Selesa Rindu

Selesa Rindu
Bahasa Cinta


__ADS_3

Aku sempat berfikir, jika cinta itu tak memiliki mata


Keliru!!, saat buta memejam hatimu


Kau hanyut dalam kematian


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Wita


Bagi Wisnu jika acara parenting ini harus berakhir dengan kata penutup dari sang pembawa acara tanpa Wita, tak menjadi masalah. Karena suaranya tak lagi penting di telinga Wisnu. Memang benar, dulu suara Wita menjadi pengobat kepenatannya setelah berkutat dengan materi-materi kampus dan tugas kantoran dari om Danu. Itu cerita dulu, sayang sekali Wita, sepertinya senyum Wisnu dulu dan hari ini tentangmu sangatlah berbeda.


“Baiklah ayah-bunda, pertanyaan-pertanyaan dan diskusi kita kali ini akan dikupas tuntas oleh Bunda Wita. Alhamdulillah bunda Wita tengah hadir kembali saat ini”. Pingkan dapat bernafas lega, karena orang yang tengah membuat kekacauan tadi telah tiba. Setidaknya untuk Pingkan dan Wisnu tentunya. Karena bagi para orang tua yang lain keadaan tetaplah berjalan sebagaimana mestinya.


“mohon maaf ayah-bunda karena saya tidak dapat menyaksikan langsung diskusi ayah bunda barusan. Tetapi saya sudah memandatkannya pada Bunda Pingkan untuk mencatat ha-hal yang teramat istimewa bagi ayah-bunda tersebut”. Dengan balutan hijab yang berbeda meski dengan warna yang masih senada dengan blazer yang ia kenakan, Wita meminta pemakluman kepada para orang tua yang hadir.

__ADS_1


“hahahah.. sejak kapan tutur kata menipunya begitu terlatih dalam mulutnya itu” gumam Wisnu yang terlihat .. -ah entahlah- atas kehadiran Wita kembali di gedung pertemuan tersebut. “Kamu itu Wita, bisa-bisanya mulutmu terasa manis, tapi ulahmu nampak menjijikan”.


“anak-anak memang makhluk yang unik ya ayah bunda, sebagai orang tua rasa kewalahan memang sepertinya akan menjadi tantangan utama. Tetapi prinsip-prinsip modelling dalam pembentukan pribadi dan tumbuh kembang anak akan terus menjadi kunci utama dalam Pendidikan penuh cinta bagi mereka. Mereka mudah meniru, mereka dapat menempatkan seluruh objek yang dilihatnya sebagai pengalaman belajarnya yang berharga. Saya kira ini dapat mengcover pertanyaan nomor 2 dan nomor 5 ya?” jawaban lugas dari sang master terdengar menggema memenuhi seluruh ruang gedung tersebut.


Kini Wisnu memandang takjub dengan apa yang dilakukan Wita. Ia bahkan tak dapat mempercayai apa yang sedang direkam oleh mata dan telinganya. Sesederhana itukah Wita menghadapi kehadirannya?, tidakkah Wita terkejut atau mungkin merasa sedikit bersalah?. Bahkan Wisnu menunggu permohonan maaf Wita padanya yang telah mengalami titik keterpurukan dengan teramat pedih. Wisnu boleh saja berpikir mungkin kehadirannya tak menjadi persoalan bagi Wita. Wita bahkan telah berada pada koordinat ini, koordinat yang menjadi medan magnet berkutub negative hingga tak lagi memintanya mendekat. Namun, demikiankah keadaannya?


Satu persatu Wita menuntaskan pertanyaan dan curahan hati para orang tua. Mengabaikan apa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Harusnya ada semacam seleksi masuk calon orang tua murid, atau memasang mesin detector peserta parenting di meja tamu gedung pertemuan ini, agar tak kecolongan!!. Yang benar saja, sejauh ini ia sudah melangkah dengan benar. Berdamai dengan diri sendiri dengan mencoba meregangkan perkara ingatan dan cinta.


Baginya, mendapati kepastian tentang pernikahan Wisnu dengan putri pejabat tinggi negeri ini sudahlah cukup membuatnya lega. Lantas memantapkan diri untuk membenahi segala luka yang terlanjur ada. Namun kenyataan tentang siapkah dirinya bertemu kembali dengan sosok masa lalunya itu, kepastian itulah yang ternyata belum dapat ia jawab.


Tangannya yang gemetar ia sibukan dengan laptop dalam pangkuannya. Ia abaikan seluruh orang tua yang berhamburan keluar dari ruangan panasnya itu. Ketegangannya berangsur mereda. Setelah beberapa sosok orang tua menghampiri podium untuk berfoto dan mengisi ketidakmenentuan jantungnya dengan obrolan ringan.


“Bunda, aku tuh ya kalau mau ngasih aturan ke anak ko susaaah banget. Bisa minta tips nya bun?”


“kalau aku tuh ya bun, suka banyak yang gak sepakat sama papinya. Misalnya aku gak ngebolehin anak-anak maen HP, eh papinya ngasih kelonggaran. Jadi anak kadang suka ngeyel. Gimana ya bun solusinya?”

__ADS_1


“Bunda, anak aku masuk kelas inklusi sekarang, katanya akan ditangani sama guru pembimbing khusus, tapi aku tuh jadi was-was apa teman-temannya akan menerima perbedaan dia?”


“Bunda, udah nikah belum? Dari tadi aku kepincut banget. Udah cantik, pinter, baik lagi. Boleh aku jodohin sama omnya anak aku bund?”


Eh-eh.. ko pertanyaan yang terakhir jadi begini? Waah, bisa gawat perkara nih. Segera ia menjawab satu pertsatu pertanyaan para orang tua yang tiba-tiba mengerumuninya di podium itu. Dengan sedikit berhati-hati, apalagi pertanyaan terakhir tadi. Heu..


Berbincang dengan para orang tua sangatlah menyenangkan bagi Wita. Mereka mendeklarasikan diri sebagai orang tua yang ingin banyak belajar pada Wita, tetapi sepertinya mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya Witalah yang sedang mengambil banyak pelajaran dari apa yang mereka utarakan.


Suara tawa dan keramahan Wita menemani gedung tersebut. Lalu satu pesatu mereka beranjak pergi berpamitan pada sang pembicara, Dewita Maharani. Hingga tak seorang pun berada dalam ruangan tersebut, kecuali Rani. Sahabat sedari SMA nya dulu yang tengah berjibaku dengan peralatan yang harus segera ia bereskan, lalu memandangi Wita dengan lamat dan dalam. Mencoba menerobos rahasia yang belum ia pecahkan selama bertahun-tahun ini. Hingga apa yang nampak di mata Rani kali ini, tentang Wita sahabatnya sendiri.


Wita menyunggingkan senyuman samar pada Rani. Entah untuk judul apa ia alamatkan senyuman pada sang sahabat. Mungkin saja ia mencoba mencari sebuah kekuatan. Kekuatan jika ia tak pernah sendirian. Lalu menunduk dalam dan menutup kedua matanya perlahan. Menarik nafas dengan dalam.


“Fiuuuuh… akhirnya. Alhamdulillah” Wita menangkup seluruh wajahnya dengan semua jemari yang ia miliki, menundukkan kepalanya dan memejamkan mata dalam beberapa detik. Mencoba memahami kembali apa yang telah terjadi hari ini. Mengolok-olok nyalinya yang tadi tenggelam di lorong pelarian. Berdecak tak percaya dengan segala pertahanan yang ia buat setangguh yang ia kira.


Ada apa dengan hari ini? Angka berapa yang terbubuh pada kalender hari ini? Apakah ada angka sial dalam hidup? ataukah, ia salah mengambil judul? Bahasa Cinta? Bahasa cinta yang sesungguhnya tak dapat ia terjemahkan sendiri dalam dirinya, ia bahkan terlalu pengecut untuk mengakui keberadaan kata tersebut. Bahasa Cinta, benarkah yang ia bicarakan? Apakah ia terlalu berkhianat dengan judul yang ia ambil? Apakah cinta tak lagi merupa cinta yang ia utarakan sedari tadi pagi hingga berakhirnya acara ini? Apakah demikian? Apa karena itu? Ya Allah…

__ADS_1


__ADS_2