
Saat amarah membutakanku
Aku lupa sejenak tentang perkasanya Tuhan
Doaku tenggelam dalam *****
Aku.. tersesat!
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Rumi
Malam yang lelah tetapi meyenangkan bagi Adhis. Betapa tidak, hari ini ayah kebanggaanya mempertontonkan banyak hal padanya. Wisnu tampil merupa superhero. Memasukan banyak bola basket ke dalam keranjang hingga ia mendapatkan tumbler warna pink bergambar tedy bear. Mendapatkan banyak boneka dalam permainan Claw Machine, lalu membelikannya kembang gula yang amat besar. Berakhir dengan makan malam bersama di tempat makan dengan fasiilitas area bermain anak. Bersama Teh Rumi, Wisnu dan Adhis menghabiskan malam yang menyenangkan.
“Harusnya begini tuh sama istri, yang jadi ibunya Adhis. Meni bahagia kitu eta anak” Teh Rumi menidurkan Adhis yang sejak di mobil tadi tertidur karena lelah. Wisnu tak mengindahkan perkataan kakaknya. Ucapan Teh Rumi adalah makanan sehari-hari. Bukan! lebih tepatnya pengantar tidurnya setiap malam.
“Teteh serius ini lho Wis, kapan atuh mau nyari istri?, kunaon kamu teh aneh pisan tisaprak (semenjak) berangkat ka Swiss?”.
“Secepatnya teh, doakan saja”. Iyah, doakan semoga ia segera mampu melepaskan segala yang ada di masa lalunya. Doakan agar ia mendapatkan wanita yang dapat ia cintai sepenuh hati.
“Doa saja gak cukup atuh Nu.., teteh mah dari sejak dulu juga ngadoa, kamu yang jadi lalakonna kudu usaha, ikhtiar kata ibu mah!”.
__ADS_1
Iyah benar, Wisnu mungkin lupa jika poros antara takdir-doa dan usaha adalah satu. Ia hanya merasa tak berdaya melawan itu semua. “iya teh..”, semoga jawaban singkatnya itu kelak menjadi doa yang mustajab baginya.
“Nu..”, sela teh Rumi saat kakaknya itu merebahkan diri di kasur empuk milik Adhis. “Besok teteh pinjem apartement kamu ya! Kang Indra ada tugas ke Jakarta katanya, teteh kangen. Mau bulan madu dulu sebentar di sana.. hihihihi.. . Boleh nyak?”.
Kang Indra, pengorbanan yang kakak iparnya berikan sudah terlalu sempurna. Ia teringat dengan kehadiran Kang Indra dalam pernikahannya, saat Teh Rumi yang harus mendampingi ibu yang sedang sakit dan menolak mentah-mentah rencana dadakan Wisnu menikahi Restari, Kang Indra justru mempercayai segala keputusannya. “Biar kang Indra yang datang ke Swiss, akang akan bicara pada keluarga Restari kalau ibu sedang sakit, jadi teteh dan ibu tidak bisa menyaksikan hari bahagia kamu”.
Wisnu tak bisa seegois ini sekarang, mungkin benar apa kata teh Rumi, ia harus mulai mewujudkan segala doa-doa orang sekitarnya dengan sebuah ikhtiar. Lalu siapa yang akan menjadi pilihan hatinya?, Wisnu sendiri seringkali tersesat untuk menentukan arah tujuannya. Lalu seketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk di jam yang sama setiap harinya;
Lastri: sudah tidur?
Wisnu lalu menghembuskan nafas panjang seraya menutup mata dan menjatuhkan kepala pada sofa ruang kamarnya. Lastri.. ya.. mungkin ia.. akan mencobanya dulu. Semoga..
*****
Jalanan menuju bandara sangatlah padat hari ini, panas dan penat. Apakah pendingin udara di mobilnya tidak berfungsi sekarang?. Wisnu hanya berharap kendaraan roda empatnya itu segera sampai di tujuan.
“Makasih ya Wis, aku gak nyangka loh.. kamu mau repot-repot nganterin aku”, suara manis Lastri begitu halus dan mendamba. Bagi Lastri, suasana hari ini seperti mimpi. Bandrol pertemuannya dengan Wisnu teramat mahal untuk dibayar.
“Kamu gak usah ngebut-ngebut Wis”, ucap Lastri saat mobil memasuki tol ibu kota. “Kita gak lagi dikejar-kejar jadwal penerbangan. Jam shootingku juga masih lama ini”, Lastri menatap lembut Wajah Wisnu yang masih fokus dengan pegangan setirnya melajukan kendali mobil menuju bandara tempat shooting film terbaru Lastri tahun ini.
“Aku ada jadwal meeting hari ini. Maaf kalau nyetirnya agak ngebut”. Jawab Wisnu tegas.
__ADS_1
“Duh padahal aku udah seneng nih, bisa dianterin sama kamu”. Lastri hanya harus bersabar, karena ini adalah awal yang baik. Pernyataan cintanya yang jelas ia tunjukan memang harus ditempuh dengan sebuah perjuangan. Tentu saja, ia belum bisa membuat satu kesimpulan, namun sepertinya Wisnu telah mulai membuka diri. Good.
“malam ini, dinner?” tanya Lastri ragu.
“iya.. kamu atur saja..”.
“yess!”, seringai senyum dan semangat menggelora terpancar dari wajah sang artis yang tengah naik daun itu. Wajah cantik yang selalu medapatkan kontrak iklan sabun kecantikan itu digadang-gadang menjadi salah satu artis yang mendapatkan nominasi artis pemeran utama terbaik tahun ini.
Wanita yang penuh ambisi dalam kariernya, percaya diri dan memiliki kemampuan yang setara dengan artis papan atas Indonesia. Sulit bagi para pengusaha, teman sesama actor atau bahkan para penjabat negara untuk mendapatkan hatinya, karena hatinya telah lama tertambat pada sang teman semasa kuliahnya dulu, sosok yang tengah berada pada titik keemasannya di bidang arsiterkur Indonesia.
Mimpinya terlampau sederhana, dipersunting sang Wisnu teman seperjuangannya dulu dalam mengerjakan tugas-tugas. Aneh memang, pendidikan yang ia tempuh tidak serta merta mewujudkan keahliannya, sebab sejak dulu keahliannya adalah menjadi seorang model. Namun keinginan konyolnya tentang pangeran berkuda bernama Wisnu membawa rumor tentang dirinya yang ambisius terhadap dunia entertainment, melajang di usianya yang sudah menginjak angka 30 tahun.
Menjadi artis bukanlah jalan terakhir yang ia ingin ia capai. Jikapun ia harus berhenti dari segala kariernya yang menjulang dalam kepopularitasan untuk memenuhi keinginannya diperistri oleh Wisnu, tentu ia akan siap melakukannya.
Dan hari ini, adalah hari terbahagianya. Mendapati Wisnu berada di sampingnya, mengendarai mobil menemaninya ke suatu tempat yang sesungguhnya biasa menjadi rutinitasnya. Dan apa tadi barusan?, dinner? Wisnu kali ini tak menolak ajakannya?. Apakah ini pertanda baik? Atau basa-basi semata karena jengah dengan ajakan-ajakannya yang ia lontarkan hampir.. setiap hari.
“makasih..”, Wisnu dapat mendengar dan melihat dengan jelas senyuman indah yang Lastri alamatkan padanya. “hati-hati di jalan”, Lastri melanjutkan kalimatnya sebelum pintu mobil milik Wisnu ia tutup.
Wisnu melesatkan kembali mobil pribadinya itu tanpa aba-aba. Tolonglah Wisnu, apa yang kau lakukan hari ini?. Apa sebaiknya ia memilih jalan para pertapa dengan hidup di gunung-gunung agar terlepas dari segala tanya yang membuatnya muak. “Istri? Ibu Adhis?.. BULLSHIT!!!”. Wisnu memukul setir mobilnya dengan kekesalan penuh.
Pilihan hidup yang berawal dari benang kusut nyatanya membawanya pada arus yang pekat dan keruh. Ia tatap gedung kantornya yang menjulang dari jarak yang jauh. Memilih memarkirkan kendaraannya itu pada sebuah taman kota, berharap dapat sedikit meredakan segala kegilaan hari ini. Haruskah?, ia melangkah kembali dalam sebuah kata “keterpaksaan”?. Jika saja masa lalu memaksanya membawa dendam dalam pilihan pernikahan, apakah saat ini ketakberdayaannya akan ia biarkan memaksanya memilih jalan pernikahan yang sama?
__ADS_1
Ia lalu membuka handphonenya, membuka pesan Andra yang ia terima beberapa hari yang lalu. Sebuah gambar yang membawanya pada kedamaian, menyejukkan dan menenangkan. “mba Wita suka katanya”, pesan singkat Andra melengkapi foto yang astisten pribadinya itu kirim. Wanita cantik dengan bross berbatu permata merah tersenyum indah.
Dalam keikhlasan ia memasrahkan diri, “Dewita Maharani.. jika kamu telah berbahagia hari ini, tolong doakan aku juga.. untuk menemukan hidupku!”