Selesa Rindu

Selesa Rindu
Terima Kasih Istri


__ADS_3

Kau semerbak harum


menyentuh tirai-tirai yang bergoyang


menyelinap pada ruang yang luas di hatiku


Kau.. aroma hidup mewangi pada jiwaku yang rindu


-Wisnu-


Bandung, Wisnu-Wita-Adhis-Teh Rumi


"Bundaaaa...." Teriak Adhis pada layar ponsel sang ayah. "Adhis seneng.... sekarang mau main luncuran di siniiiiii..." sambil jingkrak-jingkrak di atas kasur ia memperlihatkan raut bahagianya pada Wita yang terus tersenyum melihat gadis kecil itu.


Adhiis.. video callnya sambil duduk atuuh! ini mamah susah ngebajuin kamunya. Terdengar sayup-sayup suara teh Rumi meminta pada Adhisnya saat berbicara.


"Adhis ko tambah tembem aja sih?" ucap Wita menanggapi tatkala melihat Adhis yang menggemaskan. Baru tiga hari ini saja tidak bertemu Wita sudah merasa rindu.


"Bunda kapan ke sini?" bukannya menanggapi pertanyaan Wita, Adhis malah balik bertanya.


"Bunda sih gimana ayah" lirik Wita ke arah Wisnu yang tengah berfokus dengan setirnya.


"Ayah juga gimana bunda.." jawab Wisnu sambil tersenyum.


Gak usah ke sini aja ah ayah sama bunda! Besok juga kita pulang. Ucap lagi Teh Rumi menanggapi. Tentu saja ia tak mau jikalau Wita dan Wisnu menyusul Adhisnya, sebab jika Wita datang sudah dapat dipastikan Adhis akan beralih meminta perhatian kepada Wita. Ia sedikit ingin meminta waktu bersama Adhis saat ini.


"Bunda gak usah ke sini aja kata mamah. Besok Adhis pulang", ucap Adhis dengan posisi duduk bersila di atas kasur setelah ia mendapat permintaan untuk duduk manis oleh sang mamah.


"Aaaaah.. padahal bunda sudah kangeeeen" jawab Wita menggoda. "Adhis baik-baik ya di sana! yang sholeh ya.. oke?"


"Iya bunda.. Adhis sholeeeh" Adhis menjawab permintaan Wita dengan senyumnya yang manis. Sungguh lucu anak ini, anak yang pernah menyelinap pada ujung hatinya yang tengah terluka. Membangunkan keberanian tentang perlawanan kenyataan pahit yang mereka alami di masa yang lalu. Adhis, menerobos kepiluan menjadi cinta yang menyentuh setiap luka lamanya. Menjadi manis dan indah pada waktu yang bersamaan. Dan terlelap dalam mimpi yang seketika nyata dalam kehidupan.


"Kamu sayang banget sama Adhis?" tanya Wisnu.


"Sayang.. " jawab Wita. "Dia anaknya lucu..".


"Siapa dulu dong ayahnya", timpal Wisnu jemawa.


Wita hanya tersenyum menanggapi kesombongan suaminya. Ini terlalu indah untuk dibayangkan. Lelaki yang berada di sampingnya menghadiahi banyak hal dalam hidupnya. Suaminya, Wisnu Permana adalah hati yang tak akan terganti.


"Jangan lihatin aku terus gitu dong! iya aku ganteng. Kamu kalau begitu terus bisa-bisa kita berhenti di hotel lagi nih", goda Wisnu. Wita tak menyadari jika ia kini tengah memandang lekat suaminya dengan tatapan yang menyimpan kerinduan dan ketakjuban. Selalu ada cinta dan rindu yang menyergap hati dan perasaannya. Rasa yang tak pernah hilang sekalipun dulu Wisnunya begitu menyimpan kebencian.


"Wita cuma belum puas aja. Lihatin mas Wisnu hari ini".


"Aaaah.. Wita.. jadi bener-bener pengen melipir ke hotel niiiih", ucap Wisnu sambil membawa tangan sang istri dan menciumnya dengan hangat lalu ia simpan tangan istrinya itu pada paha miliknya. Sekedar ingin merasakan bahwa sang Wita kini benar-benar telah menjadi miliknya semata.


Tak sabar ingin menyerahkan sesuatu di tempat yang sekarang menjadi tujuannya hari ini. Wisnu kini menepikan mobilnya. Tujuannya kali ini masih memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit lagi, tapi kalimat sederhana yang dilontarkan Wita barusan membuatnya ingin menghentikan mobilnya sesaat.


Wisnu membuka dashboard mobilnya setelah sabuk pengamannya ia lepaskan demi memudahkan pergerakannya.


"Permisi sayang! ada sesuatu yang harus aku ambil di sini"

__ADS_1


Wita memberikan pergerakan seolah memundurkan duduknya yang sebetulnya tak perlu ia lakukan sebab jarak yang ia miliki memang sedemikian adanya.


Wisnu meraih sebuah kotak hitam yang nampak sederhana dan mewah. Dibukanya kotak tersebut. Nampak sepasang jam tangan rolex perpaduan warna emas dan silver.


"Ini satu aku yang pakai", sembari menggunakannya di tangan sebelah kiri. "Dan... kamu juga", mengambil tangan Wita dn memakaikannya. Jam yang bentuknya lebih kecil dari miliknya itu kini terpasang indah pada pergelangan tangan milik Wita.


"Adhis udah langsung aja ngasih kamu lonceng itu, oleh-oleh dari Swiss waktu kita di sana".


"Aku belum sempat ngasihin ini ke kamu".


"Terlalu sibuk ngurusin kita nikah".


"Maksudnya, pas kamu pingsan.. aku udah gak mikir apa-apa lagi selain segera harus nikahin kamu"


"Maaf ya...!"


Wisnu membawa kembali tangan milik Wita untuk ia kecup punggung tangannya.


"Waktu aku dapat kabar kamu membatalkan pernikahan kamu... duniaku terasa berhenti".


"Aku sempat memastikan jika telapak kakiku masih menapak di atas bumi. hehehe"


"Sejenak aku berpikir, kebaikan apa yang pernah aku lakukan sampai Tuhan masih berbaik hati padaku".


"Aku lalu ingin menjadi lelaki egois. Jikalaupun kamu tak menginginkanku, aku tetap akan menjadikanmu istriku".


"Biar Tuhan menghukumku tanpa harus berpisah denganmu".


"Aku terlalu bodoh hingga membuatmu menderita".


"Selamanya.."


Wisnu memajukan wajahnya dan mengecup bibir manis sang Wita hingga menjadikan kecupan itu ciuman yang memabukan.


Wita memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan bibir suaminya. Kesalahan apa yang telah Wisnunya perbuat? jika kini kenyataannya hadirnya Wisnu adalah pelengkap bagi kehidupan dirinya.


Hitamnya masa lalu telah menghangus begitu saja bagi Wita. Ia berlalu dengan sejarah yang bertalu pada genggaman cinta yang tak pernah sama sekali pudar sejak ia mengizinkannya masuk dalam kehidupannya.


Wisnu melepas sentuhan bibirnya. Ia lihat betapa binar mata wanitanya yang sejak tadi menatapnya penuh damba begitu indah dan masuk ke kedalaman hati tanpa permisi.


"Kamu.. jatuh cintalah terus sama aku ya!! Jangan pernah juga berpikir buat ninggalin aku! Hanya aku... Wisnu Permana, yang berhak atas kamu".


"Aku hampir mati saat harus melalui hari yang aku kira kamu akan menikah dengan Satria itu".


"Kamu benar-benar! membuatku gila".


".....".


"Apa istriku ini.. merasakan hal yang sama?".


Wita terpaku lalu mengangguk pelan mengiyakan apa yang tengah Wisnunya tanyakan. Mendapatkan jawaban sang istri, Wisnu kembali melakukan sentuhan manis untuk wanita halalnya itu. Ah.. betapa indah senja ini.

__ADS_1


****


"Wita baru pertama kali ke sini mas.. indah banget pemandangannya". Diantara tempat romantis yang ada di kota Bandung, Wisnu memilih Bukit Moko sebagai tempatnya menikmati senja ini bersama Wita. Menikmati pemandangan Bandung City View pada sore menjelang malam hari itu Wisnu akan menyelami harinya saat ini.


Cuaca cerah hari ini membawa mereka menikmati langit senja Kota Bandung, dengan semburat merah keunguan, sementara matahari perlahan-lahan undur diri dan menutup hari. Sambil menikmati suasana, Wita dan Wisnu meneguk secangkir bandrek hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Suka diajak ke sini?"


"Hhmmmm...suka"


"Dingin?" Wisnu melihat pergerakan tubuh Wita yang sedikit menggigil. "Tunggu di sini ya.. aku ke mobil dulu", Wisnu lupa jika bukit yang ia kunjungi adalah tempat yang menawarkan udara segar dan cuaca yang dingin. Beruntung ia ingat kalau jas yang kemarin ia pakai bisa menjadi penghangat tubuh istrinya. Ia harus menjaga dengan baik istri tercintanya itu. Ia akan memastikan tak akan ada lagi gemetar tubuh sang istri dengan membawa sakit dan perih di hati.


Seperti pagi tadi, saat dirinya memutuskan membawa Witanya berziarah ke makam ayah mertuanya, ayah Wita tepatnya. Tempat yang tak pernah Wita kunjungi sepanjang hidupnya.


Wisnu, memberanikan diri menyibak kepahitan yang selama ini Wita simpan. Agar tak lagi menjadi kelamnya masa lalu bagi sang istri. Biar ia kembali menyadari bahwa kematian tak hanya mengguratkan tentang kisah pengantar berakhirnya kehidupan duniawi. Tapi ia berbicara tentang takdir yang tak dapat dihindari.


Wisnu dapat tersenyum lega saat ini. Saat ia melihat tegarnya sang istri menghadapi hari ini. Tanpa trauma yang terus menggelayuti pikirannya. Wisnu memastikan jika Witanya kini tengah menumpahkan segala luka dan perihnya di depan nisan sang ayah. Ia lepaskan segala beban yang telah menderanya.


"Ayaaah... maafkan Wita! maafkan Wita.."


Tangisan lirih sang istri tentu telah menyentuh rasa sakit di hatinya. Tapi tangisan itu akan membawa pergi luka sang Wita pada tempat yang semestinya, yang tak akan pernah kembali menyapa setiap jengkal hidupnya.


"Pakai ini!", Wisnu kini kembali ke kursi yang tengah Wit tempati. Mengahadap pemandangan indah kota Bandung senja hari.


"Jadi? cuti kamu berapa hari lagi?"


"Semestinya hari ini sudah masuk mas, tapi aku udah minta izin. Besok insya Allah aku masuk".


"Kamu.. betah kerja di sana?"


"Betah.. yang bikin gak betah itu waktu Wita dikontrak sama perusahaan mas Wisnu".


"Hahahahaha.... iya-iya.. maaf deh".


"Terus.. kamu bisa mutasi ke Jakarta ga? Aku bisa minta kontrak baru buat kerjasama dengan perusahaan aku. Biar kamu sekarang jadi betah dikontrak perusahaan aku. hahahah".


"Enggaklah mas.. Wita bakal gak nyaman kalau gitu".


"Owh.." Wisnu ragu saat ingin melanjutkan permohonannya. Ia ingin istrinya itu terus berada di sampingnya tanpa jarak. Tapi juga ia tak ingin memisahkan karir sang istri yang telah membantu Witanya menjalani hidup melalui masa-masa traumanya yang menyakitkan. Ia memilih diam dalam pikirannya sendiri.


"Kalau boleh Wita meminta izin.." Wita menjeda. "Wita maunya berhenti bekerja saja".


"Wita ingin belajar, menjadi istri mas Wisnu dan ibu untuk Adhis".


"Dan untuk itu.. Wita butuh menfokuskan diri menemani kalian di rumah sebagai istri dan ibu yang mengantar dan menyambut kalian setiap harinya".


Wisnu tak bisa menahan bahagianya hari ini. Ia peluk sang istri. Membawanya pada dekapannya yang hangat.


"Terima kasih Wita... terima kasih sayang...terima kasih istriku.."


####

__ADS_1


maafkan tak bisa menepati janji up setiap hari🙈🙏.


Lagi fokus dulu buat list undangan resepsi nih. Siap-siap ya.. takutnya kalian dapat undangan dari teh Rumi🤣🤣🤣🤣😜


__ADS_2