. Tetapi jangan sebut Rani jika ia tak berjuang sampai titik darah penghabisan. Hahaha, Lanis kadang merasa lucu sendiri melihat ulah sahabat gesitnya itu. Setelah berkali-kali ia dihujani pesan melalui chat oleh Rani, telepon dan video call, Lanis akhirnya menyerah tatkala sang sahabat menandangi kediamannya dengan sekantong buah alpukat yang dapat ia estimasi sekitar dua koma lima kilogram. Ah Rani, kamu memang selalu begitu..
“Dia itu sahabat kita Lan, tidak tercatat sebagai pasien kamu kan?” kalimat itu menjadi salah satu pertimbangan yang Lanis pikirkan selama semalaman. Ia tahu betul bahwa dirinya tak dapat melihat Wita selama durasi yang dimiliki waktu oleh Rani. Ia tentu akan banyak mendapatkan bantuan dari Rani, untuk memastikan bahwa Wita baik-baik saja. Rani bahkan telah menyadarkan dirinya bahwa ia tak punya hak untuk menyembunyikan hal ini semua. Tentu, karena Wita bukanlah pasien dirinya. Meski sesungguhnya, ia seorang dokter yang senantiasa menjunjung tinggi kerahasiaan data pasien. Tapi tetap, Wita bukanlah pasiennya, ia hanyalah sahabatnya yang telah hilang merupa sosok baru penuh duka.
“Wita sudah lama mengalami semacam trauma pasca kecelakaan”, Lanis melanjutkan perbincangan mereka dengan sekepul teh dan santapan biskuit yang baru ia beli dari minimarket. “Awalnya aku mengira bahwa kecelakaanlah pemicunya, tetapi setelah berbagai terapi yang aku lakukan , ya.. diluar ruang klinisku maksudku, tidak juga membuahkan hasil. Aku coba kaitkan dengan apa yang berhubungan pada kecelakaan itu, gedung wedding organizer, mobil merah, atau ponsel genggamnya tapi sepertinya tidak ada kausal diantara hal tersebut dengan trauma yang dialaminya”.
“aku tidak dapat memecahkannya sama sekali, apa pemicu dari segala reaksi tubuh Wita selama 5 tahun ini. Ia tak sedikit pun membuka dirinya untuk bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapinya”.
“keluarganya tahu?” tanya Rani.
__ADS_1
Lanis menarik nafas panjang seraya menyeruput teh hangat buatannya sendiri di ruang tengah miliknya. “sayangnya gak ada seorang pun yang tahu kecuali kita. Hebatnya Wita, ia bisa mengontrol dirinya ketika gejala kejiwaannya itu datang, ia punya rumah sendiri. Ya... walaupun sejenis perumahan kecil yang masih ia cicil, tapi sepertinya tempat itu yang ia jadikan sebagai tempat persembunyian dalam menenangkan diri, tanpa melibatkan keluarganya”.
Rani menggelengkan kepala, ia sudah banyak tertinggal informasi tentang sahabatnya. “Wita gak pernah cerita sama sekali tentang bebannya itu ke aku Lan”.
“ia hanya sesekali datang menemuiku jika mengalami gejala-gejala yang tidak normal. Kecemasan berlebih, insomnia, mimpi buruk, atau.. mungkin kamu pernah melihat dia muntah-muntah?” tanya Lanis.
“seingatku memang ia suka sesekali medadak mengunci diri di ruang kerjanya. Kadang titip pesan sama aku supaya gak ada yang menemuinya beberapa jam. Tapi aku pikir emang karena pekerjaan. Hhmmmmz… pernah juga sih menurut aku memang agak aneh..” Rani mulai memicingkan bola matanya mengingat-ngingat kejadian dua tahun yang lalu. “kira-kira dua tahun lalu lah”.
“kejadian seperti apa?” tanya Lanis penasaran.
“Wita mendadak menemuiku, katanya dadanya sesak, susah nafas. Tapi aku kan tahu dia gak punya riwayat asma atau yang lainnya”. Rani menjelaskan kembali. Pasca kecelakaan yang menimpa Wita, Rani memang selalu mengawasi ruang gerak Wita bahkan menarik sahabatnya itu untuk berada di dekatnya dengan membawanya ke sekolah Embun Gemintang. Ia hanya khawatir bahwa pemulihan kesehatan sahabatnnya masih belum sempurna. Tapi dirinya benar-benar tidak menyangka jika Wita akan mengalami hal seburuk ini.
“sebelum kejadian pingsan kemarin, apa ada sesuatu yang aneh?” tanya Lanis.
“kamu tahu penyebabnya? Maksudnya setelah kejadian apa?”. Tanya Lanis tidak sabar.
“aku gak tahu, soalnya terakhir aku lihat dia lari dari gedung pertemuan”.
Lanis kembali menghela nafas. Wita dari dulu memang istimewa, sifatnya yang tak mudah mengeluh, mudah menerima dan simple justru membawa dirinya pada situasi yang seperti ini.
“jadi kuncinya lelaki yang bernama Wisnu?” tanya Rani menghentikan pikiran Lanis yang melayang ke masa SMA nya dulu.
__ADS_1
“aku rasa iya, sebab tangisnya yang pecah kemarin telah menggambarkan sedikit apa yang terjadi di balik bebannya itu. Segala benteng pertahanan yang selama ini ia bangun, runtuh ketika kemarin ia luapkan segalanya”. Jawab Lanis.
“apa pertanda baik?” tanya Rani.
“semoga, karena dengan demikian ia mulai dapat membuka diri dan mampu memaafkan masa lalunya. Memaafkan dirinya sendiri”. Tentu saja, setelah kemarin keduanya mendengar Wita yang berbeda, meraung-raung pada tangis yang pecah dengan kata-kata yang menghujam dada.
“aku hanya ingin menyaksikan dia bahagia, dia bahagia!!. Karena aku tidak termaafkan, tidak termaafkan!!.”.
“kamu sudah memastikannya Wita?” tanya Lanis.
Lanis, bahkan Rani, tak dapat menyangka dengan apa yang terjadi pada sang sahabat. Yang benar saja Wita, kamu menderita karena sesuatu yang tak selesai?. Nyeri dan pilu yang Wita rasakan nyatanya terus menggerogoti. Lantas apa yang dilakukannya dengan mencari sosok Wisnu setelah satu tahun menjeda pada ketidaktahuan dirinya menjadi perkara yang mengakar dan menghujam dada. Perih dan pelik Wita rasakan saat sebuah foto dalam ponsel dirinya ia pertunjukan pada Lanis dan Rani malam itu. Sepasang pengantin berhias jas dan gaun sederhana dengan nama yang bertengger: Swiss, Wisnu Permana-Alivia Cantik Restari.
Angkat topi, untuk Wita dari kedua sahabat yang dalam sekejap menitikan air mata. Keputusan yang telah dibuat Wita untuk meminjam kata “ikhlas” dalam hidupnya. Menyerahkan sepenuhnya kebahagiaan Wisnu pada sebuah cerita baru dengan segenap mimpi dan cita-cita yang dimiliki sang lelaki. Wita bahkan telah menorehkan keputusan terpahit yang ia jalani, menggeluti patahnya hati yang retak melalui kisah yang ia sendiri tak tahu berpangkal dari mana dengan kesendirian. Izinkan Wisnu bahagia, biar ia tebus segala kesalahannya dengan lantunan doa dan rindu.
Namun, sepertinya Wita telah salah membuat perhitungan. Hidup tak mesti merupa bujur sangkar yang terpetak pada ukuran yang pasti dan menyudut pada empat sudut yang runcing. Nayatanya kejadian kemarin yang menyebabkan Wita hingga pingsan bukan hal yang bisa ditolelir. Hal ini harus segera dihentikan. Wita, sudah waktunya kamu beranjak dari luka itu. Rasa bersalahmu bukanlah jawaban atas kebahagiaan orang lain. Bukan dirimu yang berkewajiban memberikan kebahagiaan bagi orang lain, bukan pula dirimu yang mempunyai kuasa untuk memberikan kesedihan pada orang lain. Kamu hanya perlu menatap yakin bahwa setiap jiwa terlahir dengan takdirnya masing-masing.
********
sayang-sayaang reader semua... 🤗hai maafkan aku baru nongol🙈. mas Wisnu sebetulnya terus aja berputar-putar dalam haluku. apalagi tu neng Wita udah mulai mau move on nih...
butuh energi banyak nih buat lanjut ke episode berikutnya.😭😭😭
__ADS_1
suntik aku sama energi postif kaliaaan ya... like, share en komeeen di tiap episodenya. 🙏🙏. nanti aku salamin ke mas Wisnu biar selalu datang tiap hari🤭🤭🤭