Selesa Rindu

Selesa Rindu
Pamit


__ADS_3

Cinta itu telah terkotak


sempit dan pengap


karena hanya untuknya.. ia dimiliki


-Wita-


Jakarta, Wisnu-Teh Rumi-Andra-Wita


"Kamu jangan nekad atuh Wiiiis... aaaah.. sok kitu wae kamu mah!! (suka gitu kamu)". Teh Rumi kini tak bisa menerima keputusan Wisnu untuk kembali mengambil jejaknya yang lalu. Memilih pergi di saat hati tak akan mampu menerima kenyataan tentang sejarah cintanya yang rapuh.


"Wisnu gak akan lama Teh, ini cuma berlibur aja!", hibur Wisnu pada sang kakak. Bagaimana tidak Teh Ruminya itu merajuk, Wisnu kali ini tidak sedang membuat jadwal tugas kantornya, tetapi menandangi tempat tercatatnya sejarah lahir gadis kecil bernama Adhis, Swiss.


Mendengar negara itu seperti hantu yang merintihkan suaranya ke telinga Teh Rumi. Dejavu yang Teh Rumi rasakan teramat menyakitkan. Pelarian yang Wisnu lakukan 7 tahun lalu telah ia guratkan untuk menjadi kisah akhir tak berulang. Tapi apa yang dilakukan adiknya sekarang? Sungguh menghujam dadanya menjadi pilu bak teriris sembilu.


"Tapi Adhis atuh tong dibabawa sagalaaaa.. iiiiih...". Teh Rumi kini meminta dengan wajah memelas.


"Justru kan Wisnu mau ngajak Adhis liburan, mamah Rumi yang baiiiik". ucap Wisnu membujuk.


"Sekarang kan belum waktunya Adhis libur!!!"


"Ya.. Wisnu kan baru bisanya sekarang. Jadi Wisnu izin dulu ke sekolah Adhis".


"Tapi nanti teteh gimana? bakal kangen sama Adhis, gak ada yang ngemanja lagi sama teteeeh". Kini wajah Teh Rumi benar-benar menekuk dan nampak menyedihkan.


"Wisnu kan bawa Adhis biar teteh bisa ngemanjain diri", Wisnu membujuk sang kakak seraya menyodorkan sejumlah uang di dalam amplop coklat. "Bulan madu sama kang Indra, sebelumnya perawatan dulu ke salon langganan teteh itu. Pasti udah lama kan enggak? apa namanya? body spa? facial? apalagi? carinya yang paketan pengantin aja biar geulisnya (cantiknya) makin pool! Habis itu.. beli baju yang di butik yang kemarin mau teteh datengin itu, apa namanya? Cleisha Butik?"


"Bener kan cuma izin? (srooookkk)", Teh Rumi menarik ingusnya dan menyusut air matanya seraya meraih amplop coklat yang tergeletak di meja.


"iyaaa...", jawaban Wisnu seperti jawaban singkat orang tua pada anaknya yang menangis agar segera diam. Ia tentu tak berniat membohongi Teh Rumi, tetapi ia juga benar-benar tak tahu arah tujuan hidupnya saat ini.


Beberapa hari yang lalu Wisnu telah memandatkan hal-hal yang membuat Andra memahami betapa sulitnya kisah cinta yang Wisnu miliki.


"Kamu pastikan bisa membayar semua tagihan dalam kontrak yang telah saya tanda tangani dengan almarhum pak Hermawan. Bayarkan sampai tagihan sepuluh bulan ke depan. Gunakan dana pribadi saya!" Wisnu menjeda. Ia ingin menyelesaikan semuanya sebelum ia mantap pergi dari Jakarta.

__ADS_1


"Kamu bicarakan dengan direktur baru bahwa mereka tidak perlu menunaikan program yang sudah kita sepakati. Pastikan kalau Wita dan timnya agar tidak lagi mengurusi program yang kita minta. Sampaikan pada mereka, kerjasama mereka sangat baik. Kita sangat puas", lanjut Wisnu.


"Saya buatkan surat kuasanya untuk kamu, agar dapat menuntaskan segala sesuatunya". Wisnu kini sudah membulatkan keputusannya. Beberapa kali Andra memberikan alasan bahwa perusahaan masih membutuhkan sosok Wisnu, namun Wisnu masih dalam keputusan yang sama.


"Saya tentu tidak akan mangkir dari tanggung jawab saya Ndra. Setidaknya setelah sebulan saya akan balik dulu ke Indonesia dan mempersiapkan segala sesuatunya. Saya juga belum membahas ini pada dewan direksi. Saya hanya mengajukan cuti satu bulan ke depan karena kondisi perusahaan sudah mulai stabil".


"Kita masih membutuhkan anda pak Wisnu", jawab Andra parau.


"Perusahaan punya banyak kandidat yang potensial untuk menggantikan saya, kamu mungkin akan punya atasan baru yang lebih baik dari saya. Namun untuk sementara waktu sebelum saya menemukan orang yang tepat, segala hal yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab saya, saya mohon kamu yang menghandlenya. Satu bulan ke depan.. saya janji hanya satu bulan ke depan".


"Kamu tolong simpan ponselku yang ini, takut ada hal-hal penting yang menyangkut perusahaan kamu bisa sesekali mengaktifkannya. Dan ini.. nomor yang bisa kamu hubungi, hanya kamu dan Teh Rumi juga kang Indra yang tahu nomor ini".


"Abang...", lanjut Andra dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong kamu rahasiakan dulu ini ya Ndra, aku mengandalkanmu!!", ucap Wisnu sambil menepuk bahu Andra yang dibalas dengan pelukan sang asisten.


***


"Semuanya dimasukan koper ini mba?", tanya Revita sambil memasukan baju-baju yang tergeletak di ranjang milik Wita.


"Iya Rev, semuanya aja. Gampang nanti kalo perlu tinggal bawa yang baru", jawab Wita.


"Ayo.. kamu duluan ke bawah! Pak direktur lagi nunggu di bawah, kayaknya penting. Nanti saya menyusul", jawab Wita.


"Mba.. adiknya pak Hermawan ganteng ya... pak direktur", Revita mengerlingkan mata mengungkapkan isi hatinya sebelum beranjak turun menuju ruang tamu rumah sewaan mereka menemui direktur sementara pengganti almarhum pak Hermawan. Pujian yang tak ubahnya seperti ocehan penggemar gelap. Pujian yang sering ia dengar dari mulut Revita sejak Wita bekerja di perusahaan pak Hermawan.


"Ayooo... kita turun bareng!", ajak Wita sambil merangkul bahu Revita. Bisa lama jika didiamkan begini, pikir Wita.


Berada di ruang tamu bersama direktur baru perusahaannya memberi sedikit suasana berbeda. Wita teringat dengan kebaikan yang pak Hermawan berikan padanya. Menyentuh dan mengangumkan.


Namun, bagi Wita satuh hal yang kini lebih menyentuh sampai ke dasar hati saat sang direktur baru berkata; "tugas kita di Jakarta sudah selesai hari ini. Kontrak kerjasama kita dengan perusahaan pak Wisnu sudah selesai. Mereka sangat puas dengan kinerja kita. Kita tidak mendapatkan kerugian apapun dari keputusan perusahaan klien kita. Ganti rugi kontrak yang sudah ditandatangani untuk setahun kerjasama sudah ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan klien. Saya datang ke sini sekaligus mau mengucapkan terima kasih. Takutnya saya gak bertemu dengan bu Wita setelah bu Wita mengambil cuti nikah".


Ucapan direktur barunya itu membawa Wita saat ini berada di gedung perusahaan Wisnu. Langkah cepatnya telah menyeret kaki dan tubuhya menuju ruangan sang direktur. Ia butuh penjelasan, apa yang telah dilakukan Wisnu? membuat keputusan sepihak tanpa basa-basi dan diskusi dengannya, bahkan dua hari yang lalu Wisnu masih memberikan tanda tangan pada dokumen yang ia buat.


"Putri.. saya mau bertemu pak Wisnu. Apa pak Wisnu ada?", tanya Wita pada sekretaris Wisnu.

__ADS_1


"Lho.. mba Wita gak tau? Pak Wisnu gak ada, lagi ke luar".


"Ke luar kemana? lama? bisa bilang ke beliau saya ingin bertemu!"


"Mba Wita...", suara Andra terdengar di balik pintu ruangan Wisnu. "Mba Wita di sini? belum ke Bandung?"


Wita menggelengkan kepala. Ia lalu mengikuti langkah Andra menuju ruangannya setelah Andra berucap, "ayo mba.. ke ruangan saya saja!"


Dan.. kini tangannya tak dapat ia kendalikan untuk tak gemetar setelah mendengar kalimat yang diucapkan Andra.


"Pak Wisnu meminta saya untuk menyampaikan ini", Andra menyodorkan sebuah amplop bertali pita emas dan kertas ucapan berbentuk hati. "Kado pernikahan dari pak Wisnu untuk mba. Permohonan maaf dari beliau karena tidak dapat menyampaikannya secara langsung, sebab kemarin beliau sudah terbang ke Swiss bersama Adhis".


"Swiss? Adhis? kenapa mendadak?"


"Seminggu yang lalu pak Wisnu sudah mempersiapkan kepergiannya. Tidak mendadak juga..", jawab Andra.


"Berapa lama?... berapa lama mereka disana?"


Andra menarik nafas panjang. Ia lalu memutuskan untuk berkata satu hal yang harus dirahasiakannya.


"Sebetulnya ini harus saya rahasiakan mba. Pak Wisnu mengamanahkan saya seperti itu. Tapi.. sepertinya mba perlu tahu".


Wita menunggu, menunggu jawaban Andra untuk melanjutkan ucapannya. Mengungkapkan apa yang harus dirahasiakan Andra darinya.


"Pak Wisnu berencana pindah ke Swiss bersama Adhis. Teman semasa kuliahnya memintanya untuk mengembangkan perusahaan yang dimilikinya di sana, sekaligus menemani kakek Adhis yang sekarang sudah mulai pensiun. Doakan saja mba, semoga keputusannya kali ini membawa kebahagiaan untuknya!"


Tubuh Wita mundur dan seketika oleng. Ia lalu mengeratkan pegangan tangannya pada sebuah kursi rapat di ruangan Andra yang kini berubah aroma menjadi dingin dan menakutkan.


####


reader... Senin berkah taburi aku vote yang banyak ya...🙏🙏🙏


buat bekal Wita nyusulin Wisnu nih... 🤩🤩✌


Hadiah segudang dan like yang sekompi juga aku tunggu bangettt... buat bekel Teh Rumi nyalon😁🤭

__ADS_1


jangan lupa bahagia🤗


sehat dan sukses selalu buat reader semua😘😘🤲🤲🤲🤲


__ADS_2