
Mari berbicara kemarin
bukan untuk luka
tapi untuk cinta dan rindu
yang belum terbayar di masa lalu
-Wisnu-
Bandung, Wisnu-Wita-Andra-Kang Indra
Wisnu tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Sore ini semestinya ia bisa menikmati hari dengan tenang. Terlebih sepanjang hari ia habiskan tanpa Wita. Ia tak akan menyalahkan Wita dengan rasa sepi yang ia rasakan sejak pagi hingga sore. Melihat Wita dengan pakaian kerjanya lalu sekilas mengetahui betapa Witanya itu memiliki sejumput ilmu jiwa membuat istrinya itu nampak begitu memesona, 'seksi'.
"Pak Wisnu.. saya benar-benar minta maaf!" Andra kini memancing kekesalan. Ayolah Andra, beri waktu sehari lagi saja. Ia belum bisa berpisah dengan Witanya.
"Jatah cutiku sampai lusa kan Ndra, kamu itu gimana sih?" jawab Wisnu setengah menahan diri untuk marah dengan nasibnya. Nasib jika kini ia mesti menghadapi lagi dunia nyata, bekerja di ibu kota.
"Pak Direktur, saya minta pemotongan satu hari jatah cuti anda. Semoga anda berkenan!". Andra.. beginilah kalau titahnya sudah menggema.
"Terserah kamu lah Ndra! Pusing saya. Makanya kamu cepetan kawin biar kamu ngerasain gimana rasanya jadi pengantin baru, dikejar mesti kerja melulu sama asisten pribadi macem dirimu!"
"Ahahahaha.. Baiklah baaang... aku kasih bonus lah. Kabar gembira buat manten di sore hari. hahahah"
"Apaan? awas aja kalau kabar gembiranya gak bikin aku gembira!!!"
"Mana ada bang kabar gembira bikin sedih. Ya kabar gembira itu bikin kita gembira".
"Oke .. Apa?"
"Beuh.. keselnya belum habis nih" goda Andra dibalik ponselnya. "Oke-oke! Ini saya ada kabar dari Pak Acep, dia udah mau ngasih tanahnya buat kita beli. Aku langsung eksekusi aja atau gimana?"
"Harga gimana?"
"Harga aman bang".
"Oke .. dealkan saja! Kasih juga bingkisan ke Pak Acep, beliau teman almarhum ayah Wita katanya".
"Iya bang siap. Jadi..", Andra menjeda. "Besok ngantor ya Bang?! Bener-bener gak bisa diwakilkan sama yang lain ini".
Wisnu menghela nafas panjang. Ia tatap Witanya yang kini tengah tertawa lepas dengan teh Rumi melihat kelucuan Adhis di taman belakang rumah kakak perempuannya itu. Wisnu tersenyum sendiri dengan ulah konyolnya barusan. Tiba-tiba emosinya tersulut akibat sesuatu yang sesungguhnya bukan hal yang fatal. Amanah yang diembannya sebagai pemimpin perusahaan tentu membawanya pada keharusan siap sedia bertarung dalam situasi apapun.
Sungguh, rindu yang dimilikinya tak akan pernah habis oleh apapun. Sekalipun semalam Witanya tak lepas dalam dekapannya. Sekalipun mentari menyambut senyum indahnya bersama sunggingan bibir istrinya. Sekalipun tangan lembut istrinya senantiasa dalam sentuhan jemarinya. Tangki rindunya selalu terisi penuh tanpa celah.
"Gak usah segitunya natap istri!" sebuah tepukan di punggung dirasakan Wisnu. Sang kakak ipar yang menyadarkan dirinya seolah memergoki dirinya yang tengah mencuri-curi pandang untuk Wita.
__ADS_1
"Eh kang.."
"Mau temani akang? akang sekalian pengen konsul soal villa yang mau akang bangun di daerah Dago. Akang punya uangnya terbatas, tapi hasilnya pengen bagus". Kang Indra mengacungkan secangkir kopi yang mengepul.
"Boleh", Wisnu mengikuti langkah kakak iparnya menuju ruang tamu. Duduk berduaan bersama kang Indra membuatnya mengingat masa lalu. Saat ia dengan egoisnya memilih pergi meninggalkan ibu. Kang Indra adalah orang yang pertama mendengarkan segala keluh dan kesahnya.
"Gimana Wita? Gak ada kendala dengan kalian?". Kang Indra memulai obrolan mereka dengan pertanyaan absurd. Kendala bagian mananya yang kang Indra maksud?
"Sejauh ini aman kang".
"Kalian menikah dengan sejarah masa lalu bukanlah hal yang mudah. Sudah kalian selesaikan kisah masa lalu kalian?"
"Secara serius membicarakan kesalahan Wisnu pada Wita sih belum pernah Wisnu bicarakan. Tapi Wisnu sudah minta maaf sama Wita. Kesalahan Wisnu akan Wisnu tebus dengan rencana kehidupan kami dengan lebih baik".
"Iya.. bagus kalau begitu! Kamu, juga harus mulai belajar ada prinsip tabayyun dalam hal yang belum jelas kebenarannya. Komunikasikan apapun kelak dalam rumah tanggamu agar kejadian di masa lalu tak terulang lagi"
"Apalagi dalam membangun kehidupan berrumah tangga, komunikasi, kepercayaan, saling melindungi, saling melengkapi adalah hal yang mutlak harus dimiliki".
Wisnu menunduk, mencermati setiap kata yang terlontar dari kakaknya ini.
"...."
"Dan kamu.. yang akan menjadi pemimpinnya. Kamu tak boleh lagi kalah dengan ego dan amarah sesaat. Mulai coba kendalikan apa yang menerpa setiap hal!"
"..."
Wisnu tersenyum mendapati pujian kang Indra. Tentu saja, banyak pecut yang mendera hidupnya. Banyak pula kehampaan yang menggelayuti hatinya. Ia akan terus belajar dari masa lalu. Kebutaan cintanya tak akan lagi mendorong dirinya hanyut dalam ego dan amarah.
"Mau berapa lama Wita di Bandung?"
"Sehabis resepsi Wisnu berniat membawa Wita ke Jakarta, kayaknya gak bakalan sehat buat hubungan aku sama Wita kalau kita berjauhan". Bukan! bukan sehat untuk Wisnu dan Wita, lebih tepatnya tak baik untuk kesehatan hati dirinya. Membayangkan berjauhan dengan Wita sama saja meminta dirinya mengundurkan diri dari kebahagiaannya. Baru saja Andra meminta untuk pergi ke Jakarta sedang Wita harus berada di Bandung sebab sang istri masih terikat pekerjaan, hal itu sudah membuat kepalanya pening bukan main.
"Apalagi Adhis juga kan sekolah di Jakarta. Kasihan dia kalau harus pindah lagi" lanjutnya lagi membuat pembelaan.
"Itu yang akang maksud. Itu lebih baik. Bawa istrimu, kemanapun kamu pergi. Kamu itu, tipe laki-laki pencemburu. Kalau menjalin hubungan berjauhan.. apa namanya?.. itu?..LDR an ya?.. itu gak baik buat kamu!"
"Hehehe.. iya kang!"
"Terus kamu mau ngasih Wita rumah yang mana? Bikin lagi? di apartemen? atau rumah yang sekarang?"
"Kamu sudah menyelesaikan hak waris Restari buat Adhis dan keluarganya kan?"
"Sudah kang.. soal warisan atas pernikahan Wisnu sama Restari, sudah aku selesaikan sebelum pulang ke Indonesia. Yang punya Adhis sudah aku pindahkan dalam bentuk tanah di Bogor. Kalau yang punya Wisnu.."
"Yang kamu sudah gak jadi masalah!" sela kang Indra.
__ADS_1
"Wisnu.. berniat membawa Wita ke rumah yang sekarang saja. Rumah itu Wisnu bangun setelah Restari meninggal. Jadi sudah gak ada masalah".
"Itu dia! clear kalau begitu.. Wita mempunyai hak untuk kamu nafkahi dengan cara yang benar".
"iya kang..."
*****
"Sang Kodok melompat dengan kencang mencoba menghindari harimau yang mengaum di tengah hutan". Wita memeragakan auman harimau dengan lucunya. Dapat dibayangkan oleh Wisnu, anak-anak didiknya itu pasti akan terhipnotis oleh kepiawaian Wita dalam bercerita saat berada di kelas.
Dilihatnya Adhis begitu terbuai mendengarkan dongeng sebelum tidur yang dikisahkan oleh Wita. Bersandar pada lengan dan setengah dada kiri Wita, Adhis mulai menguap dan terkantuk segera menjemput tidurnya malam ini.
Lalu Wisnu tak kalah meminta perhatian Witanya. Sejak Adhis dengan antusiasnya menyerahkan buku cerita yang ia beli bersama Wita tadi sore untuk diceritakan oleh sang bunda, Wisnu ikut tiduran menyandarkan kepalanya di kedua paha Wita yang duduk berselonjor di atas ranjang miliknya. Menikmati kehangatan keluarga kecilnya. Menjalarkan ketakjuban saat sang putri begitu menjinak bak anak ayam menemukan induknya.
Seketika ia rasakan usapan lembut di kening dan kepala melalui sentuhan jemari yang selalu ia rindui. "Mas.. Adhisnya udah tidur ini".
"Sebentar, aku rebahkan sekarang", Wisnu bergerak mengubah posisi Adhis untuk tertidur di ranjang milik Wita. Seranjang bertiga, sesuatu yang manis yang tak pernah terpikirkan jika mimpi itu menjadi nyata.
Wisnu kemudian menahan Wita yang akan beranjak dari duduknya. "Giliran ayah donk bunda!" rajuknya. "Aku juga pengen dikasih dongeng sebelum tidur", sembari merebahkan kembali kepalanya diatas pangkuan Wita, Wisnu tersenyum menatap istrinya.
"Dongeng apa sih mas? Sakadang monyet?" jawab Wita tersenyum geli.
"Dongeng tentang kamu kuliah dulu misalnya? katanya gak mau kuliah.. taunya udah s2 ajah".
"Gak ada yang istimewa mas waktu aku kuliah", Wita terus mengusap lembut dari kening hingga kepala Wisnu. "Aku lulus jurusan psikologi, gak nyangka juga soalnya kan susah masuk ke universitas negeri".
"Kamu itu pinter Wit... gak nyadar apa". Wisnu menarik dan mengecup jemari Wita yang tengah mengusap lembut alis matanya.
"Setahun berada di Jogja dan kuliah di sana, aku lalu memutuskan berkerudung. Hal istimewa pertamaku yang membuat hidup aku berubah".
"Awalnya kaku, tidak percaya diri tapi lama-lama yakin dan terbiasa".
"Pertama aku lihat kamu, di sekolahnya Adhis. Jantungku gak karuan. Aku benci, tapi sosokmu membuatku penasaran. Kamu.. membuatku terhipnotis dengan gaya bicara dan berjalanmu ke arahku", Wisnu kini duduk bersejajar dengan istrinya.
"Aku semarah itu, tanpa tahu kamu adalah sosok yang tetap aku inginkan selama ini".
Wita lalu memandangnya dengan hangat. Membuat degup jantungnya beradu dengan nafas tak teratur. Wita.. selalu membuat dirinya merasa cinta berteman asmara.
"Boleh ya? biar aku gak terlalu kangen besok sendirian di Jakarta", tanya Wisnu tiba-tiba sambil menurunkan rensleting baju istrinya dari arah kerah menuju bawah. Malam ini untuk yang kesekian malam-malam biasanya, selalu banyak alasan untuk mencumbu istrinya.
Dan.. tak ada secelah alasan pun bagi Wita untuk dapat menolak permintaannya.
###
tinggalkan kembali vote, like dan komennya ya man temaaan...
__ADS_1
makasih juga buat kaleaaan yg telah sudi membagikan novel aku ini. Semoga menjadi amal kebaikan buat kalian semua... sehat selalu🤲🤗😘