Selesa Rindu

Selesa Rindu
Menjelang Malam Indah


__ADS_3

Kutabur arang hitam di masa usang


membakar jiwanya yang kelam


terhenti di peraduan cinta


masa lalu.. enyahlah dengan senyap!!!


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Wita


Wisnu Pov


Sejak pagi aku tersenyum-senyum sendiri. Nikmat apa yang dapat aku dustakan?, setelah melihat pemandangan seindah ini. Adhis terbangun mendapati pelukan bundanya. Kemudian mandi dan mengganti pakaiannya bersama Wita. Riang dan ceria dengan nyanyian-nyanyian yang hanya dihafal oleh mereka. Ah.. mereka gak adil!


Aku seperti di anak tirikan. Aku cemburu! Padahal aku bahagia dengan pemandangan ini, tapi entah kenapa jantungku tidak baik-baik saja melihat Wita berlalu lalang dan mengabaikanku tanpa sedikit memedulikanku.


Hingga di luar dugaanku, aku melihat Wita menghampiriku. Aku masih bertelanjang dada duduk di tepi ranjang miliknya. Ia lalu mengobati luka jahit di lenganku dengan teliti. Aroma nafasnya sesekali menyentuh kulitku, aku merinding dan mencoba terus berkonsentrasi. Jantungku dag-dig-dug berdenyut lebih dari seratus kali permenit.


Tuntas mengoleskan obat di lenganku. Aku dilayaninya untuk berpakaian kemeja yang ia sediakan sendiri. Dua kali menyandang status suami, ini adalah kali pertama bagiku mendapat perhatian seindah ini. Saat bersama Restari kami hidup sendiri-sendiri. Melakoni dendam dan misi yang akhirnya menyerah pada kematian dan kekalahan.


Ah.. lupakan masa lalu, sebab pagi ini, tangan mulus istriku mulai merangkak naik ke arah kerah kemejaku. Jantungku terus bertalu, aku menggoyang-goyangkan jilbabnya menimbang-nimbang apakah kamar miliknya ini harus aku kunci sekarang. Tapi suara ponselku menyadarkanku bahwa pagi ini ada pertemuan penting yang tak bisa aku tinggakan, 'mumpung di Bandung' Andra bilang. Andra, akan aku utus kau ke kutub utara kalau terus membuatku sibuk!


Terburu-buru aku melajukan mobilku. Tanpa aku sadari ponselku tertinggal di kamar Wita. Aku kembali. Sesampainya di rumah aku menaiki tangga kamar hingga masuk ke kamar yang aku huni semalam dengan pintu terbuka.


Pemandangan indah kini tersuguh untukku. Lalu kunikmati pagi ini dengan ciuman panas beraroma kembang gula dari bibir wanitaku. Ia sedikit kehabisan nafas menerima ulahku, mengeratkan pegangannya pada jas navyku. Dan aku terhenti dengan suara ponsel yang menjadi alasanku kembali ke rumah. Aku merutuki nasibku hari ini yang harus menerima kendali Andra dengan jadwal meetingku. Andra! mengganggu sekali kamu!!!!


****


"Kamu teh kenapa wajah meni ditekuk kitu siga (seperti) korsi lipet nu geus karahaan (sudah karatan)?" Teh Rumi menyempurnakan kekesalanku. Kesal sebab Andra membuat jadwal yang tidak tepat untuk bekerja.


"Haahahaha.. bang Wisnu tu kesel sama aku Teh", ucap Andra yang sedang menyantap sarapannya. Tadi bilang aku harus buru-buru. Nyatanya aku harus bertolak ke rumah Teh Rumi dulu untuk menjemputnya. Dasar dunia terbalik!


"Aku tuh pengantin baru Ndra, jomblo kayak kamu mana faham" ledekku puas.


"Salah sendiri nikahnya dadakan. Aku udah jadwalin pak Wisnu cuti bulan madu itu ya bulan depan. Kan..rencananya nikah bulan depan".

__ADS_1


Aku diam tak menyangkal ucapannya. Aku tahu, dari pernikahanku yang dadakan itu, Andra adalah orang yang nampak begitu bahagia dan antusias mengurus segalanya.


"Kamu jadwal ulang lagi aja Ndra! Kasihan Wisnu, sekalian pemulihan juga", sela kang Indra membelaku.


Aku mengangguk-ngangguk dan tersenyum mendengarnya. Kang Indra memang pengertian. Seperti apa yang dimintanya juga pagi ini. Ia meminjam Adhis untuk menemaninya bersama Teh Rumi pada acara family gathering selama tiga hari dua malam ke depan. Aku menjadi faham, bahwa butuh banyak intuisi yang tak perlu diungkap dengan kata-kata untuk menjadi orang tua, layaknya kang Indra.


Aku jadi membayangkan Wita. Wita yang tadi pagi aku hadiahi ciuman akibat ulahnya yang sembarangan memakai handuk dengan rambut basahnya membuatku rindu. Bahkan saat aku meeting bersama klien yang dijadwalkan Andra ini, aku sulit berkonsentrasi.


Lalu siang ini, aku dikejutkan dengan pesan yang dikirim oleh wanita yang aku rindu. Ia meminta izin atas dirinya padahal yang dilakukannya bersama kakakku. Sebab aku mengamanahkannya untuk tak terlalu lelah ia mengira harus segera berada di rumah secepatnya.


Wita memang berangkat bersama kakakku, kakakku yang unik. Teh Rumi, ia memang ajaib. Mampu memberiku senyuman bahagia siang ini. Aku terkejut dengan ulahnya yang membawa Witaku untuk perawatan pengantin. Aku mendengar suara istriku begitu mendayu mengatakan bahwa ia masih meminta waktu. Ah.. aku jadi benar-benar rindu!


Hingga sore menjelang, aku dibuat kembali kesal karena Andra memintaku untuk menahan diri dari pulang.


"Supaya Pak Wisnu bisa cuti selama seminggu, jadi dokumen ini harus tuntas bapak pelajari. Sisanya biar saya yang urus", kilahnya.


Aku akhirnya mengirimkan pesan pada istriku,


Wita... aku jemputnya satu jam lagi gak apa-apa?


kenapa mas? masih ada kerjaan?


iya


makasih ya.. atas pengertiannya. sayang kamu...


iya


iya apa?


iya.. sama-sama


kok iya sama-sama??


iya apa donk maas...?


iya sayang kamu..?

__ADS_1


.


.


.


.


iya... sayang mas Wisnu..


Aaah... jantuuung.. tolong tetap menetap di sana!Aku jadi gak karuan dibuatnya. Aku ingin segera menjemputnya. Membawanya ke suatu tempat yang istimewa.


Aku lalu menuntaskan dokumen-dokumen yang harus aku pelajari dari asisten pribadiku bernama Andra itu. Mempelajarinya satu persatu hingga tepat pukul tujuh malam selesai disambut dengan wajah puas Andra.


"Makasih bang!!", ucapnya.


Aku kemudian melajukan mobilku ke arah salon yang telah Wita kirim lokasiya melalui pesan seluler. Aku hampir tiba di salon kecantikan yang merawat Witaku itu. Kemacetan tiba-tiba menghalangi laju mobilku. Sementara hujan deras tengah membasahi kota Bandung ini.


Khawatir ia menungguku, aku menghubunginya tapi tak kunjung mendapat balasan. Kutelepon tapi hanya nada sambung yang ku dengar. Hampir 15 menit aku menghubunginya. Rasa bahagiaku berubah menjadi rasa khawatir. Kemana Witaku saat ini? saat hujan deras sepertinya kewas-wasanku semakin terasa.


Lalu tiba-tiba...


Ceklek.. Braaakkk...


Pintu mobilku terbuka dan tertutup kembali oleh wanita yang sedari tadi aku pikirkan.


"Astagfirullah.. Witaa!!??" bajunya basah kuyup dan tubuhnya mengigil. Kulihat tangannya gemetar saling bertautan satu sama lain.


"Kenapa sayang?" sontak aku memeluknya. Ia lalu mengeratkan tanganmya memeluk tubuhku yang masih merengkuh tubuhnya. "Gak apa-apa! gak apa-apa! ada aku..". Aku coba menenangkannya.


"Di depan... di depan..", ia menyuarakan kalimatnya yang terbata.


Belum sempat ia menuntaskan kalimatnya, aku seketika memahami apa yang hendak ia sampaikan setelah aku melihat apa yang ada di pinggir kiri jendela mobilku. Kecelakaan motor yang mengakibatkan penumpangnya duduk tergeletak dengan kaki yang berdarah dalam keadaan sadar, sepertinya membuat Witaku kembali mengalamai trauma masa lalu.


####


next ya guys...👇

__ADS_1


aku double up hari ini. Jangan lupa hadiah, komen dan bintangnya ya...🙏😘


__ADS_2